Jia semakin merapatkan kedua tangannya, suara pedang bersautan. Wanita itu membuka tirai jendela sedikit, mata nya langsung membelalak. Perkelahian bersenjata berada di tepat di hadapannya. Dia tidak berfikir akan menjadi se kacau ini.
" aku harus menghentikan ini, sebelum banyak korban" lirih Jia.
Wanita itu memberanikan diri keluar dari kereta. Dia hanya berharap para bandit itu tidak benar-benar akan menyakitinya.
Jia menatap sekeliling, dia sama sekali tidak melihat Fu.
" Xian, masuk ke kereta!" teriak Zhang sambil menepis serangan dari bandit. Lelaki itu tampak khawatir dengan keselamatan istri nya.
Sedangkan Jia tidak menghiraukan dan pura-pura tidak mendengar nya. Dia tetap berjalan menjauhi kereta.
menghindar dari beberapa orang yang berkelahi, kakinya menuntun mendekati hutan. Di saat bersamaan hal ini tentu saja tidak lepas dari pengawasan Fu yang sudah memantau sejak tadi.
Lelaki itu awalnya kaget, karena ternyata ada pengawal Zhang di rombongan. tapi dengan cepat dia langsung membuat rencana baru.
" kau pergilah" ucap Fu pada salah satu bandit yang dia persiapkan khusus.
" baik" bandit itupun memegang erat senjatanya lalu berjalan menuju ke arah Jia.
Fu menarik sudut bibirnya, seakan merasa jika rencananya tidak akan gagal.
" apa mau mu..." Jia sudah bersiap saat seorang bandit mengacungkan senjata. Wanita itu hanya bisa mempertaruhkan dirinya untuk mengetahui apakah Fu bisa dia percayai.
Dan dengan cepat dirinya dijadikan sandera oleh bandit itu.
" aaakkk" teriak Jia.
Seketika Zhang yang sejak tadi berusaha melindungi sang istri langsung berhenti.
" jatuhkan senjata kalian atau wanita ini akan mati" bandit itu sangat meyakinkan, di depan leher Jia sudah bertengger pedang yang siap menggores kulit putihnya.
" lepaskan dia" Zhang berteriak berusaha memberikan penekanan. Tapi kelompok bandit lainnya sudah mengepungnya.
" aku tidak main-main, "
" aakkk.. tuan selamatkan aku, aku mohon ikuti saja keinginan mereka" Jia memprovokasi agar Zhang mau melepaskan senjata.
" jatuhkan senjata kalian!" teriak keras bandit di belakang tubuh Jia.
Zhang menatap sekeliling, dia sebenarnya bisa saja mengalahkan bandit hutan ini. Tapi karena situasi dimana sang istri menjadi sandera membuat nya tidak memiliki banyak pilihan.
" jatuhkan..." ucap Zhang memberikan perintah ke pada prajuritnya.
" Tuan.." rengek prajurit nya yang merasa enggan.
" jatuhkan.." ucap Zhang sekali lagi dengan suara yang sedikit lemah.
tang tang tang
satu persatu rombongan prajurit dalam kondisi tangan kosong. para bandit segera mengumpulkan senjata itu menjadi satu di tempat yang jauh dari jangkauan prajurit.
prajurit tak bisa berkutik, dan sedikit memberikan perlawanan. Tentu saja para bandit mulai menyerang prajurit tidak terkecuali Zhang.
" tuan...!" teriak Jia saat melihat lelaki itu di pukul bagian belakang kepala.
" diam!" Bandit semakin mendekat senjata.
Fu dari atas memberikan kode dan saat bersamaan pedang yang berada di leher Jia semakin maju. Hampir mengenai kulitnya, dan seketika Fu datang menyerang sang bandit.
dap dap
Pukulan dari batu yang di lempar mengenai tangan bandit dan seketika Jia terlepas.
" brengsek.." ucap bandit itu.
" hiyaa " perkelahian kembali terulang.
Sesuai dengan skenario Fu, lelaki itu terluka di bagian tangan. Namun dengan segera membalas.
" aakk" teriak bandit yang terlempar ke tanah.
prajurit dan Zhang juga mulai melawan meski dengan tangan kosong.
" mundur...!" teriak salah seorang bandit dan kelompok itu langsung berlari tunggang langgang.
prajurit dan Zhang berniat mengejar tapi kemudian mereka urungkan karena tuan Zhang melarang.
" nona terluka?" tanya Fu yang membantu Jia berdiri.
lelaki itu mengulurkan tangannya.
" tidak perlu" Zhang segera mendekat dan langsung mengambil alih.
Jia berdiri di samping suaminya.
" tidak..kau terluka. lihat lenganmu" Jia berjalan mendekati Fu agar bisa melihat luka itu lebih jelas.
" ini hanya luka ringan, nona" jawab Fu tapi terlihat menahan sakit.
" perhatikan ucapan mu," koreksi Zhang dengan nada tak suka.
" tuan, kasihan sekali dia. sepertinya lukanya dalam. ikut lah dengan kami biar nanti lukamu di periksa tabib"
" saya tidak apa-apa nyonya" jawab Fu yang sudah membetulkan panggilan nya.
" ini ambillah " Zhang Mengeluarkan kantong emas.
" tuan, sejak kapan Xu tidak tau terimakasih. Dia sudah membantu kita, setidaknya kita bantu dia merawat lukanya" Jia terlihat marah dan kesal. Wanita itu mendesak Zhang dan akhirnya lelaki itu mau tidak mau membawa ikut serta Fu menuju kediaman nya.
" kemari, masuklah. Tabib sedang dalam perjalanan" ucap Jia saat rombongan mereka sampai di kediaman.
Zhang menahan kekesalannya sejak tadi. Lelaki itu hanya diam sambil terus memperhatikan semua gerak gerik Xian dan Fu.
" tuan luka anda juga harus di obati" ucap selir Jing. Yang melihat luka memar dan juga luka sayatan di sepanjang punggung Zhang. Lelaki itu seakan mati rasa, karena pemandangan di depannya seakan lebih perlu diperhatikan.
" tuan" panggil Selir Jing sekali lagi. Dia melihat darah yang tak kunjung berhenti dan mengotori pakaian Zhang yang gelap.
Zhang masih melihat Jia dengan Fu. Kenapa hatinya terasa tidak terima. Padahal sebelumnya lelaki itu tidak suka jika istrinya berada di dekatnya. tapi sekarang melihatnya lebih memperhatikan lelaki lain dia merasa kalah.
" emm" Zhang hanya berdehem mengangguk kecil lalu ikut selir Jing ke tempat khusus berobat miliknya.
Sejak tadi pikiran Zhang tidak bisa berhenti mempertanyakan apa yang Jia dan lelaki asing lakukan. Dia merasa tidak tenang dengan perubahan sikap Xian yang beberapa hari lebih sering mengacuhkannya.
" tuan ramuan anda" ucap selir Jing.
Zhang dengan sedikit emosi langsung mengambil dan meneguk ramuan itu dalam sekali suapan.
" uhuk uhuk.."
Zhang tersedak, dia tidak sadar jika ramuan itu masih panas.
" tua.." Selir Jing panik dan segera mengambil kain.
Zhang menetralkan nafas, dia harus mengendalikan emosinya. Jangan sampai terpancing seperti ini.
" ini.." Selir Jing bersiap membersihkan sisa ramuan di pipi Zhang, namun dengan tegas lelaki itu melarang dan mengambil alih kain.
" bawa semua ini" sambil memberikan isyarat ke arah mangkuk serta kain yang berserakan.
" baik tuan" Selir Jing segera pergi, tak mau terkena amukan Zhang lebih lama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments