Sembari menunggu di ruangan itu, Rivera nampak merenung sambil menyuap kukis ke dalam mulutnya. Dia nampak berpikir keras sehingga Dorothy nampak khawatir.
"A, anu putri, apa yang sedang terjadi?" tanya Dorothy yang sedang berdiri di samping Rivera.
Lamunan Rivera terpecah dan kemudian memalingkan wajah ke arah pintu ruangan.
"*Apa yang terjadi*?" Pikirnya.
Dorothy masih memandang Rivera khawatir sampai-sampai matanya memerah menahan tangis.
"*Apakah putri sesedih ini karena harus tinggal disini. Maafkan Nanny tuan putri. Nanny hanyalah seorang pengasuh, Nanny tidak bisa berbuat banyak demi bisa mempertahankan tuan putri agar tetap tinggal di istana*,"
Begitulah yang dipikirkan Dorothy tentang Rivera. Sementara Rivera, dia masih tetap diam dan memandang secangkir teh yang hampir kehilangan hangat nya itu.
"*Sialan. Apakah aku harus melakukan hal ini? Aku sudah memiliki harta curian yang melimpah jadi apa lagi yang aku tunggu disini*"
"*Ck! Sejak kapan aku menjadi seperti ini. Insting ku untuk tetap bertahan hidup ternyata juga ikut terbawa kemari. Lalu, apa yang harus aku lakukan dengan Count Celevin*."
Rivera terus melamun dan terus berpikir sampai terdengar sebuah suara keras dari arah pintu.
\*BRAK
Seketikan Rivera dan Dorothy pun menoleh kearah pintu dan alhasil mereka menemukan seorang anak laki-laki yang terlihat begitu marah. Terpancar rasa kesal di dalam mata merah nya itu.
Tanpa aba-aba maupun basa basi, anak laki-laki itu pun berjalan kearah Rivera dan kemudian mencengkram kerah baju Rivera sehingga Rivera terbangun dengan paksa.
"!"
"Tuan putri!"
"Tuan muda Abel...!"
Rivera tidak bergeming, dia menatap wajah anak laki-laki yang sedang menatap nya dengan marah.
Anak laki-laki itu adalah anak tunggal keluarga Endirson, penguasan Romant. Rambut hitam segelap malam itu nampak bersinar meski terlihat raut marah dari wajah nya. Dia berumur 13 tahun, lebih tua dari Rivera.
"*Siapa bocah kurang ajar ini*! " kesal Rivera memicingkan mata kearah Abel.
Abel yang melihat jelas pandangan Rivera untuknya secara mendadak dia melepaskan cengkraman tangannya itu sehingga Rivera terjatuh kelantai.
\*BRUKK
"Tuan putri..." Pekik Dorothy khawatir sambil menghampiri Rivera untuk memapahnya bangun.
Anak laki-laki itu hanya berdiam namun pandangannya tetap sama seperti sebelumnya. Dia menggeram marah sehingga kepalanya bergetar.
Rivera yang sudah terbangun itu pun dengan segera menatap Abel secara menyelidik.
"Anda ini kenapa?" tanya Rivera kesal.
"!"
Abel yang menyadari jika Rivera berbicara kepadanya pun dengan segera memalingkan wajahnya seolah tidak sudi berbicara kepada Rivera.
"*Bocah ini kenapa sih*," benak Rivera kesal karena diabaikan.
"Saya...
"T, tuan putri....
Sebuah suara terdengar menyela pembicaraan Rivera. Semua orang yang ada di ruangan itu pun dengan segera menoleh ke arah pintu.
Terlihat di sana Count Celevin Endirson yang masih menggunakan jirah dan darah yang menempel dipipi dan rambut hitamnya sedang menatap hangat ke arah Rivera.
Dia melangkah mendekat ke arah Rivera dan kemudian berjongkok.
"Tuan putri, apakah putri baik-baik saja?" tanya Celevin khawatir.
Rivera tersenyum hangat kepada Celevin.
"Saya baik-baik saja, Count. Bagaimana dengan Count, apakah Count baik-baik saja? Sepertinya Count baru saja pulang dari kegiatan berburu ya?" Tanya Rivera dengan nada sopan.
"S, saya.. baik-baik saja tuan putri. Be, benar saya baru saja pulang dari kegiatan berburu,"
"Ayah, apa-apaan ini? Mengapa Ayah berbohong tentang ini?! Gara-gara makhluk aneh ini ayah kan hampir—"
"Abel Endirson!!"
"!"
Seketika saja Abel berhenti bicara dan semakin terlihat jika kemarahan di matanya bertambah untuk Rivera.
"Cih! Ayah selalu saja seperti ini" kesal Abel dan tanpa berpamitan dia langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Hufttt..." Celevin menghela nafas dan kembali melihat Rivera.
"Maafkan tindakan tidak sopan dari putra saya, Tuan Putri. Dia memang terlihat kasar, namun percayalah, dia memiliki hati yang baik. Saya akan berbicara dan menegurnya dengan keras," kata Celevin merasa bersalah.
Rivera menatap datar ke arah Celevin.
"*Sifat ayah dan anak sungguh berbanding terbalik*" benak Rivera.
"Huft... mau bagaimana lagi, saya adalah seorang tamu yang tidak diundang. Sudah sepatutnya tuan muda Endirson bersikap seperti tadi," ujar Rivera tersenyum simpul.
"*Ditambah lagi keadaan Romant saat ini sungguh di ambang kehancuran karena krisis ekonomi. Tentu saja bocah kasar itu kesal. Akupun akan kesal jika ada beban yang bertambah*," benak Rivera.
"Tidak, Tuan Putri bukanlah tamu yang tidak diundang. Jangan berkata seperti itu," lirih Celevin.
"Saya mengerti," jawab Rivera tersenyum.
Celevin tersenyum dan kemudian berdiri menghadap Rivera.
"Meski terlambat tapi izinkan saya untuk menyapa Tuan putri. Perkenalkan saya Count Celevin Endirson, saya menyambut kedatangan Tuan Putri di kediaman Endirson ini," ujar Celevin membungkuk hormat.
"Saya Rivera Beatrice, putri ke-4 / keempat kerajaan Obelion. Tolong jaga saya," balas Rivera tersenyum hangat.
"Baiklah. Putri pasti lelah, istirahatlah dulu di kamar yang sudah saya persiapkan. Saya akan mengirim makanan ke kamar anda,"
"Terima kasih ya Count,"
......
Singkat waktu Rivera sudah berada di dalam kamar yang katanya sudah dipersiapkan padanya.
Kamar itu memiliki ukuran yang tidak terlalu besar maupun kecil. Terdapat ranjang berwarna pink, sofa bewarna putih bernuansa pink dan bahkan terdapat perabotan yang serba bewarna pink di sana
Rivera bahkan sempat melongo melihat pemandangan kamar tersebut.
"Ya dia terlihat cukup berusaha keras untuk menyenangkan putri ini. Tapi....
"Apa-apaan dengan warna pink ini. Apakah menurutnya semua anak perempuan menyukai warna pink?"
Rivera merebahkan dirinya di ranjangnya. Dia terlihat cukup kelelahan dan kemudian mulai memeriksa sistem.
"Sistem"
\[Hy Nona\]
"Aku ingin membuka hadiahnya," kata Rivera.
\[Baiklah Nona, akan segera Kiryu siapkan\]
Tak lama terlihat sebuah Box hadiah di status window itu. Dengan segera pula Rivera menyentuh Box hadiah tersebut sehingga Box hadiah itu terjatuh diatas ranjangnya.
\[Nona segera bukalah. Kiryu tidak sabar untuk melihatnya\]
"Kenapa kau jadi tidak sabar begini" kata Rivera sambil membuka Box hadiah itu.
"!"
"Sebuah buku dan kalung?"
Benar saja, terlihat sebuah buku tebal bewarna coklat dan kalung permata bewarna hijau di dalam Box tersebut.
Rivera mengambil kalung itu dan melihatnya dengan teliti.
"Kalung apa ini?" tanya Rivera.
\[Sepertinya itu artefak sihir, Nona. Kiryu menemukan sejumlah mana yang banyak di dalam kalung itu\]
"Artefak Sihir? Jadi.... dengan menggunakan kalung ini aku akan lebih mudah menyerap mana..."
Rivera menyeringai dan kemudian memeriksa buku yang ada didalam Box itu.
Karena sudah penasaran Rivera akhirnya membuka buku tersebut dan kemudian menemukan jika di dalam buku itu tertulis mantra-mantra sihir, cara menyerap mana dan juga formula sebuh sihir.
Bak seorang bayi yang baru saja mendapat satu botol susu, mata Rivera bersinar dan nampak begitu tertarik pada buku tersebut.
"Apa jenis kelas buku ini?" tanya Rivera tersenyum mengembang.
\[Unique, Nona\]
"Hahaha sudah ku duga!" Pekiknya kesenangan.
^^^To be Continued~^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Darien Gap
lanjut baca..mantul
2024-02-25
1
Cherry🍒
gara" baca novel ini jadi halu ku bertambah kan ya 🤣
2023-10-07
6
矢kaguyume冬
mantap maksi seru
2023-10-01
2