Pagi hari Fara sudah dibuat terkejut oleh kehadiran Devan di kamarnya, wanita yang masih bergelung di bawah selimut itu mengucek mata berulang kali untuk memastikan apakah yang dilihatnya nyata atau tidak.
“Kok gak hilang juga,” kata Fara.
Devan yang berdiri di dekat bibir ranjang hanya memasang wajah dingin dan datar. Namun, tiba-tiba saja Devan merambat naik ke atas tubuh Fara dengan tersenyum miring.
“P-pak, bapak mau apa?” tanya Fara gelagapan.
Napas wanita itu naik turun dengan wajah tegang karena kini Devan sudah berada di atas tubuhnya. Tidak cukup sampai di situ, Fara semakin dibuat ketar-ketir saat telapak tangan Devan menyusuri pipi, lalu berhenti di bibirnya.
“P-pak jangan ….” Fara bersuara lirih.
Mata Fara mendelik lebar saat benda kenyal milik sang mantan bos menempel tepat di atas bibirnya. Devan meraup bibir Fara yang tipis dengan sangat menuntut dan rakus.
Tok! Tok!
“Nyonya, tuan dan nona Ley sudah berada di rumah.” Bibik mengetuk pintu kamar Fara.
Merasa terganggu dengan suara ketukan dan panggilan dari bibik membuat Fara tersentak dan bangun.
“Astaga! Yang tadi mimpi? Gila, ini gila!” Fara langsung terduduk sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
Tok! Tok!
Ketukan pintu kembali terdengar, kali ini suaranya lebih nyaring dan terdengar seperti tidak sabaran.
“Iya, Bik. Sebentar,” ucap Fara sedikit berteriak, takut jika asisten rumah tangga itu tidak mendengar suaranya dan kembali menggedor pintu.
Gedoran pintu kembali terdengar nyaring, Fara yang sedang beranjak dari tempat tidur hampir saja tersungkur karena selimut yang tersangkut di kaki wanita itu.
“Maaf lama—” Fara sangat kaget begitu pintu kamarnya ia buka. Bahkan, mulut wanita itu terasa kaku untuk melanjutkan ucapannya.
Terlihat seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah datar dan aura dingin sedang berdiri di hadapannya, kini pria itu tengah bersedekap dada sambil menyipitkan mata.
“Pak Devan, saya kira bibik.” Fara berusaha untuk tidak gugup, mengingat pria yang pagi ini menyusup ke dalam dunia alam bawah sadarnya.
“Maaf, Tuan. Bibik permisi ke bawah dulu,” ucap bibik.
Fara terkejut, ternyata sedari tadi bibik berada di belakang tubuh Devan sehingga wanita yang tidak terlalu tua itu tertutupi oleh tubuh Devan yang tegap.
Mata Fara dapat menangkap wajah sungkan bibik, terlihat sekali dari cara wanita itu berpamitan dengan Fara lewat anggukkan kepala dan senyum yang sangat sulit untuk digambarkan.
“Baru sebentar jadi istri sudah membuat ulah!” kata Devan dengan nada tajam.
“Ulah? Perasaan saya gak ada berbuat hal aneh,” balas Fara.
Devan memasang senyum mengejek, ia memajukan langkahnya untuk membuat waniat itu terpojok.
Fara yang takut spontan memundurkan langkah. Namun, Devan semakin maju dan maju sampai Fara tersandung oleh kakinya sendiri dan terjatuh ke atas lantai yang dingin.
“Aduh. Pak! Bapak kenapa sih?” Fara mengusap bookoongnya yang terbentur lantai.
Pria itu berdecih saat mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir wanita yang saat ini masih terduduk di lantai.
Devan mengambil posisi berjongkok tepat di depan Fara. “Kau kunikahi untuk menjadi mommy Ley. Tapi apa yang kau lakukan hari ini ha?!”
Fara yang tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini hanya diam menyimak, ia memilih untuk mendengarkan kelanjutan apa yang akan diucapkan oleh suaminya.
“Kau masih tidur disaat Ley baru pulang dari rumah sakit! Harusnya kau sadar diri dimana posisimu saat ini!” ucap pria itu dengan mata yang menatap Fara tajam.
Kedua tangan Fara yang berada di atas lantai mengepal kuat, wanita itu merasa geram dengan mantan bosnya. Tidak hanya tatapan mata Devan yang tajam, bahkan ucapan yang keluar dari mulut pria itu tak kalah tajamnya dari pisau yang baru diasah.
Fara menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya ia menarik jas yang dikenakan Devan dengan kasar. Wanita itu menempelkan bibirnya ke atas bibir sang suami.
Brugh!
“Apa yang kau lakukan!” Bentak Devan setelah mendorong tubuh Fara agar menjauh darinya.
“Mencium bapak,” sahut Fara dengan enteng.
Fara membalas perkataan tajam suaminya dengan hal yang tidak disukai pria itu.
“Kau jangan macam-macam!!!” geram Devan, ia berdiri dan merapihkan jasnya yang sedikit berantakan karena ulah Fara.
Fara turut berdiri dan menegakkan tubuhnya, dengan wajah tak berdosa Fara berkata, “saya gak macam-macam, hanya satu macam aja. Mencium bapak.”
“Kau!” Devan menggeram marah dan maju satu langkah.
“Apa? Mau nambah pak?” tanya Fara menantang, ia menaikkan kedua alisnya dengan senyuman mengejek.
“Wanita kurang ajar!” maki Devan lalu memutar badannya dan meninggalkan Fara.
Fara menatap punggung suaminya yang semakin menjauh, ia dapat melihat kemarahan sang suami saat dirinya dengan lancang mencium bibir Devan, ya walau hanya sekedar menempelkan bibir.
Di lantai satu, Devan sedang terduduk di atas sofa sambil menteralkan napasnya yang memburu. Sudah lama dirinya tidak merasakan bibir wanita. Dan pagi ini ia mendapatkan kecupan singkat dari wanita yang tidak dicintainya.
Gadis kecil berusia 5 tahun yang baru keluar dari kamarnya langsung menghampiri sang daddy yang terlihat melamun.
“Daddy, are you okay?” tanya Ainsley menyentuh pipi sang daddy dengan tangan mungilnya.
“Sayang apa yang kau lakukan di sini? Istirahatlah di kamar.” Devan mengangkat tubuh Ainsley ke atas pangkuannya.
“Ley tidak mengantuk daddy.” Kepala gadis kecil itu menggeleng ke kanan dan ke kiri.
“Daddy menyuruh Ley istirahat, bukan berarti Ley harus tidur.”
“Ley sudah sehat, daddy … kenapa tadi suara daddy seperti sedang marah-marah. Dan di mana mommy berada?” tanya Ainsley beruntun.
Devan bingung harus menjawab apa, tidak mungkin dirinya menjelaskan apa yang terjadi di kamar Fara tadi. Ia juga tidak bisa sembarangan menjawab karena anaknya ini sangatlah pintar.
“Apa Ley mau bertemu mommy hum?” Devan mengalihkan pembicaraan agar putrinya tidak menanti jawaban atas pertanyaan yang sulit untuk dirinya jawab.
Kepala Ainsley mengangguk cepat, dengan wajah riang gadis kecil itu bertepuk tangan. “Dad, itu mommy. Yeee mommy ada di sini, daddy tidak berbohong.”
Fara yang baru menuruni tangga hanya bisa tersenyum menyambut ucapan anak sambungnya, Ainsley terlihat begitu bahagia.
Gadis kecil itu turun dari pangkuan daddy-nya dengan terburu-buru. Devan memegangi lengan putri kecilnya saat tubuh Ainsley hampir terjatuh.
“Hati-hati Ley,” ucap Devan gusar.
“Sorry daddy.” Ainsley menampilkan deretan gigi putihnya, lalu langsung berlari memeluk kaki Fara.
“Mommy jadi mommy Ley selama-lamanya? Setiap hari? Sekarang sudah boleh panggil mommy di kantor?” Kepala gadis kecil itu terangkat dengan mata mengerjap-ngerjap lucu.
Fara menunduk agar bisa menatap Ainsley yang memeluk dirinya, lalu beralih menatap Devan untuk meminta jawaban atas pertanyaan gadis kecil itu.
Astaga, somsek nya suami sok cool ini. Rutuk Fara dalam hati saat Devan membuang tatap kea rah lain.
*(Somsek \= sombong sekali)
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Ney Maniez
🤣🤣🤣🤣😝😝😘😘😘
2024-01-23
1
Indra Davais
serang terus pak devannya biar bucin akut/Facepalm/
2024-01-19
2
Red Velvet
Enak gak tuh pak Devan dpt morning kiss serangan fajar ditawari mau nambah lagi. Nikmat mana yg kau dustakan😃
2023-09-16
4