Meski sedikit kecewa Jia tak ingin menganggu, lagi pula dia dan Fu juga sudah memiliki rencana malam ini.
" jalan ini akan menghubungkan mu dengan sebuah lorong menuju ke tempat yang aku sebutkan tadi" ucap Jia sambil memberikan isyarat lewat matanya pada jalan yang di maksud.
" seberapa banyak pengawal yang berjaga?"
" aku tidak bisa memastikan, yang jelas di setiap sudut memiliki 4 penjaga. Dan setiap pukul 3 pagi akan di lakukan pergantian penjaga" jelas Jia berdasarkan hasil pengamatannya dulu.
" berarti kita tidak bisa menyelinap sekarang" lirih Fu.
" jangan terburu-buru, belum juga sehari. posisimu pasti banyak menyita perhatian" ungkap Jia menasehati.
" semakin cepat akan semakin baik" timpal Fu memiliki pendapatnya sendiri.
" kita tunggu sampai beberapa hari, aku yakin selama kita berhati-hati semuanya akan cepat terbuka. Setidaknya kau bisa bergabung dengan dalih berlatih, dengan begitu kau akan lebih leluasa bergerak tanpa di curigai" Jia menerangkan panjang lebar. Fu hanya diam mendengarkan, lelaki itu seakan teringat dengan Nona nya dulu. Baginya tingkah Jia sekarang terlihat mirip bahkan cara bicaranya juga sama.
" kau dengar tidak?" Jia yang sejak tadi tak mendengar sautan Fu.
" iya, dengar" jawab Fu sedikit salah tingkah.
" bagus, kita lanjutkan perjalan" Jia berjalan kembali. Mereka menelusuri semua bagian kediaman. Bukan menjelaskan tempat apa, tapi lebih pada menunjukkan jalan rahasia masuk dan keluar rumah agar tidak terdeteksi.
Pagi harinya, Jia sengaja bangun lebih awal. Wanita itu berniat mengunjungi Zhang. Dia harus mulai mendekati lelaki itu, setidaknya mengambil sedikit simpatinya untuk menghindari rasa curiga lelaki itu.
" apakah tuan sudah bangun?" tanya Jia pada pengawal di depan kamar.
" tuan baru saja bangun, nyonya". Jia tersenyum senang.
wanita itu di persilakan masuk ke kamar Sedangkan Fu berhenti di samping pengawal Zhang.
" tuan.." panggil Jia. Semakin masuk, wanita itu semakin bingung. Tak ada siapapun di dalam, membuat wanita itu terus berjalan menelusuri ruangan.
" tuan.." panggil Jia berulang kali.
tak berselang lama terdengar sayup sayup suara papan kayu yang terinjak. Jia mendekat ke asal suara. Wanita itu yakin jika itu pasti Zhang.
sampai tiba-tiba seseorang keluar dari balik bilik.
" akk" Jia berteriak dan langsung membalikkan badan.
Sedangkan Zhang ikut kaget dan menatap tingkah Jia yang aneh.
" nyonya... " suara Fu dari depan terdengar.
tap tap tap
Jia dengan cepat berlari keluar.
" ada apa nyonya?" baik pengawal Zhang dan Fu terlihat cemas.
" itu.. itu.. tak apa" Jia bingung bagaimana harus menjelaskan situasi di dalam.
" apa tuan baik-baik saja?" lanjut pengawal Zhang.
" aku tak apa" jawab Lelaki itu dengan nada datar dari dalam.
" jika ingin membuat keributan kalian bisa pergi" sarkas Zhang pada Jia. kekesalan lelaki itu pada istrinya sejak kemarin belum hilang.
Jia menyadari tingkah nya akhirnya kembali masuk dan menutup pintu.
" maafkan saya tuan" cicit Jia dengan rasa menyesal.
Zhang tidak terlalu menghiraukan, lelaki itu menuju ke meja kerjanya yang sudah penuh dengan beberapa laporan.
" em, saya dengar tuan kemarin terluka. apa lukanya parah?" tanya Jia dengan hati-hati.
Zhang masih belum merespon, hanya sibuk dengan laporannya.
" tuan.. " panggil Jia, wanita itu bahkan melangkah pelan mendekati meja Zhang. Dia tak tau bagaimana cara mencairkan suasana.
" biar saya saja" Jia melihat Zhang akan menulis, dengan segera langsung membantu lelaki itu memilih kuas dan menghaluskan tinta.
Zhang tidak terlihat ada penolakan. Sebagai wanita bangsawan Jia tentu memiliki kemampuan yang handal dalam memilah dan memilih peralatan tulis.
Wanita itu sedikit mencuri pandang pada laporan yang berada di dekatnya. Ternyata itu laporan dari istana. Tentu saja mengenai keamanan serta misi dari kerajaan.
" apa yang kau lihat?" tanya Zhang membuat Jia sedikit gugup.
" ini, laporan dari istana pangeran bukan?" jawab Jia, demi menghindari kecurigaan dia harus bisa terampil menjawab.
" kenapa kau bisa berkata seperti itu?" Zhang sedikit menyelidik. Setahunya istrinya tidak pernah berkecimpung dalam istana, apalagi mengetahui hal -hal yang berbau kerajaan.
" ini, ada simbol kecil milik pangeran"
" dari mana kau mengetahui hal ini?"
" bukankah pangeran sering membuat beberapa pengumuman. Saya rasa ini hal yang umum " Jia berhasil menghindari kecurigaan. Zhang meneruskan tulisannya. Situasi menjadi hening mendadak.
" tuan seharusnya banyak istirahat, biar lukanya cepat sembuh"
" itu hanya luka kecil"
" tuan jangan menyepelekan luka, tetap harus menjaga diri"
" aku sudah sering mendapat luka Xian, kau bisa melihatnya tadi bukan. Tubuhku penuh bekas luka" jawab Zhang, mengingatkan alasan Jia berteriak tadi. Wajah wanita itu mendadak memerah karena malu.
" saya tidak melihat apapun" elak Jia.
" kau bisa melihatnya sekarang" Zhang berniat menggoda Xian. Menurutnya saat ini Xian sedang ingin merajuk.
Jia langsung panik tak kala lelaki itu memegang tangannya dan membawanya pada tali pengikat baju Zhang.
" tidak..tidak" jawab Jia cepat. Wajahnya entah kenapa semakin memerah.
" tuan.. " suara pengawal dari luar membuat Jia semakin panik.
" selir Jing datang menghadap"
Baik Jia dan Zhang membetulkan posisi. Wanita itu masuk sambil membawa nampan berisi obat Zhang. Jelas terbesit sedikit raut kaget saat melihat kehadiran Xian di dalam dengan posisi yang terbilang cukup dekat.
" tuan, Nyonya" salam wanita itu.
" ini tuan ramuannya" ucap Selir Jing dengan penuh kelembutan.
" letakkan di sana"
" tunggu, tuan belum sarapan. setidaknya makan sedikit dulu agar ramuan ini tidak menyakiti perut tuan" jelas Jia yang memang tau jika saat kemari Zhang baru selesai mandi. lelaki itu belum memulai sarapannya.
" tapi.." Selir Jing tidak terima, bagaimana bisa Jia sok pintar seperti ini.
" bawakan sarapan sekalian" potong Zhang seakan menyetujui ucapan Jia. Selir Jing semakin dongkol tapi dengan baik dia sembunyikan rasa itu di balik senyumnya.
" baik tuan," ucap Selir Jing sebelum akhirnya pamit mengambil sarapan.
Sepanjang perjalanan wanita itu hanya menggerutu, rasa bencinya pada Xian semakin besar. Wanita itu harus di beri pelajaran, dia rasa selama ini Xian mengerti bahwa nyonya sebenarnya di kediaman ini adalah dirinya.
" wanita itu sudah lupa, sepertinya aku harus mengingatkannya kembali" lirih Jing dengan penuh tekat sambil menyeringai. Dia tidak sabar menunggu hari di mana dia akan bersenang-senang mendengar rintihan minta ampun milik Xian seperti beberapa waktu yang lalu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments