Tanpa terasa satu minggu sudah, Lentera bekerja di kediaman Rimba sebagai terapis putri tunggalnya. Sejauh ini suasana mulai kondusif, Eyang Senja mulai jarang mengunjungi cucunya sebab suminya selalu mengajaknya kemanapun dia pergi, sehingga Senja sangat sibuk.
Rimba pun sudah memberikannya informasi jika ruang olahraga sudah siap digunakan, termasuk ayunan peninggalan Mentari sudah di perbaiki, namun sayangnya Lentera mendadak mendapat masalah baru.
Tanpa ia tahu sebabnya, Pelangi kembali menutup diri dan mengalami depresi. Pelangi menyantap makanan yang di sajikan Bik Sore tanpa protes, berbaring membisu dan tidak mengeluh saat Lentera melatih kakinya, dan itu tidak benar menurut Lentera.
Terapi bukan proses yang seharusnya diterima pasien dengan pasif, seperti yang Pelangi lakukan. Mungkin untuk saat ini dia boleh hanya berbaring dan membiarkan Lentera menggerakkan kakinya, tapi ketika mereka mulai berlatih di ruang olahraga dan kolam renang, Pelangi harus berpartisipasi dan aktif bergerak.
Pelangi tidak mau memberitahu Lentera apa yang mengganggu pikirannya. Kejadian ini terjadi dua hari lalu, mereka saling melempar lelucon saat Lentera memijat Pelangi sebelum memulai latihan, dan tiba-tiba tatapan Pelangi berubah hampa dan mati, dan sejak saat itu dia berhenti merespons apa pun candaan dari Lentera. Menurut Lentera, lelucon dan candaannya hari itu dilakukan dengan riang karena Pelangi mengalami kemajuan besar, ia bahkan selalu memuji Pelangi.
Saat ini jam sudah menunjukan pukul 01.00 malam, seperti biasanya setiap tengah malam, Lentera bangun untuk memeriksa keadaan Pelangi. Meski malam ini Lentera tidak mendengar suara-suara yang biasa Pelangi keluarkan ketika mencoba mengganti posisi tidurnya, Lentera tetap masuk ke kamar Pelangi untuk memeriksanya.
Lentera melihat kaki bocah itu sedikit tertekuk, yang berarti Pelangi sudah mencoba mengganti posisinya. Dengan lembut Lentera meletakkan tangan kiri di bahu Pelangi dan tangan kanan di kakinya, siap mengganti posisi Pelangi .
“Kakak?”
Suara Pelangi yang lirih mengejutkan Lentera hingga terlonjak ke belakang. Lentera begitu terfokus pada kaki Pelangi sehingga ia tidak melihat mata Pelangi terbuka, padahal lampu tidur menyala cukup terang.
“Maaf, aku pikir kau tidur,” gumam Lentera.
“Kakak sedang apa?”
“Membantumu merubah posisi tidur. Aku melakukan ini setiap malam, tapi ini pertama kali tidurmu terganggu ketika aku melakukannya.”
“Tidak, tadi aku memang sudah bangun," ucap Pelangi penasaran, ia sedikit menggeser bahunya. “Maksud Kakak, Kak Lentera ke kamarku setiap malam untuk mengganti posisi tubuhku?”
“Sepertinya tidurmu lebih nyaman jika berbaring miring,” ucap Lentera.
Pelangi mengeluarkan tawa singkat yang getir. “Sebenarnya aku lebih nyenyak jika telungkup, setidaknya dulu begitu. Sudah dua tahun aku tidak tidur telungkup.”
Kedekatan dalam keheningan malam, redup lampu tidur di kamar Pelangi , menciptakan suasana tenang, dan Lentera menggunakan kesempatan itu untuk memperdalam mengenal Pelangi. Tanpa ragu, Lentera duduk di pinggir ranjang di sekitar kaki Pelangi .
“Pelangi, ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu sayang,” ucap Lentera dengan lembut.
"Kenapa Kakak bertanya seperti itu?”
Lentera meletakkan tangannya di lengan Pelangi. "Tolong beritahu aku, agar kita bisa selesaikan masalahnya bersama-sama dan tidak mengganggu terapimu. Ruang olahraga sudah siap untukmu, tapi kau belum siap menggunakannya.”
“Aku akan mengatakan hal yang sama kepada kakak. Dengarkan baik-baik!" Pelangi menjeda kalimatnya sesaat. "Semua ini hanya membuang waktu,” ucap Pelangi . “Kakak bisa saja memberiku vitamin yang cukup dan melancarkan kembali peredaran darahku, tapi bisakah kakak menjamin kondisiku akan persis sama seperti dulu? Tidakkah kakak mengerti? Aku tidak ingin hanya mendapatkan ‘kemajuan’. Jika kondisiku tidak bisa pulih seratus persen seperti dulu, aku tidak tertarik.” ucap Pelangi, Lentera menangkapnya ini sebagai suatu kebosanan Pelangi terhadap rutinitas barunya.
Lentera terdiam sesaat, jujur saja ia tidak bisa menjanjikan kepada Pelangi kelak tidak ada bagian tubuh yang lemah, pincang, atau mengalami kesulitan yang ia tanggung seumur hidup.
Berdasarkan pengalamannya, tubuh manusia bisa melakukan keajaiban dengan memperbaiki dirinya sendiri, tapi luka-luka yang diderita selalu meninggalkan bekas, bahkan luka kecil seperti jatuh dari sepeda pun meninggalkan bekas, apa lagi ini kecelakaan mobil yang cukup parah yang terjadi padanya.
Lentera merogoh handphone di sakunya, ia menggeser-geser ponselnya kemudian menyodorkannya kepada Pelangi. "Apa kau pernah melihat berita itu, Pelangi?" ia memperlihatkan video seorang gadis asal Missouri, Amerika Serikat bernama Gabi Shull yang usianya baru menginjak 9 tahun, dia menderita osteosarkoma yakni sejenis kanker tulang yang terjadi pada lutut, sehingga dokter harus mengaputasi satu kakinya. Namun hal itu tidak mematahkan impiannya, gadis itu membuktikan bahwa dia bisa menari balet meski menggunakan kaki palsu.
"Kakimu utuh, sayang," ucap Lentera. "Meski nantinya mungkin akan sedikit pincang, tapi Kakak yakin kau bisa menari lagi. Kau bisa bermain lagi bersama teman-temanmu, kau bisa mengikuti kompetisi akademis." Lentera sangat menyayangkan jika anak yang memiliki banyak talenta seperti Pelangi harus terpuruk dan tak berdaya seperti ini.
"Berjuanglah sayang!! Setiap orang memiliki kelemahan, tapi tidak semua orang menyerah dan membiarkan dirinya membusuk karena kelemahan itu. Bagaimana kalau posisimu digantikan, misalkan, Papa? Apakah kau ingin Papamu berbaring saja dan lambat laun melayu seperti sayuran? Tidakkah kau ingin beliau berjuang, mencoba sekuat tenaga mengatasi kondisinya?”
Pelangi membuang wajahnya ke samping, “Caramu menganalogikan masalah sungguh jahat. Ya, tentu saja aku pasti ingin Papaku berjuang, bahkan aku akan memaksanya untuk berjuang sekecil apa peluang kesembuhannya, dia harus berjuang dengan maksimal."
"Ya, itu juga yang kami inginkan darimu," desak Lentera. "Apa pun nanti hasilnya yang terpenting kau sudah berjuang dengan maksimal. Kalau pun nanti kakimu tidak sempurna, kau masih bisa menari seperti Gabi, kau masih bisa mengikuti ajang olimpiade, dan semua hobby yang kau sukai, sayang. Apakah sedikit kekuranganmu tidak membuatmu merasa berharga sehingga kau lebih suka mati dari pada pincang?”
“Mengapa kau terus berkata seperti itu?” tanya Pelangi dengan tajam sambil menatap Lentera dengan marah.
“Karena kau membiarkan tubuhmu mati dengan menelantarkannya. Asal kau tahu saja Papamu pernah putus asa saat dia bercerita kau takkan bertahan hidup setahun lagi dengan caramu memperlakukan diri sendiri saat ini, dan setelah melihatmu, aku setuju dengannya.”
Pelangi berbaring tanpa bersuara sambil menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.“Lalu apa kelemahan Kakak?” tanya Pelangi. “Bukankah tadi Kakak bilang bahwa setiap orang memiliki kelemahan. Beritahu aku apa kelemahan Kakak." Pelangi terlihat penasaran.
Pertanyaan Pelangi sungguh di luar dugaan hingga Lentera terdiam dan tidak bisa berbicara, hanya tubuhnya saja yang tiba-tiba berguncang.
Kelemahan Pelangi begitu terlihat jelas, ada pada kakinya yang tak berdaya. Sementara kelemahan Lentera tak terlihat meski kelemahannya sama-sama mematikan. Lentera pernah nyaris melakukan bunuh diri, namun pada akhirnya ia memilih untuk berjuang, bertahan hidup, dan menyembuhkan luka-lukanya sekuat yang ia bisa.
“Kakak kenapa?” tanya Pelangi. “Kakak bisa mengorek rahasiaku, mengapa tidak bisa menceritakan sedikit rahasia kakak kepadaku? Apakah kakak suka mencuri? Suka berghibah? Meminjam uang lalu pura-pura amnesia saat di tagih?” tanyanya asal menebak.
Guncangan tubuh Lentera terlihat jelas, sekujur tubuhnya gemetar dari kepala hingga kaki. Lentera tahu ranjang ikut bergetar, dan Pelangi bisa merasakannya. “Kakak? Kau baik-baik saja…”
Buliran-buliran bening mulai jatuh di wajahnya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya kemudian ia berlari keluar kamar. Baru saja ia membuka pintu, Lentera berpapasan dengan Rimba, namun Lentera tak menghiraukannya, ia kembali berlari menjauh darinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
ya ampunn pikiranmu pelangii.. 😄😄
2023-09-19
3
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
utk pulih 100 persen? bisa ga yaa 🤔
kita tak kan pernah tau kan kalau belum mecobanya...jd Pelangi, kamu jangan cepat mnyerah dan teruslah berusaha...
2023-09-19
3
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
kenapa dengan Pelangi? apa krn Oma nya sdh jarang datang kah?
2023-09-19
3