*Diruangan Count Celevin Endirson*
Celevin terlihat sedang duduk dimeja kerjanya dengan keadaan yang sudah bersih dan menggunakan kemeja putih dan celana hitam.
Rambut hitam yang belum kering sempurna itu terlihat disinari oleh cahaya lampu sehingga semakin menambah pesona seorang Celevin Endirson.
Apalagi kancing baju yang tidak terkancing seluruhnya itu berhasil mengekspos dada bidang miliknya. Sungguh ketampanan dan pesona yang tiada akhir.
Kelopak mata indah dengan bulu mata lengkit itu terlihat lelah karena terus memandangi sebuah berkas-berkas yang menggunung memenuhi sisi kanan dan kiri mejanya.
*Tok tok tok
Suara ketukan pintu memecah fokus Celevin, dan kemudian dia berkata "Masuklah"
Tak lama pintu pun terbuka dan memperlihatkan Buttler tua yang bernama thomas. Thomas terlihat sedang membawa sebuah berkas ditangannya. Dia pun dengan segera menutup pintu kembali dan menghampiri Celevin yang kembali fokus kepada berkas-berkas nya.
"Selamat malam Tuan" sapa Thomas sembari membungkuk hormat.
"Pagi, Thomas. Apa yang membawa mu kemari,"
"Saya ingin memberi laporan pajak yang Tuan minta pada saya," jawab Thomas meletakan berkas ditangannya itu diatas meja kerja Celevin.
Perhatian Celevin segera berganti dan memeriksa laporan yang diberikan Thomas kepadanya. Dia membuka laporan itu dan kemudian membacanya dengan fokus.
"!"
Terlihat ekspresi keterkejutan di wajah tampannya itu.
"Huftt..." Celevin menghela nafas sembari tersenyum kecut.
"Hampir 70% penduduk Romant tidak membayar pajak, ya" gumamnya dengan senyum kecut itu.
Thomas memandang Celevin dengan sedih. Mau bagaimana lagi? Sudah seperti itulah daerah Romant ini.
"Tuan, hanya 30% penduduk Romant yang membayar pajak. Saya hanya khawatir..." kata-kata Thomas terhenti.
"Tidak, tidak apa-apa. Saya mengerti mengapa mereka tidak membayar pajak sampai saat ini. Saya... saya akan berusaha memutar otak agar mendapatkan pemasukan untuk Romant," ujar Celevin memberikan senyuman hangatnya kepada Thomas.
Thomas membalas tersenyum dan kemudian berkata "Baiklah, saya permisi Tuan"
"Baiklah,"
Thomas pun pergi meninggalkan ruangan kerja Celevin. Dia menutup pintu dengan pelan dan menempelkan tangannya pada pintu.
"Itu berarti... Tuan harus pergi memburu monster untuk mendapatkan batu stone. Dan itu berarti...lagi-lagi Tuan harus membahayakan nyawanya demi Romant," benak Thomas berlinang air mata.
Dia melihat pintu itu dengan sedih dan kemudian mulai berjalan menjauh. Dengan kaki panjangnya Thomas bisa melangkah cukup jauh sehingga dirinya sudah menjauh dari Ruangan kerja Celevin.
Sampailah dia di depan kamar Abel dan memutuskan untuk membuka pintu tersebut. Dengan netranya dia bisa menangkap Abel yang sudah berselimutkan kain.
Dia tersenyum begitu memastikan jika Abel sudah terlelap. Karena sudah cukup memastikan, Thomas segera menutup pintu dengan pelan.
*Klak
Thomas pergi begitu saja tanpa dia sadari jika Abel belum tertidur dan malah sedang menangis dibawah selimut tebalnya.
Anak laki-laki tampan itu menangis sesegukan sehingga kelopak matanya membengkak. Dia sudah sangat berusaha agar tak menimbulkan suara sedikit pun.
"Aku benci! Bagaimana bisa ayah hampir terluka gara-gara anak aneh itu! Ayah bahkan rela memburu monster agar bisa mendapat batu Stone untuk ditukarkan menjadi uang demi perabotan kamar anak aneh itu!!"
"Aku sangat membenci nya, aku sangat benci!! "
...****************...
Di kamar Rivera saat ini
Dia terlihat sedang duduk di lantai membentuk bunga lotus. Dengan mata terpejam Rivera mulai fokus untuk menyerah mana ke dalam tubuhnya.
Cahaya emas perlahan mulai menyelimuti tubuh Rivera. Keringat bahkan mulai membasahi tubuhnya.
Nampak ekspresi kesakitan diwajahnya, namun Rivera mencoba untuk menahannya dengan segala upaya.
"Tubuh bocah ini sangat lemah. Bahkan aku hanya bisa membunuh seekor goblin saja. Aku harus bisa menguasai aura pedang secepatnya," benak Rivera.
Dia pun membuka matanya dan kemudian tersenyum begitu melihat status window miliknya.
"Sudah ku duga, stat ku bertambah dan mana ku menjadi legendary. Tapi ini masih belum cukup. Aku harus menguasai aura pedang secepatnya,"
"Kiryu, bisa kau mendengar ku"
[Kiryu disini, Nona]
"Apa Rank ku sekarang?"
[Menganalisis]
[Rank nona sekarang adalah C+]
"Ah sudah ku duga. Aku bahkan belum mencapai Rank A+" ujar Rivera kecewa.
[Nona, ini adalah pencapaian bagus untuk pemula seperti Nona]
"Kau benar. Hanya saja aku belum puas dengan pencapaian ku saat ini," ujar Rivera dengan ekspresi serius.
"Jika saja aku bisa mencapai Rank A+ , maka aku tidak perlu takut menjalani hidup di daerah berbahaya ini," kesal Rivera.
Dia nampak termenung dan akhirnya tersadar begitu dirinya mencium bau tidak sedap yang berasal dari tubuhnya.
"Sialan. Aku lupa jika aku belum mandi. Tubuhku berkeringat semua jadinya," Keluhnya dan kemudian pergi kearah kamar mandi yang sudah tersedia di dalam kamar nya itu.
17 menit berlalu, akhirnya Rivera menyelesaikan ritual mandinya dan sudah memakai piyama bewarna pink yang dia dapatkan di dalam lemari.
"Aku curiga jika Count ini pecinta warna pink," gumam Rivera memperhatikan pakaian yang melekat di tubuhnya itu.
Tak lama berucap, terdengar suara ketukan dari luar.
"Putri, ini Nanny"
"Masuklah" jawab Rivera.
Pintu pun terbuka dan memperlihatkan Dorothy yang sedang membawa handuk kecil di tangannya.
"!"
"Putri sudah mandi, mengapa tidak memanggil Nanny supaya Nanny bisa membantu," ujar Dorothy menghampiri Rivera.
"Aku sudah tidak tahan dengan bau badan ku karena keringat, Nanny," jawab Rivera.
"Keringat? Putri berkeringat kenapa? Apakah putri sakit lagi?" segelintir pertanyaan terucap di mulut Dorothy.
"Ah tidak, aku tidak sakit. Aku hanya kepanasan," elak Rivera.
Dorothy memandang Rivera dengan sedih "Nanny akan mengipasi putri sehingga putri tidak akan kepanasan lagi," ujar Dorothy mengipasi Rivera dengan kedua tangannya.
"Tidak perlu Nanny, aku sudah mandi dan tidak kepanasan lagi," tolak Rivera sambil tersenyum.
"B, baiklah putri,"
"Ah tuan putri, rambut putri masih basah. Biar Nanny bantu keringkan," ujar Dorothy.
Rivera hanya diam. Dia bermaksud untuk membiarkan saja apapun yang dilakukan oleh Dorothy. Karena Rivera bahkan tidak tau harus menjawab setiap pertanyaan Dorothy karena dia bahkan tidak pernah berbicara santai dengan sesama wanita semasa hidupnya dulu.
"Apa-apaan sih bocah ini. Kenapa juga dia harus begitu mengurusi ku," benak Rivera kewalahan menghadapi Dorothy yang begitu aktif.
[Nona, ada misi baru]
"Apa misinya?"
...⚠️Bantu ekonomi Romant dan bebaskan Romant dari hutang⚠️...
"Apa kau gila? Aku memang memiliki beberapa harta, tapi itu akan mengundang kecurigaan dari fraksi istana"
[Nona, nona bisa menolak misi kapan pun. Tapi jika nona menolak misi maka nona akan melewatkan setiap hadiahnya]
"Kau pandai berbicara ya, Kiryu"
[Terima kasih, Nona]
"Akhhh baiklah. Akan aku pikirkan lagi nanti. Untuk saat ini aku ingin istirahat,"
[Semoga istirahat mu nyaman, Nona]
^^^To be Continued~^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Darien Gap
lanjut baca. mantap
2024-02-25
1
Yantii Dee
pagi apa malam??
2024-01-04
2
DewitaDoank
next
2023-11-25
2