" bangun..." seseorang menggoyang tubuhnya. Membuat tidurnya mulai terganggu.
" bangun...!" suara itu lebih keras. Bao langsung terperanjat berdiri setelah menatap jika di depannya ada Zhang. Dengan wajah seram Zhang menatap Bao dengan tajam.
" tu..tuan" meski nyawanya belum terkumpul pelayan itu berusaha berdiri tegak.
" minggir.." ucap pengawal Zhang.
" i iya" Bao baru sadar jika dirinya tertidur tepat di depan pintu masuk. tubuhnya menghalangi jalan.
klek
sreegg
2 pengawal maju dan membukakan pintu. Zhang masuk dan mencari keberadaan Liu Xianlun. Hari masih pagi buta, namun entah kenapa menghukum Xian kali ini membuat hatinya sedikit resah.
" Xian.." panggil Zhang, saat tak menemukan adanya wanita itu di sana.
Hampir saja Zhang marah, saat suara dari belakang meja mengalihkan perhatian semua orang.
" tuan.." ucap Jia sambil tersenyum ringan.
" apa yang kau lakukan ?" wajah istrinya begitu kotor, belum lagi di tangan Jia terdapat sapu dan beberapa sampah.
" setelah berlutut beberapa saat disini, Saya jadi menyadari kesalahan saya. Maafkan saya tuan. Saya juga membersihkan ruangan leluhur untuk menebus kesalahan saya" jelas Jia dengan tenang dan sopan.
Zhang mengerutkan keningnya, sikap Xian begitu berbeda saat malam hari. Tapi memang seperti inilah Liu Xianlun. Wanita ini mudah sekali meminta maaf.
" baguslah kalau begitu, kau boleh kembali ke kamar" perintah Zhang.
" tapi saya merasa kesalahan saya begitu besar, maka dari itu saya akan pergi ke kuil. saya akan Berdoa dan bertobat di sana" usul Jia yang semakin membuat Zhang bingung apa yang terjadi dengan istrinya. Bukannya jera malah mengajukan hukuman tambahan.
" tidak perlu.."
" tidak tuan, saya harus menebus kesalahan saya. Saya akan berdoa ke kuil dan meminta kesehatan serta berkah dari tuhan agar keluarga Xu selalu aman sentosa" ucap Jia penuh dengan tekad dan menyakinkan.
" saya mohon tuan mengizinkan saya.. saya janji ini akan menjadi pertobatan saya..saya.."
" sudah cukup, terserah kau saja" Zhang tak mau berlama-lama. Lelaki itu asal menyetujui saja agar tidak membuang waktunya.
" terimakasih tuan" ucap Jia lalu memberikan salam penghormatan pada suaminya. Lelaki itu lalu pergi dari sana.
Jia begitu senang, rencananya berhasil. Tinggal menunggu langkah selanjutnya agar bisa membuat Fu masuk ke kediaman ini.
" nyonya.. " Bao segera mendekati Jia. Dia juga mendengar permohonan Jia tadi.
" kenapa nyonya mau ke kuil,? bukan kah selir Qian memfitnah anda. Seharusnya..."
" ssttt... kita harus berfikir jernih. Kau tenang saja, aku pasti akan memberikan pelajaran pada wanita itu. tapi bukan sekarang, akan ada rencana yang bagus untuknya" jelas Jia. Wanita itu tidak mudah memaafkan seseorang yang sudah mencari masalah dengannya.
Kedua wanita itu menuju ke Kamar. Mereka menyiapkan beberapa barang untuk di bawa ke kuil.
tap tap tap
suara langkah kaki mendekat.
" kalian menyedihkan sekali..." suara wanita yang masuk dengan wajah angkuh. Tak lupa dengan pelayannya yang juga bertingkah jagoan.
Jia menatap sesaat dengan pandangan malas, lalu mengabaikan tamunya.
" aku tidak menyangka jika kali ini tuan akan bertindak tegas dengan mengirim mu ke kuil. Mungkin sebentar lagi tuan akan mengirim mu kembali ke desa kumuh lagi, hahahah" ejeknya. Hu Jing Mi begitu senang melihat saingan nya akan pergi dari kediaman. Meskipun hanya sementara.
" aku ke kuil untuk berdoa, agar di kediaman Xu tidak ada orang gila seperti mu" sarkas Jia. selir Jing jelas akan menjadi orang nomor 1 sebagai target balas dendamnya.
" masih juga berlagak sombong, heh dengar meskipun sebagai istri sah tapi kau tidak apa-apanya denganku. bahkan malam pernikahan saja tidak pernah terjadi.." Sindir Selir Jing. Jia terdiam sejenak. Seakan kasihan pada nasib Liu Xianlun.
Jia menatap selir Jing dengan tatapan tajam.
" tentu saja, karena aku memiliki harga diri. Tidak seperti kau yang rela menyerah kan tubuh hanya karena jabatan. aku tak mau di perlakukan seenaknya, bukan aku yang di tolak tapi aku yang menolak jika hanya di jadikan pelayan ranjang semata" jelas Jia dengan menggebu-nggebu. tak lupa dengan tatapan matanya yang nyalang. Selir Jing sampai terdiam saking kagetnya dengan respon Jia yang begitu menohok.
" kau... apa kau lupa darimana kau berasal? berani berbicara harga diri padaku!" desis selir Jing tak terima.
satu tangan wanita itu naik ke atas bersiap akan menampar Jia. Di saat yang bersamaan Jia menangkap ada nya siluet yang bergerak ke arah mereka.
Plak
bugh
Jia membiarkan pipinya terkena tamparan, bahkan dirinya menjatuhkan diri dengan keras ke lantai.
" Jing Mi!" teriak Zhang yang melihat dengan mata kepalanya sendiri. Semuanya terjadi di depannya.
Hu Jing Mi langsung menoleh dan membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup kencang dan dadanya sesak, seakan tertimpa batu besar.
" hiks hiks hiks, kenapa selir menampar saja. saya tau jika ini mengenai selir Qian, tapi saya bersedia pergi ke kuil untuk mendoakannya. Kenapa selir masih marah?" Jia memulai sandiwaranya. Dia berlagak menjadi wanita lemah tak berdaya.
" nyonya.." Bao dengan tanggap langsung membantu nyonya nya berdiri.
" Jing Mi, aku tidak mengira jika kau semakin berani" Zhang berniat membujuk Xian agar mengurungkan niatnya, malah melihat kejadian yang begitu memalukan. Di kediaman seorang kepala pengawal terjadi perilaku melanggar norma seperti ini.
" tu ..tuan.. ini tidak seperti itu.. saya.. tadi .." Jing Mi langsung gugup tak bisa berfikir bagaimana cara keluar dari situasi ini.
" Selir Jing begitu kesal dengan apa yang terjadi dengan selir Qian dan melampiaskan semuanya pada saya. Hiks hiks..saya ..saya..hiks hiks" Jia semakin membuat posisi Jing Mi tersudut. Wanita itu berakting dengan sangat baik.
" Pengawal antar selir Jing Mi ke ruang leluhur, agar bisa merenungkan diri dengan baik" ucap Zhang.
" tapi.. tuan... saya..." Jing Mi tidak terima tapi dia juga tidak mungkin mengatakan kebenarannya. kenyataanya dia sendiri yang memulai pertikaian.
pengawal segera membawa Jing Mi, wanita itu akhirnya keluar dari kamar Jia.
" Tuan, maafkan selir Jing. Saya bisa memaklumi kemarahannya" ucap Jia seakan membela Jing. Padahal dia hanya sedang memainkan emosi lelaki itu.
" sudah biarkan saja, dia juga harus bisa mengambil pelajaran" Zhang lalu duduk di kursi.
" bawakan air hangat" ucap lelaki itu pada pelayan Bao.
" baik tuan"
Jia ikut duduk dan menuangkan teh untuk suaminya. Dia mengganti strategi, saat ini dia akan bersikap lemah lembut dan penurut. Setidaknya sampai bisa mengambil hati Zhang, sehingga dia bisa dekat dan leluasa pada lelaki itu.
" tuan.."
" sudah tak usah, duduklah. Tubuhmu masih lemah setelah berlutut semalaman dan mendapatkan tamparan dari Jing" Zhang meletakkan cangkir teh dan memberikan isyarat agar Jia duduk di kursi sebelahnya.
tap tap tap
" ini tuan " Bao membawa baskom serta kain.
" kemarilah, aku akan mengompres pipimu" ucap Zhang membuat Jia membatu. Dia pikir lelaki hanya akan menyuruhnya mengompres lebamnya. Tidak di sangka malah dirinya sendiri yang melakukan.
" tidak usah tuan, biar Bao saja" tolak Jia.
" kemarilah" ulang Zhang dengan sedikit penekanan.
Bao membantu Jia agar mendekat. Pelayannya ini terkadang suka bertingkah seenaknya sendiri.
" ah.. ya" Jia tidak memiliki kesempatan untuk menolak. Akhirnya wanita itu memajukan dirinya agar tangan Zhang sampai di pipi nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Kartika Lina
kurang suka dengan tingkah pelayan nya 🤨
2024-03-28
0