Saat ini Fara dan Devan tengah berada di dalam mobil setelah berpamitan pada kedua orang tua dan adik Fara.
Awalnya keluarga kecil Fara meminta untuk mereka berada di sana lebih lama lagi. Namun, Devan dan Fara berasalan tidak bisa meninggalkan Ainsley terlalu lama.
Fara memperhatikan mantan bosnya yang baru saja berubah status menjadi suami secara diam-diam.
“Jhon, siapkan beberapa orang untuk merenovasi rumah wanita yang baru saja kunikahi. Lihat email, aku sudah mengirim alamatnya di situ!” ucap Devan dan langsung mematikan panggilannya saat sadar Fara memperhatikannya sedari tadi.
“Pak apa itu tidak berlebihan?” tanya wanita itu dengan hati-hati.
“Suka-suka saya!” jawab Devan menohok.
Apa susahnya sih jawab dengan nada biasa aja tanpa ngegas dan ketus. Fara ngedumel dalam hati.
Perjalanan terasa begitu melelahkan bagi Fara, padahal wanita itu hanya duduk diam.
Dinginnya AC mobil membuat mata Fara terasa berat. Sayup-sayup ia mendengar Devan menyuruh seseorang dari telfon untuk memindahkan semua barangnya.
Rasa kantuk yang melanda wanita berusia 24 tahun itu semakin tak bisa ditahan, hingga dunia alam bawah sadar mampu menariknya ke dalam rasa nyaman.
Devan melihat Fara yang tertidur dari sudut matanya, saat kepala wanita itu bergerak dan hampir terjatuh, ia langsung menggeser kepala istrinya dengan menggunakan ujung jari telunjuk agar kepala wanita itu menjauh.
Bugh!
“Aw!” Fara meringis kesakitan saat keningnya terhantuk ke jendela mobil.
Ia mengusap keningnya dengan mata sayup, karena benar-benar mengantuk akhirnya Fara kembali tertidur.
“Aneh,” ucap Devan dengan suara yang sangat pelan.
Devan kembali menggeser tubuhnya, kali ini ia sudah berada di ujung dan berdempetan dengan pintu mobil. Terlihat jelas jika pria berdarah campuran itu sangat ingin menjaga jarak dari wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.
Hal tak terduga tiba-tiba terjadi, Fara yang sangat kelelahan karena masalah yang belakangan ini menimpanya membuat tidur wanita itu terlalu nyenyak, hingga tanpa sadar Fara mengigau.
“Hei pria hidung belang dan ulet bulu! Rasakan ini! Kyaa ….” Fara melayangkan bogem mentahnya ke pria hidung belang yang ada di alam bawah sadarnya.
Padahal di alam sadar, Fara bukan sedang menumbuk pria hidung belang di mimpinya,
melainkan Devan yang ada di kursi sebelahnya.
“Shiiitttt! Hidungku!” Geram Devan tertahan.
Pak supir yang berada di bangku kemudi hanya bisa meringis sambil melirik sebentar lewat kaca mobil.
Fara tak kunjung sadar dari mimpinya, ia begitu asik membalaskan rasa sakit karena
diselingkuhi. Sampailah pada emosi puncak wanita itu, ia kembali melayangkan tumbukkan terkahirnya dengan kekuatan penuh.
“Double shiittt!!!” Hidung Devan kembali menjadi sasaran.
Fara terbangun saat suara Devan menggelegar di telinganya. “Pak, hidung bapak kenapa?” tanya Fara sambil merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal.
Tangan pria itu terkepal kuat, ia menahan amarah yang sedang meguasai hatinya saat ini. Ingin sekali rasanya Devan membuang wanita ini keluar dari mobilnya. Tapi, Ainsley sudah begitu menyukai Fara.
“Hidung bapak mengeluarkan darah!” Fara berniat menyentuh hidung suaminya saat melihat darah menetes dari hidung mancung Devan. Namun, dengan cepat ditangkis oleh pria itu.
“Jangan sentuh wajahku!” kata Devan dengan aura penuh permusuhan.
Tampaknya Fara benar-benar wanita yang kerasa kepala, bukannya menyingkir, ia malah semakin mendekat untuk memberikan tisu kepada suaminya.
Tiba-tiba suara decitan terdengar karena pak supir yang menginjak pedal rem dengan mendadak.
Fara yang sedang duduk menyamping dengan badan condong ke arah Devan langsung terjerungup ke atas paha pria itu.
Mata Fara mendelik saat wajahnya mencium paha keras sang suami, kepala wanita itu menoleh ke kanan. “Astaga burung hantu!” pekik wanita itu kaget saat wajahnya berada tepat di sebelah aset keramat milik suaminya.
Devan yang tak kalah terkejut langsung mendorong kepala Fara hingga wanita itu hampir terjatuh jika ia tak berpegangan dengan kemeja yang dikenakan Devan.
“Huh, hampir aja!” ucap Fara lega.
Mata Devan mendelik tajam. Kepala pria itu maju ke depan karena tangan Fara menarik kerah kemejanya.
“Lepas!” Devan mencengkram lengan Fara dengan kuat.
“Kasar banget jadi suami, sakit tahu!!!” Fara menarik lengannya dari cengkraman tangan Devan, wanita itu juga memperbaiki posisinya kembali seperti semula.
“Maaf tuan, ada kucing yang menyebrang secara tiba-tiba.” Supir Devan merasa tak enak karena sudah membuat pasangan yang baru menikah itu bertengkar.
Devan berdeham dan kembali dengan gaya cool-nya. “Tidak apa, lanjutkan perjalanannya.”
Suasana berubah menjadi hening, Fara mengusap lengannya yang sempat dicengkram oleh sang suami. Sementara Devan membersihkan hidungnya dengan menggunakan tisu.
***
Fara mengikuti langkah kaki Devan yang menyusuri koridor rumah sakit, sesampainya di depan ruang inap Ainsley, seorang dokter datang menghampiri pria itu.
“Keadaan putri bapak semakin membaik, pastikan putri bapak makan dan istirahat yang cukup,” ucap dokter itu pada Devan.
“Ya, terima kasih, Dok.”
Kedua pasangan itu masuk ke ruangan sang anak, terlihat Ainsley yang sudah tertidur. Devan mengusap pipi putri kecilnya dengan sangat hati-hati.
“Kau kembalilah pulang bersama supir dan bibik,” kata Devan yang masih berada di sisi brankar sang putri.
Fara yang berada di belakang suaminya pun hanya bisa mengangguk patuh, ia beralih pada seorang wanita yang tidak terlalu tua yang sedang berdiri tak jauh darinya.
“Mari, Nyonya.”
Mata Fara mengernyit heran saat mobil yang dinaikinya melewati arah yang berlawanan dengan arah pulangnya.
“Pak, sepertinya salah jalan deh. Rumah saya belok kanan setelah perempatan jalan.”
“Tidak, Nyonya. Tuan Devan memerintahkan untuk membawa nyonya ke rumah tuan.”
Bukan pak supir yang menjawab, melainkan bibik yang bekerja di rumah Devan.
“T-tapi baju-baju saya ….”
“Semua baju nyonya sudah ada di kediaman tuan.”
Fara tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah, dirinya sudah menjadi istri dari bosnya sendiri. Namun, ia cukup sadar diri jika pernikahan ini tidak didasari atas keingingan Devan melainkan bocah berusia 5 tahun yang tak lain adalah putri dari Devan.
Setelah beberapa menit, mobil yang dinaiki oleh Fara masuk ke kawasan rumah elit. Fara turun bersama bibik memasuki rumah yang begitu megah.
Bibik menunjukkan letak kamar Fara dengan sangat ramah.
“Serius ini kamarku, Bik?” tanya Fara tak percaya.
“Ya, Nyonya. Kamar tuan ada di sebelah kamar nyonya dan di sebelahnya lagi adalah kamar nona Ley,” jelas bibik.
Fara mangut-mangut tanda mengerti, ia tersenyum lega dalam hati. “Aman dari malam pertama, he-he-he.”
“Ya, Nyonya?” tanya bibik yang tidak begitu mendengar suara Fara karena suara wanita itu sangatlah pelan.
“Ah, tidak ada apa-apa, terima kasih ya, Bik.” Fara tersenyum dengan tulus sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Fara merebahkan diri di atas ranjang dengan ukuran besar itu dengan tangan terbentang lebar.
“Enaknya, eh … pak Devan duda atau pria yang suka nambah istri ya? Apa aku istri kedua? Di lambe turah juga gak ada tuh berita tentang pak Devan."
Wanita itu benar-benar tidak mengenal baik mantan bos yang sudah menjadi suaminya, ia berencana akan menanyakan mengenai hal yang menggangu pikirannya ini besok hari, itu pun jika Devan mau menjawabnya.
Bersambung ....
Pak Devan dinginya to the max, to the sky🙊 brrrrrr othor sampai menggigil. Yang sabar ya Fara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Ney Maniez
jgn dingin2 es pak, nnt meleleh🤭🤭
2024-01-22
1
CUKUP T∆U $∆J∆
apaan tuhhjh😱😱😱
2023-12-30
3
nurul jannah
ceritanya gemes2 asik
2023-12-30
2