Devan memperhatikan layar ponselnya dengan jari yang sesekali mengusap layar benda pipih itu. Ada banyak penyesalan dalam hidupnya, termasuk yang satu ini.
Pria itu menyandarkan punggung dan kepalanya pada headboard ranjang yang melekat pada dinding. Ingin sekali rasanya Devan memberi pelajaran pada sosok pria yang sudah menghancurkan hidup wanita yang dicintainya. Akan tetapi, pria itu pergi entah ke mana.
“Selena, kau masih saja menggangguku lewat mimpi. Apa kau tau? Ley selalu saja menanyakan di mana mommy-nya. Tapi, sekarang putri kecil kita tidak lagi menanyakan hal itu, apa kau marah padaku karena tidak pernah memberi tau seperti apa wajah mommy kandungnya?” gumam Devan seraya menatap foto yang berada pada layar ponselnya.
Perhatian Devan teralihkan saat pintu kamarnya diketuk dari luar. Devan segera menutup galeri ponsel yang menggunakan sandi pola pada aplikasi penyimpan foto dan video, sehingga Ainsley tidak bisa membuka isi galeri ponselnya disaat gadis kecil itu memainkan ponsel milik Devan.
Pintu kamar Devan terbuka, muncul lah dua perempuan yang kini berada di ambang pintu masuk. Pintu yang tidak dikunci oleh Devan membuat keduanya bisa masuk tanpa harus menunggu sang empu membukakannya.
“Daddy,” teriak Ainsley. Kakinya bergerak cepat dan berakhir dengan tubuh yang menubruk sang daddy.
“Sayang, kenapa kamu berada di sini hem?” tanya Devan. Pria itu memperbaiki posisi sang anak dengan membawa tubuh berisi itu ke atas pangkuannya.
Sedangkan Fara berjalan perlahan dengan nampan di tangannya. Sesampainya di sisi ranjang Fara langsung meletakkan nampan yang terdapat piring dinner berisikan roasted chicken dengan mashed potatoe dan gravy ke atas meja kecil yang berada di dekat kepala ranjang.
“Bapak belum makan malam, ini makan dulu, Pak.” Fara memasang senyum manisnya, garis lengkung yang lebar membuat lesung pipi pada wajah wanita itu terlihat.
“Hi-hi-hi, mommy cantik sekali kalau tersenyum.” Ainsley menutup mulut dengan satu tangan mungil. Bahu Ainsley bergoyang naik dan turun karena bocah itu tertawa kecil.
Devan mendengus mendengar pujian yang keluar dari mulut sang anak. Dirinya membatin di dalam hati jika Selena masih berada di dunia ini, dapat dipastikan Ainsley akan lebih memuji ibu kandungnya.
Kecantikan mu memang tidak sepatutnya dibandingkan dengan wanita sepertia dia, maafkan aku Selena.
“Pak.” Panggil Fara yang melihat Devan terdiam sambil menatap wajahnya dengan tatapan aneh.
Pria itu tersadar dan membuang wajah ke arah yang berlawanan.
“Saya tidak lapar, bawa saja makanan itu kembali ke dapur,” ujar Devan dingin.
Wajah Fara berubah murung, sudah susah payah dirinya membawa makanan ini ke kamar Devan. Tapi, sikap pria itu tetap saja dingin dan menolak apa pun yang dirinya lakukan.
Ainsley tidak suka melihat wajah murung mommy-nya. Tiba-tiba gadis kecil yang cerdik itu mendengar sesuatu yang membuatnya tersenyum kecil.
“Why are you lying to mommy?” (kenapa daddy berbohong pada mommy?)
Devan merutuki perutnya yang berbunyi, sialnya Ainsley dapat mendengar suara itu. Fara yang mengerti apa yang diucapkan oleh sang anak berusaha menahan tawanya agar tidak pecah yang akan semakin membuat pria itu marah.
“Kamu salah dengar, Ley. Itu suara smartphone Daddy yang bergetar,” ucap Devan berbohong demi menutupi rasa malunya.
“Dad, you lied again.” Ainsley turun dari pangkuan Devan, lalu menjahui ranjang, setelah itu Ainsley bertolak pinggang seraya menunjuk Devan dengan jari telunjukknya.
“Mom, apa menurut mommy, daddy berkata jujur?” tanya gadis kecil itu.
Fara yang menggulum bibirnya seraya menggelengkan kepala, ia tidak perduli dengan mata Devan yang menatap tajam padanya seakan sedang mengancamnya untuk menganggukkan kepala.
Sorry to say ya mantan bos, sepertinya istri sementara ini sudah terbiasa dengan tatapan setajam pedang itu sejak masih kerja di perusahaan. Jadi mau dipelototin sampai pagi juga gak mempan sayyy. Ha-ha-ha. Fara menertawakan Devan dalam hati.
Bagaimanapun, mana berani dirinya melakukan hal itu secara terang-terangan di hadapan sang mantan bos yang terkenal dingin. Jadi, menertawakan dan mengumpati Devan dalam hati adalah jurus andalannya.
“Pak, walau pun bapak tidak lapar. Setidaknya makanlah makanan yang sudah saya bawakan ini. Enak loh rasanya, bik Sani yang menyiapkan hidangan ini. Saya mah apa atuh kalau soal makanan kontinental, saya tidak bisa,” kata Fara, ia tahu jika sebenarnya Devan lapar. Mungkin saja pria itu mengira dirinya yang memasak makanan itu sehingga enggan untuk memakannya.
“Ayo makan, Dad. Kalau daddy tidak makan nanti daddy sakit. Ley tidak mau lihat daddy sakit.” Rengek Ainsley dengan menghampiri sang daddy dan mengguncang tangan kokoh pria itu.
Devan tidak mampu berkutik jika Ainsley sudah turun tangan, ia begitu menyayangi putri kecilnya, darah Selena mengalir di tubuh Ainsley. Sungguh dirinya tidak akan mampu melukai hati kecil sang putri.
“Jangan pasang wajah seperti itu, Daddy lebih suka melihat Ley tersenyum.” Devan mengusak kepala putrinya yang tengah memasang wajah sedih dan tertekuk dalam.
“Lihatlah, Daddy sudah memakannya,” kata pria itu.
Devan memasukkan suapan pertamanya, pria itu telah mengubah posisi duduk yang tadinya bersandar di head board menjadi duduk di tepi ranjang.
Fara merasa senang saat Devan mau memakan makanan yang dirinya bawa, walau pun semua itu tidak akan terjadi jika bukan karena Ainsley yang memintannya.
Kaki Fara terasa pegal karena tidak kunjung dipersilahkan duduk, kepalanya celingak-celinguk ke sekitar kamar Devan. Tatapan matanya jatuh pada sisi kosong yang ada di selah kanan Devan karena di sebelah kiri sudah diisi oleh putri sambungnya.
“Ehem.” Fara berdeham dengan pelan.
Perlahan ia bergeser dan menduduki sisi ranjang yang kosong, lebih tepatnya di sebelah sang suami.
“Uhuk! Uhuk!” Devan terbatuk-batuk akibat ingin protes karena potongan daging ayam yang cukup besar masuk ke tenggorokannya gagal di-koordinasikan oleh tubut saat proses menelan dan bernapas sehingga ia tersedak.
Fara merasa panik saat melihat Devan kesulitan bernapas, wajah pria itu memerah karena oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya terhambat.
“Pak!” pekik Fara kebingungan.
Ainsley mengambil air yang ada di atas meja kecil dan memberikannya pada sang daddy. Namun, pria itu menolak karena saat ini potongan ayam itu tersangkut di tenggorokannya dan sangat sulit untuk didorong dengan air.
Fara berusaha untuk tidak panik agar dapat menolong sang suami yang mungkin saja bisa meninggal hanya karena tersedak.
“Ley, Mommy akan menolong daddy. Kembalilah ke kamar nanti Mommy akan menyusul,” ucap Fara.
Ainsley tidak ingin banyak bicara dan segera keluar dari kamar sang daddy walau pun sebenarnya bocah kecil itu khawatir. Namun, ia sangat percaya pada mommy-nya.
Fara menarik tubuh sang suami, ia mengubah posisi Devan menjadi berpegangan pada tepi ranjang dengan badan membungkuk. Devan tidak memberikan penolakan dan membiarkan Fara menolongnya.
Dengan gerakan cepat Fara mengarahkan satu tangannya pada dada Devan dan satunya lagi berada pada tulang belikat (punggung) dan mendorong bagian itu beberapa kali.
“Huek.”
Devan memuntahkan potongan ayam yang tadinya tersangkut di tenggorokannya. Pria dapat bernapas kembali. Fara terlihat sangat senang, sangking senangnya ia memeluk tubuh Devan dengan erat dari belakang.
Bersambung ….
Aduhh pak Devan makanya jangan protesss mulu, nyahok kan kenak azab dari othor yang membahenol.
Halo zeyengku, pak Devan hadir kembali dengan segala kedatarannya. Ehemm, karena semalam othor libur up. Jadi, sebagai gantinya othor akan up lagi di pukul 19.00 WIB.
Jangan lupa jempolnya digoyang yee zeyengku. Asooyy mantep.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Ney Maniez
🤦🏻♀️🤦🏻♀️🤦🏻♀️🤦🏻♀️
2024-01-23
0
Devi irma
🙄🙄
2023-09-23
0
Devi irma
Selena masih hidup apa dh meninggal Thor? penasaran
2023-09-23
1