Bab 18
Aura merasa ada yang aneh dengan Kevin sejak menjemput dirinya dari kampung halaman. Dia juga tidak sedikitpun menghubungi dirinya selama tinggal di sana. Wanita itu berpikir kalau laki-laki itu masih dalam keadaan berduka karena ditinggal mendadak oleh ibunya.
Meski sudah seminggu Aura dan Aira kembali ke rumah, Kevin seakan tidak menganggap keberadaan mereka. Kalau pun bicara dia akan ketus. Ini membuat Aura bertanya-tanya ada apa dengan suaminya?
"Aura, bisa tidak suruh anakmu diam!" bentak Kevin sambil membuka pintu dengan kasar saat Aira menangis karena merasa lapar.
Aura yang sedang menggendong bayinya, langsung saja memberikan ASI kepadanya agar sang anak diam. Aira menyusu begitu rakus karena sudah lama ditinggal oleh Aura yang sedang memasak.
"Pagi-pagi sudah berisik saja. Anakmu itu tidak tahu kalau orang-orang masih banyak yang beristirahat," lanjut Mariska yang baru muncul di belakang Kevin.
Mendengar ocehan kedua orang itu tidak ditanggapi oleh Aura. Apalagi mereka menatapnya dengan tajam dan ada amarah dari pancaran mata keduanya.
Kini usia Aira sudah satu bulan, selama itu Kevin hanya sekali mengajak bicara sang buah hati. Saat dirinya baru pulang liburan di Eropa. Aura berpikir kenapa perlakuan suaminya menjadi berubah kepada Aira. Sangat berbeda saat di pertama kali melihatnya. Laki-laki itu terlihat begitu sayang kepada sang putri, tetapi sekarang tidak peduli. Bahkan setiap Aira menangis, Kevin akan memarahinya.
"Mas, hari ini Aira harus diimunisasi," kata Aura di suatu hari.
Kevin yang sedang memangku laptop mendongak menatap tajam Aura. Lalu, dia berkata, "Pergi saja sendiri."
Mariska yang duduk sambil menyandarkan kepalanya ke lengan Kevin, tersenyum mengejek. Wanita itu terlihat senang karena suaminya tidak peduli kepada anak dan istri tuanya.
Betapa sakit hatinya Aura mendengar kata-kata suaminya itu. Tidak mau terlihat lemah di hadapan orang-orang yang jahat kepadanya. Lalu, dia pun pergi ke kamar dan membawa Aira. Wanita itu memilih pergi baik taksi ke rumah sakit.
***
Waktu terus berlalu kini Aira sudah berusia delapan bulan. Anak itu sudah bisa merangkak dan mengoceh.
"Ma-ma-ma," ucap Aira sambil memainkan mainan kerincing. Dia pukul-pukul dan menimbulkan bunyi.
"Berisik! Bisa diam tidak!" bentak Kevin kepada Aira yang sedang main sendirian di ruang keluarga.
Mendapat bentakan keras dari papanya, Aira langsung menangis. Anak itu merasa ketakutan.
Aura yang sedang melipat baju tidak jauh darinya, langsung menggendong Aira. Dia menimang-nimang agar putrinya berhenti menangis.
"Bisa diamkan anak kamu enggak, sih! Berisik tahu. Mengganggu tetangga!" tambah Mariska yang berjalan masuk ke dapur.
Aura rasanya ingin balas memaki kedua orang itu. Mana ada seorang anak tidak akan menangis jika dibentak atau dimarahi seperti tadi. Wanita itu pun memilih ke dapur dan memberikan cemilan untuk putrinya.
"Heh, di dunia ini tidak ada yang gratis! Makanan yang di makan oleh anakmu itu dibeli dengan menggunakan uang Kevin. Jadi, sudah sepatutnya kamu itu mengabdikan hidup kepada dia," ujar Mariska.
Beberapa hari yang lalu saat Aura pergi dengan alasan mau mengimunisasi Aira, Kevin memergoki dirinya sedang berada di terminal. Wanita itu berniat pulang ke kampung halaman, tetapi sang suami selalu melarangnya.
Aura memilih diam tidak mau menanggapi ocehan madunya. Dalam pikirannya hidup dia hanya untuk Aira, putrinya. Wanita itu akan terus bertahan selama ada Aira di sisinya.
"Mas, kata Dokter Rama kita bisa melakukan pemeriksaan besok. Rekannya itu sudah pulang dari Inggris," kata Mariska saat makan malam.
Kevin hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Laki-laki itu merasa hidupnya hampa setelah kepergian mamanya. Ditambah Aura yang sudah membocorkan rahasia kepada mamanya sebelum meninggal. Itu membuatnya sangat kecewa sekali. Anak yang dilahirkan olehnya juga pembawa sial bagi dirinya.
Aura tahu kalau Mariska akan melakukan pemeriksaan kesuburan rahimnya. Madunya itu ingin segera punya anak juga. Beberapa bulan belakangan sudah banyak dokter yang mereka datangi.
***
Kevin dan Mariska konsultasi kepada Dokter Max, sahabat baik Dokter Rama. Laki-laki itu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan sangat detail agar tidak terjadi kesalahan dalam mendiagnosa. Laki-laki berwajah datar dengan minim ekspresi, beberapa kali membandingkan hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan oleh Mariska kepada beberapa dokter kandungan lainnya.
"Tidak ada yang salah dengan hasil pemeriksaan ini. Hasil yang di dapat oleh saya juga sama, kalau rahim Bu Mariska itu tidak subur dan ada penyakit miom di mulut rahimnya. Ini Juga ukurannya sudah sangat besar sekali. Harus segera menjalani operasi," kata dokter keturunan bule itu.
Bagai terkena ribuan anak panah, Mariska merasa sesak dan sakit di dadanya. Dia tidak menyangka kalau vonis yang selalu dia pungkiri selama ini, ternyata benar menimpa dirinya. Begitu juga dengan penyakit miom yang dahulu sempat dia abaikan dan mengira menikah dengan Kevin dia akan bisa segera hamil lalu penyakit itu akan hilang. Dia mengira kalau penyakit miom akan mudah hilang, ternyata itu malah semakin membesar dan sekarang harus melakukan operasi.
"Itu artinya istri saya tidak akan pernah bisa punya anak, Dok?" tanya Kevin dengan perasaan tidak menentu.
"Benar, Pak. Rahim istri Anda mengalami masalah. Selain itu penyakit miom ini juga bisa berubah menjadi kanker jika tidak cepat-cepat diatasi," jawab Dokter Max.
Rasanya nyawa Kevin ditarik dengan paksa sebagian. Dia merasa kakinya lemas dan tidak bisa digerakkan. Kepala terasa dihantam oleh sesuatu yang besar dan menimbulkan rasa sakit.
'Kenapa ini bisa terjadi?' batin Kevin.
Laki-laki itu tidak tahu kalau sang istri juga terlihat linglung setelah mendengar vonis dari dokter. Wanita mana yang tidak sedih saat dinyatakan mandul dan tidak akan bisa memberikan keturunan untuk suaminya.
'Aku harus bagaimana? Aku tidak mau dioperasi,' batin Mariska.
***
Kevin memandangi Aira yang sedang asyik bermain sendiri. Bayi itu duduk memainkan beberapa boneka kecil sambil ditunjukkan kepada Aura. Ibu dan anak itu terlihat bahagia, tawanya kadang terdengar dari mulut mereka.
"Sayang, tunggu dulu di sini, ya. Mama mau simpan baju ini dulu," kata Aura kepada putrinya.
Aira merangkak mengejar bola plastik yang menggelinding ke arah Kevin. Bocah itu bergerak cepat lalu mengambil benda yang ada didekat kaki papanya.
Aira menyerahkan bola itu kepada Kevin. Lalu, dengan ragu laki-laki itu menerimanya. Si anak tertawa kecil sambil memandangi ayahnya. Dia pun berdiri berpegangan pada kaki laki-laki itu.
Mata Kevin terbelalak dan senyum dia mengembang karena ini untuk pertama kalinya Aira belajar berdiri sendiri. Laki-laki itu lantas menggendong dan mendudukkan di pangkuannya.
Aura yang melihat itu meneteskan air mata. Setelah sekian lama, Kevin akhirnya menyentuh Aira kembali. Hati wanita itu merasa bahagia.
***
Apakah perlakuan Kevin kepada Aira akan berubah? Ikuti terus kisah mereka, ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Hernawati Husnul Khotimah
si kevin sudah di cuci otaknya oleh marisa
2024-02-18
2
guntur 1609
krjam kau kevin sama darah daging mu. nanti balasan nya akan datang menunggumu
2024-01-12
1
novi 99
Mariska takut tersaingi sampai anak Kevin di hasut untuk benci sama Aira.
ini perempuan sakit
2023-12-22
1