Jhon yang berada tak jauh dari Devan hanya berdiri dalam diam bagaikan patung, ia merasa seperti tukang menguping percakapan antara anak dan ayah saja.
“Apa Ley tidak menyangi Daddy?” Devan bertanya pada anaknya dengan tatapan sayang.
Pria tampan berdarah Italia-Meksiko itu tampak berbeda jika berhadapan dengan sang putri. Tatapannya setajam pedang jika berhadapan dengan orang lain. Namun, akan berubah lembut jika dengan Ainsley.
Mata indah Ainsley mengerjap pelan, lengan kecilnya memeluk tubuh tegap nan gagah itu dengan erat.
“Ley sayang daddy. Tapi, Ley juga sayang mommy,” ucap Ainsley dengan suaranya yang manja. Namun, terdengar lirih.
“Dengarkan Daddy Ley, Daddy tidak akan membiarkan Ley kekurangan kasih sayang walaupun tidak ada mommy.” Devan berusaha memberi pengertian kepada sang putri.
Mendengar perkataan Devan membuat wajah Ainsley menjadi mendung, gadis kecil itu langsung beranjak turun dari pangkuan daddy-nya.
“Daddy jahat, daddy tidak mau memberikan Ley mommy,” kata anak berusia 5 tahun berambut pirang itu dengan mata berkaca.
“Tidak Ley, daddy ….”
Belum sempat Devan menyelesaikan perkataannya, Ley sudah lebih dulu berlari keluar dari ruangan sang daddy. Jhon yang melihat itu segera menyusul anak bosnya, begitu pun dengan Devan yang khawatir dengan sang putri.
Langkah kaki Ainsley yang kecil membuat Devan tidak kesulitan dalam menyusul putrinya. Saat hampir menggapai tangan sang anak, Devan tak sengaja menabrak tubuh seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari lorong kanan.
Brugh!
Bookoong Fara mencium lantai kantor, badannya turut terasa sakit karena tertabrak oleh dada bidang Devan yang keras.
“Mom!” panggil Ainsley.
Gadis kecil itu menghampiri Fara yang masih terduduk di lantai. Berbeda dengan si pelaku yang tampak santai.
Fara merasa emosi. Namun, tidak mampu melakukan apapun selain menerima karena yang menabraknya adalah kunci penghasilannya saat ini.
Kepala Fara menggeleng seraya tersenyum ke arah Ainsley sebagai jawaban.
“Ley ayo kembali ke ruangan Daddy.” Ajak Devan.
“Mau ikut mommy saja, daddy jahat!” Ainsley berpindah ke balik tubuh Fara. Gadis kecil itu berlindung dari daddy-nya sendiri.
Mata Devan menatap tajam ke arah Fara. Merasa takut akan dimarahi oleh bosnya, Fara berdiri perlahan dengan memegangi pinggangnya, lalu berbalik badan untuk bicara dengan gadis kecil yang tengah menjadikannya sebagai tameng.
“Ley sayang, hayo … Ley lupa ya sama janji tadi?” kata Fara lembut.
Kepala Ainsley menggeleng pelan dengan air mata yang mulai mengalir di pipi putih anak itu. Orang-orang mulai memperhatikan interaksi antara Ainsley dan Fara secara diam-diam.
Menyadari akan hal itu, Devan berdeham lalu pergi kembali ke ruangannya. Jhon yang mengerti jika itu salah satu kode dari bos-nya, segera mengambil tindakkan.
“Mari ikut saya ke ruangan pak Devan!” kata Jhon menyeru.
Fara mau tak mau mengikuti perintah dari sekretaris sekaligus orang kepercayaan bosnya. Ia membawa Ainsley dengan menggandeng tangan mungil gadis kecil itu.
Dirinya takut jika membawa Ainsley dalam gendongannya malah akan membuat orang-orang yang ada di kantor menjadi berpikiran buruk.
Sebenarnya Fara bukanlah tipe orang yang memikirkan penilaian orang lain terhadap dirinya, hanya saja ini adalah lingkungan kerja. Akan terasa semakin berat apabila orang-orang yang ada di perusahaan ini apa lagi teman satu divisinya menaruh rasa tidak suka, hal itu tentu akan berdampak pada kinerjanya nanti.
“Silahkan masuk,” ucap Jhon mempersilahkan seraya membukakan pintu.
Begitu ia menginjakkan kakinya ke dalam ruangan Devan, Fara langsung merasakan hawa yang berbeda karena saat ini bosnya tengah menatapnya dengan tatapan tajam dan wajah yang datar.
“Ley, kemarilah.” Devan memanggil putrinya dengan lembut.
Ainsley yang masih menggenggam tangan Fara menggeleng kuat, anak berusia 5 tahun itu masih enggan mendekat pada daddy-nya.
“Apa yang sudah kau lakukan pada anakku!” geram Devan dengan suara tertahan.
Tubuh Fara tersentak saat mendapatkan tatapan yang lebih tajam serta tuduhan dari bosnya.
“A-apa maksud bapak?” tanya Fara tak terima.
“Kau pasti telah meraucuni pikiran anakku kan!” Devan melangkah mendekat ke arah tempat Fara berdiri.
“Jangan marahi mommy, Dad.” Ainsley membela Fara dengan suara terisak.
“Ley dia bukan mommy mu!” teriak Devan tanpa sadar.
Mendengar kemarahan Devan membuat Ainsley semakin menangis, hal itu juga membuat Fara semakin ketakutan.
“Ley maafkan Daddy,” ucap Devan merasa bersalah.
Saat Devan akan menyentuh lengan Ainsley, bocah berusia 5 tahun itu malah menghindar.
“Daddy jahat!”
Devan berpaling pada Fara, ia mendekat ke pada telinga wanita itu lalu membisikkan sesuatu yang membuat hati Fara terasa panas.
“Apa ini cara busukmu? Cara seperti ini sudah banyak dilakukan oleh wanita sepertimu!” bisik Devan tanpa memikirkan perasaan Fara.
Fara yang merasa terhina atas apa yang dituduhkan, membalas tatapan Devan dengan tak kalah tajam. Dadanya yang bergemuruh membuat rasa berani untuk melawan timbul.
“Saya tidak sekotor pikiran bapak! Saya berhenti dari pekerjaan ini! Permisi.” Fara melepas tangan Ainsley, lalu melangkah keluar.
“Nona melanggar kontrak kerja dan harus membayar penalti,” kata Jhon menghentikan langkah Fara sejenak saat sudah berada di ambang pintu.
Namun, rasa marah membuat Fara tak memperdulikan ucapan orang kepercayaan bosnya. Ia kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan perusahaan mili Devan.
“Mommy jangan pergi, huaa ….” Ainsley menangis berusaha mengejar Fara.
Devan tidak membiarkan putrinya mengikuti Fara, pria dengan wajah datar itu membawa sang putri ke dalam gendongannya.
“Mommy! Ley mau ikut mommy.” Suara yang lirih dan air mata yang terus mengalir membuat suasana ruangan Devan menjadi tak tenang.
Devan berusaha membuat putrinya tenang. Namun, putri kecilnya itu tak kunjung berhenti menangis hingga beberapa menit kemudian Ainsley tertidur dalam pangkuan daddy-nya. Dengan perlahan pria itu berdiri membawa sang putri ke dalam ruangan pribadi yang biasanya ia jadikan tempat beristirahat dikala lembur.
Pria itu meletakkan putri kecilnya ke atas ranjang dengan hati-hati, saat Ainsley sudah terbaring dengan nyaman, Devan memilih untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya. Namun, baru dua langkah kakinya melangkah.
“Mom.”
Gerakkannya langsung terhenti karena igauan Ainsley yang begitu menginginkan kehadiran sosok ibu.
***
Fara yang sudah berada di kontrakannya merasa frustasi. Ia menyesal telah terbawa emosi, entah bagaimana nasib dirinya setelah ini.
“Bagaimana ini? Kedua orang tuaku saat ini butuh uang, belum lagi masalah lainnya.” Tanpa sadar, Fara menitihkan air mata. Ia merasa putus asa dan tak tau harus berbuat apa.
Fara mengambil handphone miliknya dari dalam tas, ia berniat menelfon sang kekasih. Namun, hal itu urung dilakukannya mengingat Bagas sedang bekerja jika di jam sore.
Bersambung ….
Hai zeyeng, terima kasih sudah membaca cerita ini. Semoga di novel ke-3 Othor ini dapat menghibur kalian semua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
𝐝𝐞𝐰𝐢
𝐈𝐭𝐮𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐧𝐩 "𝐣𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐫𝐚𝐡 / 𝐞𝐦𝐨𝐬𝐢"
2024-10-04
0
Ney 🐌
😲😲🥺🥺🥺
2024-01-20
0
sherly
penasaran Ama si bagas yg katanya kekasih Fara tp TDK ada kabar
2024-01-14
0