Bab 11
Mendengar ucapan suaminya, terasa ada petir yang menyambar diri Aura. Wanita itu diam mematung tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Rasa sakit yang langsung terasa olehnya membuat dia tidak bisa bicara. Hanya sesak dan ngilu di dada.
Wajah Mariska tidak lepas dari senyum lebarnya. Wanita yang masih menggandeng lengan Kevin, terus memperlihatkan kedekatan hubungan mereka yang masih harmonis dan romantis. Sebenarnya dia sempat terkejut saat melihat wajah Aura yang sangat cantik sekarang dan memakai pakaian bagus.
"Kenapa?" tanya Aura dengan lirih.
Hanya satu kata itu yang akhirnya mampu dia ucapkan. Sang istri berusaha tegar dan kuat dalam keadaan sekarang ini.
"Kami memutuskan untuk menikah. Mariska akan menjadi istri kedua aku. Kamu perlakuan dia dengan baik agar merasa nyaman tinggal di sini," jawab Kevin dengan enteng tidak peduli dengan perasaan Aura.
Bagai ditikam sembilu ke ulu hati, Aura hampir limbung. Untungnya ada sandaran sofa tunggal yang bisa buat dia pegang agar tidak jatuh.
"Karena besok kita akan menikah, jadi malam ini aku tidur di sini," ucap Mariska lalu kerlingan mata yang menggoda itu ditujukan kepada Kevin.
Mendapatkan lirikan nakal dari sang kekasih, membuat Kevin gemas. Laki-laki itu pun memberikan ciuman di pipi dan kening Mariska.
Nyeri, itu yang dirasakan oleh Aura melihat pemandangan di depannya saat ini. Meski belakangan ini dia juga sering mendapatkan perlakuan manis dari Kevin, tetapi perasaan wanita itu sekarang adalah mudah goyah dan rapuh.
"Sayang, sebaiknya kamu istirahat. Ingat harus jadi kesehatan! Aku tidak mau kamu sampai jatuh sakit kembali seperti kemarin," kata Kevin sambil mengetuk ujung hidung Mariska dengan jari telunjuk.
Kevin membawa Mariska ke kamar tamu yang ada di dekat anak tangga. Tentu saja wanita itu merasa heran ditempatkan di ruangan ini. Biasanya dia akan tidur di kamar lantai atas bersama kekasihnya.
"Sayang, kenapa aku dibawa ke kamar tamu?" tanya Mariska saat Kevin membuka pintu kamar itu.
Kevin ragu untuk bilang kalau sekarang kamarnya sudah di tempati oleh dirinya bersama Aura. Di kamar itu sudah tidak ada lagi barang milik Mariska.
"Eh, soal–nya ... kamar itu sudah ada penghuni lainnya," jawab Kevin dengan gugup.
Mendengar itu Mariska langsung mengamuk. Dia tidak terima kalau kasur tempat dia bercinta atau bersenang-senang bersama Kevin dipakai oleh Aura.
"Kamu tidak tertular bodoh, 'kan? Apa bagusnya rupa pembantu itu?" tanya Mariska dan menghina Aura.
Wanita ini tidak mau mengakui kalau istri sah dari Kevin memiliki wajah yang cantik jelita. Jadi, untuk membuat down diri Aura, dia mencoba menjatuhkan mentalnya dengan memberikan hinaan.
"Aaaaa ... pastinya dia mengambil kesempatan saat aku pergi ke dari sini, dahulu. iya, 'kan?" lanjut Mariska dengan muka merah padam dan hendak melabrak Aura, tetapi Kevin menahannya.
"Ingat jaga kesehatan kamu, Sayang. Apa kamu ingin pernikahan kita diundur gara-gara kamu jatuh sakit?" tanya Kevin sambil mengusap-usap punggungnya.
Mariska pun akhirnya terdiam dengan memasang muka muram. Kakinya di hentakan beberapa kali menandakan dia sedang marah dan kesal.
"Pokoknya aku ingin tidur di kamar atas bersama kamu, Kevin!" pinta Mariska sambil merengek.
Kevin pun mengabulkan keinginannya itu. Terlihat Mariska tersenyum kembali dan melirik juga tersenyum mengejek kepada Aura.
"Aura, malam ini kamu tidur di kamar tamu, ya!" perintah Kevin dan membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit dan ingin menangis.
Aura mengambil semua barang miliknya yang berada di kamar Kevin. Dia bolak-balik naik turun tangga sambil membawa banyak barang miliknya. Sebenarnya dia takut terjadi sesuatu kepada janin yang berada di dalam kandungannya.
'Nak, semoga kamu kuat dan bisa tumbuh dengan baik,' batin Aura sambil memegang perutnya saat menaiki anak tangga.
Kevin dan Mariska datang ke dapur dan melihat banyak sekali hidangan di sana. Mereka langsung memakan makanan itu dengan lahap. Tidak tahu kalau Aura sengaja menyediakan itu semua untuk memperingati satu tahun pernikahan dirinya dengan Kevin dan menyambut kehadiran buah cinta mereka.
'Apa Aura sengaja membuat makanan begitu banyak dan terlihat sangat spesial seperti ini? Dia tidak tahu kalau aku akan membawa Mariska pulang ke rumah, 'kan?' batin Kevin.
"Yang, bolehkah aku makan semua ini? Aku sangat lapar sekali," tanya Mariska sambil menunjuk semua makanan yang ada di atas meja.
"Tentu saja boleh, Sayang. Makan sebanyak yang kamu mau," jawab Kevin sambil mengusap pipi wanita itu dengan lembut.
Tentu saja Mariska sangat senang. Dia hampir memakan habis semua makanan yang terhidang. Wanita itu hanya menyisakan sedikit saja. Terlihat ekspresi puas dari wajahnya dan mengusap perutnya.
"Kenyang. Aku ingin setiap hari makan seperti ini, Yang," kata Mariska merengek.
"Tentu saja boleh, Sayang. Aura itu pintar masak. Aku ingin makan apa pun akan dia buatkan," balas Kevin.
Terlihat rona tidak suka dari raut wajah Mariska. Dia tidak suka Kevin memuji Aura yang kini menjadi rivalnya.
"Aku juga ingin kamu jangan tidur lagi dengan Aura setelah besok kita menikah. Kamu harus selalu tidur dengan aku!" titah wanita bersurai panjang ini.
Kevin mengangguk mengiyakan semua keinginan Mariska. Laki-laki itu harus membuat wanita ini terus senang dan bahagia. Jangan sampai mood down karena itu sangat berbahaya untuk kesehatannya.
Terlihat Aura keluar dari kamar tamu yang kini menjadi kamarnya. Kevin tersenyum kepadanya lalu menyuruhnya duduk.
Aura tersenyum kecut saat melihat sisa-sisa makanan yang ada di atas meja makan. Dia sudah susah payah menyiapkan semua makanan itu dengan sepenuh hati, bahkan rela menahan lapar agar bisa makan bersama suaminya.
"Aura ... Mariska, aku harap kedepannya kalian bisa akur. Aku tidak mau ada percekcokan atau pertengkaran. Jika ada apa-apa kalian harus bisa menahan diri atau mengalah," kata Kevin memulai ucapan di meja makan.
Kecewa karena makanan sudah dihabiskan oleh kedua orang itu. Sekarang diminta untuk bisa akur dengan gundik suaminya. Dia juga yakin kalau Kevin akan selalu menuntutnya agar mengalah kepada Mariska.
"Lalu, mulai sekarang aku dan Mariska akan tidur bersama. Jadi, kamu tidur sendiri lagi," ujar laki-laki yang bergelar suami.
Tentu saja Aura tidak bisa menolak keinginan itu. Meski itu jelas-jelas tidak adil baginya.
"Untuk uang bulanan, kalian berdua akan aku berikan dengan adil," lanjut Kevin.
"Yang, adil itu bukan berarti sama rata, loh! Pengeluaran aku pastinya lebih banyak dari Aura. Jadi, jatah bulanan aku harus lebih banyak darinya," tukas Mariska.
"Iya, Sayang," balas Kevin dan itu membuat Aura membelalakkan matanya, sedangkan Mariska tersenyum lebar.
Aura membuka mulutnya hendak protes. Namun, dia urungkan karena melihat Mariska hendak membuka kotak kado yang dia siapkan untuk memberikan kejutan kepada Kevin.
"Apa itu?" tanya Mariska saat Aura berhasil merebut kotak itu dari tangannya.
***
Apakah Aura akan memberi tahu Kevin atas kehamilan dirinya? Ikuti terus kisah mereka, ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Sukliang
jgn ksh tsu
pergi aja
2024-02-27
1
Hernawati Husnul Khotimah
lagi" pembaca dongkol,,
2024-02-18
1
Pia Palinrungi
next
2023-12-05
1