Sementara itu, Daisy yang bekerja di salah satu perusahaan di Manhattan terlihat gelisah. Dia memikirkan Michael yang hanya berdua saja dengan Ainsley di rumah. Dia takut Ainsley akan menggoda Michael atau sebaliknya. Untuk itu dia mengeluarkan ponselnya dan mengecek keduanya melalui cctv yang terhubung langsung dengan ponselnya.
Dia melihat Michael yang menonton film di ruang santai sedangkan Ainsley membersihkan ruangan lain.
Daisy menghela nafas lega karena keduanya tidak berada di satu ruangan yang sama. Tapi dia tetap tidak boleh lengah. Dia harus waspada karena sesuatu bisa saja terjadi dan Dia tidak ingin kehilangan Michael untuk kedua kalinya.
Dia terus mengawasi keduanya sampai dia merasa ada yang aneh karena Michael dan Ainsley melakukan aktivitas yang sama selama beberapa menit terakhir dan mereka tidak beralih bersama sekali.
Daisy mengira ada yang salah dengan kamera cctv nya. Dia hendak menelepon Michael untuk menanyakan apa yang sedang pria itu lakukan. Tapi belum sempat ia melakukannya, rekan kerjanya menghampirinya
"Daisy, kau dipanggil Manager." seru Damian
"Aku?" tangannya menunjuk diri sendiri
"Menurutmu ada berapa orang bernama Daisy disini? Cepat kau kesana!! Jangan sampai manager marah." Damian pergi setelah mengatakan hal itu. Sementara Daisy menggeram kesal. Dia melirik ponselnya lagi sebelum akhirnya menemui managernya.
"Ada apa manager memanggilku?" gumamnya. Dia mengetuk pintu ruangan manager dan setelah mendapatkan ijin, dia membuka pintu dan masuk keruangan tersebut.
"Ada apa anda memanggilku, sir?" tanya Daisy
"Begini, besok kau temani aku ke New York untuk memantau proyek di sana." seru James, selaku manager di perusahaan tersebut.
"A-apa? Aku?"
"Ya, aku lihat kau lebih bisa di andalkan daripada yang lain. Jadi persiapkan dirimu untuk besok. Kita akan berangkat pagi-pagi sekali dan menginap selama tiga hari." ujar James
"Ta-tapi sir, bagaimana dengan tunanganku? Dia sedang sakit dan aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja?"
"Kalau begitu, kau sewa saja suster untuk mengurusnya. Lagi pula ini menyangkut perusahaan dan juga jabatanmu. Jadi aku harap kau bersikap profesional. Sekarang kau boleh keluar."
"Baik sir." Daisy berjalan gontai keluar dari ruangan James. Dia tidak mungkin bisa meninggalkan Michael selama itu. Apalagi ada Ainsley sekarang.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Daisy . Dia duduk di kursinya dan kembali mengecek cctv di rumahnya. Kini Ainsley terlihat tengah membersihkan ruang santai sementara Michael entah di mana. Dia mengecek di berbagai cctv dan ternyata Michael sedang beristirahat di kamar.
"Aku tidak akan bisa meninggalkan mu, Mich. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan pekerjaanku." Daisy menghela nafas panjang. Lebih baik sekarang dia menyelesaikan pekerjaannya dan pulang cepat. Dia akan membicarakannya dengan Michael tentang kepergiannya besok. Dan dia berharap, Ainsley tidak macam-macam.
...----------------...
Hari sudah sore dan Ainsley sudah selesai bekerja. Dia ingin pulang, tapi dia harus menunggu Daisy terlebih dahulu karena takut wanita itu membutuhkan sesuatu.
Sebenarnya tidak masalah jika dia tidak pulang sekalipun karena dia bisa berduaan dengan Michael. Tapi apa gunanya jika mereka tidak bisa bebas berbincang?
Daisy pasti akan mengira dia menggoda Michael. Dan sudah dipastikan wanita itu tidak akan percaya ucapannya dan memilih untuk memecatnya.
Dia tidak ingin dipecat, setidaknya sebelum dia bisa meyakinkan Michael jika pria itu adalah suaminya yang bernama Charlie.
"Jika kau ingin pulang, tidak apa-apa. Nanti aku akan bilang pada Daisy." seru Michael
"Tidak sir. Aku akan pulang nanti. Aku takut jika Miss Daisy pulang nanti, dia membutuhkan sesuatu." sahut Ainsley
Michael hanya mengangguk saja. Dia juga tidak bisa memaksa. Seharian mereka berada di satu atap tapi sama sekali tidak mengobrol kecuali menanyakan hal penting saja.
Michael merasa bosan. Tapi mau bagaimana lagi? Itulah aturan yang di buat Daisy. Dan dia tidak ingin membuat Ainsley dalam masalah.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Daisy sampai di rumah. "Aku pulang!!" seru Daisy
Michael menyambut Daisy dengan senyuman. Tidak lupa satu kecupan manis ia berikan. Dan lagi-lagi Ainsley hanya bisa memutar kedua bola matanya malas.
"Ada yang ingin aku katakan pada kalian." seru Daisy
Seketika Ainsley terdiam. Apa Daisy tahu jika ia menyabotase cctv di rumahnya? Pikir Ainsley. Tapi saat mereka berada di ruang tamu, Daisy justru mengatakan sesuatu yang membuat raut wajah Ainsley berubah seketika.
"Begini, besok aku harus akan pergi ke New York untuk mengecek proyek di sana. Dan mungkin aku akan menginap beberapa hari." seru Daisy
"Kenapa mendadak?" tanya Michael
"Aku juga tidak tahu Mich. Tapi ini perintah atasan. Aku sudah menolak tapi ini demi perusahaan dan jabatan ku di pertaruhkan."
Michael menghela nafas dan memeluk Daisy, "Tidak masalah sayang. Kau pergi saja. Aku akan baik-baik saja di sini. Aku akan menunggumu kembali." seru Michael
"Thanks Mich."
Jika Daisy merasa sedih karena harus pergi, tapi tidak dengan Ainsley. Dia justru merasa senang. Rasanya dia ingin berteriak keras. Tapi dia mencoba menahannya karena takut Daisy akan curiga.
"Dan untuk kau, Ainsley. Selama aku tidak ada di rumah, aku harap kau tidak macam-macam. Setelah pekerjaan mu selesai, kau boleh pulang " seru Daisy
"Baik Miss. Saya mengerti." Sahut Ainsley. Jika anda tidak membutuhkan sesuatu, saya permisi pulang. Saya sudah selesai mengerjakan pekerjaanku." pamit Ainsley. Tapi Daisy tidak perduli dan memilih membenamkan wajahnya di dada bidang Michael
Ainsley memutar kedua bola matanya jengah. Dia mengambil tas nya dan pergi dari sana.
Senyum di wajah Ainsley tidak luntur setelah keluar dari rumah Daisy. Ini kesempatan bagus. Mulai tiga hari kedepan, dia bisa berduaan dengan Michael dan dia akan membuat pria itu mengingat kembali siapa dirinya. Tapi sepertinya dia harus menyabotase cctv di rumah Daisy terlebih dahulu agar dia bebas melakukan apapun. Ide yang bagus.
Tapi sebelum itu dia akan pergi ke rumah sakit. Apalagi hari masih sore, masih ada waktu untuk berkonsultasi mengenai penyakit Michael sekaligus menanyakan tentang obat yang pria itu konsumsi.
Sebenarnya dia sedikit curiga pada Daisy. Dia takut wanita itu memberikan obat yang yang tidak sesuai dan malah menghambat pemulihan ingatan Michael.
Daisy terobsesi pada Michael. Jadi dia yakin wanita itu akan melakukan apapun termasuk meracuni Michael agar pria itu tidak bisa mengingat kembali jati dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments