Sedikit Goyah

" anda siapa nona? apa anda tau makam siapa ini?" tanya lelaki itu dengan nada sopan.

Xie Jia Li bangkit, dia kenal siapa lelaki yang berada di depannya ini.

" aku teman Xie Jia Li, aku baru mendapatkan kabar menyedihkan ini, jadi baru bisa mengunjungi mereka sekarang" jawab Xie Jia Li mencoba se normal mungkin.

" baiklah, saya hanya takut anda salah mengunjungi makam. Mereka adalah tuan dan nyonya saya yang di tuduh sebagai penjahat" jawab lelaki itu lemah.

" ya aku tau, sungguh tidak adil bukan?"

" anda juga percaya jika mereka tidak bersalah?" tanya lelaki itu kaget.

" tentu saja. mereka adalah orang yang sangat baik. mana mungkin melakukan hal seperti itu"

" nona teman yang baik" saut lelaki itu sambil meletakkan rangkaian bunga. Meski tangan kakinya masih berbalut kain perban lelaki itu dengan kesusahan akhirnya bisa meletakkan bunga itu satu persatu di setiap makam.

" siapa namamu? Dan apa yang terjadi padamu?" tanya Xie Jia Li penasaran dengan luka-luka yang di alami pengawal nya dahulu.

" Fu, dulu Nona Jia yang memberikan nama Xie Fu padaku, meski aku hanya sebagai pengawal pribadinya. Dan luka-luka ini jauh lebih ringan daripada yang keluarga Xie terima"

" kau begitu menyayangi mereka" lirih Xie Jia Li. Wanita itu menatap kasihan pada Fu, tapi dia tidak mungkin mengatakan jika saat ini dia masih hidup.

" tentu saja, nona" jawab Fu dengan nada tegas.

" aku sempat berhutang pada nona Xie Jia Li, ini ku berikan padamu. Anggap saja sebagai pembayaran hutang ku" Jia memberikan kantung uang yang dia bawa untuk berjaga-jaga.

" tidak"

" hanya kau yang tersisa dari keluarga Xie, apalagi dengan luka itu kau pasti membutuhkan pengobatan yang bagus, terimalah.. Aku pergi dulu" Jia langsung pergi setelah meletakkan kantung itu di tangan Fu. Wanita itu yakin lelaki itu tidak bisa bersikukuh menolak ataupun mengejarnya. langkahnya tertatih dan sekujur tubuhnya terkena luka. Xie Jia Li tidak tega meninggalkan pengawal nya dalam keadaan seperti itu.

" nona!" teriak Fu yang mencoba menolak tapi sayang wanita yang dia temui sudah berjalan menjauh.

" siapa nama anda nona?!"

" Liu Xianlun" jawab Jia berteriak. Dia sengaja mengatakan nama lengkapnya agar jika pengawal menemui masalah bisa datang mencarinya.

Hari mulai sore, Jia bergegas kembali ke kota. Wanita itu sudah memiliki rencana matang untuk mencari keadilan bagi keluarga nya.

Cah cah cah

Jia mempercepat laju kuda, dan baru menjelang malam wanita itu sampai di depan kediaman pengawal Zhang, suaminya.

" astaga nyonya! anda dari mana saja?" Bao yang sejak tadi duduk di tembok luar kediaman langsung berlari menuju pintu gerbang dimana nyonya nya baru turun dari kuda.

" Bao, kau dari mana?" Jia malah membalas pertanyaan.

" saya mencari nyonya sejak pagi buta, nyonya kemana saja?? dan ini...kenapa nyonya bisa menaiki kuda? bukankah..."

" sudah jangan banyak tanya, ayo masuk aku sudah sangat lelah.." potong Jia. Wanita itu memang tak suka jika terlalu banyak di tanya.

" tapi.."

Jia langsung masuk saja tanpa menghiraukan pelayannya yang masih menuntut jawaban.

tap tap tap

langkahnya tegas dan cepat, tapi saat melewati ruang tamu utama kediaman tiba-tiba saja Zhang Jiangwu keluar dan mereka berpas- pasan.

" dari mana ?" tanya lelaki itu datar.

" tuan," Jia adalah wanita bangsawan yang tau etika. Dia sangat tau maksud dari pertanyaan suaminya. Wanita yang bersuami akan terlihat tabu jika pulang saat senja seperti ini.

" maafkan saya, saya tadi baru saja selesai mencari sesuatu dari luar"

" lain kali jangan terlalu malam jika pulang" ucap Zhang, yang terlihat tidak terlalu peduli.

" baik tuan" jawab Jia se ramah mungkin.

setelah memberikan salam penghormatan, Jia meneruskan langkahnya menuju ke kamar.

" Bao siapkan pemandian serta makan malam" perintah Jia. Wanita itu kembali ke perangainya. selalu menjadikan satu beberapa perintah.

" baik nyonya"

" nyonya, hari ini kemana saja? saya dan kepala pelayan sampai harus menutupi kepergian nyonya dari selir Jing, dan selir Qian.." tanya Bao saat di rasa keadaan mendukung, saat ini nyonya nya sedang menikmati makan malam dengan tenang.

" tunggu, siapa itu selir Qian?" tanya Jia berhenti mengunyah.

" selir ke dua tuan, apa ingatan nyonya masih kacau?"

" maksudmu Zhang memiliki 2 selir ?"

" tuan memiliki 3 selir nyonya dan yang ke tiga baru meninggal beberapa bulan yang lalu, dan sepertinya akan ada selir baru lagi.."

" aku tidak menyangka ternyata Zhang juga begitu memuja wanita.." ucap Jia sinis. Entah kenapa dia belum menemukan alasan kenapa Liu Xianlun begitu mencintai suaminya yang dingin ini.

" nyonya jangan cemburu, satu-satunya istri sah tuan adalah anda" saut Bao yang menilai jika nyonya nya sedang marah karena cemburu.

" ish.. tidak mungkin aku cemburu. silahkan saja mau 3 atau 10 selir pun aku tidak peduli" Jia melanjutkan makan, dia sengaja tidak menjawab pertanyaan pertama Bao. Hal itu harus dia rahasiakan.

Pagi harinya, seperti biasa Jia akan bangun lebih pagi dan berjalan-jalan sekeliling rumah. Dia harus mengenali lingkungan kediaman untuk bisa bergerak dengan bebas.

" nyonya, " salam seorang wanita muda.

" em.." Jia mengangguk singkat dan berlalu pergi begitu saja.

" dia selir Qian, biasanya anda akan banyak berbincang dengan nya. tumben kali ini tidak?"

" kau begitu cerewet ternyata" balas Jia merasa kurang nyaman.

" maaf nyonya" jawab Bao lemah.

Jia meneruskan langkahnya, dengan alasan mencari seekor kelinci wanita itu bisa bebas kemana saja. Jia memang sengaja melepaskan hewan itu.

" nyonya tunggu..! di depan adalah bangunan kerja tuan. Siapapun tidak boleh mendekat" peringatan dari Bao. Bahkan pelayan itu sampai memegang lengan nyonya nya dengan sedikit kasar.

" pantas saja, banyak sekali pengawal kerajaan" lirih Jia. Sekilas dia mengamati jika seragam yang para pengawal itu pakai hampir mirip dengan pakaian yang di pakai oleh segerombolan lelaki yang membunuhnya.

" nyonya mari kita kembali, tuan pasti marah jika tau kita di sini"

" eh..sebentar" Jia tidak mungkin menyerah begitu saja.

" tapi nyonya, saat ini sedang banyak orang. kalau ingin masuk nanti saja saat sudah sepi" usul Bao, pelayan itu mulai memahami jika nyonya nya seakan berubah jadi orang lain semenjak sadar.

" kau benar juga, " ucap Jia, dan akhirnya mereka berjalan menjauh. Tapi sayang keberadaan mereka ketahuan lebih cepat.

" apa yang kau lakukan di sini?" aira dingin langsung menyerbu permukaan kulit para wanita itu.

" emm saya kehilangan seekor kelinci, tadi sepertinya kelinci itu menuju ke mari" jawab Jia seperti yang dia rencanakan.

" sejak kapan kau membeli kelinci?" selidik Zhang.

" sejak kemarin, saya membeli seekor kelinci saat pergi keluar kemarin. apa tuan keberatan?" Jia ingin tau reaksi lelaki dingin ini.

" bukankah aku sudah melarang memelihara hewan apapun di kediaman?," balas nya dengan nada tak suka.

" maafkan saya tuan. saat itu saya begitu kasihan pada kelinci itu. Saya akan mencarinya sampai dapat"

" tidak usah, biarkan dia lepas. Lain kali jangan lagi membawa hewan apapun" tegas Zhang.

" baik tuan" jawab Jia.

Semua itu sudah dia perkiraan. Kalaupun dia di paksa menemukan akan jauh lebih baik lagi. Tapi setidaknya dia terhindar dari kecurigaan.

tuan Zhang berlalu pergi dengan sedikit kesal.

" dasar lelaki batu" lirih Jia. Wanita itu tidak tau jika Zhang bisa mendengar gerutuannya. Tapi tetap pergi.

Episodes
1 Tragedi
2 Membuka Mata
3 Selir Pertama
4 Memahami
5 Sedikit Goyah
6 Selir Qian
7 Tak Terduga
8 Bertemu Lagi
9 Rencana Baru
10 Tidak Terbiasa
11 Melanjutkan Rencana
12 Terluka
13 Terbakar Lagi
14 Rencana Awal
15 Membuat Kesepakatan
16 Bertemu Lagi
17 Mencari Celah
18 Berbalik
19 Berlanjut
20 Mawar Hitam
21 Tidak Biasa
22 Merengek
23 Masih Tidak Terima
24 Curiga
25 Mencari
26 Curiga 2
27 Tidak Menyangka
28 Kesalahan
29 Malang
30 Kematian
31 Serasa Mimpi
32 Tak Bisa
33 Kemungkinan yang Salah
34 Setelah Kembali
35 Mencari Jalan
36 Jalan ke Dua
37 Memancing
38 Berlanjut Curiga
39 Apa Mungkin
40 Tindakan
41 Kembali pada Rencana awal
42 Terancam
43 Mengenali Sisi Baiknya
44 Kehilangan
45 Mungkinkah Bersama?
46 Amarah selir Qian
47 Mulai Berterus Terang
48 Kebenarannya tidak benar
49 Simalakama
50 Transaksi
51 Orang Baru
52 Membuat Rencana Baru
53 Perhatian
54 Jalan tengah
55 Pencuri
56 Pengaduan
57 Perang Dingin
58 Rencana Jahat
59 Rencana Jahat 2
60 Menunggu Jawaban
61 Perpisahan Sesungguhnya
62 Perpisahan Sesungguhnya
63 Mengejutkan
64 Menyesal
65 Mengatur Diri
66 Sewaan
67 Terjebak
68 Memanas
69 Bukan Dia
70 Menarik kembali
71 Tidak Patuh
72 Menghadap
73 Kebenaran
74 Kebenaran 2
75 Pendekatan
76 Mengelabui
77 Tidak Mungkin
78 Terulang Lagi
79 Tersadar
80 Tersadar 2
81 Ingin Melihatmu
82 Terhasut
83 Kejanggalan
84 Penyiksaan Diam-Diam
85 Kesempatan Terakhir
86 Tidak Menyangka
87 Balik Menyerang
88 Kembali Bersama
89 Poling
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Tragedi
2
Membuka Mata
3
Selir Pertama
4
Memahami
5
Sedikit Goyah
6
Selir Qian
7
Tak Terduga
8
Bertemu Lagi
9
Rencana Baru
10
Tidak Terbiasa
11
Melanjutkan Rencana
12
Terluka
13
Terbakar Lagi
14
Rencana Awal
15
Membuat Kesepakatan
16
Bertemu Lagi
17
Mencari Celah
18
Berbalik
19
Berlanjut
20
Mawar Hitam
21
Tidak Biasa
22
Merengek
23
Masih Tidak Terima
24
Curiga
25
Mencari
26
Curiga 2
27
Tidak Menyangka
28
Kesalahan
29
Malang
30
Kematian
31
Serasa Mimpi
32
Tak Bisa
33
Kemungkinan yang Salah
34
Setelah Kembali
35
Mencari Jalan
36
Jalan ke Dua
37
Memancing
38
Berlanjut Curiga
39
Apa Mungkin
40
Tindakan
41
Kembali pada Rencana awal
42
Terancam
43
Mengenali Sisi Baiknya
44
Kehilangan
45
Mungkinkah Bersama?
46
Amarah selir Qian
47
Mulai Berterus Terang
48
Kebenarannya tidak benar
49
Simalakama
50
Transaksi
51
Orang Baru
52
Membuat Rencana Baru
53
Perhatian
54
Jalan tengah
55
Pencuri
56
Pengaduan
57
Perang Dingin
58
Rencana Jahat
59
Rencana Jahat 2
60
Menunggu Jawaban
61
Perpisahan Sesungguhnya
62
Perpisahan Sesungguhnya
63
Mengejutkan
64
Menyesal
65
Mengatur Diri
66
Sewaan
67
Terjebak
68
Memanas
69
Bukan Dia
70
Menarik kembali
71
Tidak Patuh
72
Menghadap
73
Kebenaran
74
Kebenaran 2
75
Pendekatan
76
Mengelabui
77
Tidak Mungkin
78
Terulang Lagi
79
Tersadar
80
Tersadar 2
81
Ingin Melihatmu
82
Terhasut
83
Kejanggalan
84
Penyiksaan Diam-Diam
85
Kesempatan Terakhir
86
Tidak Menyangka
87
Balik Menyerang
88
Kembali Bersama
89
Poling

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!