Fara menahan pintu kamar Devan saat pria itu hendak menutup pintu, Devan terlihat sangat kaget karena ia tidak menyadari jika Fara mengikutinya sedari tadi. Akan tetapi, Devan dapat mengatur ekspresi wajahnya agar tetap terlihat datar dan dingin.
“Pergi,” usir Devan dengan menggeram.
Kepala Fara menggeleng kuat, ia tidak menghiraukan seruan suaminya, wanita itu malah melakukan hal sebaliknya, ia mendorong pintu agar terbuka lebih lebar.
“Jangan lancang kau! Ingat batasan mu!” Devan menatap tajam ke arah Fara dengan tangan mendorong wanita itu agar keluar dari kamarnya.
Fara yang keras kepala tidak mau pasrah ketika didorong keluar oleh suaminya, saat Devan hendak menutup pintu kembali, Fara memasang kekuatan ekstra dan pintu kamar pria itu tidak jadi tertutup.
“Kau—”
Belum sempat Devan mengeluarkan kemarahannya, Fara sudah lebih dulu bertindak, ia berjongkok dengan gerakan kilat, lalu menarik celana mantan bosnya.
Sayang beribu sayang, ikat pinggang Devan yang cukup kuat membuat aksi Fara tidak berjalan mulus, alias gatot (gagal total)
Dada bidang Devan naik turun dengan sorot mata yang lebih tajam dari biasanya, kepala pria itu menunduk tepat ke arah Fara yang sedang berjongkok di bawahnya.
“Kauuu, sangat kurang ajar!,” kata Devan dengan suara berat dan penuh penekanan.
Fara mengangkat kepalanya perlahan, lalu berdiri dengan cengengesan yang terlihat putus-putus.
“M-maaf, Pak. Jangan marah ya, Pak.” Fara mengangkat dua jarinya yang membentuk huruh ‘V’.
“Pergi dari hadapanku sekarang!”
Fara yang tidak juga pergi dari hadapan Devan, semakin membuat pria itu kehilangan kesabarannya.
Kali ini Devan tidak hanya menatapnya dengan tajam. Tangan pria itu meraih lengan Fara dengan kasar higga wanita itu memekik kesakitan.
“Aduh, sakit, Pak.” Fara berusaha melepas cekalan pada lengannya.
Devan yang sudah sangat marah tidak menghiraukan Fara yang kesakitan karena ulahnya, pria itu menarik Fara masuk ke dalam kamar.
Tidak lupa, pria itu menutup pintu kamarnya lalu menarik Fara dan mendorong wanita itu hingga terjerungup ke atas ranjang.
“Apa yang kau mau HAH?!” teriak Devan.
Nyali Fara menciut seketika. Akan tetapi, ia berusaha untuk tidak pingsan di tempat. Perlahan Fara mengangkat satu tangannya dan menyodorkan tas Devan yang ia bawakan tadi.
“Ini tas kerja bapak, emm saya juga mau bilang terima kasih atas kebaikan bapak, adik saya menelfon tadi sore, katanya rumah orang tua saya yang ada di kampung sedang direnov,” kata Fara sembari mengubah posisi yang tadinya terjerungup menjadi duduk.”
Devan terdiam sejenak, amarah yang tadinya membukit kini perlahan mencair saat suara Fara terdengar lembut di telinganya.
“Keluar lah dari kamarku!” perintah Devan yang kali ini tidak membentak. Tapi, terdengar dingin.
Fara mengangguk, ia memilih untuk menuruti apa yang diperintahkan mantan bosnya. Namun, saat wanita itu hendak berdiri, Fara kehilangan keseimbangannya dan terjadilah hal yang membuat tubuh Devan menegang kaku. Ia terjatuh tepat di atas tubuh suaminya yang keras.
Mata Fara mengerjap saat jarak anatara wajahnya dengan wajah Devan begitu dekat, napas Devan yang hangat menerpa wajah Fara yang tengah mengagumi ketampanan suaminya sendiri.
Pak Devan cakep to the max banget, sedekat ini makin kelihatan cakep. Batin Fara merasa kagum.
Iris mata Devan yang berwarna biru membuat Fara hanyut ke dalamnya, wanita itu seperti terarik dan hanyut ke dalam lautan biru.
Sementara Devan menatap dada Fara yang kerah bajunya melorot ke bawah, ia tanpa sadar mengintip aset pabrik susu milik sang istri dari celah yang ada.
“Apa-apaan kau!” Bentak Devan saat kesadarannya sudah kembali.
Fara terkejut mendengar suara Devan yang keras, apa lagi dari jarak sedekat ini.
“Pak bicaranya pelan-pelan aja keleus, saya gak budeg kok,” kata Fara santai, ia dengan berani menangkup kedua pipi Devan sembari memasang wajah cemberut.
“Lepaskan tangan kotormu dari wajah saya!” Devan menangkis tangan Fara dari wajahnya.
Devan merasa gerah dan tidak nyaman, ia mendorong tubuh Fara agar menjauh. Namun, rambut panjang Fara menyangkut di kancing kemeja suaminya yang membuat wanita itu mengaduh kesakitan dan juga terjatuh kembali ke atas tubuh Devan.
“Daammn!” pekik Devan tertahan.
“P-pak saya gak sengaja. Ampun Pak.” Fara meringis takut saat dengkulnya tidak sengaja terbentur ke burung hantu milik Devan.
Fara tanpa disuruh dan diminta berusaha melepaskan rambut yang tersangkut di kancing kemeja suaminya.
Saat rambutnya terbebas dari kancing kemeja Devan yang genit, Fara segera berdiri. Sementara Devan meringkuk memegangi asetnya yang terbentur dengan dengkul Fara.
“Pak sakit ya, aduh gimana ini?” tanya Fara kebingungan.
“Sini saya bantu berdiri, Pak.” Fara membungkukkan badan dan berusaha mengangkat tubuh Devan yang berat.
Devan tidak sanggup untuk berbicara panjang lebar, ia menerima bantuan dari wanita yang menjadi penyebab sakitnya si burung hantu.
Pria itu duduk di bibir ranjang, rasa ngilunya sudah sedikit berkurang daripada ketika baru terkena hantaman Fara.
“Sakit sekali ya, Pak?” tanya Fara merasa khawatir.
Ditanya seperti itu oleh pelaku membuat Devan menjadi marah besar, tatapannya tak hanya tajam tapi juga membunuh.
“Jika kau ingin tau, saya bisa melakukan hal yang sama dengan milikmu,” kata Devan dengan tangan mengepal kuat.
Fara spontan menutupi aset miliknya yang masih tertutup dengan kedua tangannya.
“Maaf soal burung nya bapak, saya jamin tidak bengkok apa lagi patah. Permisi, Pak.” Fara berlari ke luar.
Devan terdiam saat Fara menyebut kata ‘burung’ dengan lancar tanpa gugup sedikit pun.
“Harggg!!!” Devan berteriak frustrasi.
“Kenapa aku bisa bertemu dengan wanita segila dia.” Pria itu mencengkram rambutnya sendiri.
Fara sudah berada di ruang makan bersama Ainsley, gadis kecil itu terus menolak saat Regita berniat menyulanginya.
“Ley mau makan sama mommy.” Tolak Ainsley.
Regita merasa kesal dengan bocah di sampingnya, ia sudah berusaha bersikap baik dan lembut. Akan tetapi, anak tuannya terus saja menolak dekat dengannya.
“Sudah biar saya aja, Git. He-he saya panggil Gita, ya.”
Nanny yang seumuran dengan Fara itu tersenyum lembut, beda sekali dengan hatinya yang merasa tidak suka dengan Fara yang sok dekat dan sok baik.
Ley tidak suka nanny ini, huh daddy nyebelin cari nanny baru terus. Gadis kecil itu merasa kesal.
Devan tidak turun untuk makan malam, pria itu memilih untuk berdiam diri di dalam kamar. Fara berinisiatif mengantarkan makanan untuk suaminya saat ia selesai menemani Ainsley yang sedang menyantap masakan buatan bibi Sani.
“Haa, Ley sudah kenyang. Daddy belum mau makan ya, Mom?” tanya gadis kecil itu dengan wajah polos.
“Daddy mau makan di kamar, Sayang. Ini Mommy mau mengantarkan makanan daddy ke kamar,” ujar Fara.
“Ikut, ikut, ikut.” Ley turun dari kursi dengan semangat.
“Sudah malam Ley, besok sekolah jadi Ley harus bobok sekarang.”
Ainsley menggelengkan kepalanya, gadis kecil itu ingin ikut dan berada di dekat Devan dan Fara.
Apaan sih bocil satu ini, ibu sama anak sama-sama aneh. Tapi, mereka berdua kok gak mirip ya. Kata tuan Jhon aku tidak boleh mengatakan pada siapa pun tentang mommy-nya bocah ini. Apa nona Ainsley bukan anak Fara? Regita memandang kepergian Fara dan Ainsley dengan tatapan tak suka.
Bersambung ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Ney Maniez
ishh tendang ajj itu mah mamala
2024-01-23
0
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
wahh ada jalangg ini sok lembut
2023-09-23
5
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
masih tanya🤣🤣🤣🤣🤣 nyut-nyutan itu 🤣
2023-09-23
1