Bab 13
Kevin panik melihat Aura yang tiba-tiba pingsan. Dia lalu membawa sang istri tua ke kursi pelaminan. Orang-orang dari pihak Wedding Organizer mencoba membantu menyadarkan dengan memberi minyak angin.
"Sebaiknya dibawa ke dokter atau rumah sakit," kata manager hotel yang datang menyusul.
Akhirnya Kevin memutuskan untuk membawa Aura ke rumah sakit. Karena wajah wanita itu semakin pucat seperti mayat. Dia yang panik langsung menggendong sendiri dan membawanya menuruni panggung.
Melihat itu Mariska berlari lalu menarik baju Kevin dari belakang. Langkah laki-laki itu terhenti, dia menolehkan kepalanya ke arah belakang.
"Sayang. Kamu jangan tinggalin aku di sini! Telepon saja ambulans, biar nanti tim medis yang urus dia," ucap Mariska berbisik di telinga Kevin.
"Tetap saja aku harus ikut dengannya nanti meski ada tim medis. Nanti di sana siapa yang akan mengurus segala urusan administrasi, obat, atau mendengar hasil pemeriksaan dokter," balas Kevin.
"Suruh saja si Aldo. Apa kamu mau jadi bahan gunjingan semua tamu undangan dan orang-orang lainnya nanti. Mau ditaruh di mana muka kita saat bertemu mereka. Aku tidak mau jadi bahan omongan pengantin wanita ditinggalkan mempelai pengantin laki-laki, oleh orang lain!" tukas Mariska.
Saat ini Kevin sudah punya rasa peduli dan sayang kepada Aura, meski Mariska yang selalu diutamakan olehnya. Laki-laki itu merasa dilema harus berbuat apa saat ini.
"Aldo tolong bawa Aura ke rumah sakit! Nanti kita menyusul setelah acara pesta selesai," perintah Mariska begitu teman baiknya mendekat.
Aldo mengambil alih tubuh Aura dan membawanya ke rumah sakit. Sementara itu, Mariska dan Kevin kembali menyambut kedatangan tamu undangan yang sempat terhenti tadi.
***
Aura mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit terdekat hotel, tempat berlangsungnya pesta pernikahan Kevin dan Mariska, tadi. Pasangan pengantin baru itu datang menjelang tengah malam.
"Dia sakit apa, Do?" tanya Kevin begitu sampai di ruang rawat.
"Kata dokter dia sedang hamil muda dan kelelahan yang berlebihan. Seharusnya di usia kehamilan yang masih muda dan rentan keguguran ini, Aura harus banyak istirahat," jawab Aldo.
Kevin dan Mariska terkejut mendengar informasi ini. Mereka tidak menyangka kalau Aura sedang hamil. Mungkin ini kabar menggembirakan bagi laki-laki itu, tetapi tidak bagi sang wanita.
"Benarkah itu? Aku akan menjadi seorang ayah!" pekik Kevin dengan senyum lebarnya.
Mariska cemburu karena Kevin terlihat bahagia. Dia tidak mau kalau nanti perhatian, cinta, dan kasih sayang laki-laki itu dikuasai oleh Aura.
"Apa kamu yakin janin yang ada di dalam perut Aura adalah benih dari kamu, Mas? Bisa saja dia diam-diam main belakang dengan laki-laki lain," kata Mariska memprovokasi.
Kevin tahu betul kalau Aura tidak pernah terlibat atau dekat dengan laki-laki mana pun. Selain itu istri tuanya itu tidak pernah pergi meninggalkan rumah. Jika ada tamu yang datang pasti akan dia ketahui karena ada kamera CCTV. Setelah kejadian Aura akan kabur dahulu, sang suami memasang kamera CCTV untuk mengawasi Aura.
"Yang, aku juga ingin secepatnya bisa hamil," ucap Mariska sambil menatap Kevin dengan tatapan tajam. Wanita itu seakan memberi isyarat kalau suaminya jangan senang punya anak dari perempuan lainnya.
"Aku yakin kalau kamu juga akan bisa cepat hamil, Sayang," balas Kevin sambil memeluk istri mudanya.
***
Aura membuka mata karena merasa silau. Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan yang serba putih gading. Wanita itu menyadari kalau dirinya saat ini sedang berada di rumah sakit, karena tercium bau obat-obatan.
Pintu terbuka dan menampilkan Kevin yang terlihat segar karena baru selesai mandi. Laki-laki itu datang sendirian sambil membawa sekotak bubur.
"Kamu sudah bangun, Sayang," kata Kevin lalu mencium kening Aura.
"Kenapa aku ada di sini, Mas?" tanya Aura sambil menatap nanar pada suaminya.
"Kamu pingsan semalam. Kata dokter kamu kelelahan dan sedang hamil muda," jawab Kevin.
Aura menutup mulutnya dan mata yang berkaca-kaca. Kevin menduga kalau sang istri terharu mendengar ucapan yang memberi tahu tentang kehamilannya. Padahal wanita itu menangis karena rahasia yang selama ini disimpan rapat akhirnya terbongkar. Kalau seperti ini dia semakin takut kepada suami dan madunya.
"Mulai sekarang kamu jangan banyak beraktivitas, istirahat yang cukup. Jangan sampai pingsan lagi," kata Kevin lalu memberikan ciuman di seluruh wajah Aura.
Kevin memperlakukan Aura dengan sangat baik. Dia menyuapi sang istri, membatunya minum obat. Sambil dia harus meninggalkan sendiri setelah mendapat panggilan telepon dari Mariska.
"Besok siang aku akan jemput kamu. Maaf, ya tidak bisa menemani kamu lama-lama," kata Kevin sebelum pergi.
Aura sekarang menjadi bimbang harus berbuat apa. Padahal dia sudah merancang akan pulang kampung dan bilang tidak betah tinggal serumah dengan Mariska. Namun, saat ini kehamilannya sudah ketahuan.
"Nak, kamu yang kuat, ya," ujar Aura sambil mengelus pelan perutnya yang sudah terasa menggelembung kecil.
***
Mariska sangat iri atas kehamilan Aura. Dia masih saja sering menyuruhnya melakukan banyak pekerjaan. Minta memasakkan makanan yang aneh-aneh atau mengajaknya jalan-jalan ke mall. Tentu saja untuk dijadikan babu yang membawakan semua barang belanjaan miliknya.
"Yang, kita sudah menikah selama empat bulan, tapi aku belum hamil juga. Padahal setiap hari kita bercinta. Kadang lebih dari sekali," kata Mariska kepada Kevin.
"Mungkin kamu terlalu banyak pikiran dan stres. Wanita yang merasa banyak pikiran sulit untuk hamil," balas Kevin sambil membelai sayang kepala Mariska.
"Bagaimana kalau kita cuti dan pergi honeymoon lagi bulan depan?" Mariska memberikan ide yang tiba-tiba terlintas di dalam pikirannya.
Kevin terdiam sejenak. Semalam mamanya menelepon dan memarahi dirinya karena tidak memberi tahu tentang kehamilan Aura. Bukannya Kevin tidak mau memberi tahu kabar gembira itu kepada keluarganya. Namun, Mariska mengancam akan memberi tahu identitas dia sebagai istri kedua kepada wanita yang sudah melahirkan dirinya. Selama ini Bu Martini tidak suka kepada Mariska sejak Kevin mengenalkan pacarnya, dahulu.
"Tidak bisa kalau bulan depan. Mama akan datang ke sini dan mengadakan syukuran atas kehamilan Aura," balas Kevin dengan pelan.
Terlihat perubahan raut wajah Mariska yang tercengang. Dia tidak suka jika harus beradu mulut lagi dengan ibu mertuanya. Dahulu, dia dibuat malu dan sakit hati oleh Bu Martini hanya karena tidak bisa membuat air teh, apalagi memasak.
"Berapa lama mamamu akan tinggal di sini?" tanya wanita bersurai panjang dengan warna merah kecokelatan.
"Tidak tahu mereka akan tinggal di sini berapa lama. Yang jelas kamu harus tinggal di apartemen selama mama tinggal di sini," jawab Kevin.
Mau tidak mau Mariska harus pergi dari rumah itu. Dia akan berjauhan dengan sang suami.
"Tapi, kamu harus janji setiap hari datang ke apartemen temui aku. Jika tidak aku akan mendatangi rumah ini dan bilang sama mamamu semuanya," kata Mariska mengancam.
***
Apakah Bu Martini akan mengetahui pernikahan Kevin dengan Mariska? Ikuti terus kisah mereka, ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Sukliang
orang jahat dak dikasih Tuhan rezeki hamil
2024-02-27
0
Hernawati Husnul Khotimah
sabar terlalu sabar,, apa gk ada hak untuk membela hak seorang istri,, jngn terlalu loyo aura,, sudah tinggalkan kevin,
2024-02-18
3
guntur 1609
kau ja yg bodoh aura...laki2 seperti kevin tdk akan oernah berubah. laki2 sampah seperti fia buang ja ke sampah juga
2024-01-12
3