10 Elixir habis tak bersisa karena Rivera meminun semua Elixir tersebut. Hal itu memang harus dia lakukan agar stat dan daya tahan tubuhnya menjadi bertambah.
Rivera sudah memikirkan hal ini dengan sangat matang. Sebelum dia pergi untuk menantang para goblin, Rivera memeriksa satus kemampuannya terlebih dahulu.
"Tidak buruk" Katanya dan kemudian pergi menuju para goblin berada.
Dia berlari dengan sangat cepat sehingga tubuhnya terlihat seperti sebuah bayangan yang sedang lewat dalan sekilas. Kemampuan itu dia dapatkan dari kemampuan Mercenary dan The Shadow yang telah dia satukan sehingga menjadi kombinasi yang pas.
Tidak lama sampailah dia di sebuah ruangan yang sangat besar yang terdapat berpuluh-puluh ribu goblin yang sedang melakukan sebuah ritual aneh.
Para goblin itu melakukan ritual pemanggilan roh iblis untuk mereka jadikan sebagai pelindung. Rivera yang menyaksikan hal itu dengan segera berlari menyelinap tanpa sepengetahuan dari para goblin.
"Kiryu, aku pinjam api mu"
[Baik, Nona]
Setelah meminta untuk dipinjami api oleh Kiryu, Rivera bisa dengan bebas menggunakan sihir api yang dia bentuk menjadi bola api raksasa.
Hal itu tentu saja mengundang perhatian dari semua goblin yang ada disana. Mereka yang tengah melakukan ritual pun dengan segera menarik senjata mereka masing-masing dan berlari menyerang Rivera.
"Kik kikkk kikk"
[Kenapa ada manusia disini]
Rivera menaikan satu alisnya sambil tersenyum. Dia juga berkata "Sudah terlambat nak" ujarnya melemparkan bola api raksasa itu kepada goblin yang sedang berlari menuju dirinya.
Dengan segera bola api raksasa itu menyebar dan membakar para goblin. Rivera yang sudah mendapatkan peluang itu pun dengan segera maju dan menyerang goblin dengan kemampuan Mercenary miliknya.
"Kikkk kikk cikkkk"
[Api ini sangat panas tolong padamkan betina manusia]
Dengan kecepatan dan kekuatannya saat ini, Rivera begitu diuntungkan karena para goblin bisa dihabisi dengan sangat mudah.
Dia terus menebas dan menebas dengan kejam. Bahkan goblin yang merupakan raja dari para goblin nampak menunjukkan raut wajah tidak senangnya.
"Kikkk kikk" kata raja goblin itu tidak bersahabat.
[Makhluk rendahan mana ini]
Sambil meremas tongkat besar nya itu dia memicing kepada Rivera.
15 menit berlalu..
Tersisa 10 goblin termasuk raja goblin saat ini dihadapan seorang anak sebelas tahun itu. Ekspresi serius yang dikeluarkan oleh Rivera berhasil mengintimidasi goblin-goblin yang tersisa.
Dengan insting monster mereka, mereka bisa merasakan jika anak perempuan didepan mereka saat ini bukanlah anak perempuan sembarangan.
Tubuh mereka bergetar dan tangan mereka seketika lemas untuk sekedar mengangkat senjata. Mereka bersembilan melihat kearah raja mereka sambil berkata.
"Kik kikk kikkkk"
[Lindungi raja bagaimana pun caranya]
Berbeda dengan perkataan, mereka justru menunjukkan reaksi takut dan trauma. Mereka tidak berani mendekat kepada Rivera, bahkan satu langkah pun mereka tidak berani.
Rivera yang menyaksikan hal itu mengalami kesenangan yang berlebihan. Jantungnya berdebar dan darahnya mendidih. Dia terus mendekat kepada bocah-bocah yang sedang gemetar ketakutan itu.
"Kemarilah. Datang pada kakak mu ini...
Rivera berlari untuk menebas goblin-goblin yang tersisa. Namun...
*Slashhh
"!"
Daggernya berhasil ditahan oleh raja goblin yang tiba-tiba saja bergerak tanpa tanda sedikitpun.
"Oho... rupanya kau sudah mulai bergerak ya!" tajam Rivera tersenyum sinis dan kemudian melakukan satu gerakan memutar.
"KAU CUKUP BERANI, CUKUP BERANI UNTUK MATI"
*Trankk
*Slashh
Rivera menyelesaikan perkelahian itu hanya dengan beberapa gerakan sederhana. Yaitu gaya memutar dan menebas leher lawan dengan akurat.
*Ding
...[Lantai satu selesai dibersihkan]...
Leher raja goblin itu menggelinding mendekat kearah 9 goblin yang tersisa
"Kalian terlalu lemah untuk disebut sebagai monster" kekeh Rivera mulai melangkah dengan dagger yang sudah bersimbah darah.
"Jangan mati dengan tenang" ujarnya menebas mereka semua.
...****************...
Rivera keluar dari dalam menara dalam keadaan bersimbah darah. Dirinya yang cinta akan kebersihan itu mulai muak karena bau amis yang menyengat berada di tubuhnya.
"Aku ingin segera mandi.." Gumamnya mulai membuka portal yang menghubungkan langsung dengan kamarnya.
Saat ini Rivera sudah berada di dalam kamarnya. Dia dengan segera menuju kekamar mandi untuk berendam air sabun supaya bau amis monster segera hilang dari tubuhnya.
"Bisa gawat jika Nanny mencium bau amis ini. Aku harus berendam selama 1 jam!" Gumamnya segera memasuki kamar mandi dan memutuskan untuk berendam 1 jam disana.
1 jam berlalu.
Rivera sudah selesai dengan ritual mandinya. Dia keluar dari kamar mandi itu dan secara bersamaan mulai tercium bau harum yang menyelimuti tubuhnya.
"Aku sudah memilih bau mawar, jadi seharusnya sudah menutupi bau amis darah kan?" monolog Rivera mengendus punggung tangannya.
*Tok tok tok
"Putri, ini Nanny. Bisakah Nanny masuk?" kata Dorothy sedikit berteriak.
"Masuklah, Nanny"
Dorothy pun dengan segera masuk ke dalam kamar Rivera dan tidak lupa untuk menutup pintu kembali. Dia bisa dengan jelas melihat Rivera yang baru saja selesai mandi.
"Putri mandi lagi? Inikan sudah mulai musim dingin putri, apakah putri tidak kedinginan?" kata Dorothy khawatir.
"Ah.. benarkah? Tapi aku tidak kedinginan tuh?" jawab Rivera bertingkah polos.
"Be-benarkah... apakah putri tidak kedinginan?" kata Dorothy mencoba untuk memastikan.
"Benar kok Nanny. Aku tidak berbohong"
"Daripada Nanny banyak tanya, mending Nanny menolong diriku mengeringkan rambut ini" Katanya lalu mulai duduk di sudut ranjang.
"Baik, Tuan Putri"
sembari membantu Rivera mengeringkan rambutnya, Dorothy bertingkah aneh yang membuat Rivera jemu karena Dorothy tiba-tiba saja tidak berbicara. Rivera menoleh kearah Dorothy sambil menyerngitkan kening.
"Ada apa Nanny?" tanya Rivera.
Dorothy tersadar dari lamunan dan kemudian berkata "T-tidak Tuan putri, Nanny tiba-tiba hanya memikirkan sesuatu" jawab Dorothy tersenyum canggung.
Walaupun sudah mendapatkan jawaban Dorothy, Rivera masih merasa janggal karena raut wajah Dorothy yang terlihat sedih. Dia pun memutuskan untuk bertanya kembali.
"Ada apa? Jika ada sesuatu yang ingin diceritakan, maka ceritakanlah"
Dorothy terdiam sebentar sampai terdengar perkataan lirih darinya "Nanny hanya kasihan melihat Tuan Muda Abel, Putri" jawab Dorothy.
"Ada apa? Apakah terjadi sesuatu dengan bocah itu?"
"Tidak, putri. Kemarin Nanny pergi melewati tempat pelatihan Tuan Abel untuk menjemur pakaian Tuan Putri. Disana Nanny melihat jika Tuan Muda Abel sedang memaksakan dirinya berlatih pedang sehingga tulang tangannya mengalami retak. Nanny sangat khawatir"
Jelas Dorothy kepada Rivera. Rivera yang mendengar penjelasan itu pun dengan segera berdiri dan menatap kearah Dorothy
"Jangan ikuti aku, Nanny" kata Rivera.
Dorothy yang tidak tahu apa-apa itu langsung mengangguk dan menatap punggung Rivera yang sedang keluar kamar.
"Mau kemana putri pergi? Mungkinkah dia mau menghampiri Tuan Muda Abel?" monolog Dorothy tersenyum mengembang.
"Tuan Putri ku sudah tumbuh dengan benar, dia bahkan juga sudah bertumbuh tinggi semenjak tinggal disini." lanjutnya tersenyum bahagia.
^^^To be Continued~^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
𝕗 𝕚 𝕚
seru kak
2023-12-09
1
Deecey Laudes
nice story♥️
2023-09-19
2