Cukup lama Fara menangisi nasib buruk yang menimpanya, wanita itu memutuskan untuk mandi dan berniat pergi ke tempat Bagas bekerja. Saat ini ia benar-benar butuh seseorang untuk mendengarkan isi hatinya, dan entah kenapa Bagas selalu menjadi tempat ternyamannya untuk mencurahkan apa yang sedang ia rasakan.
Setelah dirinya membersihkan diri serta bersiap, Fara mengambil smartphone-nya untuk mengabari sang kekasih jika dirinya akan datang.
“Berdering, tapi tidak diangkat juga.”
Fara menghubungi Bagas berulang kali. Namun, pria itu tidak kunjung mengangkat panggilannya.
“Huh, ya sudahlah kirim pesan saja. Mungkin Bagas lagi sibuk karena sebentar lagi jam pulangnya,” kata Fara memaklumi.
Jari Fara mulai menari di atas layar pipih itu, begitu selesai mengirimkan sebuah pesan kepada sang kekasih, Fara langsung bergegas pergi ke tempat Bagas bekerja.
Sepanjang mengemudi Fara tampak tidak fokus, bayangan akan kejadian di ruangan Devan terus terngiang di kepalanya. Terutama suara Devan yang berbisik dan mengandung tuduhan jahat itu terus terdengar di telinga Fara.
Tin!!!
“Kalau gak bisa nyetir, jangan nyetir!” maki salah satu pengendara lain.
Fara meringis takut mendengar makian ibu-ibu yang merasa kesal karena dirinya mengambil jalan tengah dengan kecepatan yang sangat lambat. Karena mmang dirinya yang salah, jadilah Fara meminta maaf dan melanjutkan perjalanannya.
Setelah melewati perjalanan yang tak begitu jauh, akhirnya Fara tiba di sebuah perusahaan properti tempat dimana Bagas bekerja sebagai seorang office boy.
Fara melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah 20 menit yang lalu jam kerja Bagas usai, ia jadi khawatir jika sang kekasih sudah pulang. Apa lagi sepeda motor milik Bagas tidak terlihat di parkiran.
“Apa Bagas sudah pulang? Ah iya, pesanku sudah dibalas belum ya?” Fara merogoh saku celananya.
Ia mengeluarkan smartphone miliknya dari dalam saku, lalu mengecek apakah sang kekasih sudah membalas pesan darinya atau belum. Namun, Fara tidak menemukan balasan pesan dari Bagas. Jangankan balasan, bahkan dibaca pun tidak.
“Sepertinya Bagas sudah pulang, lebih baik aku langsung saja ke kontrakannya.” Fara kembali menaiki sepeda motor miliknya dan pergi ke kontrakkan sang kekasih.
Saat tiba di pekarangan kontrakan Bagas, Fara dibuat bingung dengan keberadaan sebuah mobil berawarna silver yang terparkir di depan kontrakkan kekasihnya.
Tidak ingin ambil pusing, Fara lebih memilih turun dari sepeda motornya dan berbegas menghampiri Bagas.
Kaki Fara melangkah maju, kepal tangan Fara hampir menyentuh pintu yang terbuat dari kayu itu. Sampai sebuah suara menjijikkan terdengar di telinganya.
Hati Fara terasa perih, seperti ada sesuatu yang menekan saluran pernapasannya.
Tok! Tok!
Dengan tangan gemetar Fara mengetuk pintu, ia ingin memastikan kebenaran akan apa yang ia dengar barusan.
Tok! Tok! Tok!
Fara kembali mengetuk pintu dengan durasi lebih cepat karena Bagas tak kunjung keluar. Merasa jengah akan situasi yang sedang membuat hatinya gelisah, Fara semakin mengetuk pintu lebih cepat.
Hingga orang yang ingin ia temui pun keluar dari bali pintu.
“Siap— F-fara …,” kata Bagas dengan wajah terkejut.
“Siapa sih sayang yang datang? Ganggu aja kayak gak ada sopan santun.”
Jantung Fara berdetak semakin kencang kala seorang wanita muncul dari balik badan kekasihnya yang tak lain adalah anak pemilik perusahaan tempat Bagas bekerja.
“Oh … ternyata pacar kamu yang sibuk ini datang,” ucap wanita bertubuh molek itu dengan sinis.
“Apa maksud dari semua ini Bagas?!” Fara mengacungkan jarinya di hadapan sang kekasih.
“Kamu terlalu memuakkan, Bagas tidak mencintaimu lagi jadi pergilah dari sini!” Wanita yang berada di dekat Bagas itu mendorong tubuh Fara.
“Mulai hari ini kita putus! Dan kamu ….” Fara menunjuk ke arah wanita selingkuhan Bagas. “Ambillah bekas milikku!”
Fara berbalik badan meninggalkan kediaman Bagas, sungguh hati wanita mana yang tak sakit jika diduakan.
Ia mengendari sepeda motornya dengan kecepatan sedang, dari balik helm terlihat air mata Fara yang terus mengalir. Kendaraan beroda dua itu berhenti disebuah jembatan yang sepi.
Fara turun dari sepeda motor miliknya, lalu ia berjalan ke tepi jembatan. Matanya yang basah menatap ke bawah jembatan yang dialiri dengan air sungai.
Wanita berumur 24 tahun itu mengangkat satu kakinya berniat untuk mengakhiri hidup yang penuh dengan masalah. Namun, saat ia akan loncat sekelebat senyuman kedua orang tuanya terlintas, bahkan suara Ainsley yang memanggilnya dengan sebutan ‘mommy’ mengisi indera pendengarannya.
Fara langsung turun dan menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. “Maafkan aku Tuhan, maafkan aku,” kata Fara dengan terisak.
***
Fara tiba di kontrakan miliknya, kepala wanita itu terasa berdenyut nyeri karena terlalu lama menangis.
“Aku benci kamu Bagas! Aku juga benci Pak Devan.” Fara kembali menangis sembari menghapus seluruh foto Bagas yang ada di galeri ponselnya.
Tanpa membersihkan diri Fara tertidur di atas kasur yang hanya muat ditempati oleh satu orang.
Di tempat lain, Devan sedang kelimpungan karena Ainsley terus menangis sambil memanggil-manggil Fara.
“Mommy, mom tadi janji akan nyanyikan lagu untuk Ley. Pasti mommy marah sama Ley karena daddy marahi mommy.” Ainsley menangis tersedu-sedu.
“Ley mau dinyanyikan lagu seperti yang dinyanyikan mommy,” ucap Devan tanpa sadar menyebut Fara dengan sebutan ‘mommy’.
Kepala bocah berambut pirang itu mengangguk, ia benar-benar ingin mendengar suara Fara.
“Baiklah kalau begitu Daddy nyanyikan lagunya ya,” kata Devan berusaha sabar.
“No! Ley maunya mommy.” Kepala Ainsley menggeleng kuat diiringi dengan suara tangisnya yang semakin membahana.
Devan menyugar rambutnya dengan kasar, ia ingin menghubungi Fara. Namun, rasa gengsi yang teramat besar membuatnya enggan untuk menghubungi wanita itu.
“Tidurlah Ley. Mommy sudah tidur, kasihan kalau kita telfon.”
“Mommy sudah tidur? Tapi besok mommy datang ke kantor daddy kan?” tanya Ainsley sesenggukkan.
“Ya,” jawab Devan.
Pria itu yakin jika Fara akan datang ke perusahaanya dan meminta maaf. Dan ia merasa jika Fara akan memohon untuk kembali bekerja di perusahaanya.
Ainsley menjadi lebih tenang, bocah kecil yang cerdas itu mulai membayangkan Fara memeluk dirinya di kantor besok.
Tangan Devan terulur mengusap puncak kepala putri kecilnya, sebelum akhirnya pria itu keluar dari kamar sang anak dan pergi ke kamarnya sendiri.
“Dia sama keras kepalanya seperti dirimu Selena,” kata Devan dengan suara teramat pelan.
Malam terasa sama beratnya bagi kedua insan berbeda jenis kelamin itu. Devan dengan masa lalu dan keinginan sang anak, dan Fara dengan masalah perekonomian serta kehidupan asmaranya.
Mata Devan menatap langit-langit kamar yang tidak terlihat terlalu jelas karena hanya ada lampu tidur yang menerangi kamar pria itu.
Aku beri nama anak ini Ainsley
Dev, sorry.
Aku bodoh Dev.
Dev ….
Dev ….
“Harggh!!!” Devan menggeram dengan tangan menarik rambutnya sendiri.
Suara itu terus mengalun di telinganya, hingga tak terasa malam semakin larut.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Siti Nurjanah
apa istrinya devan itu selingkuh?
2024-07-25
0
Ney 🐌
🥺🥺🥺🥺
2024-01-20
0
sherly
dah aku kira nih si bagas selingkuh... tp hebat juga dia dpt anak yg punya perusahaan, si bagas yg kecakepan atau mata si cewek selingkuhannya yg jereng main gila kok Ama OB kayak ngk laku Ama pengusaha aja
2024-01-14
0