Pukul 23.00 hujan deras di sertai gemuruh dan angin kencang mengguyur kota Jakarta, untung saja acara barbeque sudah selesai sejak pukul 21.30. Kedua pasangan yang hadir dalam acara tersebut sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing, dan Pelangi pun sudah terlelap di kamarnya.
Sementara Lentera masih sibuk dengan perawatan wajahnya, ia berbaring terlentang dengan masker menutup wajah dan dua buah timun menutup kedua matanya. Lentera melakukan perawatan di temani dengan alunan musik relaksasi yang menenagkan hati dan pikirannya.
Saat Lentera terhanyut dalam alunan musik yang di putar melalu handphonenya, tiba-tiba saja musik itu berubah menjadi suara raungan keras. Lentera terperanjat dan bangkit dari tempat tidurnya karena ia yakin suara itu bukan dari musik yang ia nyalakan melainkan dari kamar di sebelahnya.
"Pelangiku..." Lentera tak peduli dengan buah timun yang jatuh berantakan di tempat tidurnya, ia pun melupakan untuk membilas wajahnya. Lentera berlari keluar kamarnya, sebab raungan Pelangi yang kedua terdengar semakin kencang. "Tunggu sebentar, Sayang..."gumamnya, dengan tergesah ia hampir saja menabrak Rimba dari arah berlawanan. Rimba berlari dari kamarnya menuju kamar Pelangi.
Rimba terperanjat melihat wajah putih Lentera yang nampak seperti hantu. "Maaf, ini saya Pak..."
"Oh.." Rimba bernapas lega, kemudian ia membuka pintu kamar putrinya dan masuk, di ikuti oleh Lentera dari belakang.
Mereka melihat Pelangi menggeliat sambil mencoba duduk. “ada apa sayang?” tanya Rimba cemas, sembari memegang bahu putrinya.
“Kakiku kram, Papa” raung Pelangi.
Rimba menoleh ke arah Lentera. "Bagaimana ini Lentera?"
"Maafkan aku Pak Rimba seharusnya aku bisa memprediksi hal ini, sebab hari ini kaki Pelangi terlalu bekerja keras sehingga sekarang tubuhnya kram." Lentera langsung naik ke ranjang dan mulai memijat otot-otot yang kram, jemarinya yang kuat bekerja dengan terampil.
Pertama satu kaki Pelangi berhasil rileks kembali, setelah itu kaki satu lagi, dan akhirnya Pelangi mengembuskan napas lega. Lentera terus memijat betis Pelangi karena tahu kram itu bisa datang lagi. Lentera menggulung celana piama Pelangi hingga kelutut dan melanjutkan memijat, ia berharap Pelangi bisa kembali tidur jika mendapatkan sentuhan menenangkan dari jemarinya.
Dan benar saja, tiga puluh menit kemudian Pelangi terlelap dalam dekapan Rimba. Lentera dan Rimba bernapas lega karena akhirnya Pelangi tidur dengan damai dan tidak merasakan sakit lagi.
"Lentera, apa kita bisa ngobrol sebentar? Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan tentang program terapimu."
Lentera mengangguk. "Tapi aku cuci muka dulu ya, Pak," ia merasa sangat malu sekali wajahnya masih di penuhi oleh masker seperti hantu.
"Ya sudah, aku tunggu di dapur ya." Rimba mengecup kening putrinya kemudian ia beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar di ikuti oleh Lentera, namun Lentera bergegas menuju kamarnya untuk mencuci muka, sementara Rimba langsung turun ke dapur.
Aroma teh begitu semerbak, ketika Lentera melewati pintu dapur. Ia melihat Rimba tengah meracik teh, Lentera hanya memperhatikan kelihaian pria itu dari mini bar dapur.
"Ini teh putih fujian, berasal dari Cina," ucap Rimba sembari mengaduk teh buatannya, kemudian menyodorkan satu gelas ke arah Lentera, sementara satu gelas ia pegang dan ia mengitari mini bar dan duduk di samping Lentera."Mommy suka sekali dengan teh dari Cina, beliau sampai kursus penyajian teh."
"Terima kasih," Lentera mulai menyesap teh buatan Rimba.
"Bagaimana? Enakkan?"Rimba pun menyesap teh buatannya.
Lentera mengangguk setuju, ini adalah teh paling enak yang pernah ia minum seumur hidupnya. "Tehnya wangi sekali."
"Jadi sampai kapan Pelangi akan terus mengalami kram seperti ini," Rimba memengang keningnya, nampak jelas raut kecemasan di wajahnya. "Aku sungguh tidak tega melihatnya seperti ini terus."
Lentera mengerti, tak ada satu pun orang tua yang tega melihat anaknya kesakitan, Lentera pun merasakan hal yang Rimba rasakan setiap kali Pelangi mengalami kram. "Sampai otot-otot kaki Pelangi terbiasa menahan bobot tubuhnya."
"Artinya sampai dia bisa berjalan?" sambung Rimba. "Dia baru bisa berdiri, itu pun hanya beberapa detik saja. Untuk sampai bisa berjalan dengan lancar, terlu memerlukan waktu yang cukup lama," ia menghembuskan napas beratnya.
Di awal kedatangannya ke rumah ini, Lentera mengatakan paling tidak bulan Desember Pelangi sudah bisa berjalan, artinya masih sekitar lima bulan lagi untuk Pelangi terbebas dari rasa kramnya. "Begini saja Pak Rimba," ucap Lentera. "Kalau Pak Rimba mengizinkanku untuk tidur bersama Pelangi, tentu akan mempermudah aku memijatnya jika sewaktu-waktu Pelangi merasakan sakit. Bagaimana?"
Tanpa pikir panjang Rimba langsung membolehkan Lentera untuk tidur bersama putrinya. "Nanti pagi aku akan suruh orang mengganti tempat tidur Pelangi dengan yang lebih besar."
Lentera setuju dengan gagasan Rimba, kasur yang di gunakan Pelangi saat ini terlalu sempit jika di gunakan untuk dua orang. Pembicaraan di lanjutkan dengan obrolan ringan seputar pengalaman Lentera selama menjadi terapis anak, Rimba begitu antusias mendengar cerita-cerita Lentera, ia semakin kagum pada wanita itu.
Hingga tes dalam cangkir Lentera kosong barulah ia pamit untuk beristirahat. "Ya aku juga ingin istirahat, besok aku ada meeting jam 07.00 pagi jadi jam 06.00 aku sudah berangkat, kemungkinan aku tidak ikut sarapan bersama kalian." Rimba dan Lentera berjalan menuju tangga yang mengarah ke kamar mereka.
Saat menaiki anak tangga kedua tiba-tiba saja petir menggelegar dan lampu padam. Lentera yang takut dan terkejut, reflek memeluk Rimba yang berada di sebelahnya. Begitu pula dengan Rimba, ia reflek mendekap erat Lentera seolah ingin melindunginya. "Tidak apa-apa sebentar lagi nyala," bisiknya halus, ia mengelus punggung Lentera dengan lembut.
Elusan itu mengingatkan Lentera pada kejadian malam yang merikan baginya, sekelbat potongan-potongan rekaman kejadian itu berputar di kepalanya. Tubuh Lentera gemetar begitu hebatnya, keringat dingin mulai bercucuran, ia memejamkan matanya dengan kencang sembari berteriak. "Tidak... Tidak..!"
"Lentera, kamu kenapa? Lampunya sudah menyala."
Lentera memegang rambutnya dengan erat dan ia msih memejamkan matanya, tapi air matanya mengalir deras di wajahnya. "Tidak... Jangan sentuh aku...!" bentaknya.
"Lentera kamu kenapa?"
"Jangan sentuh aku!!" Lentera mendorong tubuh Rimba dengan sekuat tenaganya hingga Rimba hampir terjatuh, beruntung tangan Rimba yang kokoh dengan cepat memegang pegangan tangga.
"Lentera kamu kenapa?"
"Jangan mendekat," ia menggelengkan kepalanya, tatapan Lentera berubah jadi tatapan yang mengerikan yang tidak Rimba kenal. "Jangan sentuh aku!" ia berlari menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
wahhh...trauma lentera muncul lagi
akankah lentera berterus terang pada rimbaa...
2023-09-26
3
🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜
Semangat sekali pak Rimba 🤭
2023-09-23
2
🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜
Pasti kaget banget itu pak Rimba...
2023-09-23
2