Lentera tersenyum ketika memasuki kamar Pelangi, setelah mengetuk singkat di pintu. “Selamat pagi, Pelangi.” sapa Lentera dengan riang, lalu ia menyibak tirai, hingga kamar bocah itu dibanjiri cahaya matahari.
“Selamat pagi,” ulang Lentera.
Pelangi tidak membalas sapaannya. “Jam berapa sekarang?” tanya Pelangi ketus.
“Sekitar pukul lima tiga puluh.”
“Sedang apa Kakak ada di sini?”
“Memulai terapi,” sahut Lentera dengan tenang dan lembut.
“Tapi ini terlalu pagi dan tidak ada orang yang bangun sepagi ini,” gerutu Pelangi sambil kembali memejamkan mata.
“Ada. Aku, Papamu sudah bangun. Tadi aku melihat Papamu sedang olahraga, dan aku sudah meminta izin kepadanya untuk membangunkanmu." Lentera memaklumi Pelangi jadi sering bangun siang, sebab ia sudah tidak lagi sekolah reguler seperti anak-anak lainnya, saat ini Pelangi menjalani home schooling. "Sekarang kau juga sudah bangun, jadi Ayo! Banyak hal yang harus kita lakukan hari ini.” Lentera mendorong kursi roda ke sisi ranjang dan menyibak selimut, menyingkap kaki Pelangi yang kurus dan menyedihkan, terbungkus piama pink pucat, ujung kakinya dibungkus kaus kaki putih.
"Kakak mau apa?” bentak Pelangi sambil mengulurkan tangan untuk menarik selimut menutupi tubuhnya lagi.
Lentera kembali menarik selimut, dan dengan cekatan meraup kaki Pelangi hingga menggelantung di pinggiran tempat tidur. “Bangun, Nak!” ucap Lentera dengan lembut. “Kau mandi dulu sebelum kita mulai latihan, aku akan membantumu mandi."
Kemarahan memercik dari mata Pelangi. “Tidak,” geramnya, begitu jengkel hingga hampir tak bisa bicara. “Aku tidak mau di mandikan oleh Kak Lentera! Aku mau Bik Sore.”
“Okay, aku akan memanggil Bik Sore," Lentera mengalah, ia meraih HT di meja samping tempat tidur Pelangi, kemudian meminta Bik Sore untuk membantu Pelangi mandi.
Tak lama kemudian Bik Sore datang dan langsung membantu Pelangi mandi. Tiga puluh menit berselang Pelangi keluar dengan wajah yang jauh lebih segar dan rambut yang sudah rapih.
"Tinggalkan kami berdua, Bik," pinta Lentera, wanita itu keluar dari kamar Pelangi.
Lentera kembali mengambil alih Pelangi. "Untuk permulaan, aku ingin memijat tubuhmu. Aku izin membuka bajumu," Lentera mengulurkan tangannya untuk membantu Pelangi membuka pakaiannya, namun Pelangi menepisnya. "Aku tidak mau."
"Tapi ini bagian dari terapi, ayolah ini hanya sebentar saja. Aku berani jamin, setelah ini tubuhmu akan lebih enakan."
Pelangi pasrah, ia membiarkan Lentera membuka bajunya. Setelah semua pakaian Pelangi di tanggalkan, Lentera membantu Pelangi naik ke tempat tidurnya. “Telungkup, Nak!” perintah Lentera dengan lembut, lalu dengan cekatan ia menggulingkan tubuh Pelangi.
“Iiih!” protes Pelangi, wajahnya terbenam di bantal.
“Tenang saja, ini tidak akan sakit, percayalah padaku." Lentera mulai memijat bahu dan punggung Pelangi. "Pijatan ini tujuannya untuk sirkulasi darah, agar tubuhmu tidak dingin lagi."
"Lalu, apakah setelah menerima pijatan ajaib ini, aku akan seketika bisa berdiri?”
Lentera tertawa. “Mana bisa, pijatan ini hanya metode dasar. Untuk bisa berjalan kau harus tetap butuh latihan.”
Tangan Lentera bergeser ke kaki Pelangi, ia mencopot kaus kaki Pelangi dan memijat kakinya yang lunglai dengan cepat, merasakan sebagian hawa dingin di kaki bocah itu sirna.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Rimba mengawasi mereka. Ia amat terkesan dengan cara Lentera memberikan terapi kepada putrinya. Lentera begitu lembut tapi tegas sehingga putrinya sulit untuk tidak menurut perintah Lentera.
Menit demi menit berlalu, Lentera bekerja tanpa berkata sepatah pun. Sesekali Pelangi menggerutu protes karena tubuhnya bercampur keringat dan minyak, sehingga membuatnya jijik.
“Berapa lama lagi kau akan melakukan ini?” tanya Pelangi tak sabar.
Lentera mendongak dan melihat jam. Sudah satu jam lebih sedikit. “Kurasa sudah cukup untuk saat ini,” sahutnya. “Sekarang kita latihan.”
Lentera mengangkat satu kaki Pelangi, lalu satu lagi, menekuknya hingga lutut Pelangi menyentuh dada, lalu mengulangi gerakan itu berkali-kali. Pelangi menerima semua perlakuan itu dengan membisu kira-kira selama lima belas menit, kemudian tiba-tiba dia berguling dan mendorong Lentera.
“Hentikan!” teriaknya. “Ini hanya buang waktu! Pergi dari rumahku!"
Lentera menanggapi dengan heran. “Membuang waktu? Kita baru saja mulai, semua itu butuh proses nak."
“Aku tidak suka diperlakukan seperti ini, terapis lain tidak ada yang seperti ini!”
“Ya sudah, bagaimana kalau kita sarapan?”
“Aku tidak lapar,” ucap Pelangi, kemudian ekspresi tercengang melintas di wajahnya saat mendengar bunyi di perutnya.
"Ternyata kau bohong," Lentera membantu Pelangi berpakaian kembali, meski wajah bocah itu terus cemberut hingga masuk ke lift, bahkan ketika mereka tiba di ruang makan.
"Morning, baby." Sapa Rimba yang sudah siap dengan pakaian kantornya, ia tidak sendiri di meja makan. Ada Jagat, saudara, sahabat sekaligus rekan bisnis Rimba yang ikut sarapan bersama mereka, dia juga ikut menyapa Pelangi.
"Keponakan uncle tumben sekali bangun sepagi ini." Sejak kecelakaan yang menimpa Pelangi dan ibunya, Jagat tak pernah sekali pun melihat Pelangi sarapan bersamanya.
"Ini semua karena Kakak galak yang ada di belakangku," matanya melirik ke arah Lentera yang mendorong kursi rodanya menuju makan.
"Kok Kakak galak?" tanya Rimba, matanya menatap putrinya yang sudah tiba di meja makan dan duduk di sebelahnya.
"Habis nyebelin sih," ucap Pelangi. Lentera sama sekali tidak keberatan dengan sebutan itu, ia sangat memaklumi jika Pelangi belum terbiasa dengan rutinitas barunya.
“Sampah apa ini?” geram Pelangi ketika melihat piring makannya berisi telur rebus, sayur, dan dada ayam rebus, ia pun langsung melempar piring tersebut.
"Sayang, kau tidak boleh seperti itu. Makanan ini baik untukmu," bujuk Rimba.
Lentera memberi kode kepada Bik Sore untuk mengambilkan makanan yang sama. "Bagaimana jika kamu minum vitamin dulu?” sahutnya dengan nada membujuk.
“Aku tidak mau!”
“Tubuhmu membutuhkannya, sayang," bujuk Rimba kembali.
"Kamu tidak akan dapat makanan apa pun sebelum menelan pil-pil itu,” Lentera kembali bersikap tegas kepada Pelangi
Dengan terpaksa Pelangi meminum semua vitamin yang di berikan Lentera. "Sudah," ucapnya ketus.
“Anak pintar,” Lentera mengelus kepala Pelangi dengan lembut.
"Sekarang aku mau pancake," pinta Pelangi
“Maaf,” sahut Lentera. “Bukan itu menu makananmu sekarang, makanan itu terlalu manis. Bagaimana kalau kau makan anggur dulu?” Sembari menunggu Bik Sore membawa kan kembali makanannya.
“Aku tidak suka anggur.”
“Tapi anggur mengandung banyak vitamin C,” ucap Rimba.
“Tapi aku baru saja minum vitamin, Pah."
"Begini saja, siang nanti kau akan mendapatkan satu ice cream sebagai reward jika kamu mau memakan makanan ini," Lentera mencoba memberikan solusi, dan ia bernapas lega karena Pelangi setuju.
Setelah Bik Sore kembali dengan makanan sehat seperti yang tadi, Pelangi langsung menyantapnya meski ia terlihat makan dengan setengah hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤
pastii ada step..by step ..emang sulap langsung bisaaa
2023-09-14
3
🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤
bik sore...seperti semuaa ada disini dari senja, lentera,pelangi
2023-09-14
2
🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤
ya mau terapi dirimu lah pelangi masa mauu bobo lagi
2023-09-14
2