" saya.. " Jia terhenti menyadari tingkah anehnya.
" bagaimana kabar bibi?" koreksi Jia.
" hahahahahah" Bibi tertawa. Membuat Jia mengerutkan keningnya. Sebenarnya bagaimana hubungan antara Xian dan wanita ini.
" tentu saja masih hidup, apa jangan-jangan kau ingin aku segera mati?"
" kenapa bibi berbicara seperti itu?"
" apa perlu aku ingatkan lagi hah, aku sudah terlalu lama di sini. Mau sampai kapan kau bisa merayu tuan Zhang dan membebaskan aku dari ini hah? dasar tidak berguna!" sentak Bibi di akhir kalimatnya. Jia terdiam, bukan karena takut. Tapi dia tidak menyangka hubungan Xian dan bibi nya ternyata seperti ini. Pantas aja Xian tak pernah mengajak pelayannya ikut. Hal ini sangat memalukan serta menyedihkan.
" kau tau bibi aku bukan sebuah barang, jika memang aku tidak berguna untuk bibi, Xian tidak akan datang ke sini lagi" Jia tidak bisa menutupi rasa kecewanya. dia mengira bibi nya akan dengan hangat menyambutnya. Ternyata malah seperti ini.
" kau!!" desis Bibi.
Jia tak ingin menunggu lama, wanita itu langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan rumah tahanan itu. terdengar teriakan serta semua sumpah serapah yang di lontarkan Bibi. Tapi Jia tidak peduli, wanita itu pergi dengan rasa amarah.
" nyonya" Bao memanggilnya karena Jia memilih jalan kaki daripada menunggu keretanya siap.
Di sepanjang jalan Jia terdiam, kehidupan macam apa yang di lalui Xian selama ini. Kenapa tidak ada satupun orang yang peduli dengannya.
" mari nyonya, kereta sudah ada di belakang" Bao menghentikan langkah Jia agar tidak terlalu jauh. Jia menoleh ke arah kereta. Lalu dengan hati- hati Jia masuk ke kereta.
" Bao apa kau masih ingat dimana aku tenggelam waktu itu?" tanya Jia namun pandangannya mengarah pada jendela kereta.
" masih nyonya"
" bawa aku ke sana"
" baik, nyonya"
Bao melihat wajah sedih Nyonya nya. Dia berfikir hal ini adalah karena ucapan bibi nya. Sayangnya bukan itu saja, Jia juga prihatin dengan kehidupan Xian.
Sedangkan di kediaman Xu, selir Jing masih di tenangkan oleh pelayan pribadinya. Wanita itu tidak terima dengan keputusan yang dia terima.
" selir mohon redakan amarah anda..."
" tidak! aku tidak terima. Xian tidak tau diri. aku tidak bisa pergi seperti ini. Aku akan bunuh wanita itu" Selir Jing menggenggam tangannya kuat sampai kukunya menusuk telapak tangan hingga berdarah.
" selir, jangan lakukan apapun. Saya mohon. Tuan Zhang sudah memperingati.."
" aku tidak peduli!. wanita itu harus mati. Aku tidak terima di usir karena wanita murahan itu.." nafas Selir Jing tersengal-sengal karena amarah. bahkan matanya melotot tajam.
" selir saya..."
" keluar! aku tidak membutuhkan mu lagi!" teriak Selir Jing. Amarah wanita itu sudah sampai ubun-ubun. Pengusiran yang dia terima sangat tidak terhormat, apalagi alasannya karena Jia. Selir Jing benar-benar tak terima, Xian selama ini begitu penakut. Kenapa tiba-tiba menjadi memiliki nyali sebesar ini.
" hati-hati nyonya" ucap Bao. Saat Jia berjalan mendekati daratan terjal dimana di bawahnya terdapat sungai dengan arus yang cukup kuat.
Bao khawatir jika nyonya nya akan melakukan hal yang sama seperti waktu itu.
" mana bunga nya" Jia mengulurkan tangannya untuk mengambil bunga yang dia beli di tengah perjalanan tadi.
" ini nyonya"
" kau tunggu di kereta saja" Jia ingin sendiri, berbincang dengan Xian yang malam itu tenggelam disini.
" emm ba. baik nyonya" Bao sedikit ragu tapi dia tidak mungkin membantah perintah nyonya nya.
Jia melempar kan satu persatu bunga mawar hitam. bunga itu mengalir mengikuti alus. Jia menatap dengan terus menabur.
" semua kesedihan, keputusasaan serta duka yang selama ini kau rasakan kini ikut mengalir dalam alunan air ini. Hangatnya air mata sudah bercampur dengan jernih dan dinginnya air sungai. Xian, semoga kau bahagia di sana. Terimakasih sudah memberikan kesempatan padaku. Takdir ini biar aku yang atasi sisanya"
Angin sore membalas perkataan Jia, menerbangkan surai hitamnya. wanita itu menatap pantulan dirinya di atas air. Wajah yang dia lihat bukanlah miliknya, sebenarnya dia dan Xian sama- sama tidak memiliki kehidupan sejak malam itu. Dunia mereka telah selesai.
Jia masih betah di sana, menikmati hari di sana.
" nyonya, mari kembali. Sebentar lagi malam"
" emm" Jia manarik nafas panjang, sebelum akhirnya berbalik badan dan kembali ke kereta.
Dan benar saja, Jia dan rombongan sampai di kediaman saat malam hari. saat itu kediaman sudah terlihat begitu sepi.
" saya akan siapkan pemandian air hangat" Bao meninggalkan Jia di kamarnya. Jia melepaskan pakaian luarnya. Tubuhnya masih sedikit lelah akibat perjalanan.
Wanita itu tidak sadar dengan pergerakan pelan dari belakang tubuhnya.
" sudah selesai pestanya?" Jia langsung berbalik. Dia tidak mengira selir Jing datang ke kamarnya.
" selir Jing, untuk apa kau kemari?" Jia merasa tidak nyaman dengan kehadiran selir Jing apalagi dengan penampilannya yang seperti ini.
" untuk apa? tentu saja untuk memberikan salam perpisahan dengan mu nyonya.." jawab selir Jing dengan nada ramah namun hal ini malah tidak wajar bagi Jia. Wanita di depannya seakan memiliki maksud lain dengan senyum mengerikannya itu.
" perpisahan? apa yang kau maksud?" Jia mundur pelan saat selir Jing terus mendekatinya.
" tuan Zhang mengusirku, kau puas!" sorot mata selir Jing langsung tajam. Tak hanya itu kini di tangan kanan selir Jing terdapat pisau kecil dan mengarah padanya.
" kau .. yang harus pergi. kau harusnya mati sejak malam itu.!" Selir Jing dengan cepat berlari ke arahnya.
" hyaakk"
memainkan pisau untuk melukai Jia. Jia menghindar membuat serangan itu hanya melukai lengannya.
" kau harus mati!" teriak Selir Jing tidak terima.
Jia bersiap dan mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk melindungi diri.
wuuss, serangan dan tikaman berhasil di hindari Jia. Wanita itu sedikit kesusahan karena kakinya sedikit terkilir karena tidak bersiap.
" selir Jing hentikan" Jia memperingatkan.
" hahahaha" selir Jing malah tertawa, apalagi melihat lengan Jia yang terus mengeluarkan darah mengotori pakaian putih nya. Seolah menjadi penyemangat bagi selir Jing untuk terus memberikan serangan.
" ucapkan selamat tinggal pada tuan Zhang. hyaak" Selir Jing berlari bersiap menikam Jia.
Jia menghindari ke sana kemari, namun sayang dia mengalami kesialan.
bugh
tubuhnya terjatuh ke belakang, selir Jing menjulang di depannya dengan seringai puas.
" hahha, kau tamat"
berbarengan dengan pisau tajam menuju ke arahnya.
hap
Jia tak bisa menghindar, hanya bisa memegang pisau itu untuk menahan lajunya.
" hyyaakk" Jia dan selir Jing adu kekuatan. Darah Jia dengan deras mengalir. Kedua telapak tangannya tersayat cukup dalam.
" mati kau"
" akkk" Jia berjuang sekuat tenaga.
" nyonya!" suara itu seakan menjadi suara pertolongan. melihat Pengawal Fu datang selir Jing semakin menekan pisau.
bugh
pengawal Fu segera menarik tubuh selir Jing dan melakukan penguncian pada tubuh itu.
tang
Pisau terjatuh dari tangan selir Jing.
" lepaskan aku!" teriaknya sambil memberontak.
Jia berusaha bangkit dengan nafas tersengal-sengal dan kepala yang pening. Darah keluar dengan deras dari kedua telapak tangannya. Jia sangat lega ada yang menolongnya.
bugh
pengawal Fu membanting tubuh Selir Jing ke dinding agar wanita ini tak banyak bergerak.
pengawal Fu berjalan mendekati Jia, setelah mengambil sebuah mantel untuk membungkus tubuh wanita itu.
" pengawal!" teriak Fu. Tak berselang lama pengawal masuk dan segera mengamankan Selir Jing.
" lepaskan aku!" selir Jing terus memberontak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments