Rivera berjalan menuju kamar Abel untuk melihat kondisi Abel saat ini. Dia mempercepat langkahnya sambil berpikir "Orang bodoh mana yang lagi yang mematahkan tangan hanya gara-gara berlatih pedang jika bukan yang mulia Abel yang terhormat"
Singkat nya waktu karena Rivera berjalan cukup cepat akhirnya dia sampai di depan kamar Abel dan kemudian tanpa mengetuk dirinya masuk begitu saja.
Dia bisa melihat kondisi kamar Abel yang gelap gulita yang hanya diterangi oleh sedikit sinar rembulan karena jendel kamar tersebut sedang terbuka.
Rivera juga bisa melihat jika Abel sedang terlelap dalam tidurnya dalam kondisi tangan kanan yang terlilit kain kasa.
"Bocah yang ceroboh. Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa anak kecil yang seharusnya berada di taman bermain harus memaksa kan diri dengan pedang! Kau bahkan sangat lemah dari yang terlemah." gumam Rivera mendekati Abel.
Dia melihat kearah tangan Abel yang mengalami cidera. Dengan perlahan-lahan Rivera meletakan tangannya pada tangan kanan Abel dan, kemudian dia mulai memejamkan mata.
Perlahan-lahan sebuah cahaya putih mulai keluar dan menyelimuti tangan Abel sehingga mengikuti bentuk kain kasa yang sedang terlilit ditangan Abel. Rivera yang sedang menggunakan kemampuan Saintess nya itu pun sangat memaksakan diri dan mempertaruhkan keberhasilan dan kegagalan.
"Aku harap tangan mu segera sembuh. Aku melakukan ini bukan karena aku kasihan padamu, namun aku khawatir jika Tuan Count akan bersedih," gumam Rivera mulai membuka mata.
Ritual penyembuhan itupun berakhir dengan kesembuhan tangan Abel. Bahkan lebam dan luka disekujur tangan Abel menghilang begitu saja.
Setelah melakukan penyembuhan, Rivera menghela napas dan merasa sedikit pusing. Dia tidak berpikir jika dia akan melakukan penyembuhan pertama kali nya kepada Abel.
"Aku mabuk dengan kekuatan suci ini. Apa karena aku belum terbiasa ya?" monolog Rivera.
Dia pun meninggalkan kamar Abel tanpa menoleh sedikit pun. Sehingga tanpa sadar bahwa ternyata orang yang dia sudah sembuhkan tidaklah terlelap. Orang itu justru terbangun dan membuat ekspresi terkejut.
"T, tuan putri bisa melakukan penyembuhan? A-apakah dia seorang Saintess?" monolog Abel penasaran dengan raut tidak percaya jika Rivera akan menyembuhkannya.
Dia pun dengan segera menggoyang-goyangkan tangannya untuk memastikan apakah masih terasa sakit atau tidak. Dan ternyata rasa sakit dari cideranya benar-benar hilang bagai dirinya tak pernah mengalami cidera sama sekali.
"Ini benar-benar tidak sakit lagi..." gumam Abel terkesima.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam berlalu...
Pagi tiba menyambut aktivitas dari seluruh rakyat Romant. Rivera yang sudah memiliki janji untuk sarapan bersama dengan Celevin pun dengan segera bersiap untuk menuju ruang makan.
Dengan menggunakan baju putih dan celana bewarna colat benar-benar membuat penampilan Rivera menjadi terlihat seadanya. Apa lagi rambutnya yang hanya dikuncir kuda tanpa hiasan satu pun disana.
Dia sengaja berpenampilan seperti itu karena dia berencana untuk memanjat menara kembali. Maka dari itu dia berpikir tidak ada gunanya berpenampilan rapi jika ujung-ujungnya akan berantakan.
Rivera pun sampai di depan ruang makan dengan cepat, namun sesuatu membuatnya terkejut saat mendekat kearah pintu ruang makan itu.
Di sana terdapat Abel yang sedang bersandar di pintu sambil melipat tanganya. Ekspresi nya pun terlihat serius dengan mata menajam.
"!"
"Kenapa bocah ini berdiri di depan pintu?" gumam Rivera heran sambil melihat kearah tangan kanan Abel.
"Tangannya benar-benar sembuh. Syukurlah" lanjutnya kembali melangkah.
"Selamat pagi Tuan muda Abel" sapa Rivera dengan senyuman cerah.
Abel yang sedang bersandar di pintu itu pun hanya menoleh tanpa membalas sapaan Rivera. Apalagi ekspresi nya begitu datar sehingga membuat Rivera sedikit kesal.
"Tuan Muda, apa kah tuan Muda sedang menunggu saya?" tanya Rivera.
"Panggil saya kakak."
"Maaf, saya....
"ya?" Rivera keheranan sambil membuat ekspresi terkejut.
Tidak ada jawaban. Abel justru mengabaikan Rivera lalu masuk kedalam ruang makan. Rivera yang sedang di acuhkan oleh Abel pun hanya bisa memendam amarahnya sambil tersenyum.
"Bocah tengik" Gumamnya turut menyusul langkah Abel.
Mereka berdua masuk secara berurutan sehingga Celevin yang sudah berada di dalam sedikit merasa heran.
"Apakah anak-anak ini sudah akur?" Pikirnya.
Rivera dan Abel pun duduk di tempat biasanya mereka duduk. Celevin yang melihat itu pun dengan segera tersenyum sambil membuat ekspresi bahagia.
"Selamat pagi Tuan Putri" sapa Celevin.
"Selamat pagi, Abel"
"Pagi Tuan Count/Ayah" jawab mereka serempak.
Mereka saling bertatapan dan kemudian saling memalingkan wajah.
Celevin yang melihat prilaku keduanya menjadi semakin bingung.
"*Apa yang terjadi pada kedua anak-anak ini. Apakah mereka belum akur*?"
Karena takut membuang-buang waktu, Celevin memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan kemudian memulai sarapan kala pagi itu.
Dia mulai meletakan masing-masing satu sosis sapi kedalam piring Rivera dan Abel sebagai tanda di mulainya sarapan.
"Makanlah" kata Celevin tersenyum.
"Terima kasih Ayah/Tuan Count" kata mereka serempak sehingga lagi-lagi mereka saling bertatapan.
Suasana begitu canggung sehingga Celevin mencoba untuk mencairkan suasana.
"Oh iya, Abel. Bagaimana dengan kondisi tangan mu? Apakah masih sakit?" tanya Celevin terlihat khawatir.
"Sudah membaik, Ayah" jawab Abel seadanya.
Celevin terhentak saat mendengar jawaban Abel. Dia melihat tangan Abel dengan teliti.
"Benarkah? Apakah benar-benar tidak sakit? Abel tidak sedang membohongi Ayah kan?" tanya Celevin masih tidak percaya.
Abel yang mendapat pertanyaan beruntun itu pun dengan segera melihat kearah Rivera. Rivera yang menyadari jika Abel sedang melihat nya itu pun langsung berpura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu.
Abel yang melihat reaksi dari Rivera pun hanya bisa mengangkat sudut bibirnya sambil berkata "Tangan Abel tidak sakit lagi, Ayah." jawab nya.
Sebenarnya Celevin tidak terlalu mempercayai perkataan Abel, namun dia melihat jika perkataan Abel memang benar-benar nyata. Abel bahkan bisa menggerakan tangannya dengan bebas untuk mengambil berbagai jenis sarapan yang berada sedikit jauh darinya.
Celevin pun hanya menyimpan rasa khawatirnya itu dan memilih untuk memakan sarapan. Dia harus melakukan sarapan secepat nya karena sehabis ini dia akan melakukan raid di hutan iblis.
Ketiga orang itu sudah selesai mengisi perut di kala pagi itu dan memilih untuk melakukan aktivitas masing-masing.
Rivera yang sudah berencana untuk melakukan pertarungan menara pun dengan segera memberi tahu kepada Dorothy jika dia tidak mau di ganggu untuk sementara waktu di dalam kamar. Dia menyuruh Dorothy agar tidak memasuki kamar karena dia ingin beristirahat.
Dan kini, Rivera sudah mulai memasuki portal yang menghubungkan nya langsung menuju menara.
"Buka sistem"
\\[Hai Nona, selamat pagi\\]
Kiryu terdengar bahagia karena Rivera akhirnya mengaktifkan sistem setelah beberapa waktu menutup akses sistem.
"Pagi Kiryu. Tolong buka Shop sistem untuk ku" titah Rivera.
\\[Baik, Nona\\]
Dengan segera Shop sistem terbuka dan memperlihatkan sejumlah item-item yang tidak begitu pamiliar di mata Rivera.
"Apakah ada yang baru di Shop sistem?"
\\[Benar, Nona. Karena nona sudah menyelesaikan lantai satu menara, maka akan ada pembaruan di Shop sistem\\]
"Oh"
Rivera dengan segera melihat-lihat item-item baru dan menyempatkan untuk membeli 2 botol Elixir. Karena dia merasa jika dia sudah sedikit bertambah kuat, maka Rivera memutuskan hanya meminum 2 Elixir saja.
^^^To be Continued~^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Loverria
memang benar kamu kuat, tapi kan kamu juga anak kecil 🗿
2023-09-13
4