Bab 19 Dalam Bahaya

Di sebuah rumah mewah bertingkat dengan cat berwarna putih, terlihat seorang pria paruh baya yang terlihat masih gagah, duduk menikmati wine nya. Dia adalah John Wilson, pria yang menjadi incaran FBI. Namun John seolah kebal hukum. Dia tidak takut sama sekali dengan polisi ataupun FBI.

Berkali-kali polisi menangkap John. Namun pria itu bisa keluar dengan mudah.

Selain mempunyai uang yang banyak, John juga mempunyai kekuasaan dan keamanan yang ketat. Terbukti dengan banyaknya penjaga bersenjata berdiri di berbagai sudut rumahnya. Namun walaupun begitu, bukan berarti FBI akan berhenti begitu saja. Mereka terus mencari bukti agar bisa menyeret John kedalam penjara untuk mendapatkan hukuman setimpal.

Tapi semenjak Charlie dinyatakan gugur, tidak ada satupun anggota FBI yang mengusiknya. Dan hal itu membuat John merasa senang karena Charlie adalah satu-satunya musuh bebuyutannya.

"Aku dengar ada yang tertangkap lagi." seru John

"Iya tuan." sahut Lukas, selaku tangan kanan John

"Pastikan pria itu tutup mulut. Atau..... Kau tahu maksudku, bukan?"

"Saya mengerti tuan." Lukas menunduk hormat dan menjalankan perintah John.

"Sekarang aku bebas menjalankan usahaku tanpa takut ada yang mengganggu. Karena Charlie sudah lama mati." John tertawa dan kembali menyesap minuman. Namun tiba-tiba, ponselnya berbunyi. John meletakkan gelasnya dan melihat nama Henry tertera di layar ponselnya

"Henry? Ada apa dia menghubungiku?" John menggeser keatas tombol hijau dan meletakan ponsel di telinganya.

"Ada apa?" tanya John

"Halo John, dia masih hidup." seru Henry di seberang sana

"Apa maksudmu? Siapa yang masih hidup?" tanya John penasaran

"Charlie, Charlie Walker masih hidup."

Deg

John merasa geram saat mendapat informasi tersebut. Namun dia tidak percaya. "Jangan bercanda Henry!! Jelas-jelas dia sudah mati dan mayatnya tidak di temukan. peristiwa itu sudah terjadi 6 bulan yang lalu. Tubuhnya pasti sudah terbawa arus dan habis di makan ikan." seru John

"Jika kau tidak percaya datang saja ke Manhattan. Dia sekarang ada di sini." setelah mengatakan hal itu, Henry memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

John mengepalkan tangannya erat. Belum lama dia merasa lega karena tidak ada lagi pengganggu, tapi sekarang dia kembali di buat waspada. Dia segera mengerahkan anak buahnya untuk memastikan apakah yang Henry katakan benar atau tidak. Dan jika benar, John memerintahkan anak buahnya untuk langsung menghabisi Charlie.

"Charlie, jika benar kau masih hidup, maka aku akan membuat mu mati untuk kedua kalinya." geram John

...----------------...

Tidak membutuhkan waktu yang lama, anak buah John sampai di alamat yang Henry kirim. Dia mengintai sebuah rumah dan memastikan apakah pria yang tinggal disana adalah Charlie atau bukan.

"Kita langsung masuk atau menunggu target kita keluar dari kandangnya bos?" tanya anak buah John

"Jangan gegabah!! Ini bukan wilayah kita. Jadi lebih baik kita menunggu waktu yang tepat." seru Lukas.

Cukup lama mereka menunggu, hingga terlihat seorang pria dan wanita keluar dari rumah tersebut.

Lukas bersiap dengan senjatanya, namun saat mendengar wanita itu menyebut nama si pria, Lukas mengurungkan niatnya untuk menembak

"Mich, tunggu aku!!" seru Daisy

"Kita harus cepat Daisy, atau kita akan terlambat." seru Michael. Mereka bergandengan mesra dan hendak pergi menonton.

Ya, setelah mengusir Ainsley tadi pagi, Michael jadi lebih banyak diam. Dia tidak percaya jika Ainsley menipunya agar bisa dekat dengannya karena dia mirip dengan suaminya yang sudah meninggal.

Suami? Hah.. Padahal Ainsley mengatakan padanya jika yang meninggal adalah kekasihnya. Tapi ternyata? Sulit dipercaya.

Untuk itu Daisy mengajak Michael keluar seharian ini untuk menghibur pria itu. Selain itu, Daisy tidak mau Michael terus memikirkan Ainsley .

"Ada apa bos? Kenapa tidak langsung menembaknya?"

"Aku bilang jangan gegabah!! Apa kau tidak dengar tadi wanita itu memanggilnya siapa? Aku tidak ingin salah sasaran." seru Lukas. Dia keluar dari tempat persembunyiannya dan menatap punggung pria yang mirip dengan Charlie yang semakin menjauh.

"Mich?? Wanita itu tadi memanggilnya Mich. Apa dia bukan Charlie Walker?" batin Lukas. Dia melihat toko yang masih buka tidak jauh dari tempat ia bersembunyi. Dia menghampiri toko tersebut dan bertanya, "permisi, apa kau kenal dengan pria ini?" tanya Lukas dengan menunjukkan foto Charlie

"Oh Michael. Dia tinggal di sebelah toko ku. Tapi sepertinya dia baru saja pergi dengan Daisy."

"Daisy ?? Siapa dia?" tanya Lukas lagi

"Dia tunangan Michael. Dan kabarnya sebentar lagi mereka akan menikah." seru di pemilik toko.

Lukas nampak terdiam sejenak. Dia mengucapkan terimakasih pada si pemilik toko dan langsung menghubungi John.

"Halo tuan."

"Ada apa? Apa dia benar-benar Charlie? Kau sudah menghabisi nya?" tanya John

"Belum tuan. Tapi sepertinya dia bukan Charlie."

"Apa maksudmu?"

"Wajahnya memang mirip tapi pria itu bernama Michael dan mempunyai tunangan bernama Daisy." terang Lukas

"Apa kau yakin?" tanya John

"Saya sangat yakin tuan. Saya sudah bertanya pada pemilik toko yang ada di sebelah rumah pria itu."

"Kalau dia benar bukan Charlie maka tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Mundur!! Aku tidak mau berurusan dengan polisi, apalagi itu bukan wilayah kita." perintah John

Walaupun John meminta untuk mundur, tapi entah mengapa Lukas merasa ada yang tidak beres. Jadi dia meminta sebagian anak buahnya untuk tinggal untuk mengawasi pria itu, sementara dia dengan yang lain kembali ke markas.

...----------------...

"Apa? Kau tidak jadi membunuhnya?" pekik Henry. Saat ini dia berada di markas John untuk mengetahui apakah John sudah menghabisi Charlie atau belum

"Dia bukan Charlie, Henry. Tapi dia Michael. Dia mempunyai tunangan bernama Daisy. Jadi bagaimana mungkin aku membunuh orang yang tidak ada hubungannya dengan ku? Aku tidak mau salah sasaran." John menenggak minumannya dan kembali berkata, "lagipula aku tidak sekejam itu memisahkan mereka yang sebentar lagi akan menikah." John tersenyum sinis menatap Henry.

"Kau harus membunuhnya, John. Aku yakin dia Charlie." seru Henry meyakinkan.

"Kalau begitu, carilah bukti jika dia benar-benar Charlie, maka malam ini juga aku akan memerintahkan anak buahku yang berada di sana untuk membunuhnya."

Henry nampak terdiam. Bagaimana dia bisa membuktikan jika pria itu adalah Charlie? Dia hanya melihat Charlie saat berada di toko yang sama dengannya. Dia juga tidak bertanya siapa dia karena Henry yakin jika pria itu adalah Charlie.

"Dokter Samuel." gumam Henry. Dia beranjak dan mengatakan pada John jika dia akan mencari bukti jika pria itu adalah Charlie.

Henry bergegas pergi ke rumah sakit, tempat Clara menemui dokter Samuel. Dia menyamar sebagai pasien dan masuk keruangan dokter Samuel setelah memastikan tidak ada orang yang melihatnya.

"Siapa kau?" tanya dokter Samuel. Namun bukannya menjawab, Henry justru menodongkan senjata pada dokter Samuel.

"Katakan!! Untuk apa Clara datang menemui mu?" tanya Henry

Dokter Samuel mengangkat kedua tangannya dengan tubuh yang gemetar ketakutan. "To-tolong jangan bunuh aku!!" ucapnya terbata

"Kalau begitu katakan semua padaku!!" hardik Henry

"Ba-baiklah!!! Di-dia datang hanya untuk berkonsultasi. Te-temannya mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan amnesia. Ja-jadi dia hanya ingin aku memeriksa hasil rekam medis temannya. Hanya itu, sungguh aku tidak berbohong."

"Siapa nama temannya itu?"

"Ka-kalau tidak salah namanya Michael."

Henry menempelkan ponselnya di telinga dan berkata, "Kau dengar itu, John? Dia mengalami amnesia dan sekarang bernama Michael. Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" setelah mengatakan hal itu, Henry memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Dia menatap tajam dokter Samuel dan berkata, "Aku harap kau tutup mulutmu, jika kau masih sayang dengan nyawamu dan juga keluargamu. Atau jika tidak, pistol ku akan membungkam mu untuk selama-lamanya. Apa kau mengerti?" gertak Henry

"A-aku mengerti."

Henry tersenyum sinis dan menyimpan kembali senjatanya. Lalu dia pergi begitu saja dari ruangan dokter Samuel

"Hah.. Aku beruntung. Tapi, siapa dia?" gumam dokter Samuel

Sementara itu, John yang mengetahui jika Michael adalah Charlie yang hilang ingatan segera memerintahkan anak buahnya yang berada di Manhattan untuk melenyapkan pria itu.

Namun Ainsley yang masih berada di depan layar laptopnya, melihat ada bayangan mencurigakan dari jendela rumah Michael.

Ya, setelah diusir, Ainsley terus berada di dalam kamar dan tidak pernah beranjak dari depan laptopnya. Dia melihat Daisy yang terus meyakinkan Michael jika dia adalah seorang penipu yang ingin memanfaatkan Michael.

Ainsley merasa seperti orang jahat, padahal dia hanya ingin membuat Michael ingat kembali dengan jati dirinya.

"Aku memang berbohong padamu, tapi aku bukan penjahat. Justru wanita itu yang jahat, Mich." gumam nya. Dia terus memperhatikan keduanya melalui cctv. Bahkan saat mereka pergi pun, Ainsley tetap menunggunya dengan berdiam diri di balkon. Dan setelah mereka kembali, Ainsley langsung mengawasi mereka melalui spy camera miliknya. Namun saat keduanya memutuskan untuk tidur, tiba-tiba Ainsley melihat bayangan yang tertangkap spy camera miliknya.

"Apa itu tadi?" Ainsley memutar ulang rekaman tersebut dan melihat bayangan seorang pria. Karena merasa curiga, dia pergi ke balkon dan diam-diam melihat menggunakan teropong kecil miliknya.

Terlihat beberapa orang berada di halaman rumah Michael. Mereka mengintip dari jendela dan ada juga yang berusaha mencongkelnya untuk masuk.

"Siapa mereka? Apa mereka pencuri?" Ainsley kembali memperhatikan mereka. Namun setelah jendela berhasil terbuka, mereka mengeluarkan senjata dan mulai masuk ke rumah Michael

"Shiittt!!!" Ainsley mengambil dua senjatanya dan bergegas ke rumah Michael untuk menyelamatkannya.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!