“Saya, maksud saya Ley ingin bicara denganmu,” ucap Devan.
Wajah Fara dipenuhi dengan tanda tanya. Namun, ia tetap diam sampai suara Ainsley yang tengah menangis semakin jelas.
Mungkin saat ini pak Devan sedang mendekat ke arah anaknya. Pikir Fara.
Kening Fara sedikit tertekuk saat mendengar suara bosnya yang tengah berbisik, ‘ini mommy, jangan menangis lagi ya sayang.’
Pada saat itu pula suara tangis Ainsley terhenti. “Mom, ini Ley,” ucap anak kecil berusia lima tahun itu dengan sesenggukkan.
Sebenarnya Fara merasa aneh saat dirinya dipanggil dengan sebutan mommy, apa lagi Ainsley yang biasanya sering mengganggu dirinya. Akan Tetapi, setelah insiden di kamar mandi itu membuat Ainsley menjadi aneh seperti sekarang ini.
“Mom, apa mommy sudah tidur?”
“Eh, iya Mommy belum tidur kok. Ley kenapa nangis?” Fara bertanya dengan suara yang lembut.
Devan yang duduk di sisi ranjang putrinya ikut menyimak percakapan dua perempuan beda generasi itu.
“Daddy bilang mom bukan mommya Ley,” kata Ainsley dengan wajah tertekuk.
“Ley jangan nangis lagi ya sayang, nanti Mommy pukul bokoong daddy biar tau rasa! Enak aja bilang Mom bukan Mommy-nya Ainsley,” ucap Fara dengan menggebu-gebu. Tangannya dibuat seakan-akan sedang memukul bokoong bosnya padahal dirinya dan Ainsley sedang melakukan panggilan suara, bukan video call.
Terdengar suara cekikikkan Ainsley dari seberang sana. Dalam hati, Devan merutuki Fara yang sudah berani mengatakan hal itu pada putrinya.
“Ley sudah gosok gigi belum?”
“Belum, Mom,” jawab Ainsley.
“Kalau begitu, Ley harus gosok gigi dulu. Ini sudah larut malam, habis gosok gigi, cuci muka, cuci kaki nanti Mommy nyanyiin lagu pengantar tidur,” ucap Fara memberi penawaran pada bocah berusia li. Atahun yang kini tengah asik mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Fara.
“Oke mom, tapi … Ley maunya sambil video call sama mommy,” kata Ainsley dengan suara yang terdengar manja.
Fara mengalihkan panggilan suaranya menjadi video call. Saat panggilan sudah beralih mode, Ainsley menyodorkan handphone itu ke Devan yang membuat kedua insan berbeda jenis kelamin itu saling tatap.
“Dad, pegang HP-nya dulu ya, Ley mau gosok gigi,” ucap Ainsley dengan girang.
Suasana berubah jadi kikuk, Fara yang salah tingkah karena wajah tampan khas bule pak Devan memenuhi frame layar ponselnya.
“Saya mau menemani Ainsley dulu, jangan dimatikan,” ucap Devan bernada perintah yang membuyarkan suasana kikuk di antara mereka.
Fara menjawab ucapan bernada perintah dari bos nya itu dengan senyuman manis, sangat bertolak belakang dengan isi hati dan pikirannya. “Dasar otoriter,” umpat Fara dalam hati.
Sembari menunggu Devan dan Ainsley kembali, Fara memutuskan untuk mengganti bajunya dengan kaus longgar yang biasa ia kenakan saat malam hari karena ia tidak begitu menyukai daster. Maka kaus longgar dengan sedikit bolong pada bagian ketiaknya menjadi pilihan dirinya.
Wanita cantik dengan rambut panjang itu kembali mengambil smartphone-nya, pada saat itu pula Ainsley sudah kembali juga dengan memamerkan deretan gigi putihnya pada Fara.
Sementara Devan ikut berbaring di samping putrinya, Ainsley merubah posisi berbaring terlentangnya menjadi miring ke samping membelakangi daddy-nya.
“Sayang letakkan saja smartphone-nya biar Mom nyanyikan lagu pengantar tidur,” ujar Fara, ia takut tangan gadis kecil itu pegal karena terlalu lama memegang ponsel.
Terlihat kepala Ainsley menggeleng kuat.
“Tidak, Mom. Ainsley mau dengan mommy nyanyi sambil lihat wajah mommy,” kata Ainsley dengan mata bulat berkedip-kedip lucu.
Sama keras kepalanya dengan pak Devan. Batin Fara.
“Baiklah kalau itu mau Ley, tapi maaf ya kalau suara Mommy tidak bagus.”
Kepala Ainsley mengangguk seraya menatap lekat wajah Fara yang berada di layar
smartphone daddy-nya.
“Twinkle, twinkle little star ….”
Fara mulai menyanyikan lagu yang ia ketahui. Ainsley mendengarkan nyanyian dari wanita yang ia panggil dengan sebutan mommy dengan mata sayu karena rasa kantuk.
Berbeda dengan Ainsley yang nyaman ketika suara Fara memenuhi indera pendengarnya. Devan malah merasa suara Fara sangatlah tidak bagus, mirip seperti suara tikus terjepit.
Pria berusia 36 tahun itu heran dengan putrinya yang mulai memejamkan mata hanya karena suara cempreng Fara menjadi lagu pengantar tidur.
Mata Devan melirik pada layar smartphone-nya yang masih dalam genggaman sang putri.
Terlihat Fara yang juga terlihat mengantuk, wanita itu tidur dengan posisi memiringkan badan. Tanpa sengaja, mata Devan tertuju pada kerah baju kaus yang dikenakan Fara melorot ke bawah hingga dua gumpalan itu tertangkap oleh matanya.
Dasar wanita ceroboh, batin Devan.
Anehnya saat mengatakan hal itu dalam hatinya, mata Devan tidak berpaling dari penampakan dua bukit milik Fara.
Tiba-tiba, suara Fara membuyarkan fokus Devan.
“Ley sudah tidur?”
Tubuh Devan sedikit tersentak, ia segera mengambil smartphone-nya dari tangan sang putri yang sudah tertidur pulas. Dengan wajah merah dan datar Devan mengambil alih panggilan video call itu.
“Ley sudah tidur,” kata Devan singkat.
Tit ….
Mata Fara yang sudah redup itu berkedip tak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Bos luknutnya mematikan panggilan secara sepihak tanpa mengucapkan kata ‘terima kasih’.
Ia bukannya haus akan ucapan terima kasih, akan tetapi dirinya geram melihat kelakuan bosnya yang selalu sesuka hati dan hal itu membuatnya geram setengah mati.
“Bos luknut, kalau bukan karena butuh pekerjaan dan uang sudah resign aku dari sana, huh bikin mood jadi jelek aja,” gerutu Fara dengan wajah masam.
Fara menarik napas dalam, lalu ia pergi untuk membersihkan diri. Sementara di kediaman Devan, Devan juga sedang membersihkan diri di bawah guyuran air yang mengucur dari shower.
Pria dengan mata biru itu mengusap wajah kasar kala bayangan gumpalan seputih susu milik Fara masih terngiyang-ngiyang di kepalanya.
“Siaalann! Aku jadi seperti pria mesum!” umpatnya kasar.
***
Matahari menyembul malu-malu, Devan dengan wajah bantalnya yang terlihat tampan itu keluar dari kamarnya menuju kamar mandi untuk bersiap berangkat ke kantor.
Saat dirinya sudah siap dan rapi, pria itu langsung melangkah menuju kamar putrinya. Devan membangunkan sang putri dengan cara menciumi wajah Ainsley sampai terdengar suara kikikkan geli keluar dari bibir mungil gadis berusia lima tahun itu.
“Daddy geli hi-hi.” Ainsley membuka matanya.
“Ayo bangun my princess, hari ini kamu sekolah,” ucap Devan seraya mengusap puncak kepala anaknya.
“Habis pulangg sekolah … Ley mau ke kantor daddy.” Ainsley memasang wajah imutnya.
Kepala Devan mengangguk tanda setuju, memang sudah biasa jika sang putri datang ke kantor, dan hal ini sudah menjadi pemandangan yang biasa di kantor milik Devan.
***
“Aduhh! Sepeda motor please jangan ngambek sekarang dong,” keluh Fara yang kepalang pusing karena sepeda motornya mogok di saat yang tidak tepat.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Ney 🐌
hemmmm
2024-01-20
1
sherly
penasaran sapa yg ngunci ley dikamar mandi, anak bos loh ini kok bisa ada yg berani iseng gitu...
2024-01-14
1
zalifa rahmania
wah" pie to boss🤦kui su" murni lo
2024-01-13
1