...*Di dalam ruangan kerja Celevin*...
"Tolong terima pemberian saya ini," kata Rivera mengulurkan satu koin platinum kepada Celevin.
Rivera terlihat begitu bersungguh-sungguh pada saat memberi koin tersebut pada Celevin. Dia bahkan menunduk dan mengulurkan koin itu dengan kedua tangannya.
"S, saya tidak akan mengambilnya, Tuan Putri" tolak Celevin.
"Kenapa? Padahal saya sudah memberikan hal berharga ini kepada anda. Tapi mengapa anda menolak pemberian saya," lirih Rivera membuat ekspresi sedih dan menurunkan tangannya.
"Sa, saya tidak bermaksud untuk menolak. Saya hanya tidak ingin menyusahkan Tuan Putri. Saya akan membayar kembali utang saya pada Tuan Putri"
"Tidak!"
"Kedua koin ini adalah pemberian dari ibu saya. Hal ini lah yang selalu saya jaga semenjak dulu. Pada saat menyaksikan kedua penagih hutang itu, saya teringat kepada pesan ibu saya..."
"Ibu saya pernah berkata, gunakan lah koin ini untuk sesuatu yang baik. Gunakanlah koin ini untuk membantu orang-orang yang baik padamu. Saya hanya ingin menjalankan wasiat mendiang ibu saya" lirih Rivera.
"S-saya... bagaimana saya bisa menerima barang berharga milik anda. Saya bukanlah orang yang tidak tahu malu yang menerima pemberian dari Tuan Putri"
Celevin bersikukuh untuk tidak menerima pemberian dari Rivera. Dia merasa jika dirinya lah yang seharusnya memberi dan bukannya diberi.
"Haih terima sajalah wahai Count. Pahamilah niat baik dari seorang anak kecil ini" benak Rivera.
[Padahal Nona sudah sampai berbohong tapi pria ini cukup gigih juga ya]
"Baiklah, Count. Sebenarnya saya cukup sedih karena anda menolak pemberian dari saya. Namun saya tidak boleh memaksa Count, kan?"
"Saya memahami niat baik Tuan putri. Namun, saya akan berusaha untuk membayar utang saya kepada putri," gigih Celevin.
Rivera tersenyum sambil mengangguk "Baiklah. Kalau begitu saya pamit dulu Tuan Count" ujar Rivera berpamitan.
"Iya tuan putri,"
Rivera pun keluar dari ruangan tersebut. Namun baru saja dia keluar terlihat Abel yang sedang menatap datar kepadanya. Tentu saja Rivera terkejut karena Abel berada persis sekali di depannya.
"A-astaga Tuan muda, anda mengejutkan saya...!" kata Rivera menghela napas.
"Ikut saya!" kata Abel dan kemudian melangkah meninggalkan Rivera.
"Apa-apaan bocah ini!"
Mau tidak mau Rivera pun mengikuti langkah Abel dengan perasaan kesal karena Abel selalu saja bersikap ketus dan seenaknya kepada dirinya.
Mereka berjalan menuju lorong yang menghubungkan langsung menuju sebuah tempat latihan pedang yang berdekatan dengan gudang. Rivera keheranan mengapa Abel membawanya kemari. Dia bisa merasakan jika niat Abel tidaklah baik.
Seketika Rivera menghentikan langkahnya dan kemudian berkata "Mengapa anda membawa saya kemari?" tajam Rivera.
Langkah Abel terhenti. Dia membalikan badan dan kemudian melihat Rivera dengan menyelidik. Tatapan yang berganti dari kaki sehingga ujung rambut itu membuat Rivera keheranan.
"Darimana anda mendapat koin platinum itu?" tanya Abel datar.
Rivera sedikit terhentak karena Abel tiba-tiba saja menanyakan hal tersebut. Dan untunglah Rivera sangat pandai menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
"Saya mendapat nya dari mendiang ibu saya, Tuan Muda" jawab Rivera tersenyum.
...[Bohong 100%]...
...[Jujur 0%]...
"Bohong! Anda tidak bisa membohongi saya seperti anda membohongi Ayah saya. Katakan, dari mana anda mendapatkan koin itu? Apakah anda mencurinya?!" desak Abel.
"Kenapa tiba-tiba bocah ini..."
[Nona, Kiryu rasa dia tidak sedang menebak saja. Kiryu bisa merasakan jika dia memiliki kemampuan untuk mendeteksi kebohongan]
"A, apa? Apakah ada hal semacam itu juga?"
[Kiryu yakin, Kiryu merasakannya]
Rivera menghela nafas. Dia menatap Abel dengan malas.
"Benar, koin-koin itu bukanlah pemberian dari mendiang ibu saya"
...[Jujur 100%]...
...[Bohong 0%]...
"!"
"Jadi anda mencurinya?"
"Saya tidak bisa mengatakan dari mana saya mendapat kan koin-koin tersebut. Karena saya sudah memiliki janji untuk tidak membocorkan nya"
...[Jujur 100%]...
...[Bohong 0%]...
"!!!"
"Saya tahu anda sedang mencurigai saya, Tuan Muda. Namun, saya tidak sedikitpun memiliki niat jahat kepada Tuan Count dan keluarga Endirson. Niat saya murni hanya ingin membantu saja"
...[Jujur 100%]...
...[Bohong 0%]...
"Saya hanya sedang membalas budi karena keluarga Endirson sudah mau menampung saya, sang Putri terbuang. Saya bukanlah orang yang tidak tahu berterima kasih dan mengabaikan kesulitan orang yang sudah menolong saya"
...[Jujur 100%]...
...[Bohong 0%]...
"!!"
"A-anda...
"Maaf jika saya sudah sangat menyusahkan anda dan Tuan Count. Saya benar-benar menyesal atas kejadian tidak nyaman ini. Saya pergi dulu, Tuan Muda" ujar Rivera membungkuk sedikit dan kemudian pergi meninggalkan Abel.
...[Jujur 100%]...
...[Bohong 0%]...
"Dia benar-benar berkata jujur....."
Abel terdiam disana sembari menatap punggung Rivera yang semakin menjadi dan kemudian menghilang. Dinetranya tersirat sebuah penyesalan rasa bersalah yang mendalam.
"Kenapa yang dirumorkan orang-orang sangat berbeda dengan diri mu yang sebenarnya? Kenapa kau tidak mengamuk saat aku bahkan berprilaku kasar dan mengabaikan mu? Apakah aku sudah bertindak terlalu jauh...?"
...****************...
*Brakkk
Rivera membuka pintu kamar dengan keras dan kemudian menutupnya kembali. Dia berjalan menuju ranjangnya dan kemudian mulai menaiki ranjang tersebut.
"Jawab aku, mengapa ada hal aneh yang belum aku ketahui tentang kekuatan mana di dunia ini? S-sihir angin...? Pendeteksi kebohongan...? Mengapa kau tidak memberi tahuku sebelumnya! " kesal Rivera.
[Karna Nona tidak bertanya, Kiryu pikir Nona sudah tahu]
"Kau harus memberitahu ku semuanya saat ini juga!"
[Baik, Nona....... ]
[Sihir terbagi menjadi beberapa bagian. Sihir dasar nya adalah api, angin, tanah dan air. Sihir-sihir ini berbentuk elemen-elemen yang memang sudah berada di dalam tubuh sang pengguna.]
[Namun, jika ingin menggunakan sihir ini perlu mencapai B+++ Rank. Bukan hanya B Rank, jika seseorang sudah mencapai A Rank, S Rank, SS Rank, SSS Rank mau pun R Rank, mereka bisa saja mendapat elemen unique yang berbentuk Es, Petir, Alam, Cahaya, Kegelapan dan elemen-elemen unique lainnya.]
[Masalah tentang kemampuan pendeteksi kebohongan itu adalah kemampuan yang di dapat sejak lahir maupun keturunan dari sang pengguna kemampuan. Atau sang pengguna adalah seorang jenius sehingga kemampuannya bangkit tanpa ada keturunan sama sekali.]
"Apakah orang bisa mendapat 2 elemen sekaligus?"
[Tentu saja Nona! Jika kemampuan sang pengguna sangat hebat bisa saja dia mendapat 2 elemen maupun menguasai semua elemen itu sendiri.]
"Waw.... aku baru pertama kali mendengar hal hebat semacam itu. Aku mengerti sekarang. Aku harus mencapai A Rank secepatnya!"
Rivera bertekat agara dia bisa mencapai A Rank secepatnya . Dengan segera dia duduk membentuk bunga lotus dan kemudian mem-fokuskan diri untuk menyerap mana.
15 menit berlalu, rivera masih mempertahankan posisi lotusnya.
Dengan segera, angin berdius mengitari tubuh Rivera dan kemudian mulai membentuk sebuah angin topan kecil. Angin topan kecil itu terus mengitari Rivera seolah-olah ingin menjaga nya dari sesuatu.
Rivera terlalu memaksakan dirinya untuk menyerah mana sehingga jantung nya berdetak dengan cepat dan menimbulkan sakit yang luarbiasa hebat. Jantungnya seperti sedang diremas dan dicabik-cabik dengan kuat. Rivera menyerngit dan menggigit bibirnya karena rasa sakit tersebut.
Tiba-tiba dia membuka mata dan kemudian memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
[NONA BERHENTILAH SEKARANG!!! APA YANG KAU LAKUKAN.]
"Uhuk..."
[Nona.... ]
Rivera menyeka darah yang menempel di mulutnya. Sambil membuat ekspresi kesal Rivera berkata....
"A, aku hanya mencapai B Rank...." Lirihnya kecewa.
[Nona kau terlalu memaksakan diri!! Bagaimana jika kau tidak berhasil dan mana akan mengamuk di dalam jantung mu, kau bisa mati!!]
"Aku kan tidak mati, berhentilah memarahi ku!"
[Hah keras kepala sekali]
^^^To be Continued~^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Puch🍒❄
kalau lu ada fisiknya dh habis gw bejek2 lu yu😤
2024-05-21
1
will
,
2023-11-25
1
will
.
2023-11-25
1