Ainsley sudah tertidur. Akan tetapi, tangan Fara tak henti-hentinya membelai wajah anak yang ada di atas pahanya.
Brak!
Pintu terbuka dengan kuat, menampilkan sosok yang terlihat marah. Namun, tampak kekhawatiran yang begitu besar di matanya.
“Ley.” Devan berjalan ke arah Ley yang masih tertidur dalam pangkuan Fara.
Dengan hati-hati Fara membaringkan kepala Ainsley di sofa, dirinya berdiri menatap tajam pada bosnya. Entah keberanian dari mana Fara berani membentak bosnya dengan suara tertahan karena tidak ingin membangunkan Ainsley.
“Bapak dari mana saja? Apa bapak tau kalau Ley begitu ketakuan! Bapak terlalu sibuk sampai melupakan Ley!” ucap Fara begitu menggebu-gebu.
Devan hanya bisa diam menghadapi kemarahan Fara, dirinya merasa bersalah karena sudah meninggalkan anaknya di kantor untuk urusan mendadak. Devan mendapatkan kabar dari petugas keamanan di kantornya yang mengatakan Ainsley menangis karena terkunci di toilet karyawan.
“Jhon kau cari siapa dalang yang berani menyakiti putriku!” Geram Devan.
“Baik tuan,” sahut Jhon, lalu keluar dari ruangan sambil menelfon seseorang .
Devan mendekat ke pada Ley lalu mengelus kepala putrinya dengan sayang.
Fara melihat bosnya yang tampak bersalah ikut mendekat dan langsung meminta maaf. “P-pak, maaf jika tadi saya lancang.
“Hemm, ” jawab Devan singkat. “Terima kasih sudah menyelamatkan anakku, kau boleh pulang.”
Fara terkejut mendengar kata terima kasih yang keluar dari mulut bosnya. Ini pertama kali ia mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Devan.
“Maaf, Pak. Saya izin untuk menunggu di sini karena saya berjanji pada Ainsley tidak akan meninggalkannya sampai ia bangun.”
Devan hanya mengangguk, Fara tidak habis pikir melihat bosnya yang tampak dingin dan kaku seperti robot.
Devan mencium pipi anaknya, membuat sang anak menggeliat dan terbangun. “Daddy!” Teriak Ley langsung memeluk daddy-nya.
“Daddy ada di sini Ley, putri Daddy jangan takut lagi ya.”
Ainsley menganggukkan kepalanya, Ley menatap Fara. “Mommy,” panggil Ainsley.
Fara melihat ke belakang tapi tidak mendapati siapa pun, sedangkan Devan mengurai pelukan anaknya dan melihat ke arah Fara.
“Ley, itu kak Fara bukan mommy.”
“No! Itu mommy-nya Ley!”
Fara yang merasa bingung hanya bisa diam. Kenapa Ley memanggilku mommy? Memangnya mommy Ley ke mana? gumam Fara dalam hati.
“Mommy peluk,” rengek Ainsley. Fara memeluk anak itu dengan hangat.
“Maaf, Ley tidak biasanya seperti ini,” ucap Devan membuat Fara lagi-lagi terkejut karena dua kata keramat itu keluar dari mulut bosnya dalam satu hari. Pertama terima kasih lalu kata maaf.
“Tidak apa pak, memangnya mommy Ley ke mana, Pak?”
Melihat Devan yang tampak diam membuat Fara sadar bahwa pertanyaannya salah, “Maaf, Pak.”
Devan diam, pria itu tidak membalas ucapan Fara.
“Karena Ley sudah bangun dan ada daddy di sini … Kakak kembali ke ruangan Kakak ya?” Fara mengelus lembut kepala Ainsley.
“Gak boleh! Mom harus sama Ley!” Fara jadi bingung dibuat Ley yang biasanya jahil pada dirinya kini malah begitu manja.
“Tapi M-mommy harus mengerjakan pekerjaaan yang sudah menunggu,” ucap Fara yang kaku ketika menyebutkan kata mommy, ia merasa begitu segan pada atasannya.
Mendapati jawaban Fara membuat mata Ainsley berkaca-kaca. Devan yang melihat wajah sedih anaknya menghela napas panjang. “Fara hukuman kamu berakhir, kamu boleh pulang.”
“T-tapi, Pak. Bagaimana dengan Ainsley?”
“Ley biar saya yang menanganinya,” ucap Devan menggendong putrinya, sedangkan Fara keluar untuk bergegas pulang.
Suara tangis terdengar pilu di telinga Fara, namun dirinya tetap melangkah untuk mengambil tas dan kunci sepeda motornya.
***
“Huhh … akhirnya sampai.” Fara memasukkan sepeda motornya ke dalam rumah kontrakan yang ia tempati karena tetangga Fara yang baru kemalingan, hal itu membuat Fara menjadi lebih berhati-hati. Bisa pingsan Fara jika sepeda motornya yang masih dalam masa pencicilan hilang.
Fara merasa kesepian di kos ini, ingin rasanya ia pulang ke kampung dan tinggal bersama kedua orang tuanya. Namun, demi membantu ekonomi keluarga mau tak mau ia harus tinggal berjauhan dari kedua orang tua dan satu adik laki-lakinya yang masih menempuh pendidikan di bangku SMA.
Setiap bulan dirinya selalu mengirimkan uang ke kampung, bapak dengan kesehatan yang sering menurun dan ibu yang sudah berumur membuat keduanya tidak lagi bisa mencari nafkah. Fara bertekat untuk menyekolahkan adiknya hingga ke jenjang perkuliahan, karena ia ingin adik satu-satunya itu bisa menggapai mimpinya yang ingin menjadi seorang dokter.
Fara berjalan menuju kamar, dirinya merebahkan diri di atas kasur kecil. Ia meraba ke samping tepat handphone-nya berada. Fara mengernyitkan dahi ketika tidak ada satupun notifikasi pesan atau panggilan yang masuk ke benda pipih canggih miliknya.
“Apa Bagas marah karena aku membatalkan pertemuan kami hari ini?” Fara bermonolog.
Ia membalik badannya menjadi telungkup, dengan kesal ia mengacak rambut panjangnya hingga mirip seperti singa betina.
“Ini semua gara-gara pak Devan! Kenapa sih ada bos modelan begitu.” Fara menutup wajahnya dengan bantal yang terbuat dari kapuk.
“Uhuk, uhuk.”
Fara terbatuk sebab abu dari bantalnya menusuk hingga ke dalam hidungnya. “Ya ampun … ini bantal udah hampir sebulan gak pernah dijemur sama dikepruki jadi begini nih.” Tangan Fara menggeser bantal kapuk itu agar menjauh darinya.
Ia merubah posisinya menjadi duduk bersila, jari-jari lentik Fara menari di atas layar handphone-nya, ia mencoba menelfon sang kekasih. Namun, tak kunjung di angkat.
Rasa khawatir mulai menjalar di hati wanita berusia 24 tahun itu, ia terus mencoba untuk menghubungi sang kekasih.
“Apa Bagas sudah tertidur?” tanya Fara pada dirinya sendiri.
Di samping itu, Ainsley masih terus menangis. Devan yang masih berada di dalam kamar puterinya itu tak tau harus melakukan apa.
“Daddy … Ley mau mommy ada di sini.” Ainsley terus menangis sambil memohon pada Devan.
“Dia bukan mommy, Ley,” ucap Devan mencoba memberi pengertian pada putrinya.
Bukannya diam, Ainsley malah semakin menangis. Air mata membanjiri wajah lucu bocah berusia lima tahun itu. Bahkan. Devan semakin pusing karena dua nanny yang biasanya menjaga putrinya itu telah mengundurkan diri.
“Kenapa Ley tidak punya mommy?” tanya Ainsley sesenggukkan.
Seperti ada yang mencubit hati Devan saat satu pertanyaan sederhana keluar dari bibir anaknya. Ia mengeluarkan smartphone miliknya dan menghubungi seseorang.
Di sisi lain, Fara yang tengah meratapi hidupnya dikejutkan dengan suara dering smartphone-nya. Mata wanita berumur 24 tahun itu mengernyit saat mendapati nama sang bos berada di layar ponsel miliknya.
“Pak Devan? Ada apa nelfon malam-malam? Jangan-jangan mau ngasih tugas tambahan. Gak usah diangkat aja deh, kalau ditanyain besok tinggal jawab udah tidur.” Fara mengabaikan panggilan dari bosnya.
Fara mengira setelah panggilan tak terjawab itu usai maka ia dapat melanjutkan sesi meratapi nasibnya. Namun, ternyata ia salah besar karena detik berikutnya nada dering itu kembali berbunyi.
Mau tak mau Fara mengangkat panggilan bosnya di dering ke tiga. “Halo, Pak. Maaf saya baru dari kamar kecil,” ucap Fara dengan suara yang dibuat sesopan mungkin.
“Em saya …,”
Fara mendapati suara gugup bosnya. Ia merasa aneh karena baru kali ini dirinya mendengar nada gugup keluar dari mulut pak Devan yang notabennya dingin seperti kulkas dua pintu.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Rida Azzahra
mam, di cari anaknya tuh.. /Tongue/
2024-01-22
1
Ney 🐌
🤭🤭🤭
2024-01-20
0
CUKUP T∆U $∆J∆
Ono Iki dikepruki 😇
2023-12-30
2