BAB 4

Setelah Bik Sore kembali dengan makanan sehat seperti yang tadi, Pelangi langsung menyantapnya meski ia terlihat makan dengan setengah hati, tapi ia menolak susu. "Aku tidak mau minum susu," tolaknya.

Pelangi masih terlihat kesal, tapi sekarang dia menahan kemarahannya karena dia tidak tahu harus berbuat apa, yang dia tahu sekarang, apa pun yang dia lakukan sudah diantisipasi oleh terapisnya. “Aku tidak mau minum susu, aku mau ice lemon tea !”

Lentera tersenyum menatap pelangi. “Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?” usulnya. “Kamu minum susu itu karena kamu membutuhkannya untuk sumber kalsium, lalu kamu boleh mendapatkan ice lemon tea.”

Pelangi menghela napas panjang, lalu menenggak habis susunya.

Setelah itu barulah Bik Sore membawakan ice lemon tea yang di minta Pelangi. Secara keseluruhan acara sarapan berjalan relatif damai. Rimba dan Jagat mengobrol santai dengan Pelangi, sementara Lentera terlihat santai menghabiskan sarapannya, lalu menaruh serbet di pinggir. “Waktunya latihan lagi,” ucap Lentera.

“Tidak!” raung Pelangi. “Aku sudah cukup latihan untuk hari ini! Kau agak terlalu memaksa, kakak galak!”

“Tolong panggil aku kakak saja, aku tidak segalak itu,” gumam Lentera sembari melirik ke arah Rimba, ia tak ingin Rimba berpikir jika ia pernah memarahi putrinya.

“Ngatur mulu! Bisakah kau membiarkanku sendirian? Aku sudah benar-benar gerah melihatmu!”

“Tentu, setelah tugasku selesai.”

“Tugasmu sudah selesai” bentak Pelangi sambil menyentak kursi ke belakang. Dia menekan kuat tombol maju. “Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!” teriak Pelangi ketika kursi rodanya meninggalkan ruangan makan.

Lentera mengembuskan napas berat dan menatap kearah Rimba. "Aku percayakan Pelangi padamu, aku yakin kau akan memberikan yang terbaik untuknya." ucap Rimba, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. "Aku mau ke kantor dulu, aku akan pulang sebelum jam makan siang," ia beranjak dari tempat duduknya di susul oleh Jagat.

Jagat tersenyum pada Lentera saat melewatinya. Lentera pun ikut tersenyum, ia lega karena Rimba sangat mendukung penuh program terapi yang berikan kepada Pelangi.

Untuk sesaat ia membiarkan Pelangi tenang, dengan mengobrol ringan bersama Bik Sore mengenai menu makanan Pelangi selanjutnya, setelah itu barulah Lentera naik ke lantai dua untuk memulai lagi. Lentera mengetuk pintu kamar Pelangi, lalu membukanya dan masuk.

Pelangi melemparkan tatapan murung kepada Lentera dari kursi rodanya. Lentera mendatangi Pelangi dan menaruh tangan di bahu bocah itu. “Kakak tahu ini sulit,” ucapnya lembut. “Kakak juga tidak bisa menjanjikan kepadamu latihan ini akan mudah. Tapi cobalah memercayai Kakak, Kakak sangat menguasai pekerjaan ini, dan hasil terburuknya, kesehatanmu kelak pasti jauh lebih baik daripada saat ini.”

“Kalau aku tidak bisa berjalan lagi, untuk apa aku peduli kesehatanku?” tanya Pelangi tajam. “Kau pikir aku ingin hidup seperti ini? Aku lebih baik tewas seketika saat kecelakaan itu bersama Mama dari pada harus menjalani hidup seperti ini selama dua tahun.”

"Apa kau tidak menyayangi Papamu? Papamu sudah terpukul karena kehilangan Mamamu, dia akan lebih terpukul lagi jika hilanganmu juga."

"Tapi untuk apa aku hidup jika aku tidak bisa berjalan dan aku juga tidak bisa menari lagi?"

“Apakah sejak dulu kau mudah menyerah?”

“Kau tidak tahu apa-apa soal itu. Kau tidak tahu seperti apa rasanya...” bentak Pelangi dengan keputus asaan.

"Aku pernah melihat banyak orang dengan kondisi jauh lebih buruk dari pada yang kau alami. Aku yakin kau bisa berjalan lagi, karena aku akan membantumu bisa berjalan lagi.”

“Aku tidak ingin mendengar seburuk apa kondisi orang lain. Mereka bukan aku! Hidupku milikku, dan aku tahu apa yang kuinginkan dari hidupku, juga tahu apa yang tidak bisa dan tidak ingin kujalani.”

“Berlatih? Berusaha? Merasakan sakit?” desak Lentera. “Ayahmu menceritakan banyak hal hebat tentangmu, kau bukan hanya balerina terbaik di sekolahmu, tapi kau juga pernah memenangkan lomba basket, dan cerdas cermat antar sekolah. Maukah kau berusaha meraihnya lagi?"

Pelangi mengembuskan napas beratnya, wajahnya menampakkan keletihan yang tidak bisa digambarkan. “Aku tidak tahu. Tapi yang jelas aku tidak bisa berjalan, Kak Lentera. Aku tidak bisa menggerakkan kakiku sama sekali.”

“Aku tahu. Saat ini kau tidak menggerakkan kakimu. Tapi akan selalu ada harapan jika kau mau membiarkanku melatih kembali sarafmu sebelum kau bisa menggerakkannya. Akan butuh waktu beberapa bulan, dan aku tidak berjanji jalanmu takkan pincang, tapi kau pasti berjalan lagi… kalau kau mau bekerja sama denganku. Nah, nona Pelangi bisa kita mulai lagi latihanmu?”

Tanpa mereka sadari, dari balik pintu Rimba dan Jagat mendengarkan semua percakapan Pelangi dan Lentera. Tadi Rimba hanya berpura-pura, pergi ke kantor, ia ingin sekali lagi mengingip bagaimana Lentera menangani putrinya yang begitu asa. Ternyata keputusannya untuk memperkerjakan Lentera adalah keputusan yang tepat, ia tak pernah melihat terapis sehebat Lentera sebelumnya.

Lentera membagkitkan rasa optimis Rimba, bahwa Pelangi akan bisa berjalan lagi. "Ayo kita ke kantor," bisik Rimba ia berjalan menuju tangga.

"Wow, terapis Pelangi betul-betul luar biasa. Aku yakin jika terus seperti ini, anakmu akan segera jalan."

Menereka menuruni tangga dengan cepat, kemudian keluar dari rumah dan masuk ke mobil yang sudah terparkir di halaman. "Aku juga yakin Pelangi akan bisa berjalan dan menari lagi." Rimba mulai menyalakan mesin mobil, kemudian melajukan menuju kantor.

"Ngomong-ngomong dari mana kau mendapatkan terapis itu?" tanya Jagat penasaran.

"Aku dapat rekomendasi dari dokter Elegi. Dokter barunya Pelangi, dokternya yang lama kebetulan pindah tugas ke luar kota. Dokter Elegi, menyarankan aku untuk menemui Lentera di Surabaya."

Flashback On.

Rimba nampak ragu saat melangkahkan kakinya di sebuah panti asuhan di Surabaya, sebab panti asuhan itu nampak sangat sederhana. 'Bagaimana bisa di sini ada seorang terapis handal?' pikirnya, karena asumsinya seorang terapis handal akan ada di rumah sakit besar. Tapi ini adalah harapan terakhir Rimba, ia sudah hampir putus asa mencarikan terapis yang cocok untuk putrinya.

Setelah berbincang dengan pemilik panti asuhan, pemilik panti mengantar Rimba ke taman samping panti asuhannya, dia mempersilahkan Rimba untuk berbicara secara langsung kepada Lentera, karena semua keputusan ada di tangan Lentera.

"Itu dia orangnya, Pak. Silahkan bapak ke sana saja, ngobrol dengannya secara langsung," ucap pemilik panti.

Entah mengapa rasanya Rimba ingin tersenyum ketika melihat seorang gadis, yang nampak serius melatih seorang bocah laki-laki yang kira-kira usianya lebih tua dari usia putrinya. Bocah itu terlihat sudah mampu berjalan, meski masih terlihat sedikit pincang.

“Nona, Lentera Bentang Nirbatas?” tanya Rimba dengan sopan.

Lentera langsung menoleh ke arah Rimba, ia mengulurkan tangan pada Rimba. “Ya, saya Lentera Bentang Nirbatas. Siapa Anda…?”

“Rimba Fajar Cakrawala,” sahut Rimba sambil menyambut tangan Lentera dan mengguncangnya dengan mantap. “Saya sadar kedatangan saya mengganggu sesi terapi Anda, tapi ada hal penting yang saya ingin berbicara dengan Anda.”

"Sebentar," ucap Lentera, ia beralih pada pasiennya memintanya untuk berlatih sendirian dulu semantara ia mengobrol dengan Rimba.

Lentera mengajak Rimba duduk di kursi pinggir taman sembari terus mengawasi pasiennya.“Silakan duduk,” Lentera mempersilakan duduk di kurs, kemudian ia duduk di sampingnya. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Terima kasih,” sahut Rimba penuh semangat. “Kira-kira beberapa minggu lalu saya mengirimkan email kepada Anda terkait putri saya, Pelangi Jingga Cakrawala."

Lentera mengernyit sedikit. “Saya ingat. Tapi saya sudah membalas email Anda, Pak Rimba. Apakah Anda tidak membaca email saya?”

“Saya sudah membacanya,” sahut Rimba. “Saya kemari untuk meminta Anda mempertimbangkan kembali penolakan Anda. Karena kondisi putriku menurun drastis. Saya yakin Anda bisa...”

“Saya bukan Tuhan ataupun Malaikat,” Lentera menyela dengan lembut. “Lagi pula setelah selesai dengan yang ini, pasien lainnya sudah menunggu saya. Mengapa saya harus mendahulukan putri Anda dari pada pasien-pasien lain yang membutuhkan jasa saya sebesar putri Anda membutuhkannya?”

“Apakah pasien-pasien Anda yang lain sedang kritis?” tanya Rimba tanpa basa-basi.“Apakah putrimu hampir menemui ajalnya? karena dari informasi yang Bapak sampaikan di email itu, operasi terakhir berjalan sukses. Ada terapis lain yang lebih hebat dari saya yang bersedia membantunya terapi."

Rimba menatap bunga-bunga yang berjejer di taman yang asri itu. “Putriku tak akan hidup sampai setahun lagi,” terangnya, ekspresi muram melintas di wajahnya yang bersahaja tapi tegas. “Begini, Nona Lentera. Putriku mengalami kecelakaan bersaama ibunya, ibunya meninggal dunia dalam kecelakaan itu, sementra Pelangi selamat namun dia tidak bisa berjalan lagi. Berbagai upaya sudah aku coba, tapi hasilnya belum menunjukan perubahan yang signifikan. Putriku sudah menyerah, dia membiarkan dirinya mati, dia tidak mau makan, jarang tidur, dan menolak keluar rumah. Aku mohon bantulah aku, Nona Lentera.”

...****************...

*Sudah 1.328 kata, lanjut ke bab selanjutnya ya. Terima kasih sudah membaca😊

Terpopuler

Comments

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

wah sungguh banyaknya 1.328 kata emang yaa kalau othor handal nggak kehabisan kata²

2023-09-14

4

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

nama² yang sangat bagus...sayangnya aku dah stop punyaa anak ...mungkin....ntar cucu kali yaa😂😂🤭

2023-09-14

4

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

wah ternyata pelangi memiliki kemampuan yang lebih .

2023-09-14

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!