Pagi-pagi sekali Aura sudah membuat sarapan. Sekarang tugas dia hanya memasak saja. Karena lidah Kevin sudah terbiasa dengan rasa masakan sang istri.
Aura tidak diizinkan membereskan atau membersihkan rumah karena nanti akan ada pembantu yang bekerja dari jam 07:00 sampai jam 17:00. Selain ada teman, dia juga punya banyak waktu luang untuk merawat diri dan beristirahat.
Mariska diam-diam selalu memperhatikan Aura. Dia merasa kalau kakak madu itu terlihat semakin cantik meski tanpa make up. Dia juga sering memergoki Kevin yang diam-diam selalu memeluk dan mencium istri tuanya itu. Kalau dia protes dan marah kepada sang suami, laki-laki itu akan bilang itu sebagai tanda ucapan terima kasih karena Aura sudah mengandung calon anaknya.
'Sepertinya dia sering pergi ke salon. Mana mungkin tanpa perawatan wajahnya akan mulus bersih seperti ini. Dahulu dia 'kan jelek dan dekil,' batin Mariska.
Saat Aura lewat di depan Mariska, wanita itu tiba-tiba saja menjulurkan kakinya. Si istri tua yang kebetulan melangkah akhirnya tersandung lalu jatuh.
Aura yang merasa akan jatuh ke lantai mencoba menahan dengan tangan sebelah dan sebelah lagi untuk melindungi perutnya. Karena posisi dia saat jatuh nanti pasti tengkurap. Meski wanita itu berusaha agar jangan sampai terjadi benturan perut ke lantai, dia tetap tidak bisa menghindari hal itu. Perut buncitnya berada di bawah.
Aura berteriak keras saat akan jatuh tadi lalu mengaduh saat tubuhnya mendarat di lantai. Dia mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Ada apa?" teriak Kevin yang berlari ke area dapur.
"Aura!" teriak Kevin sambil berlari menghampiri sang istri yang berada di lantai.
Mariska pun ikut-ikutan membantu Aura. Dia terkejut saat melihat ada darah di paha madunya.
"Mas, darah!" pekik Aura sambil menangis saat melihat darah mengalir di kedua pahanya.
Kevin ketakutan akan terjadi sesuatu yang buruk kepada calon anaknya. Tanpa berpikir panjang lagi dia membopong tubuh Aura dan membawanya ke dalam mobil. Dia melaju kencang menuju rumah sakit terdekat.
Mariska yang ditinggal begitu saja oleh Kevin, membuatnya marah. Lalu, dia pun menyusul mereka. Di dalam hatinya dia berharap kalau bayi itu keguguran atau mati di dalam kandungan.
***
Begitu sampai di UGD Aura langsung mendapatkan penanganan oleh tim medis. Kevin tanpa sadar meneteskan air mata tiada henti sejak dalam perjalan ke rumah sakit.
"Dokter, tolong selamatkan istri dan anak saya," ucap Kevin saat melihat tim medis membawa beberapa peralatan medis untuk meriksa kondisi bayi yang ada di dalam rahim Aura.
"Kami akan melakukan hal terbaik yang bisa kami lakukan untuk menolong pasien, Pak. Sebaiknya Bapak berdoa agar istri dan anak Bapak bisa tertolong," balas dokter itu dan membuat Kevin duduk tergugu di kursi besi.
Mariska datang, lalu memeluk Kevin dan mengatakan kata-kata penyemangat dan mendoakan agar Aura dan bayinya bisa selamat. Lain di mulut, lain di hati. Itulah Mariska, di mulutnya dia mendoakan keselamatan untuk madu dan calon anak tirinya, sedang di dalam hati dia mengutuk agar keduanya mati.
"Sayang, kamu harus kuat dan tegar atas apa yang terjadi saat ini. Kamu juga harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Tentu saja aku berharap mereka baik-baik saja," ujar Mariska sambil memeluk tubuh Kevin yang masih menangis.
Selama mengenal Kevin, Mariska jarang sekali melihatnya menangis. Namun, hari ini laki-laki itu menangis tergugu seperti kesakitan, hanya karena cucu seorang pembantu.
Dokter pun datang menghampiri Kevin dan Mariska. Orang itu tersenyum lebar.
"Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan, Pak. Istri dan bayi Anda bisa bertahan dan selamat. Mereka wanita dan anak yang kuat. Saat ini Bu Aura akan mendapatkan perawatan intensif dalam pengawasan ketat 24 jam full dari dokter dan perawat," kata dokter yang menangani Aura.
Mendengar itu Kevin merasa bahagia. Berbeda dengan Mariska yang terlihat berdecih karena semua tidak terjadi sesuai dengan harapannya.
***
Bu Martini dan Mbok Mirah mendatangi rumah sakit begitu sampai di kota. Mereka tadi terkejut dan panik saat mendengar kabar Aura jatuh dan dibawa ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Aura dan cucu mama, Vin?" tanya Bu Martini begitu masuk ke ruang rawat inap Aura.
"Mereka sudah melewati masa kritis. Sekarang perlu istirahat dan pengawasan dari tim medis," jawab Kevin.
Bu Martini menanyakan kronologi kejadian kenapa Aura bisa sampai jatuh. Kevin sebenarnya tidak tahu apa yang sudah terjadi tadi. Jadi, dia mengarang cerita kalau Aura terpeleset di dapur.
Aura mendapat perawatan selama tiga hari. Setelah dia pulang, Kevin mengadakan selamatan dan syukuran atas kehamilan sang istri.
"Mama dan Mbok Mirah akan tetap tinggal di sini sampai Aura melahirkan dan bisa mengurus sendiri anak kalian nanti," ucap Bu Martini.
Hal ini tentu diluar prediksi Kevin. Dia tidak menyangka kalau mamanya akan menetap cukup lama. Sementara dia sudah bilang kepada Mariska kalau sang ibu paling lama sekitar dua minggu tinggal di rumah mereka.
Kevin mengabari Mariska kalau dia belum bisa kembali ke rumah karena mamanya akan lama tinggal bersama dia dan Aura. Tentu saja wanita itu marah bukan main. Dia harus bersabar pisah dengan sang suami. Lalu, membiarkan laki-laki itu tidur bersama istri tuanya.
"Sebagai kompensasi atas kesabaran dirimu, aku akan mengabulkan satu permintaan," kata Kevin kepada Mariska.
Meski mereka tidak tinggal serumah, setiap hari Kevin mendatangi apartemen Mariska. Semua kebutuhan wanita itu juga tetap dipenuhi.
"Aku ingin pergi keliling Eropa selama dua minggu," balas Mariska.
"Oke. Kamu yang atur jadwalnya. Tapi, jangan dekat-dekat dengan waktu lahiran Aura. Nanti mama akan curiga," ucap Kevin sambil menjawil hidung sang istri kedua.
Mariska tersenyum licik. Di dalam otaknya kini sudah tersusun rencana. Dia akan membawa suaminya pergi di saat kakak madunya berjuang untuk melahirkan.
'Aku ingin tahu bagaimana perasaan Aura nanti saat Kevin tidak bersama dengannya saat dia melahirkan. Dengan begitu aku harap dia sadar diri dan meminta cerai dari Kevin,' batin Mariska.
***
Waktu terus berjalan dan tidak terasa usia kandungan Aura sudah memasuki usia sembilan bulan. Kevin sangat gusar karena Mariska mengulur waktu keberangkatan yang seharusnya sebulan yang lalu, tetapi wanita itu mengganti tanggal keberangkatan di saat pemesanan tiket.
"Semoga saja Aura belum melahirkan sampai aku pulang nanti," gumam Kevin.
Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok wanita dengan perut yang besar. Aura tersenyum kepada Kevin saat sang suami menatap kepadanya. Laki-laki itu selalu tidak bisa menahan hasrat saat melihat Aura dengan perut yang besar. Dia bersyukur Mariska tidak tinggal bersama mereka, jadi dia bebas mau melakukan apa pun kepada istri pertama. Biasanya untuk memeluk dan mencium saja dia harus sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat oleh istri kedua.
Aura juga saat ada Mariska selalu menolak saat dia menyentuhnya. Meski hanya sekedar memeluk atau mencium. Namun, setelah Mariska pergi dari rumah, wanita itu mau melayani dengan layanan terbaik dan membuat dia puas.
"Sayang, aku akan pergi dinas menggantikan Mister Robert. Tidak lama paling sekitar seminggu kecuali kalau ada masalah bisa lebih lama lagi," ucap Kevin sambil memeluk Aura.
Aura diam tidak membalas ucapan Kevin. Tadi pagi dia melihat status yang dibuat oleh Mariska. Foto dua tiket pesawat dengan tujuan salah satu negara di Eropa. Wanita itu curiga kalau suaminya akan pergi bersama istri kedua.
'Aku akan cari tahu nanti. Apakah kamu jujur atau bohong,' batin Aura.
***
Apakah Aura akan melahirkan di saat Kevin pergi berlibur dengan Mariska? Ikuti terus kisah mereka, ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Rissa Risnawati
thor lm2 bc cerita ini jd naik darah. knpa aura di bikin sebodoh ini
2023-12-11
2
Pia Palinrungi
lanjut
2023-12-05
1
angel
kog ada ya perempuan macam aura ..../Facepalm/ sebenarmya alurnya 👎👎👎
2023-11-28
1