Pelangi patuh menjalani latihan dengan wajah murung, tapi itu tidak membuat Lentera terusik asalkan Pelangi mau bekerja sama. Otot-otot kaki Pelangi tidak berurusan dengan wajah cemberutnya. Gerakan dan stimulasi, itu yang penting dalam program terapinya.
Lentera bekerja tanpa lelah, ia melatih kaki Pelangi secara bergantian dan memijat sekujur tubuhnya. Jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas ketika Lentera mendengar bunyi berisik, yang ternyata bunyi keletak-keletuk sepatu hak tinggi Eyang Senja.
Pelangi juga mendengar bunyi itu dan berkata. “Tidak!” ucap Pelangi dengan serak. “Jangan biarkan Eyang melihatku seperti ini.”
“Baiklah,” sahut Lentera dengan tenang. Ia lalu menyibakan selimut untuk menutupi Pelangi. Setelah itu ia berjalan ke pintu dan menghalangi Senja yang siap masuk kamar Pelangi.
Senja menatapnya dengan terkejut. “Apakah cucu kesayanganku sudah bangun? Aku hanya ingin bertemu dengannya, biasanya dia baru bangun tengah hari," ia mencoba menyingkirkan Lentera namun Lentera tak bergeser sedikitpun
'pantas saja dia marah besar saat kubangunkan pagi tadi!' batin Lentera. “Aku sedang melatihnya," ucap Lentera
“Sepagi ini?” Senja mengerutkan keningnya dengan heran. "Baiklah aku yakin kau sudah memberinya cukup latihan untuk hari ini. Sekarang sudah waktunya bagi Cucuku menikmati sarapannya, selera makannya buruk sekali, jadi sebagai Eyang yang menyayangi Cucunya, aku harus masuk ke kamarnya dan menanyakan dia ingin makan apa pagi ini...”
Senja kembali berusaha menerobos Lentera untuk masuk ke kamar Pelangi, lagi-lagi dengan gesit Lentera melangkah ke samping sehingga tubuhnya sekali lagi menghalangi pintu. “Maaf.” ucap Lentera dengan suara selembut mungkin saat Senja menatapnya.
“Nona Pelangi sudah sarapan. Aku sudah menyusun jadwal dan menunya, semuanya harus dia patuhi. Setelah menjalani latihan sejam lagi, kami akan turun untuk makan siang, Jika Nyonya bersedia menunggu selama itu, silahkan.”
Senja masih menatap Lentera seolah ia tidak mempercayai pendengarannya. “Maksudmu…?” tanyanya dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya. “Maksudmu aku tidak bisa bertemu Cucuku sekarang?”
“Saat ini, tidak. Kami harus menyelesaikan sesi latihan.”
"Beraninya kau melarangku menemui Cucuku sendiri," Senja mulai menaikan nada bicaranya. "Akan aku laporkan kau ke Rimba, dia pasti akan langsung mengusirmu dari sini."
"Silahkan saja," ucap Lentera dengan tenang, ia tak bermaksud menantang Senja namun hal ini atas permintaan Pelangi dan demi menjaga situasi latihan tetap berjalan kondusif, sehingga ia rasa Rimba akan mengerti.
Mata Senja melebar. “Kau sungguh keterlaluan!” ucapnya, perasaan sakit hati berkelebat sesaat di mata Senja, ia berbalik dan pergi.
Sesaat, Lentera memperhatikan punggung Senja, ia bisa membaca ada emosi pada diri Senja. Wajar kalau seorang nenek menjadi marah karena dia terbiasa dengan mudahnya menengok cucunya, sekarang di batasi. Tapi sejujurnya Lentera jadi tak enak hati. "Jangan khawatir, Nyonya. Cucumu akan kembali berjalan lagi, dan engkau akan melihat kembali versi terbaiknya," gumam Lentera.
Saat Lentera kembali masuk ke kamar, Pelangi memutar kepala untuk menatapnya lekat-lekat. “Apa Eyang sudah pergi?” tanya Pelangi dengan cemas.
“Sepertinya Eyang menunggu di bawah untuk makan siang bersama,” sahut Lentera, lalu melihat kelegaan di wajah Pelangi.
“Bagus. Eyang hancur berkeping-keping saat mendengar berita kecelakaan itu, selama ini aku tidak pernah membiarkan Eyang melihat tubuhku tanpa pakaian karena Eyang pasti histeris kalau melihat seperti apa keadaanku yang sesungguhnya," ucap Pelangi dengan sedih, ia hampir berkaca-kaca. "Bisa di bilang, Eyang lebih dari Mamaku sendiri."
Lentera terkejut dan penuh tanda tanya. 'Apakah hubungan Pelangi dengan Almarhum Mamanya tidak begitu dekat?' Saat perjalanan menuju Jakarta, Rimba sama sekali tak membahas soal Mamanya Pelangi, dia hanya mengatakan Pelangi mengalami insiden kecalakaan bersama Mamanya di tol Jagorawi.
Lentera memutuskan untuk tak bertanya karena ia takut merubah suasana hati Pelangi, biarkan senyamannya Pelangi menceritakan apa pun tentang keluarganya tanpa perlu ia paksa. Lentera kembali mengulangi urutan latihan yang sama, memaksa kaki Pelangi melakukan gerakan-gerakan yang sama.
Latihan itu melelahkan dan membosankan. Melelahkan bagi Lentera, dan membosankan bagi Pelangi. Setelah satu jam Lentera berhenti, ia tak ingin memaksa Pelangi terlalu jauh. “Wow!” Lentera mengembuskan napas sambil mengelap dahi yang basah oleh keringat dengan punggung tangannya. “Aku harus mandi sebelum makan siang!”
Pelangi menatap wajah Lentera yang memerah dan di penuhi oleh keringat. “Ya lebih baik Kakak mandi, aku akan menunggu," ucap Pelangi.
Lentera tertawa. "Kau tunggu saja. Tidak lama lagi kita akan berkeringat bersama, kita akan tanding basket. Bagaimana?"
Pelangi mengangkat alisnya. "kita lihat saja nanti."
'Tanding basket?' Lentera terkejut dengan ucapannya sendiri, padahal selama ini saat di rasa pasiennya dudah mampu berjalan sendiri, ia akan bergegas meninggalkan pasiennya dan menangani pasien berikutnya, tapi kenapa ia menjajikan bertanding basket?
Lentera membantu Pelangi berpakaian, kali ini prosesnya lebih mudah karena Pelangi jauh lebih tenang dari pagi tadi. Ia tersenyum ketika melihat warna kulit Pelangi nampak lebih sehat dari sebelumnya berkat pijitan yang ia berikan hari ini. Lenyera tak kebaratan jika terus-terusan ngomel kepadanya kalau itu membuat Pelangi aktif dan kooperatif.
Ketika mereka berjalan menuju ruang makan, Senja berhambur ke arah Pelangi dengan deraian air mata di pipinya. “Oh Cucuku hiks...” tangisnya pecah sembari memeluk Pelangi
Seketika Pelangi menjadi bingung dan cemas. “Ada apa Eyang?” tanya Pelangi.
“Taman Mamamu!” ratap Senja. “Ayunan yang di buat almarhum Mamamu… hancur! Wanita ini mengubah taman menjadi acak-acakan dan semerawut hingga merusak ayunan mamamu!" ucap Senja sembari menudingkan telunjuknya ke arah Letera.
“Apa?” tanya Pelangi, alisnya bertaut. “Benarkah Eyang?”
Senja menatap Lentera dengan tatapan tajam. "Baru sehari kau berada di sini, kau sudah menghancurkan taman milik almarhum menantuku, kau benar-benar terapis kurang ajar. Apa jangan-jangan kau merayu putraku dan berpura-pura menjadi terapis cucuku agar kau bisa menjadi nyonya di rumah ini?" tuduhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤
lah kenapa Oma senja bicara begituu..ini semua kan demi pelangi
2023-09-16
2
🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤
Hemmmm ntar juga Oma senja akan berterimakasih padamu Lentera
2023-09-16
3
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
ohh pantas sajaa....Pelangi mngkin cucu kesayangan Oma dan paling dekat dengan Omanya.
Karena rasa cinta Oma yg bgitu dalam pada cucunya terkadang malah membuat sang cucu jd lemah..tak berdaya krn tdk mau lihat cucunya mnderita, bgitupun sebaliknya
2023-09-15
3