Bab 12
"Ini apa?" Tangan Mariska meraih kotak persegi panjang yang ada di ujung meja dekat tempat buah-buahan.
Aura terkejut saat Mariska memegang kotak hadiah akan dijadikan kado untuk Kevin. Lalu, dengan cepat dia merebutnya dari tangan wanita itu.
"Ini milikku," ucap Aura sambil menyimpan barang itu di pangkuannya.
"Apa itu isinya?" tanya Mariska penasaran.
"Bukan apa-apa. Tidak ada hubungannya dengan kamu," jawab Aura dengan mata mendelik.
Kevin hanya diam memperhatikan keduanya. Lalu, menyuruh Mariska untuk ke kamar duluan. Meski terlihat enggan, wanita itu pun pergi.
"Aura, aku harap besok kamu tidak mengacau di hari pernikahan aku dengan Mariska," ujar Kevin dengan tatapan tajam seakan menusuk ulu hati Aura.
Bagi Aura yang tidak punya hak untuk menolak memilih diam saja. Dia berharap Kevin mengerti bahasa tubuhnya. Namun, laki-laki itu malah beranjak dari tempat duduk setelah memberi peringatan.
"Kalau kamu tidak mau terjadi sesuatu kepada Mbok Mirah, sebaiknya jangan berbuat macam-macam. Untuk yang satu ini akan berlaku sampai kapan pun," lanjut Kevin lalu beranjak pergi.
Aura menekan dadanya yang terasa sesak beberapa kali. Lalu, dia mengelus perutnya dan mendoakan semoga anaknya tidak mewarisi sifat dan tingkah buruk ayahnya.
'Aku tidak akan memberitahukan kehamilan ini kepada Mas Kevin. Terutama kepada Mariska yang bisa saja akan berbuat kejam kepada calon bayiku atau aku sendiri,' batin Aura.
Kotak itu di simpan di lemari pakaian di bagian bawah. Niatnya ingin memberikan kejutan untuk sang suami. Yang ada malah dirinya diberikan kejutan oleh Kevin yang memberi kabar akan menikahi Mariska.
***
Pagi-pagi sekali Aura sudah menyiapkan beberapa makanan untuk dihidangkan di jamuan pernikahan siri antara Kevin dengan Mariska. Ada beberapa orang di komplek yang diundang ke rumah untuk menyaksikan pernikahan itu.
Ketika semua orang mengucapkan selamat dan mendoakan Kevin dan Mariska, Aura menangis sendirian di dapur. Ketika ada orang, maka dia akan segera menghapus lelehan air matanya.
"Aura apa semua hidangan sudah siap?" tanya Kevin yang datang ke dapur sambil melihat beberapa menu sudah ada di atas meja makan.
"Sudah, Mas," jawab Aura dengan suara bergetar.
Kevin tiba-tiba saja memeluk Aura. Laki-laki itu tahu kalau sang istri sedang bersedih. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya juga menginginkan pernikahan ini.
Sepertinya seorang istri seperti Aura sangat langka. Sejak dini hari sudah membereskan rumah, dilanjutkan memasak berbagai jenis masakan yang pantas dihidangkan untuk acara syukuran pernikahan. Aura memasak seorang diri tanpa ada bantuan dari orang lain.
"Silakan Anda cicipi masakan yang sudah kami hidangkan!" titah Kevin dengan ramah tamah.
"Ini hanya ada masakan ala kadarnya. Mungkin bulan depan kita akan pesta pernikahan di hotel. Aku harap orang-orang yang hadir hari ini nanti bisa datang ke meja dahulu.
***
Meski Aura dan Mariska sama-sama statusnya sebagai istri Kevin, tetapi perlakuan yang mereka dapatkan berbeda. Aura tetap mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Dengan alasan karena Mariska harus pergi bekerja. Meski di saat dirinya libur wanita itu tetap tidak mau membantu mengerjakan pekerjaan rumah.
"Aura, baju aku sudah disetrika, belum?" teriak Mariska dari anak tangga bagian atas.
Aura yang sedang mengepel menolehkan kepala. Rasanya dia ingin memaki madunya, tetapi nanti Kevin akan balik memarahi dirinya.
"Ambil di ruang belakang!" titah Aura dengan nada ketus.
"Cepat ambilkan!" perintah Mariska.
"Tidak bisa. Aku sedang mengepel. Ambil saja sendiri, kamu 'kan punya kaki untuk jalan ke sana," balas Aura masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Yang, Aura menyuruh-nyuruh aku!" teriak Mariska kepada Kevin.
Mendengar suara teriakan istri keduanya, Kevin keluar dari kamar tidurnya. Dia berjalan mendekati Mariska yang berdiri di bibir tangga.
"Ada apa, sih?" tanya Kevin sambil berjalan mendekat.
"Tuh, si Aura malah menyuruh aku seenaknya," ucap Mariska manja dengan muka ditekuk.
"Emang dia menyuruh apa?" tanya laki-laki berkemeja putih sambil mengancingkan bagian lengannya.
"Dia menyuruh aku bawa baju di kamar belakang," jawab Mariska dengan bibir manyun.
Kamar yang dahulu digunakan oleh Aura kini menjadi tempat menyetrika. Semua pakaian mereka ada di sana sebelum di pindahkan ke lemari pakaian masing-masing. Hal seperti ini juga harus dilakukan oleh Aura.
"Aura ambilkan baju milik Mariska ke sini!" perintah Kevin sambil melihat ke lantai bawah di mana Aura sedang memegang tongkat pel.
Aura rasanya ingin membalas ucapan suaminya agar menyuruh istri mudanya itu ambil sendiri. Namun, jika dia melawan, takut nanti mendapatkan kekerasan atau siksaan. Wanita itu takut terjadi sesuatu kepada janin yang masih lemah di dalam rahimnya. Maka, terpaksa Aura mengambilkan pakaian milik Mariska.
"Ini," ucap Aura sambil menyerahkan baju itu kepada Mariska.
Bukannya mengucapkan terima kasih, madunya itu malah menatap tajam dan mengatakan umpatan untuknya. Aura sudah kebal akan kelakuan Mariska dan tidak mau ambil pusing. Saat ini yang dia pikirkan adalah menjaga kehamilan dan pergi menjauh dari mereka sebelum diketahui kalau dirinya sudah berbadan dua.
"Lain kali kamu jangan buat Mariska marah. Turuti saja apa ucapannya," kata Kevin sambil membingkai wajah Aura, lalu dia mengecup bibir ranum yang sekarang jarang dia cium.
Meski sekarang Kevin tidak lagi melakukan kekerasan fisik dan psikis kepada Aura. Laki-laki itu selalu membela Mariska, meski dia tahu Mariska lah yang bersalah. Dia merasa kalau istri pertamanya itu akan selalu mendengarkan kata-katanya.
***
Waktu berlalu dan kini pesta pernikahan Kevin dan Mariska di gelar. Lagi-lagi yang bagian mengurus acara pesta pernikahan Kevin dan Mariska dilimpahkan kepada Aura. Sementara itu, pasangan yang memiliki hajat ini sedang sibuk honeymoon terus berdua dari satu tempat ke tempat lainnya. Atau dari hotel satu ke hotel lainnya yang ada di ibu kota.
Aura merasakan kram pada perutnya, kepalanya juga terasa berat. Dia mencari tempat yang agak sepi dari tamu undangan. Wanita itu dalam keadaan kelelahan yang bertumpuk-tumpuk. Ditambah dia sedang hamil muda yang seharusnya banyak waktu istirahat.
"Mas, aku izin pergi dahulu ke kamar, ya?" Aura mendekati Kevin dengan wajahnya yang terlihat pucat.
"Iya. Kamu sebaiknya pergi saja dari ruangan pesta ini," tukas Mariska.
Baru saja Aura membalikkan badannya, tubuh dia oleng. Untung saja Kevin berhasil menahan tubuh milik istri pertama itu.
Orang-orang yang melihat itu sempat berteriak karena kaget ada orang yang sampai pingsan di atas panggung pelaminan. Kevin sendiri merasa asing di sana.
"Aura! Hei, Aura! Bangunlah!" teriak Kevin sambil menepuk pipinya dengan lembut.
***
Apakah kehamilan Aura ketahuan oleh Kevin dan Mariska? Apa yang akan terjadi kepada Aura kedepannya? Ikuti terus kisah mereka, ya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Ita rahmawati
di jadiin babu doang
2025-03-08
0
Sulaiman Efendy
GOBLOK NYA AURA MAU LAYANI MARISKA. BENAR2 WANITA GOBLOK
2024-02-29
1
Mirna Loden Mirna Mirna
klu bca novel m,yg perempuan kayah gni yg sllu mengalah malah sya malas baca
2023-12-23
2