BAB 17

Hari demi hari berlalu, Rembulan nampak memperlihatkan upayanya untuk kembali memenangkan hati suaminya, namun Jagat seolah sudah enggan dengannya, dia malah terang-terang semakin mendekati Lentera, meski Lentera sama sekali menunjukan ketidak tertarikannya pada Jagat.

Lentera hanya fokus melatih Pelangi dengan program baru yang ia buat dan sudah di setujui oleh Rimba dan Senja. Lentera mulai melatih Pelangi lebih keras dari sebelumnya, karena Pelangi sudah mulai terbiasa dengan program latihannya yang lalu.

Welain berlatih, di setiap minggu mereka berdua bertanding ulang adu congklak, Lentera masih penasaran mengapa dia tak kunjung memenangkan permainan sehingga mau tak mau Lentera memberikan hadiah wafel coklat buatannya. Lentera tak hanya membuatkan wafel coklat untuk Pelangi, namun ia juga membuatkan untuk Rimba, sebab Rimba akan protes jika tidak di buatkan.

Hari ini adalah hari yang menegangkan bagi Lentera, meski Pelangi terlihat kuat, tetap saja Lentera merasa gugup saat Pelangi mulai menggunakan kakinya untuk berdiri. Ini adalah inti dari keseluruhan program terapinya, kalau Pelangi tidak melihat ada kemajuan dengan kakinya, Pelangi akan kehilangan harapan dan kembali terpuruk ke dalam depresi, hal yang paling Lentera takutkan.

Setelah Pelangi selesai melakukan sesi latihan, Rimba menggendong putrinya kembali ke kursi roda dan menggiringnya ke palang-palang sejajar yang akan Pelangi gunakan untuk menopang tubuh. Pelangi menatap palang-palang tersebut, lalu menatap Papanya. "Ayo sayang kamu pasti bisa!" Rimba memberikan putrinya semangat.

Pandangan Pelangi berpindah menatap Lentera.“Ayo Pelangi! ini sudah saatnya,” ucap Lentera dengan sesantai mungkin, meski jantungnya berdebar kuat. “Ayo berdiri!”

Pelangi menelan ludah, tatapannya bergeser dari Lentera ke palang, lalu kembali lagi ke Lentera."Sekarang?" tanyanya.

"Iya, sayang. Sekarang sudah waktunya kamu untuk berdiri!!! Hanya berdiri saja, jangan mencoba berjalan. Biarkan kakimu terbiasa menopang tubuhmu.”

Pelangi mengeraskan rahang dan mengulurkan tangan ke palang, setelah menggenggam palang kuat-kuat, dia menarik tubuhnya bangkit dari kursi roda.

Upaya mengangkat tubuh berjalan mudah saat Pelangi menarik tubuh ke atas dengan menggunakan kekuatan bahu dan tangan. Rimba dan Lentera mengawasinya dan memperhatikan Pelangi, mereka berdua melihat bagaimana otot-otot bocah itu menggembung dan bergerak-gerak.

Sekarang tangan Pelangi berisi daging dan otot, bukan sekadar kulit pembalut tulang. Meski masih terlihat kurus, tapi fisiknya tak lagi seburuk dulu. Bahkan kakinya merespons latihan yang Lentera instruksikan setiap harinya.

Wajah Pelangi pucat, peluh menetes-netes di wajahnya, saat Lentera membantu Pelangi memposisikan kaki bocah itu dengan mantap. “Okay, sekarang saatnya,” ucap Lentera lembut. “Lepaskan tanganmu dari penyanggah, biarkan kakimu yang menopang. Kamu mungkin akan jatuh tapi jangan khawatir karena semua pasien biasanya akan jatuh ketika tiba di fase ini, dan kami akan menjagamu sayang.”

“Aku tidak akan jatuh,” ucap Pelangi dengan mantap. Dengan semangat yang berkobar, Pelangi menyeimbangkan tubuh dengan dua tangan yang perlahan ia rentangkan, tubuhnya sudah bertumpu di kaki. Pelangi mengerang kuat. “Kakak kenapa tidak bilang jika ini akan sakit?” protesnya dengan gigi terkatup.

Kepala Lentera langsung tersentak ke atas, matanya berpijar memancarkan kegembiraan. “Apakah sakit sekali, Nak?”

“Sakit, Seperti ada jarum panas di kakiku…”

Rimba terlihat cemas. "Lentera apa ini tidak apa-apa?"

Lentera menggelengkan kepalanya, buliran-buliran bening mulai membasahi matanya, ia begitu bangga dan tidak bisa menahan air matanya. Lentera mengerjap untuk menahan tangis, meski air matanya sudah membasahi sela-sela bulu matanya yang hitam. “ I-ini justru hal yang bagus Pak Rimba," ucapnya terbata-bata di sela isakannya. "Saraf-saraf Pelangi berfungsi! Semua terapi itu berhasil! Pijatan, latihan, kolam renang…" pekik Lentera, ia hampir melompat-lompat.

Pelangi menatap ke arah Lentera. "Jadi?"

“Kamu akan bisa berjalan lagi sayang!” teriak Lentera, air matanya semakin deras jatuh ke pipinya, ia kemudian mengusap air matanya dengan punggung tangan dan mengeluarkan tawa kecil gemetaran. “Kamu akan bisa berjalan lagi,” ulangnya.

Wajah Pelangi berkedut, karena terlalu bahagia. Ia kehilangan keseimbangan, namun dengan sigap Lentera menangkapnya, ia memeluk Pelangi erat-erat, tapi sekarang Pelangi terlalu berat untuknya sehingga Lentera terhuyung dan rubuh tertimpa tubuh Pelangi.

Bocah itu memeluk Lentera dengan dua tangan dan membenamkan wajah di dada Lentera. Pelangi menangis di dada Lentera, dia tidak bisa menghentikan tangisan bahagianya. Sedu sedan yang membebaskan penderitaan dan keputusasaan Pelangi selama dua tahun. “Kakak...” ucap Pelangi dengan parau. “Kakak, aku bisa berdiri hiks...”

Rimba berjongkok dan ikut memeluk keduanya. "Selamat sayang," ia pun tak dapat menahan isak tangisnya, ia semakin mempererat pelukannya.

Lentera langsung tersadar saat lengan kokoh Rimba melingkar di bahunya, tubuhnya bergetar begitu hebatnya, ia ingin melepaskan tangan itu dari tubuhnya, namun Pelangi menahannya, bocah itu masih menangis dalam pelukannya.

Situasi ini terlalu menyesakkan bagi Lentera, ada ketakutan yang begitu hebat di dadanya, tapi ada pula rasa bahagia dan nyaman. 'Rimba tak memeluk secara langsung, ada pelangi dia antara mereka, dan Rimba tidak akan berbuat jahat di depan putrinya,' batin Lentera.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada yang seorang pria yang memeluknya erat sembari menangis bahagia, dan itu membuat perasaannya meletup-letup. Ia tidak sanggup menanggung rasa takut dan kebahagiaan yang ia rasakan sekaligus, tapi di saat yang bersamaan ini juga ia merasakan seolah ada yang berubah dalam dirinya.

Momen sederhana, menangis bersama Pelangi dan Rimba telah meruntuhkan tembok yang selama ini mengucilkan Lentera dari seisi dunia. Ia tidak pernah membiarkan apa pun terlalu akrab dengannya, tak pernah membiarkan dirinya di sentuh oleh siapa pun, ia selalu bersembunyi di balik topeng yang ia pakai, karena Lentera pernah tersakiti sangat dalam dan takut akan disakiti lagi. Lentera membangun mekanisme pertahanan diri yang kokoh, tapi entah bagaimana Pelangi dan Rimba berhasil membuat mekanismenya mengalami kerusakan.

Lentera memeluk Pelangi lebih rapat ke tubuhnya, ia membiarkan tangan Rimba berada di pundaknya. Lentera ingin menangis sekali lagi, karena ia takut sekaligus gembira mendapati kebebasan baru bisa disentuh oleh pria. Tangan Rimba mengelus lembut bahu Lentera, perlahan ia melepaskan pelukannya dan menatap Lentera dalam-dalam. "Terima kasih," ucapnya lirih, air mata masih membasahi wajahnya.

Pelangi mengangkat kepala untuk menatap Lentera. "Terima kasih Kak Lentera," mata Pelangi berkiauan dengan air mata yang menetes di wajahnya, kemudian ia kembali membenamkan kepalanya di dada Lentera. Lalu Lentera mencium kepala bocah itu. "Kau seharusnya berterima kasih pada dirimu sendiri sayang," bisiknya. "Ini semua adalah hasil dari usahamu, kakak bangga sekali padamu."

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

alhamdulillah...pelan2 kmu pasti bisa jalan Pelangi...🤗🤗🥰
Dan utk Lentera..semoga kau bs menghilangkan trauma mu atas sentuhan laki2..

2023-09-26

3

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

halaahh Rimba ikut2an pwngen juga 🤭🤭

2023-09-26

3

**✿𝕾𝖆𝖒𝖘𝖎✿**

**✿𝕾𝖆𝖒𝖘𝖎✿**

keren pelangi 👏👏👏

2023-09-23

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!