Bab 16
Kevin berjalan cepat memasuki rumahnya. Dia melihat sang ibu sedang memeluk Aura sambil menangis.
"Jaga dirimu baik-baik, ya. Nanti mama akan kembali lagi ke sini jika semua urusan di sana sudah selesai," kata Bu Martini terisak.
"Iya, Ma. Mama juga harus jaga diri, kalau ada apa-apa cepat hubungi kami," balas Aura di sela Isak tangisannya.
Kevin tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini di rumahnya. Kenapa ketiga wanita itu menangis semua.
"Ma ...," panggil Kevin.
Bu Martini menguraikan pelukan lalu membalikan badan dan melihat ada putranya berdiri di depan pintu. Dengan cepat wanita tua itu berjalan menuju sang anak. Tanpa belas kasih sayang, dia melayangkan tamparan keras ke pipi kiri dan kanan Kevin secara bergantian.
"Dasar laki-laki berengsek! Bajing*an! Ke mana saja kamu, hah!" umpat Bu Martini di depan muka Kevin.
Wanita paruh baya itu melakukan hal ini pertama kali dalam hidupnya kepada sang anak. Selama ini dia selalu memanjakan dan mengucapkan kata-kata yang baik juga memperlakukan dengan penuh kasih sayang. Namun, setelah kejadian kemarin membuatnya murka.
Ada seseorang yang mengirimkan foto Kevin bersama Mariska yang sedang liburan di Eropa. Tentu saja dia murka, selama ini putranya tahu kalau berhubungan dengan wanita itu tidak pernah direstui.
"Di saat istrimu sedang bertaruh nyawa berjuang melahirkan anakmu, kamu malah bersenang-senang dengan wanita murahan itu! Di mana otak kamu, Kevin!" teriak Bu Martini.
Kevin hanya diam saja tidak berani membalas ucapan sang ibu. Jika dia melakukan pembelaan dan mengatakan kalau Mariska adalah istri kedua, maka habis sudah dirinya.
"Tenang, Bu. Kasihan Mas Kevin baru sampai, dia pasti lelah," ujar Aura mencoba menenangkan ibu mertuanya.
Bu Martini membalikan badan lalu kembali memeluk Aura. Sang ibu mertua menduga kalau menantunya ini tidak tahu akan hubungan Kevin dengan Mariska. Dia menangisi nasib istri putranya yang sudah diselingkuhi.
"Pengacara sudah membekukan aset kekayaan yang akan kamu terima dari warisan papamu, dahulu. Untung saja, mama menunda penandatanganan kemarin karena sedang sakit. Ternyata Tuhan tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi kelak. Harta itu akan mama bagi tiga kamu, Aura, dan Aira. Suka tidak suka, mau tidak mau, itu yang akan kamu dapatkan," ucap Bu Martini dengan suaranya yang tegas.
Kevin terkejut mendengar ucapan mamanya. Bagaimanapun juga semua adalah miliknya dan sang ibu tidak berhak melakukan hal ini.
Baru saja Kevin membuka mulut, seorang laki-laki mengetuk pintu yang terbuka itu. Semua mengalihkan perhatian ke sana.
"Bu, apa hanya ini saja barang yang akan dibawa?" tanya laki-laki berusia paruh baya.
"Iya, Pak. Langsung masukan saja, kami akan menyusul," jawab Bu Martini.
Kevin bertanya-tanya kenapa mamanya sudah mau pergi. Padahal dahulu mereka bilang akan lebih lama tinggal di sini.
"Mama pulang dulu, ya. Jaga kesehatan kamu, Aura. Lalu, titip Aira," ucap Bu Martini setelah melepas pelukannya dan Aura mengangguk menahan isak tangisnya.
"Mama mau ke mana?" tanya Kevin yang masih merasakan sakit di kedua pipinya.
"Terjadi kebakaran di gudang pabrik tadi subuh. Mama harus pulang dahulu untuk mengurus masalah ini. Seharusnya ini menjadi tugas kamu. Tapi, Mama yakin kamu tidak akan mau pergi mengurus semua itu. Jadi, jaga saja Aura dan Aira di sini. Jika masalah itu sudah beres, mama akan kembali lagi ke sini," jawab Bu Martini.
Mereka semua mengantarkan Bu Martini dan Mbok Mirah ke depan pintu gerbang. Kedua wanita tua itu akan pulang bersama salah satu sopir yang bekerja di pabrik teh milik keluarga Kevin.
***
Kevin menatap bayi mungil yang sedang tidur dengan terkagum-kagum. Dia merasa kalau wajah Aira sangat mirip dengannya. Laki-laki itu mencolek pipi gembul yang merah merona dengan gemas.
"Kamu itu tidur terus. Kapan bangunnya?" tanya Kevin masih menjawil pipi Aira dengan lembut.
Aura yang melihat di dekat pintu hanya tersenyum tipis. Dia senang karena Kevin sayang kepada anaknya.
Setelah kepulangan mertua dan neneknya, Aura merasa kesepian. Dia berharap urusan di kampung bisa segera selesai. Katanya gudang pabrik mengalami kebakaran besar dan menghabiskan semua bangunan beserta isinya.
Handphone milik Kevin berdering, Aura melihat sekilas tidak ada nama hanya nomor asing. Jadi, dia abaikan saja. Namun, nomor itu kembali melakukan panggilan. Akhirnya, dia memutuskan untuk membangunkan suaminya setelah nomor itu tiga kali melakukan panggilan.
"Siapa?" tanya Kevin sambil menerima benda pipih itu.
Dengan menahan kantuk, Kevin menggeser tombol berwarna hijau. Dia mengerutkan kening saat mendengar suara orang diseberang sana.
"Anda jangan membuat lelucon! Buktikan kalau ucapan Anda benar. Kirimkan aku fotonya, baru aku akan percaya," ucap Kevin dengan nada marah.
Aura penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya itu. Kenapa Kevin begitu sangat marah kepada orang yang menghubungi dirinya.
"Ada apa, Mas?" tanya Aura begitu Kevin menutup panggilan itu.
"Barusan orang yang menelpon–" ucapan Kevin terhenti saat ada pesan masuk.
Ada beberapa foto yang dikirim oleh nomor asing tadi. Mata dia terbelalak dan di detik berikutnya laki-laki itu menangis.
Melihat suaminya tiba-tiba menangis, membuat Aura panik. Lalu, dia memeluk Kevin dan menanyakan ada apa?
"Aura. Mama ...."
"Mama kenapa?" tanya Aura kini diselimuti rasa penasaran dan ketakutan.
"Mobil mama kecelakaan di pintu gerbang jalan tol. Orang ini sedang berada di tempat kejadian dan menghubungi nomor aku karena posisi Mama sedang memegang ponsel. Dia bilang mama sudah dibawa ke Rumah Sakit Merdeka," jawab Kevin.
Aura tahu rumah sakit itu dan tempatnya sekitar lima belas kilometer dari kampung halaman mereka. Mertuanya mengalami kecelakaan saat hampir sampai ke rumah.
***
Kevin dan Aura juga bayi mereka, langsung pergi menuju Rumah Sakit Merdeka. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu dua jam lebih. Untungnya Aira tidak rewel, meski tadi Aura sempat waswas takut terjadi sesuatu kepada putrinya.
Awalnya Aura tidak akan ikut, tetapi Kevin memaksanya. Laki-laki itu merasakan firasat tidak enak dalam hatinya. Dia melihat keadaan mobil yang ditumpangi oleh sang ibu dalam keadaan hancur.
"Suster, korban kecelakaan di pintu jalan tol sekarang berada di mana?" tanya Kevin dengan napas terengah-engah.
"Anda pihak keluarganya?" tanya wanita muda itu kepada Kevin.
"Iya. Saya putranya," jawab Kevin dengan tidak sabar.
Lalu, suster itu mengajak Kevin dan Aura yang masih menggendong bayi untuk menelusuri lorong menuju tempat Bu Martini dan Mbok Mirah berada.
Kaki Kevin terasa lemas saat membaca papan nama ruangan yang dibuka pintunya oleh suster itu.
***
Pasti banyak yang salah duga, ya? Koper itu milik Bu Martini dan tas milik Mbok Mirah. Mana bisa Kevin diusir dari rumahnya sendiri 😊. Ruangan apa yang didatangi oleh Kevin dan Aura? Ikuti terus kisah mereka, ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Hernawati Husnul Khotimah
wanita jalang itu pasti bikin ibu martini celaka
2024-02-18
2
novi 99
paling ulah Mariska
2023-12-22
2
Pia Palinrungi
lanjut
2023-12-05
1