Bab 15 De Javu

Ainsley mendapat telepon dari Clara jika ia berhasil merusak sistem cctv di rumah Daisy. Dengan begitu Daisy akan mengira jika cctv nya rusak. Dan sekarang Ainsley bisa bergerak bebas. Dan saat ini ia tengah berdiri didepan pintu kamar Michael untuk mengatakan jika makanan sudah siap dari tadi.

"Sir, makanan sudah siap. Kau ingin makan di ruang makan atau di kamar?" tanya Ainsley. Dia mengetuk pintu sekali lagi saat tidak ada respon dari Michael di dalam. "Sir!!" panggil Ainsley lagi

Tidak berapa lama pintu tersebut terbuka. Terlihat Michael berdiri tegak di depannya dengan wajah yang segar dan aroma maskulin yang menusuk indera penciuman. Benar-benar harum. Sepertinya pria itu baru saja mandi. Pikir Ainsley

"Ma-makanan sudah siap Sir. Kau ingin...."

"Aku akan makan di ruang makan." Michael berjalan melewati Ainsley begitu saja.

Ainsley tersenyum dan mengekor di belakang pria itu. Dia berdiri tidak jauh dari Michael yang sudah duduk di kursi meja makan. Namun entah mengapa, Michael tidak kunjung mengambil makanannya dan hanya melihatnya saja.

"Ada apa Sir? Apa kau tidak suka dengan masakannya?" tanya Ainsley

"Tidak, bukan begitu. Tapi ini bukan makanan yang biasa Daisy siapkan untukku." seru Michael

Ainsley tersenyum. Memang makanan yang ia buat tidak seperti yang Daisy katakan padanya. Dia sengaja membuat makanan lain yang tentu saja makanan itu yang biasa atau pernah Charlie makan.

"Maaf Sir. Kau bilang sering merasa sakit di bagian kepalamu. Jadi aku berfikir mungkin kau membutuhkan makanan sehat. Jadi aku menyiapkan makanan ini. Tapi jika kau tidak menyukainya, aku akan membuatkan yang baru." ujar Ainsley

"Tidak perlu. Aku tidak suka membuang-buang makanan. Aku akan mencobanya." Michael memasukkan makanan kedalam mulutnya. Dia mengunyah pelan makanan tersebut dan tertegun menatap Ainsley. "Enak." ucapnya

"Syukurlah jika kau suka." Ainsley tersenyum dan membuatkan segelas susu hangat untuk Michael. Dia tersenyum senang menatap Michael yang lahap memakan masakannya. Dia jadi teringat setiap mereka makan, Charlie akan memuji masakannya dan memberinya ciuman sebagai tanda terimakasih.

"Aku merindukanmu, Charlie." batin Ainsley. Tanpa terasa air matanya menetes. Dia buru-buru menghapusnya dan kembali ke dapur untuk mencuci perkakas bekas ia memasak. Tapi tanpa ia duga, Michael mengikutinya ke dapur dan memeluknya dari belakang.

Deg

Tubuh Ainsley menegang. Jantungnya berdetak kencang. Ada apa ini? Apa Michael mengingatnya?

Kedua mata Ainsley berembun. Rasanya dia ingin berbalik dan membalas pelukan Michael. Namun ucapan pria itu membuatnya mengurungkan niatnya.

"Maaf Ainsley, tapi ijinkan aku memelukmu sebentar saja." lirih Michael

Ainsley hanya mengangguk pelan. Begini saja dia sudah sangat senang. Anggap aja Michael mulai mengingatnya sedikit demi sedikit.

"Andai waktu bisa berhenti, aku ingin seperti ini lebih lama lagi." batin Ainsley. Namun dia merasa kecewa karena Michael langsung melepas pelukannya.

"Ma-maaf jika aku lancang." ucapnya.

Ainsley menggelengkan kepalanya dan berbalik menatap Michael, "tidak apa-apa Sir. Mungkin kau seperti ini karena merindukan Miss Daisy." ucapnya

"Tidak, bukan Daisy. Aku merasa merindukan seseorang. Dan aku yakin bukan Daisy. Apalagi saat aku makan masakan mu, aku merasa aku pernah memakannya. Tapi aku tidak ingat kapan dan dimana aku mengalaminya." seru Michael

Sejenak Ainsley tersenyum, itu artinya ia berhasil merangsang ingatan Michael. Mungkin dia harus melakukan hal lain yang biasa Charlie lakukan agar Michael mengingatnya. Tapi dia tidak boleh terburu-buru karena takut Michael akan mengalami kesakitan di bagian kepalanya.

"Mungkin kau merindukan keluarga mu, sir." seru Ainsley

Michael menggelengkan kepalanya lagi, "tidak mungkin. Daisy bilang aku tidak mempunyai keluarga. Sejak dulu aku hidup sendiri." seru Michael

"Dia bohong Mich. Kau punya keluarga. Kau mempunyai ibu dan juga seorang istri." ingin rasanya Ainsley mengatakan hal itu. Namun dia tidak sanggup mengutarakannya.

Ainsley menarik Michael untuk duduk di ruang santai. Dia mulai mengajaknya berbincang ringan. "Kalau kau tidak mempunyai keluarga, kenapa kau bisa merasakan hal itu? Apa aku pernah kecelakaan dan mengalami amnesia?" tanya Ainsley hati-hati

"Amnesia?"

"Ya, amnesia. Aku mempunyai kenalan. Dia mengalami kecelakaan hebat namun saat dia sadar, dia tidak mengingat siapapun. Namun setiap dia melakukan sesuatu, dia merasa De Javu.

Michael terdiam. Selama ini dia selalu mengalami sakit kepala yang luar biasa. Apa dia pernah mengalami kecelakaan sebelumnya? Tapi Daisy mengatakan jika itu hanya sakit kepala biasa. Itu sebabnya ia harus mengkonsumsi obat-obatan pemberian wanita itu

"Kenapa kau diam?" tanya Ainsley

"Entahlah Ainsley , aku tidak tahu apakah aku pernah mengalami kecelakaan atau tidak. Namun, aku selalu melihat bayangan aneh melintas di ingatanku. Tapi aku tidak tahu apa dan siapa dia?"

"Tidak perlu terburu-buru sir. Jika kau memaksa mengingatnya, kepalamu akan sakit."

"Bisa kau ceritakan tentang temanmu itu?" pinta Michael

Ainsley tersenyum. Dengan senang hati ia akan menceritakannya. Dia memulai ceritanya saat pertama kali ia bertemu dengan Charlie, dimana mereka pernah menjadi teman yang sangat dekat dan melakukan kegiatan apa saja bersama-sama.

Tentu saja ia tidak mengatakan jika Charlie adalah suami/kekasihnya. Dia hanya menyebutnya seorang teman. Namun, apa yang ia ceritakan adalah masa lalu Michael sebelum hilang ingatan.

Hal itu membuat Michael merasa aneh. Lagi-lagi bayangan itu melintas di pikirannya. Namun kali ini dia tidak mengalami sakit di kepalanya.

"Ainsley, apa kita pernah bertemu sebelumnya? entah mengapa aku merasa, kita melakukan hal yang kau katakan tadi." seru Michael

"Jika aku mengatakan iya, apa kau akan percaya?"

Michael terdiam. Pengakuan Ainsley membuatnya bingung. Jika benar mereka pernah bertemu sebelumnya, tapi kenapa dia tidak mengingat Ainsley sama sekali? Dia hanya merasa pernah melakukan apa yang Ainsley ceritakan

"Kita pernah bertemu sebelumnya di pantai sir. Apa kau lupa?" kekeh Ainsley. Dia tidak ingin karena ucapannya, Michael akan menganggapnya membual dan curiga dia mendekatinya karena maksud tertentu. Mendengar dia merasa pernah mengalami hal yang sama seperti yang ia ceritakan saja sudah membuatnya sangat senang. Jadi, dia percaya, secara perlahan Michael akan mengingatnya nanti.

"Ck.. Kau membuatku takut saja." gerutu Michael . "Aku kira kita benar-benar pernah bertemu sebelumnya." ucapnya lagi

"Memangnya kenapa?"

"Ya aku rasa, itu tidak mungkin. Kau dari California sedangkan aku dari New York." seru Michael

Ainsley hanya tersenyum, sekarang dia menyesal karena mengaku dari California. Namun jika dia mengatakan pada Michael jika mereka berasal dari kota yang sama, bisa-bisa dia di diberi uang dan diminta untuk pulang sekarang.

"Ya sudah, aku mau istirahat dulu. Jika pekerjaan mu sudah selesai, kau juga boleh istirahat. Atau kau ingin pulang? Aku tidak masalah." seru Michael

"Terimakasih sir. Tapi aku akan pulang setelah jam bekerja ku selesai." sahut Ainsley

Michael hanya mengangguk saja. Dia memilih kembali ke kamar dan segera mengirim pesan pada Daisy , tentang apa yang ia lakukan. Tapi mungkin lebih baik dia tidak mengatakan tentang obrolannya dengan Ainsley. Bisa-bisa wanita itu langsung di pecat oleh Daisy

Michael membaringkan tubuhnya setelah mengirim pesan untuk Daisy. Dia menghela nafas panjang dan kembali teringat cerita Ainsley tentang temannya. Dia merasa, apa yang temannya alami pernah terjadi padanya. Tapi dia tidak mengingatnya.

"Huh.. Semua ini membuatku pusing. Lebih baik aku tidur." Michael mulai memejamkan matanya dan tidak membutuhkan waktu lama, ia terlelap dalam tidurnya. Namun ada yang aneh dengan Michael. Dia terlihat gelisah dalam tidurnya dan keringat dingin menetes dari pelipisnya.

"Charlie Walker!!"

Michael menoleh saat seorang wanita memanggilnya dengan nama Charlie. Wajah wanita itu tidak begitu jelas, namun terlihat dia merentangkan kedua tangannya seolah ingin Michael berlari kearahnya dan memeluknya.

"Aku merindukanmu, Mr. Walker."

Michael mencoba meraih tangan wanita itu, namun tiba-tiba terdengar suara tembakan. Michael terkejut dan menunduk menutupi kepalanya. Namun tiba-tiba sebuah ledakan terjadi di depan matanya.

DUUUAARRR

Michael terpental karena ledakan tersebut dan tidak berapa lama dia tersentak bangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah.

"Mimpi itu, kenapa terlihat seperti nyata?"

Terpopuler

Comments

jenny

jenny

sedih bgt lhoo... orang yang kita sayang dan ada di dekat kita, tapi kita gak bisa memeluknya.

2023-09-17

0

☠ᵏᵋᶜᶟ❤️⃟Wᵃf 𝐊𝐢𝐤𝐲𝐀⃝🥀

☠ᵏᵋᶜᶟ❤️⃟Wᵃf 𝐊𝐢𝐤𝐲𝐀⃝🥀

emg nyata kali man kau aja yg ga ingat

2023-09-17

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!