Sementara itu, Michael semakin dekat dengan Ainsley. Entah mengapa dia merasa nyaman dengan wanita itu. Saat berada di dekat Ainsley, Michael merasa sangat bahagia. Kerinduan yang dia rasakan selama ini seolah terobati. Apa orang yang dia rindukan itu adalah Ainsley? Tapi itu tidak mungkin karena Ainsley berasal dari California. Sedangkan dia tidak pernah bepergian sebelumnya. Dan ini pertama kalinya ia mengenal Ainsley. Atau ada yang tidak dia tahu? Apa Daisy menyembunyikan sesuatu darinya?
Namun walaupun begitu ada yang membuat Michael sedih. Besok Daisy akan pulang. Dan dia tidak akan bisa sedekat ini lagi dengan Ainsley.
"Kau kenapa Mich? Apa ada yang mengganggu pikiran mu?" tanya Ainsley.
"Tidak ada. Hanya saja besok Daisy pulang dan kita tidak bisa mengobrol seperti sekarang." seru Michael lesu. Daisy sangat posesif padanya. Dia tidak boleh kemana-mana tanpa wanita itu. Itu sebabnya Michael tidak mengenal siapapun kecuali penjaga toko di sebelah rumahnya.
Dan sekarang dia bisa bercerita sesuka hatinya dengan Ainsley. Terkadang mereka tertawa bersama dan melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Ya, diam-diam Ainsley mengajak Michael jalan-jalan. Tentu saja mereka melakukan penyamaran agar tidak ada yang mengenal mereka. Jangan sampai ada yang tahu dan mengadu pada Daisy karena dia tidak mau di tuduh berselingkuh.
Hal itu yang membuat Michael nyaman dengan Ainsley. Dan memintanya untuk memanggilnya nama saja.
"Lalu kanapa jika Miss Daisy pulang? Bukankah itu bagus." seru Ainsley. Dalam hati dia juga merasa sedih karena mereka tidak bisa seperti sekarang. Tapi setidaknya tiga hari ini dia merasa sangat senang karena bisa dekat dengan Michael
"Ya, kau benar. Tapi kita tidak bisa sedekat ini lagi. Daisy melarang kita untuk berinteraksi. Jika dia tahu, bisa-bisa kau di pecat. Dan aku tidak mau hal itu terjadi."
Ainsley tersenyum. Dia pergi ke dapur dan membuatkan minuman untuk pria itu. "tidak masalah kita tidak bisa seperti ini. Aku cukup senang bisa membuat mu tertawa." ucap Ainsley
Michael mengikuti Ainsley ke dapur dan memeluknya dari belakang. Hal ini sudah biasa mereka lakukan. Tentu saja Ainsley tidak keberatan. Karena alasan Michael melakukannya karena dia merasa nyaman. Itu artinya, walaupun ingatan Michael hilang namun tidak dengan perasaannya.
"Nanti menginap lah disini!! Anggap saja perpisahan kedekatan kita." seru Michael
Ainsley tertawa keras. Dia memutar tubuhnya menghadap Michael. "Perpisahan kedekatan kita? Kau ini ada-ada saja."
"Aku serius Ainsley." ucapnya dengan menatap kedua mata Ainsley. "Aku tidak tahu kenapa seperti ini. Aku selalu mengatakan jika aku mencintai Daisy. Tapi hati ku berkata lain. Justru aku merasa nyaman dengan mu. Di dekat mu, kerinduanku terhadap seseorang seolah terobati."
"Kau boleh mengatakan aku pria brengsek. Tapi inilah yang aku rasakan. Aku tidak ingin menyakitinya tapi aku juga tidak ingin kehilanganmu, Ainsley." lanjut Michael
Ainsley terdiam. Itu juga yang ia rasakan. Dia tidak ingin kehilangan cintanya lagi. Tapi walaupun Michael merasa nyaman dengannya, tapi pria itu belum mengingatnya. Jika dia memaksa Michael untuk pergi dengannya, dia takut Daisy akan melakukan apa saja yang bisa menyakiti Michael.
Mungkin dulu Michael adalah orang hebat karena dia sebenarnya adalah agen FBI bernama Charlie. Namun sekarang Ainsley tidak tahu apakah kemampuan Michael masih sama atau tidak?
Sekarang saja Daisy berani meracuni Michael dengan memberikan obat yang tidak seharusnya. Bagaimana nanti jika Daisy tahu Michael pergi dengannya?
Ainsley yakin Michael tidak akan berani menolak Daisy karena Daisy sudah berjasa dalam hidup Michael. Tanpa Daisy, mungkin Michael sudah mati.
"Baiklah, aku akan menginap. Tapi bagaimana jika tiba-tiba Miss Daisy datang?" seru Ainsley
"Tidak akan. Dia bilang padaku jika dia pulang besok pagi-pagi sekali. Jadi...." Michael memeluk pinggang Ainsley hingga merapat pada tubuhnya, "Kita bisa bersenang-senang nanti malam." ucapnya
"Kau ingin kita bersenang-senang seperti apa?"
"Bagaimana jika kita melakukan sebuah permainan yang menyenangkan? Truth or dare?." seru Michael
"Oke, siapa takut." ucap Ainsley menerima tantangan Michael.
...----------------...
Malam harinya, Ainsley benar-benar menginap di rumah Michael. Dan saat ini mereka berada di ruang santai dengan minuman dan camilan untuk teman begadang.
Ya, karena ini merupakan malam perpisahan untuk mereka, maka mereka. Memutuskan untuk begadang bermain kartu. Siapa yang kalah harus menerima hukuman dengan memilih jujur atau tantangan.
Mereka duduk di atas karpet berbulu. Michael mulai membagi kartunya dan permainan pun di mulai. Mereka terlihat serius seolah tidak mau kalah
"Bersiaplah untuk menerima hukuman, Mich." seru Ainsley
"Kau terlalu percaya diri, Ainsley."
Permainan yang mereka mainkan begitu menegangkan. Michael sangat yakin jika ia akan menang. Begitu juga dengan Ainsley. Dia melirik sekilas wajah Michael yang tersenyum. Lalu pria itu mengeluarkan kartu terakhirnya yang membuatnya menang.
"Yess!!" teriak Michael senang
"Aish... Kenapa bisa kalah? Padahal aku yakin akan menang." gerutu Ainsley
"Kau belum beruntung Ainsley . Sekarang kau pilih, Truth or dare?"
"Kau memilih tantangan." seru Ainsley
"Baiklah. Kalau begitu..." Michael nampak berfikir, kira-kira tantangan apa yang harus Ainsley lakukan.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ainsley
"Cium aku!!"
"Hah..Apa kau yakin?" tanya Ainsley tertawa. Namun Michael menganggukkan kepalanya. Dia yakin Ainsley tidak akan berani melakukannya. Namun di luar dugaan, Ainsley justru mendekati Michael dan mengecup singkat bibirnya dengan cepat.
Cup
Michael tertegun. Dia mengedipkan kedua matanya tidak percaya. "Ka-kau melakukannya?" tanya Michael menyentuh bibirnya
"Aku bukan pengecut. Lagipula itu hanya ciuman." jawab Ainsley santai
Michael menyentuh bibirnya dan tersenyum tipis. Entah mengapa dia menginginkannya lagi. Tapi dia tidak mungkin melakukannya.
"Ayo cepat!! Bagi kartunya!!" perintah Ainsley. Mereka kembali bermain. Tawa mereka menggema di ruang santai sampai tengah malam. Hingga tanpa terasa mereka tertidur dengan posisi Michael duduk bersandar pinggiran sofa sedangkan Ainsley tidur di paha Michael.
...----------------...
Keesokan harinya, Ainsley terbangun dan menatap Michael yang masih tertidur. Dia tersenyum sejenak dengan tangannya yang terangkat dan ingin mengusap wajah tampan Suaminya itu. Namun ia mengurungkan niatnya. Dia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi.
Ainsley buru-buru bangun dan membereskan ruang santai yang penuh dengan sampah snack dan botol minuman. Baru setelahnya, ia membuatkan sarapan untuk Michael.
"Sebentar lagi Daisy datang. Dan kita tidak bisa tertawa lagi, Mich." batin Ainsley. Dia tidak tahu saja jika saat ini Daisy hampir sampai rumah dengan raut wajah yang menahan marah.
Dia mengepalkan tangannya erat dan bersiap untuk memberi pelajaran pada Ainsley karena sudah membohonginya. "Harusnya aku tidak percaya padamu, Ainsley. Kau adalah pembohong besar!" batin Daisy geram.
Setelah membayar taksi, dia segera masuk dengan kedua tangan yang mengepal. Dia membuka pintu dengan kasar dan berteriak memanggil Ainsley.
"AINSLEY!!"
Michael keluar dari kamarnya saat mendengar teriakkan Daisy. Dia penasaran, kenapa Daisy tiba-tiba berteriak begitu keras?
"Daisy , kau sudah sampai?" tanya Michael
"Dimana Ainsley?" bukannya menjawab, Daisy justru bertanya tentang keberadaan Ainsley dengan nada marah.
"Ada apa Daisy? Kenapa kau seperti marah padanya?"
"Karena dia seorang penipu, Mich." Daisy berjalan melewati Michael begitu saja dan mencari Ainsley ke belakang.
"Ainsley !!" teriak Daisy lagi
Ainsley yang saat itu tengah menjemur baju, hanya menghela nafas panjang mendengar teriakkan Daisy. "Dia sudah datang." Ainsley menyelesaikan pekerjaannya dan kemudian menghampiri Daisy. "Ada apa Miss?" tanyanya
Daisy tidak menjawab. Dia mendekati Ainsley dengan wajah merah padam dan menyeretnya keluar dari rumahnya.
"Miss, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menarik ku keluar? Protes Ainsley. Begitu juga dengan Michael , dia terus bertanya pada Daisy, apa yang ia lakukan? Namun Daisy hanya berkata, "Mulai hari ini kau tidak perlu lagi bekerja di sini. Kau ku pecat." ucapnya
Baik Michael maupun Ainsley terkejut mendengar ucapan Daisy. Mereka berfikir, apakah Daisy mengetahui kedekatan mereka?
"Sayang,..." ucapan Michael tertahan saat Daisy mengangkat tangannya meminta Michael untuk diam. Dia mendekati Ainsley dan mencengkeram dagunya. "Aku tahu siapa kau, bitc*. Kau datang dengan harapan Michael adalah suamimu yang mati itu, bukan? Tapi sayangnya dia adalah Michael, tunangan ku. Bukan suamimu, Ainsley Walker." bisik Daisy. Dia tersenyum sinis dan melepas dagu Ainsley dengan kasar.
Ainsley terdiam karena identitasnya sudah ketahuan. Entah bagaimana wanita itu bisa tahu. Dan sekarang dia tidak mempunyai kesempatan untuk dekat dengan Michael lagi.
Tapi apa dia akan berhenti begitu saja? Tentu saja tidak. Saat Daisy hendak menutup pintu, Ainsley berkata, "Hari ini, kemarin, dan seterusnya, aku akan selalu bahagia asalkan kau mau menghabiskan sisa hidup mu bersamaku. Kau tahu kenapa? Karena kau adalah sumber kehidupanku." ucapnya sambil menatap Michael
Mendengar hal itu, tiba-tiba kepala Michael berdenyut sakit. "Akh..." Michael berteriak kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Mich, kau tidak apa-apa?" tanya Daisy khawatir. Dia menatap Ainsley tajam dan mendorong wanita itu hingga tersungkur "Dasar wanita sialan!!" umpat Daisy. Dia menutup pintu dengan keras, meninggalkan Ainsley yang terdiam dengan wajah sendunya.
"Charlie!!" lirihnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ❤️⃟Wᵃf 𝐊𝐢𝐤𝐲𝐀⃝🥀
ihhh geram aku sama rubah licik ini😒
2023-09-23
0