Setelah menemani Zhang menghabiskan sarapan serta obatnya, barulah Jia bisa kembali ke kamarnya. semenjak tadi rasanya dia sudah menahan rasa bosan serta malas nya. Bagaimana tidak, Zhang seakan menahan nya sedangkan selir Jing terus saja melototi nya agar keluar. mengherankan sekali.
Hari ini tidak banyak yang akan dia lakukan, menjadi seorang Xian ternyata cukup membosankan juga. kegiatannya hanya seputar menjaga kediaman serta huru hara dunia Harem. benar-benar bukan dunianya. Jia sudah terbiasa bebas ke sana kemari dulu. mencari buku ataupun mengulang pelajaran beladiri serta beberapa hobi lainnya.
" nyonya, selir Jing datang menghadap" ucap Fu. Lelaki itu akan bersikap formal jika di sekitarnya terdapat anggota kediaman.
" tunggu, wanita itu pasti sedang ingin membalas tindakanku pagi tadi. Bilang saja aku tak ingin bertemu" ucap Jia
" apa nyonya yakin?" tanya pelayan pribadinya.
" tentu saja, aku sedang malas berdebat dengannya" lanjut Jia yakin.
" baiklah saya akan mengatakan jika nyonya sedang tidur siang" jawab Fu membuat Jia mengangguk pelan.
" nyonya, belakangan ini anda sering sekali menyinggung selir Jing" pelayan nya sedikit penasaran dari mana keberanian nyonya nya ini.
" entahlah aku hanya melakukan apapun yang aku suka. Jika menyinggung nya mana aku tahu"
" kemungkinan selir Jing pasti akan mencari cara untuk membalas nyonya"
" sudah biarkan saja, wanita itu hanya menyusahkan saja" Jia sambil bersiap mengganti baju.
" nyonya akan kemana?"
" aku akan keluar sebentar"
" lalu bagaimana jika tuan datang mencari?"
" Tuan sedang bertugas, akan kembali beberapa hari lagi. kau jangan khawatir" ada gunanya juga dia membantu menghaluskan tinta Zhang waktu itu. Sedikit banyak tau jadwal tugas lelaki itu.
" lalu.."
" sudah jangan banyak tanya, jika ada yang datang mencari bilang saja jika aku sedang kelelahan jadi harus banyak istirahat" Jia tak mau ambil pusing.
Dan seperti biasa wanita itu dengan di temani Fu pergi meninggalkan kediaman.
" kemana tujuan kita?" tanya Fu di atas kuda.
" aku sedang suntuk, kita pergi ke tepi hutan" jawab Jia setelahnya dia melajukan kuda dengan cepat.
Kedua orang itu tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat tujuan. Awalnya Fu hanya bersikap biasa dengan tindakan Jia yang kerap kali sama dengan nona nya dulu. Namun semakin lama dia seakan sedikit curiga. Sebagai pengawal nya dulu, dia sama sekali tidak pernah melihat Nyonya Zhang datang berkunjung ataupun bermain dengan nona nya. tapi kenapa tingkah keduanya seakan sangat mirip.
" nona juga bisa bermain pedang?"
" heem, sekedar untuk membiasakan saja" sambil mengangguk pelan.
Fu berpamitan pergi sebentar untuk mengumpulkan buah- buahan ringan sebagai cemilan.
" pergilah"
Lelaki itu masuk ke dalam hutan. Dan Jia memulai latihannya.
Wanita itu menggoyangkan pedang ke sana kemari. Semua yang dia hafal kan dia praktekkan. Jia terbilang cukup terampil. Meski tidak sampai menguasai semua jurus, tapi kemampuan dasar serta olah tubuhnya cukup lincah.
Hanya saja karena masuk ke dalam tubuh orang lain, otot fisik Xian masih belum terlatih. Membuat Jia terkadang masih kesusahan menyeimbangkan diri.
Tanpa Jia sadari, Fu mengamati wanita itu diam-diam. Lelaki itu mulai curiga dengan tingkah nyonya barunya yang tidak asing.
" hiyaa" Fu datang menyerang.
Lelaki itu ingin mengetahui bagaimana cara Xian membalas dan berkelahi dengannya.
" hiya.." Jia berlaga. mereka berdua saling melempar balasan.
Sampai akhirnya Fu sengaja mengalah.
" nona cukup lihai" komentar Fu saat mereka berdua duduk sambil menghabiskan buah liar.
" aku saja yang menahan diri" balas Jia. Dia tau betul bagaimana kemampuan pengawal pribadi nya ini.
" sejak kapan nona berlatih pedang dan beladiri?"
" kau selalu memanggilku nona padahal kau tau sendiri aku sudah menikah" sindir Jia. Dia kurang nyaman dengan pertanyaan dari Fu. Dia takut jika nanti keceplosan. Karena dia sendiri tidak tau kisah asli seorang Xian.
" entahlah, sejak awal saya merasa cocok memanggil anda dengan sebutan nona" jawab Fu datar.
" sejauh ini apa hasil pengamatan mu?" Jia mencoba mengalihkan pembicaraan.
" saya masih pada kesimpulan awal"
" Zhang adalah pelakunya?"
" iyya, suami anda memiliki kekuasaan serta kemampuan untuk melalukan kejahatan itu"
" bagaimana jika kesimpulan mu salah?"
" bagaimana jika kesimpulan nona yang salah?"
Keduanya saling menatap dan mendalami tatapan masing-masing.
" jika kesimpulan mu yang benar, aku akan membunuh Zhang dengan tanganku sendiri" jawab Jia yakin.
" baiklah, jika kesimpulan ku yang salah. Aku akan pergi tidak akan mengganggu kediaman Xu lagi"
" kau masih bisa menjadi pengawal pribadiku" timbal Jia tak ingin jika sampai Fu pergi. Dia sudah menganggap nya sebagai kakak laki-lakinya.
" apa nona tau jika Zhang sering mengamati kedekatan kita?"
" bukan kedekatan kita, tapi mengawasi mu" koreksi Jia.
" tidak nona, lelaki itu seakan cemburu dengan kehadiran ku"
" hahaha. kau ini lucu sekali. Zhang memiliki 3 orang istri, baginya wanita hanya sebagai hiasan. Selama ini entah bagaimana seorang Xian menjalani hidupnya" mendadak suasana menjadi sendu.
" apa nona ingin pergi?"
Jia tak bisa menjawab, kehidupan nya saat ini merupakan keajaiban. Dia bisa di berikan kesempatan untuk terbangun lagi setelah melewati kematian. Rasanya jika ingin pergi, dia seakan tidak menghargai keajaiban yang dia dapatkan.
" nona?"
" aku tak bisa pergi" jawab Jia di landa kebingungan dan kesedihan.
Tak terasa hari sampai pada ujung senja. mereka berdua memutuskan untuk segera kembali. Kediaman Xu cukup ketat aturan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments