Fara menyusul keluar, ia sedikit kebingungan di mana letak ruang kerja suaminya. Akan tetapi, kebingungan itu tidak berlarut lama karena tiba-tiba Devan membuka pintu kerjanya yang tak jauh dari kamar Ainsley.
Dengan bersedekap dada Devan bersender di dekat akses masuk ruang kerjanya, ia memberikan perintah ke pada Fara untuk masuk ke dalam ruang kerjanya lewat gerakkan mata.
His! Itu wajah pak Devan memang udah setelan pabrik begitu ya? Mirip seperti triplek datarnya. Rutuk Fara dalam hati saat menangkap seruan dari kode mantan bosnya.
Kaki Fara melangkah maju, ia menyusul sang suami yang sudah masuk ke dalam. Begitu Fara sudah berada di dalam ruangan yang sama dengan Devan, ia berjalan mendekat ke arah pria yang tengah menunggunya.
Mata Fara menatap kagum pada Devan yang bersandar di meja kerja, kaus ketat yang dikenakan oleh pria itu menjiplak pahatan yang ada di dalamnya.
Ck-ck-ck, Bukan main tuh perut. Umur pak Devan berapa ya? Kalau gak salah 36 tahun deh, apa diumur segitu para pria punya otot yang keras dan bergelombang? Batin Fara bertanya.
“Ehem!” Devan berdeham keras, ia merasa tidak suka diperhatikan sedemikian rupa oleh Fara.
Fara tersentak dan kembali sadar dari pikiran absurdnya. Wanita itu berusaha bersikap santai, seakan kejadian sebelum makan malam tidak pernah terjadi.
“Saya ingin membicarakan tentang batasan-batasanmu selama menjadi ibu sambung putriku,” kata Devan dengan tegas, pria itu bersedekap dada dengan wajah terlihat datar.
Fara mengernyitkan keningnya, ia merasa tidak pernah melewati batas. Namun, sekelebat ingatan saat dirinya masuk ke dalam kamar Devan tanpa izin membuatnya bisa menangkap sinyal apa yang mantan bosnya maksud.
“Saya juga mau menanyakan sesuatu pada bapak,” balas Fara.
Wajah datar dan dingin Devan tampak biasa saja saat Fara bersuara—mengeluarkan apa yang wanita itu ingin sampaikan.
“Saya menikahimu bukan karena alasan cinta, semua tidak terlepas dari keinginan Ainsley yang menginginkanmu menjadi mommy-nya. Jadi—”
“Ya, saya tahu. Kalau soal itu tidak perlu diingatkan pak. Saya cukup tahu diri kok. Lagi pula siapa yang berharap sama bapak yang dingin dan datar hiiiy,” ucap Fara memotong perkataan Devan.
“Jangan sering memotong perkataan orang, apa lagi saya! Dan asal kau tahu ya, saya juga tidak akan pernah mau menjadikan kamu istri yang sesungguhnya! Catat itu. Hanya pria yang aneh mau menikah denganmu.” Devan membalas dengan sengit, hatinya sangat panas saat Fara dengan berani menghina dirinya.
Fara tidak terima dikatai seperti itu. Ia kembali membalas perkataan mantan bosnya “Tanpa bapak sadari, bapak lah pria aneh itu!”
“Kau!” Jari Devan menuding ke arah Fara yang saat ini sedang memasang wajah permusuhan.
“Kenapa? Apa yang saya katakan benar bukan?”
“Berani sekali kau!” Devan maju beberapa langkah yang membuat jarak mereka semakin dekat.
“Bukan kah bapak duluan yang mulai? Tidak akan ada asap kalau tidak ada api,” jawab Fara dengan wajah santai.
Padahal dalam hati, Fara sudah ketakutan karena Devan yang memangkas jarak di antara mereka.
“Huhhh, okay saya minta maaf ya, Pak. Sekarang bapak mau mengingatkan batasan seperti apa yang tidak boleh saya lupakan? Saya catat nih.” Fara memilih menyudahi kesengitan di antara mereka. Ini semua dilakukannya demi keselamatan diri sendiri, mengingat mantan bosnya yang galak dan dingin seperti udara di kutub utara.
Devan dengan ekspresi datarnya mulai mengeluarkan semua peraturan apa yang tidak boleh dilanggar selama mereka masih menjadi suami istri.
Sementara itu, Fara mengeluarkan smartphone-nya untuk mencatat apa yang diucapkan oleh sang mantan bos di note ponselnya.
“Tidak boleh memasuki ruang pribadi saya tanpa izin, dilarang memberi tahu pada siapapun tentang pernikahan ini kecuali orang tua dan adikmu dan para pekerja di sini, di larang bekerja dan punya sahabat, —”
Fara yang sedang mengetik apa saja yang diucapkan oleh Devan langsung berhenti dan memotong ucapan pria itu karena ada point yang menurutnya kurang bisa untuk diterima.
“Loh, kenapa tidak boleh kerja dan punya sahabat? Saya kan juga butuh uang, Pak. Belum lagi untuk keluarga saya di kampung, dan soal sahabat … masa tidak boleh,” sergah Fara merasa tidak setuju.
Devan menatap Fara dengan sangat tajam, pria itu berusaha untuk tetap sabar menghadapi wanita yang kini berada di hadapannya.
“Sudah saya katakan sebelumnya, jika semua tanggunganmu selama menjadi mommy untuk Ainsley akan saya tanggung, termasuk kebutuhan keluargamu! Dan soal sahabat, kau boleh memilikinya setelah Ley tidak memerlukan keberadaanmu lagi! Karena saya tidak bisa menjamin wanita sepertimu tidak menceritakan tentang keseharian di sini pada sahabatmu.”
Fara menggelengkan kepala sarat akan ketidakpercayaanya atas apa yang dipikirkan oleh Devan.
Dasar mantan bos terkejam di dunia, untung saja aku tidak punya sahabat. Batin Fara.
“Jangan pernah memotong ketika saya sedang bicara, catat itu!” Ketus Devan dengan tatapan nyalang.
“Hmm, ada lagi, Pak?”
“Sudah itu saja, oh ya … saya tidak melarangmu untuk berhubungan dengan pria mana pun selagi tidak melibatkan urusan antara saya dan kau!”
“Hhhh, sekarang giliran saya untuk bertanya pada bapak.” Fara memasukkan smartphone-nya kembali ke dalam saku. Kepalanya sedikit terangkat untuk bisa menatap wajah Devan dengan jelas.
“Saya istri kedua ya, Pak?” tanya Fara dengan wajah yang serius.
Mendapat pertanyaan seperti itu tidak mengubah raut wajah Devan yang datar dan dingin.
“Tidak,” jawab pria itu singkat.
“Astaga! Jangan-jangan saya ke-tiga, atau ke-empat?” Fara menutup mulut, merasa tak percaya.
“Terserahmu.” Devan acuh dan memilih tidak menjelaskan.
“J-jadi benar saya istri yang kesekian, Pak? Kalau begitu mommy Ley yang keberapa? Tapi, kenapa Ley sepertinya tidak pernah bertemu dengan ibunya?” cecar Fara dengan banyak pertanyaan yang sering terlintas di kepalanya.
Tangan Devan terkepal saat Fara menanyakan soal ibu Ainsley, ia tidak mau membahas soal hal itu. Bahkan, terlihat jika saat ini wajah Devan begitu tegang dengan rahang yang mengeras.
“Jangan tanyakan itu lagi!” ucap Devan penuh penekanan.
Fara merasa heran dengan mantan bosnya yang tampak marah, ia merasa tidak membuat kesalahan apapun. Tapi, kenapa Devan terlihat begitu mengerikan saat ini?
“Enghh … i-itu, saya mau tanya sampai kapan pernikahan ini berlangsung?” tanya Fara mengalihkan kemarahan Devan.
“Sampai Ley tidak membutuhkanmu!”
“Kapan?” tanya Fara yang menginginkan kejelasan.
“Sampai pada waktu yang tidak bisa ditentukan,” balas Devan.
“Ini tidak adil bagi saya! Tidak ada kejelasan sama sekali,” balas Fara balik.
“Semua keputusan ada di tangan saya, kau sudah masuk dalam perjanjian ini. Jangan harap untuk lari, walau saya tidak membuatnya di atas hitam dan putih. Tapi, saya bisa mengejar kemana pun kau bersembunyi.” Ancam Devan. Pria itu mengintimidasi Fara dengan tatapannya yang tajam.
“Ke liang kubur juga bapak kejar?!” tanya Fara sengit.
“Jika tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan, sebaiknya keluar dari sini!” Devan membalik badan dan berjalan menuju kursi dan meja kerjanya.
“Jahat luar binasaaa! I hate you, Pak!” Rutuk Fara yang merasa sangat kesal.
Wanita itu menghentak-hentakkan kakinya saat keluar dari ruang kerja sang suami, ia masuk ke dalam kamarnya sendiri dan membantingkan diri di atas ranjang yang empuk.
“Hisss apes banget sih nasibku, punya pacar yang selingkuh, menikah juga bukan karena cinta. Lihat saja ya bos kejam, eh mantan bos! Akan kubuat kau terFara-Fara.” Fara mengepalkan tangan dengan kepercayaan yang melambung tinggi.
Bersambung ….
Hadeuhh, sabar ya Fara. Nanti othor siapkan takdir yang baik kalau othor lagi mood.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Ristiana Wang
kamu juga bakal terdevan Devan🤣🤣
2024-05-30
0
Ney Maniez
💪💪💪💪
2024-01-23
0
sherly
kalo ngk punya sahabat kenapa juga kamu complain hahahhahaha emang eror juga nih fara
2024-01-14
0