Selama proses operasi mata Tiara berjalan, Eilani memilih duduk di dekat Ned dari pada di dekat Elvaro. Karena sesungguhnya ia merasa kulitnya menjadi sensitif jika ada di dekat cowok itu. Kejadian semalam seakan tak mau pergi dari memori Eilani dan memaksanya untuk terus mengenang bagaimana pasrah nya dia dalam dekapan seorang Elvaro.
Elvaro pun secara terus terang, selalu menunjukan tatapan penuh cinta pada Eilani. Tak peduli jika wanita itu sering melotot ke arahnya karena sebenarnya Eilani malu pada Ned yang sepertinya sudah mengerti apa arti tatapan sang tuan pada suster cantik ini.
"Ned, tolong belikan air mineral dingin. Aku sangat haus." Elvaro mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak satu lembar. Ia kemudian menatap Eilani. "Ei, kamu juga mau minum?" tanya El.
"Boleh." jawab Eilani karena memang ia merasa haus dan operasi baru berjalan 30 menit.
Setelah Ned pergi, Elvaro kini berpindah tempat duduk di sebelah Eilani.
"Kamu kenapa?" tanya Elvaro sambil menyentuh tangan Eilani. Perempuan itu langsung menjauhkan tangannya.
"Kamu ngapain sih, El? Kalau ada yang lihat bagaimana? Ini kan rumah sakit tempat aku bekerja."
"Memangnya kenapa?" Elvaro balik bertanya. "Aku kan tinggal bilang saja kalau kita pacaran."
"Pacaran apa? Kamu itu punya tunangan, El."
"Aku kan sudah bilang kalau aku tak mencintai Citra. Aku hanya mencintai kamu dan aku akan berusaha mendapatkan cintamu. Aku tak peduli jika kamu sudah memiliki tunangan seorang pilot yang akan menikah dengan kamu akhir tahun ini."
Mata Eilani membuat. "Kamu menguping pembicaraan aku dan nyonya Tiara?"
"Nggak sengaja menguping. Jujur, aku sakit mendengarnya namun tak akan membuat aku menyerah untuk mendapatkan mu setelah apa yang kita lalui semalam."
Wajah Eilani langsung menjadi merah. "Anggap saja itu one night stand."
Elvaro menggenggam tangan Eilani dengan kuat. Tak peduli sekuat apa gadis itu berusaha melepaskannya. "Benarkah hanya one night stand? Aku tak percaya kalau kamu jenis perempuan seperti itu."
"Aku ini seorang janda, El. Tunanganku jauh. Aku juga butuh mendapatkan kehangatan dari seorang pria."
"Tapi, saat semalam aku menyentuhmu, aku merasa seperti memasuki seorang yang masih perawan. Aku dapat merasakan kalau kamu sedikit meringis. Seolah kamu memang sudah lama tak disentuh."
"Itu karena milik kamu terlalu besar, El." kata Eilani sedikit berbisik namun membuat Elvaro tertawa.
"Dan milik tunanganmu kecil?"
"El...." Eilani mencubit pinggang pria itu agar berhenti menggodanya. Elvaro meringis namun setelah itu ia tertawa lagi.
"Aku suka kita seperti ini. Mengingatkan aku akan masa lalu."
"Masa lalu?"
Elvaro terkejut karena ia keceplosan bicara. Untung saja Ned cepat datang dan membawakan beberapa botol air mineral. Eilani pura-pura berdiri. "Aku mau ke kamar kecil." katanya lalu segera pergi. Eilani berpikir kalau ia harus menjauh sebentar karena duduk begitu dekat dengan Elvaro, apalagi dengan sentuhan kulit mereka membuat tubuhnya menjadi panas.
Eilani mencuci mukanya di wastafel lalu mengambil tissue untuk mengeringkannya. Ada beberapa kepingan kenangan yang mulai bermunculan di kepalanya namun masih buram sehingga Eilani belum mampu mengingat siapa itu.
Setelah merasa segar kembali, perempuan itu pun segera kembali ke tempat ruangan operasi. Di lihatnya kalau Citra sudah ada di sana bersama seorang perempuan.
"Itu sahabatnya non Citra." kata Ned tanpa Eilani bertanya namun lelaki itu sudah tahu apa maksud tatapan mata Eilani.
"Baguslah kalau mereka ada di sini."
"Kami semua di rumah nggak menyukai nona Citra. Orangnya memang cantik namun judesnya nggak ketulungan. Belum menikah dengan tuan saja sudah sok berkuasa di rumah itu. Apalagi jika nyonya Tiara tak ada. Pernah sekali waktu tuan El sakit dan nyonya Tiara sedang berada di Jakarta. Non Citra menjaga tuan El selama beberapa hari di rumah. Dan sikapnya sungguh membuat kami semua ingin lari saja dari sana." Ned berbicara panjang lebar sambil sedikit berbisik.
Eilani dapat melihat bagaimana Citra yang selalu berusaha ada kontak tubuh dengan Elvaro. Mulai dari menggandeng tangannya, bersandar di bahunya sekalipun terlihat El sama sekali tak membalas sentuhan fisik itu.
Ponsel Eilani tiba-tiba saja berbunyi. Wajahnya langsung sumringah melihat siapa yang menelepon. Ned yang sempat melirik ke arah layar ponsel Eilani pun segera meledek gadis itu.
"Cie...cie....dari my honey ya?"
Suara Ned yang keras membuat Elvaro melirik ke arah mereka. Jujur, Elvaro cemburu mendengar siapa yang menelepon Eilani. Apalagi melihat bagaimana senangnya Eilani menerima panggilan itu. Perempuan itu sudah sedikit menjauh dari sana. Tak tahu apa yang ia bicarakan karena suaranya tak terdengar namun Eilani terlihat begitu bersemangat.
Tak lama kemudian, pintu ruangan operasi terbuka. Dokter Ayu keluar masih mengunakan pakaian berwarna hijau, penutup kepala dan masker.
"Operasinya berjalan baik. Sedikit lagi nyonya Tiara sudah boleh dipindahkan ke ruangannya. Usahakan agar pasien jangan dulu di ajak banyak bicara. Jangan menunduk dan lebih banyak beristirahat." pesan dokter Ayu. Eilani mengangguk. Ia senang karena operasi mata nyonya Tiara akhirnya selesai.
3 jam kemudian...
Citra masih ada di sana bersama Elvaro. Teman Citra sudah pulang. Tiara baru selesai makan. Waktu sudah menunjukan pukul setengah 7 malam. Ned sendiri masih juga berada di sana.
"Nyonya, bolehkah aku ijin satu jam untuk pergi? Tunanganku baru saja datang dan aku ingin bertemu dengannya."
"Boleh saja, sayang. Aku ijinkan kamu pergi selama 3 jam. Di sini ada El, Citra dan Ned yang akan menjaga aku. Sampaikan salam ku untuk tunanganmu, ya?"
"Baik, nyonya." Eilani langsung pergi dengan wajah sumringah nya sedangkan hati Elvaro membara dengan rasa cemburu yang sangat dalam.
"Kamu kenapa sih? Kok nampaknya uring-uringan seperti ini? Ada sesuatu yang salah?" tanya Citra saat keduanya sedang makan malam di restoran depan rumah sakit. Saat ini Ned sedang menjaga Tiara yang sudah tertidur.
"Nggak."
"Terus kenapa nggak makan?"
"Aku hanya belum lapar saja."
"Katamu tadi siang kamu nggak makan karena ziarah ke makam papi."
"Sudah, ah. Kamu bawel. Cerewet." Elvaro melepaskan sendok yang ada di tangannya. Ia melirik jam tangannya dan ini sudah hampir 3 jam semenjak kepergian Eilani.
Citra pun tak melanjutkan makannya . Ia mengajak Elvaro pergi.
Saat keduanya mendekati lobby rumah sakit, nampak sebuah motor berhenti di sana. Elvaro terbelalak saat melihat kalau itu Eilani. Gadis itu membuka helmnya dan menyerahkan pada cowok bertubuh kekar yang duduk di depannya. Cowok itu membuka helm nya juga dan Elvaro mengenal lelaki itu sebagai lelaki yang pernah Eilani temui waktu itu.
"See you....!" Eilani melambaikan tangannya setelah cowok itu mencium pipinya.
Citra memperhatikan Elvaro. "Kok kamu kayaknya cemburu melihat suster itu diantar oleh pacarnya?"
Elvaro tak menyahut. Ia terus berjalan bahkan sedikit meninggalkan Citra.
**********
Citra dan Ned sudah pulang. Sebenarnya Citra memaksa agar Elvaro juga pulang dengannya karena ada suster yang menjaga namun Elvaro tetap memaksa untuk tinggal.
Tiara sempat bangun sebentar untuk buang air dan minum susunya. Setelah itu ia tidur kembali setelah diberikan obat penghilang rasa nyeri karena matanya merasakan sakit saat efek obat biusnya sudah hilang.
Eilani sudah mengganti seragam susternya dengan celana training hitam dan kaos lengan panjang. Elvaro sudah sudah selesai dan berganti pakaian dengan yang di bawa oleh Ned tadi.
"Ei, kamu mau makan sesuatu?" tanya Elvaro saat melihat Eilani sudah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Tidak. Aku sudah kenyang tadi makan bersama tunanganku."
Elvaro mendekat dan duduk di samping Perempuan itu. "Ada apa, El?"
"Mengapa waktu itu saat aku bertanya, kamu bilang nggak punya kekasih?"
Eilani memberanikan diri menatap Elvaro. Mata elang itu nampak tajam menatapnya. "Karena memang kami baru saja tunangan. Aku baru saja menerima lamarannya waktu ia datang sebelum nya."
"Jadi waktu kalian pergi makan di mall itu, kamu baru saja menerima lamarannya? Lalu kenapa di ponsel mu sudah tertulis nama honey?"
Eilani mengerutkan dahinya. "Kamu mengikuti aku?"
"Eh, waktu itu nggak sengaja. Aku ke mall karena ingin membeli hadiah ulang tahun untuk sepupuku." Elvaro terpaksa berbohong.
"Namanya Hanny Wijaya. Dia sendiri yang menuliskan namanya di ponselku dengan ejaan h-o-n-e-y karena menurutnya sama aja dibacanya. Memangnya kenapa?"
Elvaro memegang pipi Eilani. Ia membelai pipi mulus itu dengan punggung tangannya. "Aku tak rela kamu menjadi milik si Hanny itu. Aku mau kamu, El."
"Aku nggak mau bersamamu karena kamu sudah menjadi milik Citra. Lagi pula, derajat kita sangat jauh berbeda. Kamu orang kaya. Carilah Perempuan yang sepadan dengan dirimu. Seperti Citra."
Elvaro menggeleng. Kini kedua tangannya ada di pipi gadis itu. "Tatap aku, El. Katakan kalau kamu tak menyukaiku."
"Aku memang tak menyukaimu, El." kata Eilani pelan walaupun tatapan matanya tak mengatakan itu.
Tentu saja Elvaro tahu Eilani bohong. Ia yang dulu begitu mengenal perempuan ini sudah tahu sifat Eilani. Ia sebenarnya tak pernah bisa berbohong.
"Katakan sekali lagi kalau kamu memang tak menyukaiku."
"Aku memang tak menyukaimu, El." Eilani berusaha meyakinkan hatinya. Namun, jarak mereka yang begitu dekat membuat gadis itu takut kalau Elvaro bisa mendengarkan detak jantungnya.
"Kamu menyukai aku, Ei. Aku dapat merasakannya." lalu Elvaro menunduk, Mel**at bibir Eilani yang sejak tadi sudah menggodanya. Ia menyesapnya perlahan, menggoda Eilani sampai Perempuan itu membuka mulutnya, membalas ciuman Elvaro dan keduanya larut dalam ciuman panjang yang memabukkan sampai hampir lupa kalau sekarang mereka ada di rumah sakit.
************
Eilani tak sadar, kalau apa yang dilakukannya sekarang adalah dorongan perasaannya di masa lalu yang sangat mencintai Elvaro. Karena hal yang menyakitkan itu sudah hilang dari ingatannya, Eilani berpikir kalau ia memang jatuh cinta pada pesona Elvaro yang memang memabukkan.
Elvaro
Eilani
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Apriyanti
lanjut thor
2023-09-27
1
Eka elisa
baru lani mo ktmu pilot utu aj kmu cmburu bgt truus apa kbr lani wktu kmu rawat ktmu diam"....ma kucing garong itu el...apa kbar nya hati ma prasaan nya...lani....
2023-09-27
2
Eka elisa
mklum citra kn gatel jadi gratak grutuk pngen nemplok kyk uler kadot ma el....
2023-09-27
2