Sore hari terasa begitu sejuk, semilir angin menyentuh dedaunan hingga lembaran-lembaran hijau itu bergerak ke kanan dan ke kiri.
Kedua perempuan berbeda generasi tengah asik duduk di atas bangku taman yang berada di belakang rumah Devan. Satu tangan Fara membelai kepala Ainsley, dalam hati Fara mengagumi warna rambut anak sambungnya yang berwarna keemasan.
Kalau sudah besar pasti kamu akan tumbuh menjadi wanita yang cantik, Ley. Fara memuji Ainsley yang terlihat begitu sempurna di matanya.
“Ley, Mommy mau tanya sesuatu, boleh tidak?” tanya Fara.
Kepala gadis kecil itu mendengak agar bisa melihat wajah mommy-nya, deretan gigi putih yang rapi terlihat ketika bocah itu tersenyum dengan lebar.
“Boleh, Mom. Ley suka ditanya-tanya hi-hi-hi.” Gadis kecil itu cekikikkan. Namun, seketika raut wajahnya berubah. “Tapi … Ley tidak suka ditanya-tanya wartawan.” Jari telunjuk Ainsley bergerak ke kanan dan ke kiri. Bahkan, kepala gadis kecil itu bergerak sinkron dengan gerakkan jari telunjuknya.
“Kelihatannya Ley sangat tidak suka benget ditanya-tanya sama wartawan ya.” Fara mengusak ujung hidungnya yang mini malis dengan hindung Ainsley yang mancung seperti perosotan.
“Hi … geli, Mom.” Gadis kecil itu menggeliat dan tertawa.
Keduanya sama-sama tergelak saat salah satu di antara keduanya ikut membalas. Tangan mungil Ainsley menggelitik perut Fara.
“Huh, huh. Ampun Ley, perut Mommy sampai keram karena tertawa,” ucap Fara dengan ngos-ngosan.
“Sorry, Mom.” Kepala gadis kecil itu menunduk karena merasa bersalah.
Fara membingkai wajah sang anak dengan kedua tangannya, satu kecupan hangat dari bibir Fara mendarat di atas kening Ainsley.
“I’ts okay, Ley. Kamu gak salah, hiii mommy tambah sayang deh sama Ley.” Fara menjatuhkan banyak kecupan di wajah anak sambungnya.
Ainsley yang diperlakukan seperti itu tidak protes sedikit pun, malahan terlihat sangat senang.
“Emm, Ley. Mommy bingung, kenapa waktu di kantor Ley suka sekali ngerjain Mommy?” tanya Fara.
Ainsley tidak langsung menjawab, ia terlihat seperti sedang berpikir.
“Itu karena Ley mau dekatin mommy. Di sekolah, Ley punya teman namanya Moli, dia dulu suka gangguin Ley sampai Ley kesal.” Bocah itu menjelaskan dengan tangan bergerak menahan kesal, terlihat sekali jika Ainsley menjelaskan seperti sedang berada pada kejadian waktu itu.
“Ha-ha-ha terus, terus?” Fara tertawa, ia tertarik atas apa yang diceritakan oleh anak sambungnya. Bahkan, dirinya tidak memperdulikan jawaban Ley yang di luar dari apa yang ia tanyakan.
“Terus Ley tanya sama Moli.” Ainsley meloncat dari bangku, lalu berdiri menghadap Fara dengan berkacak pinggang.
“Moli! Kenapa Moli suka ganggu-ganggu Ley? Ini Ley lagi marah loh,” lanjut bocah itu dengan totalitas.
Fara melipat bibir demi menahan tawanya agar tidak pecah, ia tidak mau mengganggu konsentrasi sang anak yang tengah serius menceritakan kejadian itu.
“Mom tau tidak … tiba-tiba Moli bilang, dia mengganggu Ley karena mau dekat sama Ley. Jadi, Ley ikuti cara Moli untuk dekat dengan mommy. Mommy suka kan waktu Ley dekati?” Gadis kecil itu kembali duduk di sebelah Fara dengan mata mengerjap.
Haduh Ley, bukannya tidak suka. Tapi, daddy mu itu selalu saja mengancam akan memotong gaji mommy karena trik mendekati itu, kata Fara dalam hati.
“Wah, jadi begitu ya, itu namanya ‘caper’. Mommy suka. Tapi … Ley tidak perlu lagi pakai cara seperti itu untuk dekat dengan Mommy, karena sekarang Kak Fara sudah jadi Mommy nya Ley.”
Sebuah senyuman terbit di wajah Ainsley, gadis kecil itu langsung menghambur ke dalam pelukan sang mommy.
Tiba-tiba Ainsley penasaran akan sesuatu, bocah itu mengurai diri dari pelukan Fara, lalu bertanya tentang kosa kata yang baru pertama kali ia dengar.
“Mom, apa itu caper?” tanya Ainsley dengan wajah penasaran.
Fara tersenyum simpul, sudah ia duga jika anak sambungnya akan bertanya tentang hal itu.
“Caper itu singkatan dari cari perhatian, Sayang,” ujar Fara penuh kelembutan.
Kepala gadis kecil itu mengangguk-angguk. “Apakah mommy pernah caper sama daddy?”
“Eh?” Fara menggaruk kepalanya yang tak gatal.
***
Di tempat lain, Devan sedang duduk di kursi kebesarannya. Pria itu tengah memperhatikan foto selfie yang ada di smartphone-nya.
Jari Devan mengusap ke kanan pada layar ponselnya, benda pipih itu menampilkan sebuah foto saat bibirnya dengan bibir Fara saling bersentuhan.
“Siiallan!” umpat Devan.
Pria itu berniat menghapus hasil selfienya yang satu itu. Namun, sebuah ketukan mengalihkan perhatiannya. Sehingga ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.
“Masuk, Jhon!” Seru Devan yang sudah hafal dengan gaya ketukan orang kepercayaannya.
Jhon masuk ke dalam ruangan Devan, pria yang juga memiliki wajah kaku itu mengahampiri tuannya.
“Tuan, sebentar lagi ada pertemuan dengan client dari negara C,” ujar Jhon memberi tau jadwal Devan pada hari ini.
Kedua alis Jhon sedikit berkerut saat matanya tak sengaja melihat ponsel Devan yang berada di atas meja.
“Jaga mata mu, Jhon!” hardik Devan dengan dingin.
Pria itu langsung memasukkan smartphone-nya ke dalam laci meja kerja. Mimik wajah Devan terlihat tegang dan memerah. Entah apa yang sedang dirasakan oleh pria berwajah dingin itu.
“Maafkan saya, Tuan.” Jhon meminta maaf dengan tubuh sedikit membungkung.
“Hm, kau keluarlah. Siapkan berkas yang dibutuhkan hari ini, saya akan menyusul sebentar lagi.” Devan memutar kursinya menjadi membelakangi sekretaris sekaligus orang kepercayaanya.
“Baik, Tuan.” Jhon bergegas keluar atas perintah atasannya.
“Tunggu! Carikan nanny untuk putriku. Bukankah sepupumu memiliki sebuah yayasan pada bidang itu?” kata Devan tanpa mau memutar kursi kebesarannya.
“Benar, Tuan. Baiklah kalau begitu saya permisi.”
Saat Jhon sudah keluar dari ruangannya, Devan langsung berdiri dan mengusap wajahnya dengan kasar. Kulitnya yang putih membuat rona merah di pipi pria itu semakin terlihat jelas.
“Awas saja jika Jhon berpikiran yang macam-macam!”
Jhon yang sudah berada di ruangan meeting masih memikirkan soal foto yang ada di ponsel tuannya.
Apa tuan sudah jatuh cinta pada wanita itu? Cepat sekali. Jhon menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Devan masuk ke dalam rumah, pria itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, yang mana jam menunjukkan pukul 19.20 WIB.
Suara tawa Ainsley yang bersumber dari ruang makan menarik perhatian Devan, sehingga pria itu menghampiri sang putri. Begitu sampai, matanya langsung bertubrukkan dengan mata Fara.
“Pak, Ley menunggu bapak untuk makan bersama,” kata Fara. Ia tidak memperdulikan tatapan tak suka suaminya.
“Saya mandi sebentar,” ucap Devan. “Ley, daddy ke atas dulu ya, Sayang.” Lanjut pria itu.
“Oke daddy.”
Melihat Devan yang menaiki tangga, Fara turut izin pada sang anak untuk menyusul Devan sebentar.
“Cepat sekali jalannya,” keluh Fara yang tidak dapat melihat keberadaan Devan. “Nah kata bibik ini kamarnya pak bos. Buka aja kali ya, ini kesempatan untuk bicara tentang perjanjian.” Tangan Fara mengepal dengan mantap.
Perlahan wanita itu membuka pintu kamar suaminya, dan ....
“AAAA!!!”
Bersambung ….
Aduh! Pak Devan jangan ditatapi terus fotonya, nanti pengen nambah lagi loh, huaha-ha-ha-ha.
Eits, tiba-tiba othor kesambet pingin pantun.
Ke Titi Papan naik sampan
Tidak lupa membawa Taufan
Hai readears yang cantik dan tampan
Semoga kalian tidak bosan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Ney Maniez
🤔🤔🤔🤔
2024-01-23
1
Noruliliayana Daud
Aasik... makin pnasaran ni ..
2024-01-07
2
Nurvi Indri Maryawan
wow...
pantunnya keren
2023-11-13
2