Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi bertiga setelah Abel bersikekeh untuk tetap menemani Rivera pergi jalan-jalan. Mereka menaiki kereta kuda yang lumayan besar dan kemudian pergi untuk menuju ke arah pusat pasar yang berdekatan dengan kota Romant.
Keadaan begitu awkward pada saat itu. Dorothy yang merasa tak enak pun memilih untuk mencairkan suasana.
"Putri ingin berkunjung ke mana setelah sampai di pasar?" tanya Dorothy sambil tersenyum.
Rivera terdiam sejenak lalu kemudian berkata "Entahlah. Mungkin melihat-lihat dulu baru memutuskan akan pergi kemana" Katanya dengan kaku.
"B-baiklah"
Dorothy tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kenapa keadaannya makin bertambah canggung. Apa yang harus aku lakukan" benak Dorothy kebingungan.
Dia pun menoleh kepada Abel dan kembali tersenyum "Tuan Muda, kemana yang akan anda tuju setelah sampai nanti?" tanya Dorothy bersemangat.
"Saya pergi ke tempat kalian pergi" singkat Abel tak kalah kaku nya dari Rivera.
Dorothy menelan ludahnya sendiri sambil berpikir "Tidak ada harapan"
Dia pun memutuskan untuk diam di suasana canggung itu dari pada harus mengajak kedua orang kaku itu bicara.
10 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di pusat kota Romant. Mereka pun turun dari kereta kuda setelah melihat sebuah toko roti tua.
Rivera yang sudah terbiasa memakan roti pada saat menjadi tentara bayaran di perancis kembali mengenangnya setelah melihat toko roti tua tersebut.
Mereka bertiga pun masuk kedalam toko roti tua yang sepi itu. Mereka yang mengenakan pakaian bagus itu pun mengundang perhatian dari para rakyat biasa.
Rivera segera memperbaiki tudung jubahnya agar tidak ada yang bisa melihat warna rambut nya yang langka itu. Karena rambut bewarna silver hanya di miliki oleh keturunan kaisar tertentu saja.
Para rakyat berbisik namun cukup keras terdengar oleh Rivera. Rivera yang malas menanggapi pun memilih untuk tidak memperdulikan mereka dan masuk kedalam toko roti.
Di sana Rivera, Abel dan Dorothy bisa melihat keadaan toko yang rapi namun sepi pengunjung. Aroma roti pun menyebar di seluruh ruangan itu. Rivera pun menjadi semakin menginginkan roti itu setelah mencium bau nya yang wangi.
"Selamat datang pengunjung yang terhormat. Apa yang para pengunjung ini inginkan?" Tanya seorang nenek tua.
Nenek itu sudah memiliki uban disekujur kepalanya. Karena kulitnya yang keriput, matanya menjadi terlihat susah untuk di buka. Rivera yang melihat sang nenek pun merasakan sesuatu dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Aku teringat pada nenek ku" benak Rivera sedikit mengenang.
Dia melihat keseluruh roti yang di buat oleh sang nenek "Saya menginginkan semua roti ini. Tolong katakan, berapa saya harus membayar kepada nyonya?" kata Rivera membuat sang nenek sedikit terkejut.
Dorothy yang mendengarkan keinginan sang tuan putri dengan segera pula dia menyiapkan kantung uang.
Sang nenek terlihat keheranan sambil melihat ketiga orang itu secara bergilir.
"K-kalau begitu bayar saya seharga 7 ah tidak, bayar saya sebesar 10 perak. Ya, saya butuh sepuluh perak" Kata si nenek menunduk dengan mata berair.
Dorothy pun menatap Rivera dengan maksud bertanya. Rivera yang masih mengenang sang nenek di kehidupan sebelumnya masih terdiam dengan ekspresi sedih.
"Berikan satu Gold" bisik Rivera pada Dorothy.
Dorothy pun langsung tersenyum dan memberikan satu Gold kepada nenek tersebut.
" !! "
Sang nenek terkejut dengan tangan gemetar. Dia menatap satu Gold itu dan Rivera secara bergantian.
"Tolong bungkuskan" kata Rivera tersenyum ramah kepada sang nenek penjual roti.
"A-akan saya bungkuskan" jawab sang nenek penjual roti sambil menangis terharu.
...****************...
Mereka bertiga pun keluar dari toko roti itu sambil membawa masing-masing satu bungkus roti. Hal itupun semakin menjadi pusat perhatian rakyat biasa dan bahkan para tunawisma yang sedang terlantar.
Karena merasa terganggu, Abel menajamkan sorot matanya sehingga rakyat biasa yang memandang sinis kearah mereka langsung pergi tanpa menoleh lagi.
Namun lain lagi dengan para tunawisma, mereka menatap roti yang sedang di pegang oleh Rivera. Rivera bisa melihat jelas jika salah satu dari tunawisma dewasa itu terdapat anak perempuan kecil.
Anak perempuan itu memiliki tubuh pendek yang kekurangan berat badan. Di tubuh anak kecil itu juga di penuhi lebam-lebam akibat pukulan benda tumpul.
Rivera menyerngitkan dahi sambil berkata "Nanny, bagikan secara adil roti ini kepada mereka" suruh Rivera.
"Baik, putri" jawab Dorothy dengan patuh.
Dengan segera Dorothy pergi untuk membagikan roti-roti itu pada para tunawisma. Sementara Rivera dan Abel memilih untuk mengamati dari jauh.
"........."
Rivera terdiam sambil melihat kearah Dorothy yang sedang membagikan roti. Tanpa dia sadari jika Abel sedang menatap nya saat ini.
"Apa anda kasihan pada mereka?" tanya Abel dengan ekspresi datarnya.
"Iya. Saya kasihan kepada mereka" jawab Rivera apa adanya.
Abel mengangkat satu alisnya dan kembali menatap lurus.
"Saya benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran Tuan Putri"
Rivera menoleh kearah Abel "Benarkah, Tuan Muda"
"....Saya akan senang jika Tuan Putri memanggil saya kakak"
Rivera memiringkan kepalanya dan berkata "Baiklah, kakak" ujar Rivera tersenyum.
Kedua orang itu saling tersenyum dalam diam, sembari menatap kearah para tunawisma yang sedang tersenyum bahagia karena mendapatkan roti.
...****************...
Mereka bertiga memilih sebuah tempat busana untuk dikunjungi. Di karenakan Rivera sudah sangat muak karena pakaian bewarna pink, Rivera berniat membeli beberapa gaun, sepatu dan beberapa hiasan lainnya yang bukan bewarna pink.
Rivera juga berniat untuk membeli beberapa potong pakaian untuk dia berikan kepada Celevin dan Abel.
Mereka pun yang sudah sampai di toko busana memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat beberapa contoh pakaian yang sedang di pajang.
Kedatangan mereka segera mendapat perhatian dari pemilik butik itu. Pemilik butik pun datang untuk menyapa mereka.
"Selamat datang para pengunjung, silahkan ikuti saya untuk melihat beberapa katalog pakaian rekomendasi dari kami" ujar sang pemilik toko mempersilahkan dengan sopan.
Mereka bertiga pun akhirnya mengikuti sang pemilik toko itu menuju sebuah ruangan yang agak luas dengan sofa-sofa merah mereka.
Di dalam ruang itu juga terdapat berbagai sampel kain dan contoh dari busana yang sudah jadi.
"Saya akan mengambil katalognya, silahkan duduk dengan nyaman"
Sang pemilik toko pun pergi untuk mengambil katalog pakaian.
Mereka bertiga duduk sambil melihat-lihat kearah pakaian yang sedang terpajang. Begitu juga Abel. Abel dengan nyaman pun duduk di sofa sambil melihat kearah sebuah dasi bewarna hijau tua.
Rivera segera tersadar dan ikut menatap dasi hijau tua itu. Dia merasa jika Abel menginginkan dasi hijau tua tersebut.
^^^To be Continued~^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Amishofi💙🍉 (HIATUS)
sesuai ekspetasi
2023-10-31
2
Wiwin Ma Vinha
lnjt
2023-09-15
1