Ainsley berdiri di belakang Michael dan Daisy yang tengah berpelukan saling mengucap kata perpisahan. Dia hanya bisa memutar kedua bola matanya jengah melihat drama di depannya. Daisy hanya pergi tiga hari tapi wanita itu bersikap seolah akan pergi dalam waktu yang lama.
"Hentikan drama ini!! Kalian terlihat sangat menjijikkan." gerutu Ainsley dalam hati. Mungkin jika Daisy benar-benar pergi dan tidak akan kembali, Ainsley akan sangat senang. Namun sayangnya Daisy hanya pergi selama tiga hari saja. Dan selama itu juga waktu yang dia punya untuk membuat Michael mengingatnya.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu, Mich." seru Daisy
"Aku juga " sahut Michael
Ainsley menahan rasa mual di perutnya, "Come on guys!! New York tidak jauh dan kau juga hanya pergi tiga hari. Apa kalian tidak mempunyai ponsel untuk saling menghubungi satu sama lain?" ingin rasanya Ainsley berkata demikian. Tapi sayangnya dia hanya berani mengucapkannya dalam hati.
Daisy mengurai pelukannya dan menatap Ainsley, "ingat pesanku!!" ucapnya memperingatkan. Ainsley hanya mengangguk dan berharap wanita itu cepat pergi. Tapi lagi-lagi Daisy memeluk Michael sangat erat
"Sudah Daisy !! Nanti kau terlambat." seru Michael
Daisy berdecak dan mengurai pelukannya. Dia mendaratkan kecupan manis dibibir Michael dan melambaikan tangannya saat menaiki taksi.
"Hati-hati sayang!!" ucap Michael
"Kau juga Mich."
Ainsley menghela nafas lega karena taksi yang ditumpangi Daisy melaju, semakin lama semakin menjauh. Dan setelah tidak terlihat lagi, Michael mengajak Ainsley untuk masuk.
"Aku dan Daisy sudah makan. Jadi kau bisa langsung mengerjakan pekerjaanmu yang lain. Aku mau ke kamar dulu." seru Michael
Ainsley mengangguk paham. Dia meletakkan tasnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Kali ini dia membawa laptopnya agar lebih mudah menyabotase cctv di rumah Daisy.
Dia akan memutar rekaman kemarin jadi Daisy tidak akan tahu apa yang dia lakukan. Banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Michael. Dan dia juga harus menukar isi obat Michael sekaligus mencari hasil pemeriksaan medis milik Michael.
Ainsley melihat arlojinya. Dia mulai menghitung kapan Daisy tidak akan mengecek cctv di rumahnya. Ya, sebelumnya dia sudah mencari tahu di mana Daisy bekerja dan kegiatan apa saja yang akan wanita itu lakukan selama berada di New York. Jadi dia bisa mencari celah disaat wanita itu sibuk untuk menjalankan aksinya. Apalagi jarak dari Manhattan ke New York sangat dekat. Jadi dia yakin Daisy tidak mempunyai waktu banyak untuk mengawasi mereka.
Ainsley mulai mengerjakan pekerjaannya satu persatu mulai dari membersihkan ruang tamu, dapur dan mencuci baju. Setelah selesai, dia kembali melihat arlojinya.
Sudut bibir Ainsley tertarik keatas. Dia bisa menebak jika saat ini Daisy sedang sibuk-sibuknya. Dia mengambil tasnya dan membawanya ke tempat yang tidak tertangkap kamera cctv. Dia mulai mengotak-atik laptopnya dan tidak membutuhkan waktu lama, dia berhasil menyabotase cctv di rumah Daisy.
"Done!! Sekarang aku bisa bergerak bebas." seru Ainsley senang. Dia kembali ke dapur karena dia ingin menyiapkan camilan untuk Michael. Tentu saja yang dia buat adalah camilan yang biasa Charlie makan. Dia akan membuat Michael ingat dengan kebiasaan-kebiasaan yang dulu pernah pria itu lakukan.
"Akhirnya selesai juga." Ainsley membuat cookies dengan secangkir kopi hitam tanpa gula. Dia membawanya ke ruang santai dan kemudian mengetuk pintu kamar Michael.
"Sir, apa aku mengganggumu?" tanya Ainsley. Namun tidak ada jawaban dari dalam. Dan Ainsley kembali mengetuk pintu lebih keras.
"Sir, kau di dalam?" tanya Ainsley lagi. Namun tetap tidak ada respon. Hal itu membuat Ainsley khawatir. Dia mencoba membuka pintu tapi sayangnya terkunci dari dalam
"Sir!!!" panggil Ainsley. Dia menempelkan telinganya di pintu, namun ia tidak mendengar suara apapun. "Sial!!" Ainsley mengambil ancang-ancang dan mencoba mendobrak pintu kamar Michael.
Dia melakukannya beberapa kali dan akhirnya pintu tersebut bisa terbuka.
Ainsley melebarkan kedua matanya melihat Michael yang tergeletak tidak sadarkan diri di lantai. Dia segera memeriksanya dan beruntung Michael masih bernafas. Namun tetap saja Ainsley merasa khawatir.
"Bangun sir!!" Ainsley menepuk pelan pipi Michael, bahkan dia memberikan nafas buatan dan berharap Michael akan bangun.
"Bangun Charlie!!!" Ainsley kembali memberikan nafas buatan, namun tiba-tiba Michael membuka matanya tepat saat bibir mereka masih bersentuhan.
Michael melebarkan kedua matanya dan mendorong Ainsley hingga terjungkal. "Apa yang kau lakukan?" bentaknya sambil mengusap bibirnya
Ainsley menghela nafas lega. Dia benar-benar takut hal buruk akan terjadi pada pria itu.
"Kau mau mengambil kesempatan saat Daisy tidak ada di rumah, hah?" bentak Michael lagi
Ainsley mendesah dan berdiri, "Begini kah cara anda berterima kasih setelah aku menyelamatkan Anda, Sir?" tanya Ainsley kesal
"Aku mengetuk pintu tapi kau tidak menjawab. Makanya aku mendobrak pintu dan menemukan mu tergeletak di lantai dalam keadaan pingsan. Dan sekarang kau menuduhku mengambil kesempatan?"
Michael terdiam. Dia mengingat-ingat kembali apa yang terjadi. Setelah masuk ke kamar, dia memilih membaca surat kabar. Namun ada berita yang menarik perhatiannya. Yaitu seorang penegak hukum yang berhasil menangkap gembong narkotika. Dia membaca artikel tersebut dengan serius. Namun entah kenapa, tiba-tiba dia mendapat bayangan dimana ada suara tembakan dan juga ledakan. Hal itu membuat kepalanya sakit. Dia mencoba mengambil obatnya, namun dia justru tersungkur dan entah apa yang terjadi, dia tidak tahu.
"Maaf Ainsley. Aku hanya terkejut dengan apa yang kau lakukan." sesal Michael
"Tidak apa-apa sir. Asal kau tidak menganggap ku seperti apa yang kau pikirkan tadi." perlahan Ainsley mendekat dan membantu Michael pindah di tempat tidur. "Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya Ainsley
"Aku ingin minum obatku." ucapnya
Ainsley terdiam. Dia belum sempat menukar isi obat Michael. Mungkin ini kesempatan bagus, selagi dia berada di kamar pria itu.
"Sebentar Sir." Ainsley membuka laci dan menemukan dua botol obat milik Michael. Dia melirik pria itu yang tengah memejamkan matanya. Lalu dia memasukkan obat tersebut ke dalam saku celananya dan menukar isinya dengan obat pemberian dokter. Baru setelahnya dia memberikan dari dokter masing-masing satu untuk Michael. "Ini sir." Ainsley membantu Michael meminum obatnya. Baru setelahnya dia keluar dari kamar Michael dan membiarkan nya untuk istirahat.
Ainsley menghela nafas lega. Dia pergi ke dapur dan menghancurkan obat-obat tersebut dengan blender baru kemudian membuangnya di wastafel.
"Semoga dengan begini, kau cepat mengingat diriku, Charlie." gumam Ainsley
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments