Rivera segera tersadar dan ikut menatap dasi hijau tua itu. Dia merasa jika Abel menginginkan dasi hijau tua tersebut.
"Apakah kakak tertarik dengan dasi itu?" tanya Rivera.
Abel segera mengalihkan pandangan kepada Rivera "Tidak, saya hanya teringat pada Ayah. Saya rasa Ayah akan cocok menggunakan dasi hijau tua itu" jawab Abel dengan senyum tipis.
Rivera mengangguk paham dan kemudian kembali melihat kearah dasi tersebut. Dia tersenyum kecil saat memikirkan sesuatu di kepalanya.
Tidak lama sang pemilik butik pun datang dengan membawa dua buah katalog. Sang pemilik butik pun memberikan katalog itu kepada Rivera dan Abel.
"Tuan muda dan Nona muda, silahkan untuk melihat-lihat dulu contoh pakaian rekomendasi dari kami. Jika ada pertanyaan silahkan langsung tanya kan kepada saya" ujar sang pemilik butik dengan sopan.
Rivera mengangguk sambil tersenyum ramah. Dia pun mulai melihat-lihat contoh gaun yang ada di katalog itu.
Ada berbagai macam gaun di katalog itu, Rivera bahkan merasa bingung harus memilih gaun yang mana.
"Nanny, bisa bantu aku memilihkan gaun? Aku sangat bingung" kata Rivera meminta bantuan Dorothy.
Dorothy pun dengan sigap segera mendekat kearah Rivera dan melihat contoh-contoh gaun yang ada di sana. Seketika pula, ekspresi wajah Dorothy terlihat begitu bersemangat karena gaun-gaun yang ada di katalog memiliki desain yang sangat cantik.
"Nona, gaun-gaun ini sangat cantik. Ini sangat cocok dengan Nona." puji Dorothy dengan semangat membara menunjuk salah satu pakaian musim dingin.
Rivera pun mulai melihat contoh gaun yang di tunjuk oleh Dorothy, dan dia juga menyetujui apa yang dikatakan oleh Dorothy jika gaun musim dingin itu akan sangat cocok padanya.
"Baiklah, saya akan memesan beberapa pakaian musim dingin dan beberapa pakaian musim semi. Tolong beri tahu saya kapan kita harus mengukur nya?" ujar Rivera.
"B-baiklah, Nona muda. Saya akan mempersiapkan semuanya. Tunggu lah saya" Kata sang pemilik butik sedikit bersemangat dan tergesa-gesa.
Rivera nampak bingung karena sang pemilik butik itu tergesa-gesa dan nampak kebingungan. Namun dia memilih untuk tidak memikirkan hal tersebut dan lebih memilih untuk memperhatikan Abel yang sedari tadi terdiam melihat isi katalog pakaian pria.
Rivera mengintip isi katalog tersebut sambil berkata "Apa yang kakak lihat sampai se-serius ini?" Tanya nya.
"Hanya melihat beberapa isi pakaian saja, tidak lebih" jawab Abel kaku tanpa mengalihkan pandangan dari katalog.
Rivera menatap Abel dengan lekat, dia berpikir jika Abel menginginkan pakaian-pakaian itu namun Abel memilih untuk tidak jujur dengan nya.
Tidak lama, sang pemilik butik pun datang kembali untuk menghampiri Rivera.
"Nona muda, saya sudah mempersiapkan fitting room. Tolong ikuti saya" Kata sang pemilik butik ngos-ngosan seperti baru saja mengerjakan sesuatu.
Rivera dan Dorothy saling pandang karena merasa heran dengan sikap sang pemilik butik.
"Baiklah, tolong tuntun saya" kata Rivera.
Mereka bertiga pun pergi ke fitting room untuk melakukan pengukuran, sementara Abel memilih untuk tinggal di ruang tunggu.
"Nah Nona, silahkan duduk lah di sini. Saya akan mempersiap kan meter pita terlebih dahulu" Kata sang wanita kembali tergesa-gesa.
"Santai saja, nyonya. Saya tidaklah sedang terburu-buru" ujar Rivera sedikit terkekeh.
"S-saya harus cepat mempersiapkan sesuatu. Apa lagi sudah sangat lama seorang pelanggan datang kemari. Saya merasa sedikit gugup"
Rivera dan Dorothy saling pandang seolah mereka saling bertukar pikiran satu sama lain.
"Sudah berapa lama, nyonya?" tanya Rivera.
"Saya rasa hampir 10 bulan. Bahkan pelanggan terakhir saya hanya memesan satu buah dasi saja" jawab wanita itu tersenyum ikhlas.
"Nah mari lepas dulu gaun anda, Nona muda. Saya akan mengukur lingkar tubuh anda" lanjutnya.
Rivera pun segera melepas gaunnya sehingga tersisa pakaian dalam atau baju dalaman gaun sependek di atas lutut. Dengan segera sang wanita pun mengukur lingkar pinggul, tangan, leher dan lain-lain.
Sambil melakukan pengukuran Rivera memutuskan untuk berbicara karena kondisi ruangan yang sangat senyap membuat nya frustasi.
"Jika boleh tahu, siapa nama Nyonya?" tanya Rivera penasaran.
"Nama saya Ambher Rhinitis, Nona muda" jawab Ambher"
"Apakah Nyonya ingin menjalankan kontrak kerja sama dengan saya? " tanya Rivera sehingga membuat Ambher terhentak.
"Bagaimana seorang anak kecil bisa menawari kerja sama dengan ku?" pikir Ambher bimbang.
"Hmmm.... saya tidak tahu harus menjawab apa. Namun, jika boleh tahu, kerja sama seperti apa yang ingin anda jalankan?"
".....Saya berniat untuk membuka sebuah pusat informasi di dalam butik ini. Saya akan berinfestasi sebesar 1 juta Gold, Bagaimana?"
" !!! "
"A-apakah yang anda katakan ini adalah sebuah kebenaran? Apakah saya bisa menganggap ini serius?" ujar Ambher tidak percaya pada tawaran Rivera.
Agar Ambher percaya, Rivera pun dengan segera mengeluarkan sebuah kantung kain dengan ukuran lemayan besar bewarna merah bata.
Dia meletakan kantung yang berisi lima ratus ribu Gold itu di atas meja.
"Ini adalah uang muka sebesar 500.000 Gold. Saya akan membayar 500.000 Gold lagi pada saat Nyonya sudah menanda tangani surat kontrak"
" !!! "
Ambher terlihat syok saat melihat sebuah kantung besar berisikan 500.000 Gold di atas meja nya. Dia tidak bisa berkata-kata dengan ekspresi bahagia.
"Bagaimana, Nyonya? Apakah anda menyetujui kerja sama ini?" tanya Rivera.
"S-saya akan menanda tangani surat kontrak nya, Nona muda. Saya akan bekerja dengan sangat giat!! "
...****************...
30 menit berlalu
Akhirnya Rivera dan kedua lainnya keluar dari dalam fitting room. Terlihat dengan jelas sebuah senyuman girang dari sang wanita pemilik butik tersebut.
"Terima kasih karena sudah memesan beberapa pakaian dari saya mas, ah maksut saya Nona muda. Setelah menyelesaikan gaun-gaun pesanan anda saya akan mengirimnya ke alamat yang anda berikan" kata Ambher sedikit membungkuk pada Rivera.
Dan kemudian dia melihat kearah Abel lalu mulai menunduk "Maafkan saya Tuan Muda Endirson, saya tidak mengenali anda dan terlambat menyapa. Saya benar-benar menyesal" Ujarnya.
Abel mengangguk lalu berkata "Tidak masalah" Ujarnya.
"Baiklah. Kami akan pergi,"
Mereka bertiga pun keluar dari butik itu dengan di temani oleh Ambher. Ambher yang sudah memutuskan jika Rivera akan menjadi masternya dengan segera membantu Rivera masuk ke dalam kereta kuda.
"Hati-hati Nona muda"
Dorothy yang merasa kebingungan hanya bisa melihat Ambher dengan ekspresi cemburu. Dia pun turut masuk ke dalam kereta kuda dan menutup pintu kereta.
"Hati-hati di jalan, Nona muda, Tuan muda" Ambher mengibas-ngibaskan tangannya dengan senyuman bahagia.
Dan lagi-lagi Dorothy melihat dengan ekspresi cemburu.
"Apa-apaan, mengapa dia sok akrab sekali dengan Tuan putri ku! Aku merasa tidak senang" benak Dorothy berkecil hati.
^^^To be Continued~^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments