Bab 17
Kevin dan Aura menangis tergugu saat melihat kedua orang yang mereka sayangi kini terbujur kaku di kamar jenazah. Mereka masih tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Pagi tadi mereka masih bertemu dan terlihat baik-baik saja.
"Ma, buka matamu! Bukannya mama bilang akan kembali lagi dan ikut melihat tumbuh kembang Aira. Lalu, kenapa sekarang mama malah pergi dengan cara seperti ini," ucap Kevin bermonolog.
Aura menangis di depan jenazah Mbok Mirah. Wanita tua yang selalu mendukung apa yang menjadi cita-citanya meski sampai sekarang tidak tercapai. Orang yang selalu memberi nasehat di saat hatinya merasa hampa dan sedih.
"Mbok, kenapa meninggalkan Aura. Nanti siapa yang akan memberi nasehat dan menghibur aku di kala sedih," gumam Aura diiringi isak tangis.
Bukan hanya Bu Martini dan Mbok Mirah yang meninggal dalam kecelakaan itu. Ada beberapa orang lainnya, yang kendaraannya bertabrakan dengan mobil mamanya Kevin. Hanya sopir yang selamat itu pun dalam keadaan luka parah.
Jenazah langsung dibawa ke rumah orang tua Kevin, di sana orang-orang sudah menyiapkan segalanya. Proses penguburan juga berjalan lancar. Semua warga di kampung ikut bersedih atas kepergian Bu Martini dan Mbok Mirah. Kedua wanita yang dituakan di tempat mereka.
"Kini tidak ada lagi para wanita yang akan membagikan makanan dan beras untuk orang-orang miskin di sini," ucap salah seorang warga.
"Benar. Bu Martini adalah seorang janda dermawan yang melanjutkan kebaikan suaminya. Begitu juga dengan Mbok Mirah," timpal warga yang lain.
Hari Aura ikut merasa tercabik. Seandainya saja dia punya banyak harta seperti mertuanya, dia yang akan melanjutkan apa yang sudah sering mereka lakukan.
Kevin tidak bisa berlama-lama di kampung. Dia sudah tidak punya jatah libur lagi dari kantornya. Maka urusan di sini dia percayakan kepada Aura. Selain itu Aira juga tidak baik untuk dibawa dalam perjalanan jauh dalam waktu dekat.
"Mas pergi dulu. Minggu depan Mas datang lagi untuk menjemput kalian," kata Kevin saat akan meninggalkan Aura dan Aira di rumah kedua orang tuanya.
"Iya. Mas juga hati-hati dalam perjalanan. Semoga selamat sampai tujuan," balas Aura sambil menguraikan pelukan suaminya.
***
Kevin pulang dalam keadaan lelah. Dia terlalu memaksakan diri. Baru saja pulang dari luar negeri, harus balik ke kampung dan mengendarai sendiri. Dini hari sudah melakukan perjalanan lagi. Pagi-pagi dia pergi kerja, tubuhnya meronta ingin diistirahatkan.
"Kami turut berduka cita atas meninggalnya mamamu," kata Aldo begitu masuk ke ruangan Kevin.
Suami Aura itu mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi kerjanya.
"Terima kasih. Ini terasa sangat berat bagiku. Apalagi mama pergi dalam keadaan marah kepadaku. Aku sangat menyesal dan marah pada diriku sendiri," balas Kevin sambil menengadahkan kepalanya agar air mata dia tidak jatuh.
Temannya yang kini duduk di sofa sambil memperhatikan Kevin mengerutkan kening. Aldo penasaran, setahu dia Kevin sangat disayangi oleh ibunya. Lalu dia bertanya, "Kenapa mamamu marah?"
"Mama tahu aku masih berhubungan dengan Mariska. Betapa murkanya dia saat aku pulang kemarin," jawab Kevin setelah menarik napas dan menghembuskan lewat mulut.
Aldo cukup terkejut mendengar jawaban Kevin. Dia tahu kisah cinta sahabatnya yang mendapat pertentangan dari kedua orang tuanya dari dahulu.
"Dari mana ibumu tahu kalau kamu masih berhubungan dengan Mariska? Bukannya kalian menyembunyikan hal ini dari mamamu?" tanya Aldo lagi dan itu membuat Kevin berpikir.
"Benar juga. Dari mana mama tahu kalau aku masih berhubungan dengan Mariska?" gumam Kevin bertanya-tanya.
Kedua laki-laki itu terdiam seakan sedang memikirkan orang dibalik terbongkarnya hubungan tak direstui itu. Orang lain tidak ada yang tahu kecuali Aldo. Teman-teman Ke in lainnya menduga hubungan mereka tidak ada masalah karena selalu terlihat romantis. Apalagi pesta pernikahan Kevin dan Mariska digelar dengan besar-besaran.
"Apa Aura yang sudah membocorkan hubungan kamu dengan Mariska? Bisa saja dia marah dan cemburu karena kemarin kalian berdua pergi jalan-jalan ke Eropa hanya berdua saja," kata Aldo menduga-duga.
Kevin pun terdiam memikirkan hal ini bisa saja terjadi. Meski dia sempat meragukannya. Selama ini dirinya bisa menekan Aura agar tidak bicara apa pun kepada ibunya tentang Mariska.
'Apa Aura tidak takut dengan ancaman aku?' batin Kevin.
Terlihat raut muka Kevin berubah memerah karena menahan marah. Dia tidak akan memaafkan Aura jika dia yang sudah membongkar rahasianya dan membuat sang ibu murka kepadanya.
***
"Apa? Mama meninggal setelah mengalami kecelakaan. Kenapa kamu tidak memberi tahu aku?" pekik Mariska saat Kevin mengunjungi dirinya di apartemen.
Mariska memperlihatkan mimik muka sedih, lalu dia memeluk Kevin. Wanita itu ingin sang suami tahu kalau dirinya juga ikut bersedih atas meninggalnya sang ibu mertua.
"Maaf, kemarin pikiran aku kalut sekali. Sampai-sampai tidak bisa berpikir apa yang harus aku lakukan," kata Kevin dengan lirih.
Senyum Mariska langsung mengembang. Batu sandungan terbesar di dalam hubungannya dengan Kevin kini hilang. Tinggal Aura dan Aira yang menurutnya hanya sebongkah batu kerikil.
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedih saja, kenapa bukan aku yang berada di sisimu saat kamu sedih," ujar Mariska sambil mengusap kedua matanya.
Malam ini Kevin menginap di apartemen. Laki-laki itu butuh teman untuk mendengarkan curahan hatinya yang sedang diliputi rasa duka.
"Apa kamu pernah berpikir kalau kelahiran Aira itu membawa petaka bagi keluarga kamu, Yang?" Mariska memulai aksi untuk menyingkirkan Aura dan Aira.
Mendengar ucapan istri mudanya membuat Kevin terkejut. Tidak pernah terlintas akan hal seperti itu di dalam pikirannya.
"Maksud kamu apa, Sayang?" tanya Kevin sambil menatap penuh selidik kepada Mariska.
Wanita itu menarik napas lalu membuangnya dengan kasar. Dia mengusap kedua pipi Kevin dengan lembut.
"Coba kamu ingat dan pikirkan kembali apa yang sudah terjadi kepada kamu selama satu minggu ini!" titah wanita yang memakai baju serba terbuka ini.
Otak Kevin berputar mengingat kembali apa saja yang dia alami selama satu minggu belakangan ini. Saat di Eropa, dia kehilangan dompet. Lalu, saat akan pulang ke Indonesia mereka hampir saja tertinggal pesawat karena mereka bertabrakan dengan orang yang cerewet dan membesar-besarkan masalah itu sampai dia harus memberi uang sebanyak sepuluh ribu Euro.
Begitu dia pulang ke rumah, mamanya menampar sampai dua kali. Kebakaran gudang pabrik yang merupakan salah satu sumber penghasil uang keluarganya. Lalu, kecelakaan yang merenggut nyawa sang ibu.
"Tapi, semua kejadian itu tidak ada hubungannya dengan Aira," balas Kevin.
"Aduh, kamu ini masa tidak tahu. Efek aura negatif seseorang bisa mengenai orang disekitarnya. Itu makanya ada sebutan anak pembawa sial. Nah, aku rasa Aira ini memiliki aura negatif yang sangat besar dan memberi efek keburukan untuk kamu," ujar Mariska mencoba meyakinkan Kevin.
***
Akankah Kevin terhasut oleh omongan Mariska? Siapa orang yang sudah memberi tahu Bu Martini akan hubungan Kevin dengan Mariska? Ikuti terus kisah mereka, ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Ita rahmawati
bagus lanjutkan mariska
2025-03-08
0
Sulaiman Efendy
YG BAWA SIAL TU KALIAN BRDUA..
2024-02-29
0
Sulaiman Efendy
PASTI TERHASUT TU SI KEVIN BANGKAI DGN OMONGN MARISKA..
2024-02-29
0