BAB 15

Selesai makan siang dan Pelangi tidur siang, Senja mengajak Lentera minum teh di rooftop kediaman Rimba. "Duduklah!" ia melirik ke arah Lentera sembari menyesap teh hangatnya.

Sekilas Lentera melihat sekeliling, sudah dua minggu ia berada di rumah ini baru sekali ini ia menginjakkan kaki di rooftop. Tempat itu begitu indah dan sejuk, ia bisa melihat pemandangan di sekitaran komplek. Lentera tesenyum dan duduk dengan tenang di hadapan Senja. "Ada apa Nyonya memanggilku kemari?" tanyanya tanpa basa-basi.

Senja tersenyum sinis, menaruh tehnya di atas meja. "Aku tahu kau yang meminta Rimba agar suamiku membuatku sibuk akhir-akhir ini sehingga aku tidak ada waktu untuk datang kemari," ia menatap Lentera dengan tajam. "Perlu kau ketahui Lentera, aku mengasuh Pelangi sudah sejak usia tiga tahun. Sejak Mentari ada main dengan pria lain, aku yang merawatnya karena Mentari menelantarkannya, sementara Rimba sibuk menyelesaikan S3nya di Singapore. Jadi kau tidak bisa memisahkan aku begitu saja dengan Pelangi."

Lentera paham sekali dengan kedekatan antara Senja dan Pelangi. "Maaf, aku tidak bermaksud memisahkan Anda dengan Pelangi. Jika Anda bersedia kooperatif tidak mencampuri program terapi yang aku berikan pada Pelangi, Anda bisa kapan pun menjenguknya. Tapi jika Anda tidak bisa kooperatif, maka dengan terpaksa aku akan kembali meminta Pak Rimba membatasi kunjungan Anda, dan Anda bisa mendapatkan kembali seluruh perhatian Pelangi, di bulan Februari mendatang setelah Pelangi bisa berjalan dan aku akan pergi dari sini," terangnya dengan tegas dan lugas.

"Apa kau yakin di bulan Februari mendatang kau akan pergi dari rumah ini?" Senja kembali menyunggingkan senyuman sinisnya. "Aku tahu tadi Rembulan datang kemari untuk memperingatimu agar tak mendekati suaminya. Aku harap tidak terjadi cinta segi empat antara kau, Rimba, Jagat dan Rembulan. Karena aku tak akan merestuimu mendekati Rimba," ucapnya terus terang.

"Wanita sepertimu yang melalang buana kemana-kemana pasti memiliki banyak relasi. Aku tidak ingin mengambil resiko Rimba kembali di khianati untuk kedua kali kalinya oleh seorang wanita, jadi aku harap kau tidak mengambil kesempatan berdua-duaan dengannya di tengah malam. Jika ada hal mengenai perkembangan Pelangi, aku akan ikut dalam evaluasi setiap minggunya."

Lentera mengerutkan keningnya, ia menduga jika Senja memiliki akses untuk melihat CCTV di rumah ini sehingga beliau bisa mengetahui kejadian di malam ia menangis di saung taman, atau ada salah satu asisten rumah tangga Rimba yang mmenjadi mata-mata dan melaporkan semuanya kepada Senja, tapi Lentera tidak peduli karena baik dengan Jagat maupun dengan Rimba, dirinya tak ada hubungan apa pun. Lentera tersenyum simpul ke arah Senja. "Bertahun-tahun aku bekerja sebagai seorang terapis anak belum pernah sekalipun aku terlibat cinta dengan keluarga pasien, lagi pula aku tidak tertarik dengan drama percintaan, jadi Nyonya tidak perlu khawatir. Aku bisa pastikan Februari nanti aku keluar dari rumah ini tanpa drama apa pun selain kebahagiaan karena Pelangi sudah bisa berjalan dengan kakinya."

Obrolan mereka terhenti saat pintu ropftop terbuka dari dalam. "Kak Lentera..." Pelangi datang sembari mengucek-ngucek matanya. "Kenapa kakak meninggalkan aku di kamar sendirian?"

Lentera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Pelangi. "Loh, kok sudah bangun? Masih ada tiga puluh menit lagi loh," ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Pelangi yang duduk di kursi roda.

"Mana bisa aku tidur jika Kakak tidak menemaniku," Pelangi menggembungkan pipinya karena kesal Lentera meninggalkannya di kamar.

Ingin rasanya Lentera menggigit pipi chubby Pelangi setiap bocah itu cemberut, ia kembali berdiri tegak. "Ya sudah kalau begitu, bagaimana kalau kita berenang saja agar tubuhmu segar?" ia mencoba memberi ide, Lentera mendorong kursi roda Pelangi masuk ke kediamannya.

Saat berada di lift, Lentera mengelus rambut Pelangi yang terasa begitu halus, sehalus sutra. "Rambutmu seperti domba,” ucap Lentera berbisik dan diselipi tawa.

“Kalau begitu, silakan kakak pangkas rambutku.”

“Kau memercayaiku untuk memotong rambutmu?” tanya Lentera terkejut.

“Tentu saja. Aku memercayai kakak melatih tubuhku, mengapa tidak berani memercayakan rambutku?” Pelangi mengemukakan alasan.

“Kalau begitu, kita lakukan sekarang,” pintu lift terbuka, ia mendorong kursi roda Pelangi menuju taman.

Lentera menggerakkan gunting di rambut lebat Pelangi, bocah itu kini semakin akrab dengannya melebihi pasien lainnya yang pernah ia tangani. Meski baru dua minggu banyak hal terjadi dia antara keduanya, ikatan batin mereka terjalin semakin erat dari hari ke hari.

“Apakah kakak membuat rambutku pendek seperti rambut laki-laki?”

“Tentu saja tidak!” protes Lentera sambil menyusurkan jemari ke rambut acak-acakan itu. “Asal kau tahu, aku ini tukang potong rambut andal. Aku sedang membuat volume di rambutmu agar semakin indah. Mau cermin?”

Pelangi mengembuskan napas dengan gembira. “Tidak, aku percaya pada Kakak. Kalau begitu bagaimana jika rambutku di warnai saja?"

“Tidak mau!” Lentera menepis rambut yang berjatuhan di bahu Pelangi. “Sekarang waktunya kau melakukan sesi latihan. Berhenti membuat alasan untuk menunda-nunda latihan.”

Pelangi tertawa karena alasannya mudah sekali ditebak oleh Lentera.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Maalam harinya Jagat datang ke kediaman Rimba, ia sempat tertahan di pos security sebab Rimba tak mengizinkannya masuk. Tak hilang akal Jagat membunyikan klakson mobilnya hingga membuat bising kediaman Rimba.

"Mau apa lagi orang itu?" gumam Rimba mengusap wajahnya dengan kasar, tak cukupkah seharian penuh selama di kantor tadi ia dan Jagat bertengkar hebat mengenai kedatangan Rembulan ke kediamannya.

"Suara mobil siapa itu Papa? Kenapa berisik di depan rumah kita?" tanya Pelangi, ia yang tengah mengerjakan PR bersama Lentera merasa terganggu dengan suara berisik di depan rumahnya.

"Biar Papa ke depan untuk melihatnya," Rimba mengelus kepala putrinya dengan lembut sebelu, ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Jagat di depan.

Rimba begitu murka dengan tingkah laku Jagat yang menurutnya sudah kelewat batas. "Mau apa kau datang kemari?" teriaknya, Rimba berjalan ke arah mobil Jagat. Ia menggedor pintu mobil, memintanya untuk keluar. "Apa kau mau membuat tetanggaku keluar semua karena kebisingan yang kau buat?" bentak Rimba saat Jagat keluar dari mobilnya.

"Aku hanya ingin bertemu dengan Lentera, aku ingin menjelaskan semuanya padanya. Tolonglah, kasih aku kesempatan satu kali ini saja untuk bertemu dengannya."

"Tidak!" bentaknya lebih keras. "Selama Lentera tinggal di rumah ini, dia menjadi tanggung jawabku. Aku tidak akan membiarkan kau menyeretnya dalam permasalahan rumah tanggamu," Rimba menatap Jagat, tajam.

"Justru itu, aku butuh bicara dengannya. Aku ingin menjelaskan kepadanya bahwa..."

"Tidak ada yang perlu di jelaskan," potong Lentera, ia mendekat ke arah Rimba dan Jagat. "Kedatanganku kemari sebagai terapis Pelangi, jadi aku harap semuanya bisa berjalan kondusif seperti dulu. Selamat malam." Lentera berbalik dan kembali masuk ke kediaman Rimba.

Terpopuler

Comments

Hearty💕💕

Hearty💕💕

Keren

2023-09-24

2

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

Susah yaa kalau terlalu posesif..jd tidak bisa menilai Lentera dengan obyektif apalagi klu ada hasutan2 dr pihak luar makinn ga suka deh sama Lentera

2023-09-23

3

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

waduhh blum2 udah ada penolakan aja nihh

2023-09-23

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!