Pukul 10.35
Devan menghampiri putrinya yang terlihat anteng karena Fara yang terus mengusap kepala Ainsley sambil menceritakan kisah masa kecil wanita itu saat membajak sawah bersama ayahnya dulu.
“Ley, Daddy ingin membawa mommy pergi dulu—”
“Jangan bawa mommy pergi!” kata Ainsley siaga, bocah berusia lima tahun itu memotong ucapan daddy-nya.
Fara dapat melihat Devan yang sedang menarik napas berat, terlihat sekali jika pria itu semakin tak suka dengan Fara karena kini lirikan mata Devan benar-benar seperti ingin menguliti Fara saat itu juga.
“Setelah ini mommy akan tinggal dengan kita. Jadi, Daddy harus mengurus sesuatu dengan mommy agar bisa menjadi mommy-nya Ley.” Devan menjelaskan dengan alasan sederhana pada putrinya.
“Really, Dad?” tanya Ainsley dengan pipi yang terlihat semakin menggemaskan karena gadis kecil itu tengah tersenyum lebar.
Kepala Devan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan putrinya. Sementara Fara tidak menyangka jika Devan akan melaksanakannya secepat ini.
“Daddy akan menyuruh bibik dan teman paman Jhon untuk menjaga Ley di sini selama Daddy pergi,” ujar Devan.
“Kapan daddy dan mommy akan pulang?” Lagi-lagi Ainsley bertanya pada sang daddy.
“Malam ini.”
***
Kini Fara berada dalam satu mobil dengan Devan, mereka duduk bersebelahan. Lebih tepatnya di kursi belakang karena supir Devan yang membawa mereka ke kampung tempat orang tua Fara tinggal.
“Apa kau sudah menghubungi kedua orang tuamu?” tanya Devan tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
“Bagaimana mau menghubungi, semuanya serba mendadak. Saya takut ayah saya tambah drop kalau tau anak perempuannya akan menikah secara tiba-tiba,” cerocos Fara panjang lebar.
“Saya bertanya, bukan meminta penjelasan!” Tegas pria itu sembari memperbaiki posisi
kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.
Fara melihat gerakan pria di sebelahnya, siapa pun pasti akan merasa iri melihat begitu indahnya pahatan wajah Devan. Tanpa sadar tangan Fara meraba hidungnya sendiri.
“Jangan melihatku seperti itu!” Tegas Devan yang merasa risih.
Tubuh Fara tersentak kaget karena ia tertangkap basah tengah memperhatikan wajah mantan bosnya.
“Ck, perasaan.” Fara berdecak untuk menutupi rasa malunya, lalu mengalihkan pandangannya itu pada jendela mobil.
Mata wanita itu menatap jalanan yang mulai memasuki wilayah perkampungannya, saat ini jalanan terlihat begitu sepi. Para orang tua di jam segini sedang berkerja, sementara anak-anak penduduk kampungnya turut ikut membantu orang tuanya masing-masing jika sudah pulang sekolah.
Perasaan Fara semakin gelisah saat mobil Devan sudah berhenti di halaman rumahnya yang ditumbuhi banyak tumbuhan hias.
“Benar ini rumahmu?” tanya Devan dengan wajah datarnya.
“I-iya. Pak, apa boleh perjanjiannya dibatalkan saja?” Fara bertanya dengan perasaan takut.
“Tidak! Ayo turun!” Devan tidak memperdulikan kegelisaan wanita yang akan menjadi ibu pengganti anaknya.
“Pak, turunkan bingkisan ini dan bawa masuk ke dalam rumah calon mertua saya.”
“Baik, Tuan.” Supir itu segera turun dan membawa bingkisan-bingkisan yang dibeli oleh Devan secara mendadak.
Fara yang tak siap, masih berdiam diri di dalam mobil. Padahal, Devan sudah berada di luar. Tepat berada di sebelah wanita itu.
“Turun!” Devan membuka pintu mobil yang masih terdapat Fara di dalamnya, ia menyuruh wanita itu dengan nada dingin tanpa mau menatap wajah calon istrinya.
Mendengar perintah dari Devan malah semakin membuat Fara geram. Pasalnya pria yang sebentar lagi menjadi suaminya ini sangatlah tidak hangat dan selalu berbuat sesuka hati padanya.
Dengan perasaan takut dan kesal wanita itu keluar dari dalam mobil, tiba-tiba suara Farel yang merupakan adik kandung Fara terdengar melengking.
“Kak Fara!” teriak Farel senang. “Bu, Yah, kakak pulang!”
Terlihat ibu Fara ikut menyusul keluar dari rumah saat mendengar suara putranya yang berteriak senang. “Farel kamu serius?”
“Serius, Bu. Itu kakak!” Farel menunjuk ke arah Fara yang tengah berdiri di sebelah Devan.
“Nak ….” Panggil ibu Fara begitu lirih karena melihat kedatangan putrinya.
Fara berlari dan menghambur ke dalam dekapan sang ibu yang begitu ia rindukan.
Wanita itu bahkan melupakan rasa takutnya yang kini telah berganti menjadi rasa haru.
“Ibu, ayah kemana? Kok tidak kelihatan.” Fara bertanya setelah mengurai pelukan dari sang ibu.
“Ayah ada di dalam kamar … sedang kurang enak badan, siapa pria itu Fara?” tanya ibu Fara saat melihat sosok pria berwajah tampan yang datang bersama putrinya.
“Ah itu, itu ….” Fara bingung harus menjawab apa.
“Saya calon suami Fara, Bu.” Devan berusaha memasang wajah ramah, tapi tampaknya tidak begitu berhasil karena malah terlihat kaku dan aneh di mata Fara.
“Calon suami? Lebih baik kita bicarakan di dalam saja, ayo masuk nak! Maaf tidak ada kursi di sini.” Ibu Fara mempersilahkan Devan untuk masuk.
Devan memanggil sang supir dan supir itu langsung bergegas masuk dengan bingkisan di tangannya.
Begitu Devan dan Fara masuk, terlihat ayah Fara yang baru keluar dari kamar dengan dibantu oleh Farel.
“Nak, ayah rindu sekali padamu. Kata adikmu Farel ini calon suami mu ya, Nak?” tanya Ayah Fara dengan memegangi dada karena sesak di dadanya.
“I-iya ayah.” Fara menatap sedih melihat kondisi ayahnya yang tak kunjung membaik.
“Ayah belum berobat? Bukannya Fara sudah mengirim uang untuk berobat?”
“Uang kemarin hanya bisa menebus obat, sisanya ibu belikan kebutuhan dapur dan uang saku adikmu, Nak,” ucap ibu Fara begitu pelan agar tidak terdengar oleh calon suami putrinya.
Devan yang duduk tidak jauh dari mereka pun dapat mendengar percakapan ibu dan anak itu.
Devan menyampaikan tujuan dan maksud kedatangannya untuk menikahi Fara hari ini juga.
Tidak disangka setelah mengobrol dengan Devan, ayah Fara langsung menyutujuinya.
Hari itu juga Devan melaksanakan pernikahannya dengan wanita yang sudah menarik perhatian Ainsley.
Fara terdiam, merasa tak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Kini ia sudah resmi menjadi istri dari Devan Frederick. Pernikahan itu berlangsung tanpa adanya gaun pengantin, apa lagi sebuah pesta. Semua terjadi sangat singkat.
“Kenapa kamu tidak mengabari jauh hari pada Ibu jika akan menikah hari ini?” tanya ibu Fara dengan mata yang sudah basah oleh air mata.
“Tanya pada suami Fara saja, Bu.” Fara yang juga menangis, melemparkan pertanyaan ibunya pada Devan yang sedang duduk di hadapan kedua orang tua wanita itu.
Ingin rasanya Devan memarahi Fara karena kelancangan wanita itu. Namun, tidak mungkin ia melakukan hal itu di depan orang yang sudah menjadi mertuanya.
“Saya takut Fara diambil orang lain jika saya tidak segera menikahinya, Bu,” jawab Devan.
Pandai sekali bos kejam ini dalam berbohong. Fara merutuki suaminya dalam hati.
Medengar jawaban dari Devan membuat ayah serta ibu Fara menjadi bahagia, kedua orang tua itu berharap anaknya dapat hidup bahagia. Apa lagi saat melihat tampilan Devan yang mapan membuat ibu Fara lega dan tidak takut anaknya hidup sengsara.
“Jadi … kapan Farel bisa lihat keponakan Farel? Tadi namanya Ainsley ya, Kak? Pasti dia anak yang cantik dan menggemaskan apa lagi berdarah bule he-he-he.” Farel tertawa pelan.
Ucapan Farel disambut dengan gelengan kepala dari Fara.
Devan merasa disambut dengan hangat di keluarga ini. Bahkan, kedua orang tua Fara tidak keberatan saat dirinya menjelaskan jika ia memiliki satu orang anak perempuan bernama Ainsley.
“Bu, mulai sekarang saya yang akan menanggung semua pengeluaran di rumah ini. Saya juga sudah menghubungi asisten saya untuk mencarikan rumah sakit terbaik di daerah ini untuk pengobatan ayah.”
Fara yang mendengar hal itu merasa terkejut, mungkin ini adalah imbalan dari pak Devan karena dirinya mau menjadi mommy sambung bagi Ainsley. Pikir wanita itu.
Bersambung ....
Hai readers yang othor zeyengii hehehe 😘 jangan lupa jempole yo zeyeng. Sampai jumpa dengan Devan dan Fara di bab selanjutnya 😊
Kira-kira bagaimana kehidupan Fara setelah menjadi istri Devan?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Ney Maniez
wahhh udh sah ajj 🤭🤭🤭🤭
pak bozzz pngn ku getok ajj
2024-01-22
1
sherly
pandai betul mantan duda nih bersilat lidah ..
2024-01-14
2
HARTIN MARLIN
jadi penasaran 🤔🤔
2023-09-24
4