BAB 16

Sesuai dengan permintaan Lentera, Rimba tak lagi melarang Jagat dan Rembulan datang ke kediamannya. Lentera menilai tidak ada yang perlu di permasalahkan dan tidak perlu memutus hubungan kekeluargaan sebab antara dirinya dan Jagat tak ada apa-apa.

Sehingga seperti biasanya keesokan paginya Jagat datang untuk sarapan bersama. Tak lama setelah kedatangan Jagat, mereka semua terkejut dengan kedatangan Rembulan, nampak jelas pasangan suami istri itu terlihat dingin dan tak saling sapa.

"Tumben Aunty sarapan di sini? Seingatku terakhir Aunty sarapan di sini saat Mama masih ada," ucap Pelangi sembari menghabiskan susunya.

Rembulan tersenyum ke arah keponakannya. "Aunty ingin ikut memantau kondisimu, sayang. Boleh kan?"

Pelangi mengangguk, "Boleh Aunty," asalkan tak mengganggunya ia sama sekali tak masalah.

Di tengah makan pagi yang berlangsung, dengan terang-terangan Jagat memberikan perhatian lebih kepada Lentera, dengan menuangkan segelas jus jeruk ke gelasnya. Namun Lentera enggan merespon karena tak ingin membuat keributan.

Rimba mengamati dengan tatapan setajam elang, ia mengambil gelas itu dengan dan langsung menghabiskannya, sementara Lentera sendiri lebih memposisikan dirinya lebih dekat dengan Pelangi. Untungnya Pelangi tak keberatan jika Lentera terus menempel padanya, bahkan bocah itu justru terlihat senang.

"Okay, sudah waktunya siap-siap untuk belajar. Masih ada tiga pupuh menit lagi sebelum gurumu datang, kamu bisa membereskan buku dan mengecek sekali lagi PRmu." Lentera beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia menarik kursi roda Pelangi mendekat ke arah Rimba untuk pamit.

"Semangat ya belajarnya," Rimba memberikan kecupan manisnya di kening putrinya, kemudian beralih menatap Lentera. "Sepertinya aku akan pulang malam, apa kau keberatan untuk menjaga Pelangi sampai malam?"

Lentera menggeleng. "Tidak," ia terlihat riang sebab bersama Pelangi bukan seperti menjaga atau mengasuh melainkan bermain dan bagi Lentera itu sangat menyenangkan.

Pelangi juga pamit dengan Jagat dan Rembulan sebelum ia dan Lentera kembali ke lantai dua menuju kamar. Rimba melirik ke arah lift, begitu pintu lift tertutup ia menatap Jagat dan Rembulan secara bergantian dengan tatapan tajamnya. "Aku tidak mau ikut campur dalam masalah rumah tangga kalian, silahkan kalian selesaikan sendiri secara dewasa," ucap Rimba. "Tapi tolong, jangan libatkan Lentera. Biarkan dia memberikan terapi untuk Pelangi di rumah ini dengan nyaman."

"Apa kau takut bersaing denganku?" tanya Jagat sembari tersenyum sinis. "Aku bisa melihatnya kalau kau juga menaruh hati padanya..."

"Tutup mulutmu," bentak Rimba, ia melirik ke arah Rembulan. Mau bagaimana pun Rembulan adalah adik iparnya, dan meskipun dia bersalah karena telah menggabaikan Jagat bukan berarti Jagat bisa menyakitinya. "Tidak bisakah kau menjaga sedikit saja perasaan Rembulan? Dia adalah istrimu."

Jagat tertawa menatap Rembulan. "Dia tidak pernah menganggapku suaminya," ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kediaman Rimba.

Isak tangis mulai terdengar dari mulut Rembulan setelah suaminya pergi, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Untuk sesaat Rimba membiarkan Rembulan menangis, ia melihat jam di tangannya sudah waktunya guru putrinya datang dan sebentar lagi Pelangi akan turun. ia tak ingin Pelangi melihat Rembulan menangis. "Dek, bagaimana jika kita ngobrol di ruang kerjaku?" Rimba bangkit dari tempat duduknya, dan menghampirinya.

Rembulan mendongak sembari menghapus air matanya dengan jemarinya. "A-apa Mas Rimba tidak ke kantor?" tanyanya sesegukan.

"Aku bisa memberimu waktu satu jam, bagaimana?"

Perlahan Rembulan menganggukan kepalanya. "Ya sudah kita ke atas yuk!" Rimba mengajak Rembulan menaiki tangga, sebab ia tak ingin berpapasan dengan putrinya dan Lentera yang sebentar lagi akan turun.

Rimba merangkul Rembulan menaiki tangga. "Sudah jangan menangis lagi, mas pasti akan membantumu," ia mengelus punggung Rembulan dengan lembut. Di saat yang bersamaan Lentera dan Pelangi keluar dari lift, Lentera melihat sekeliling ruang makan sudah nampak sepi, tatapannya beralih ke tangga saat ia mendengar suara ketukan sepatu. Lentera melihat Rimba tengah merangkul Rembulan menaiki tangga, ia terdiam untuk beberapa saat. Ada rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, ia begitu marah dan kesal melihat hal itu.

"Kak Lentera kenapa diam saja di situ?" Pelangi yang sudah lebih dahulu berjalan dengan krusi rodanya menuju ruang tamu, membuyarkan lamunan Lentera. "Ayo sini, katanya mau menemaniku belajar,"

Lentera mencoba untuk tersenyum meski hatinya masih di landa rasa yang tak karuan, ia berlari kecil menghampiri Pelangi.

Sementara itu, ketika sampai di ruang kerja Rimba. Rembulan langsung mengakui semua kesalahannya dan mengungkapkan rasa penyesalannya karena selama ini ia mengabaikan Jagat. "Sungguh aku tak bermaksud seperti itu, Mas... Huhuhu.." tangisnya kembali pecah. "Aku begitu mencintainya, dan aku tak ingin menceraikannya, tapi aku juga tak ingin di poligami."

Rimba menghembuskan napas berat, ia tahu hampir tak ada wanita yang ingin di madu, apa lagi jika sang istri begitu mencintai suaminya. Rimba sekotak tisu untuk Rembulan menghapus air matanya. "Kalau kau begitu mencintai Jagat, mengapa kau tidak tunjukan rasa cintamu padanya?"

Tangis Rembulan semakin kencang, hal ini membuat Rimba bingung. "Dek, apa pertanyaan mas salah? Mas merasa kalian hanya kurang komunikasi, dan bisa memperbaiki rumah tangga kalian dari awal."

Rembulan menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas, Mas Jagat sudah bulat dengan keputusannya untuk mengejar Lentera. Dia begitu menginginkan Lentera, dengan terang-terangan dia selalu memuji Lentera."

Rimba tak menyangka jika Jagat begitu menginginkan Lentera, ia bergeser lebih dekat ke arah Rembulan yang duduk di sofa ruang kerjanya. "Dek, percaya padaku Lentera tak mencintai Jagat. Kau masih bisa merebut kembali hati suamimu," ia menepuk bahu Rembulan. "Mas yakin kamu bisa," ucapnya dengan penuh keyakinan.

"Sebenarnya aku pun melihat itu dari mata Lentera, dia sama sekali tak berminat dengan Mas Jagat," ia mendongak menatap Rimba. "Aku justru melihatnya, dia tertarik dengan mas Rimba."

Seketika Rimba terbatuk-batuk seolah tersedak padahal ia tidak sedang makan atau minum apa pun. "Apaan sih kamu ini ngaco," elaknya dengan wajah yang memerah.

"Mas Rimbanya saja yang tidak peka."

"Kok jadi malah bahas aku?" Rimba berusaha mengembalikan topik permasalahan pada rumah tangga Rembulan dan Jagat. "Ayo tinggalkan sejenak urusan kantormu, toh sudah ada Pak Budi yang membantumu mengelolanya, jadi untuk sementara kamu bisa fokus pada Jagat. Lagi pula uangmu sudah banyak apa laginsih yang kamu kejar," ucap Rimba sembari tertawa.

"Ini bukan masalah uang, Mas." wajah Rembulan mendadak serius. "Aku ingin membuktikan pada Mama dan Papa bagwa aku bisa membawa perusahaannya menjadi lebih baik dari saat Mentari memimpinnya." Rembulan *******-***** tisu yang berada di genggamannya. "Dari dulu Papa dan Mama selalu membanding-bandingkan aku dengan Kak Mentari, mereka menilai Mentari lebih segalanya dari aku dan aku hanya bisa jadi bayang-banyanya saja." mata Rembulan kembali berkaca-kaca, namun kali ini di penuhi emosi.

Rimba mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian beranjak dari sofa menuju meja kerjanya. "Sepertinya sudah saatnya kamu tahu," ia mengambil setumpuk berkas yang tersimpan di laci bagian bawah meja kerjanya.

"Aku tak bermaksud menjelekan Mentari, hanya saja kau perlu tahu ini," ia kembali ke sofa dan menyerahkan berkas itu pada Rembulan.

"Mentari tak sesempurna itu," ucapnya. "Masih ingat saat aku menahan perusahaan keluargamu setelah kepergian Mentari? Saat itu aku sedang memperbaiki persoalan keuangan perusahaan keluargamu, Mentari hampir saja membawa perusahaan keluargamu pada jurang kebangkrutan."

Rembulan menutup mututnya dengan satu tangannya sementara tangan yang satunya memegangi berkas laporan keuangan. "Jadi Mas Rimba bukan hanya menutupi skandal perselingkuhan Mentari saja? Tapi Mas juga melindungi perusahaan keluarga kami?"

"Demi Mentari," Rimba menggelengkan kepalanya, ia sendiri pun tak tahu mengapa dulu ia sebodoh itu melakukan segalanya demi istri yang telah mengkhianatinya. "Mentari telah memberiku putri yang paling aku cintai, jadi aku tidak bisa membiarkan nama baiknya hancur..." ia menghela napas beratnya.

"Tapi mas..."

"Sudahlah dek, semuanya sudah berlalu. Mentari sudah pergi dan aku berharap dia di tempatkan di tempat yang terindah." Rimba menepuk bahu Rembulan dengan lembut. "Sekarang kau sudah tahu dia tidak sesempurna itu, jadi kau tidak perlu bersaing lagi dengan orang yang sudah tidak ada. Lagi pula, seorang wanita yang sudah menikah kewajibannya berpindah pada suaminya, bukan lagi pada orang tuanya. Kamu tetap bisa menghormati orang tuamu dengan versi terbaikmu bukan versi Mentari." Rimba tersenyum pada Rembulan. "Kejarlah cinta suamimu, mas yakin kamu bisa."

Rembulan tersenyum, ia menaruh berkas-berkas itu di atas meja lalu beranjak dari tempat duduknya. "Terima kasih ya Mas, aku mau jemput Mas Jagat dulu." ia keluar dari ruang kerja Rimba dengan perasaan yang jauh lebih lega, ia menyapa Pelangi yang tengah belajar saat ia melewatinya di ruang tamu. "Aunty pergi dulunya sayang.." ucapnya dengan riang.

Melihat wajah Rembulan yang terlihat lebih riang setelah bersama Rimba, membuat hati Lentera semakin tak karuan.

Terpopuler

Comments

Hearty💕💕

Hearty💕💕

Cemburu ya

2023-09-24

2

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

hehehe...ada sedikit perasaan cemburu yaa lentera 🤭

2023-09-23

3

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

laahh Mbaa...dari dulu kemana ajaa sih ... Kok punya suami ga diurus sekarang giliran suami suka sama perempuan lain langsung kalang kabut

2023-09-23

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!