"Kamu kok kaget gitu sih? tidak masalah kan seorang wanita menemui tunangannya?!"
Angkasa menyentak tangan perempuan yang diketahui bernama Dian itu, kemudian menyisir rambutnya dengan jari untuk memperbaiki pandangannya. "Ah maaf saja, tolong tambahkan mantan di depannya, mantan tunangan." Kata Angkasa dengan senyum simpul.
Aina memberengut, bibirnya yang kecil kemerahan nampak sangat kaku melihat keakraban laki-laki yang telah menjadi suaminya itu dengan perempuan cantik, mantan tunangannya.
Mantan tunangan? Mereka mantan tunangan. Tapi kenapa Kak Asa biasa saja saat perempuan ini bertingkah manja padanya. Belum pernah aku melihat Kak Asa serendah hati ini dengan perempuan. Aina menggumam dalam hati.
Dia menghela napas berat, berupaya untuk baik-baik saja, atau mungkin berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja.
"Ih, kamu masih tukang marah seperti dulu ya? tidak berubah dari kecil," gerutu Dian sambil tertawa kecil dan memukul lengan Angkasa. "Iya iya mantan tunangan."
Tidak cukup sampai di situ, Dian bertingkah seakan hanya ada dia dan Angkasa saja di sana. Jemarinya yang lentik begitu lincah mencari sentuhan di badan Angkasa, dia mencubit kecil hidung Asa dan menggoyang-goyangkannya, ini membuat Aina sangat terganggu, dadanya terasa sangat panas dan berdentum sangat kuat, seperti lahar gunung berapi yang siap keluar. Dia terlihat benar-benar cemburu.
Tetapi untungnya Angkasa langsung menepis tangan perempuan itu, memberi sela untuk Aina jadi sedikit tenang.
"Lepas Dian, tolong jangan sembarangan."
"Ya ampun, iya maaf Kapten pemarah." Ujar Dian menggerutu.
"Sudah, aku mau mengantar istriku pulang dulu, kamu tunggu saja di sini sebentar lagi Nico sampai."
Pengakuan yang keluar dari mulut Angkasa itu, bagai angin segar yang melegakan lahar panas di hati Aina, namun sebaliknya tidak untuk Dian.
"Ehmm, istri?" tanya Dian dengan mata membulat.
Perempuan itu terkejut saat Angkasa meraih tangan Aina dan menggenggamnya erat. Dan dengan lantang menunjukkan kemesraan itu di hadapan Dian.
"Iya, ini istriku. Kenapa terkejut begitu? Kami sudah menikah beberapa bulan yang lalu, maaf kalau tidak pakai undangan karena pernikahan kami memang kecil-kecilan. Sudah ya aku harus mengantarnya pulang, dah."
Dian tidak menjawab, mulutnya membisu sementara badannya mematung. Ada perasaan sesak yang mengganggu, semacam kabut yang menutupi dadanya begitu rapat hingga membuat napasnya tersengal. Angkasa tetap menggenggam tangan istrinya dan pergi meninggalkan Dian di sana.
Sementara dari balik dinding, tanpa disadari siapa pun, Nicolo sudah berdiri menyandar dengan tangan melipat depan dada. Setelah Angkasa dan istrinya pergi, barulah Nico keluar.
"Dian, bos sudah menikah, mereka saling mencintai, jadi jangan berfikir untuk masuk ke kehidupan mereka, dan mencoba merebut bos dari istrinya." Ujar Nico dengan ekspresi datar. "Dia membiarkan mu bersikap manja, karna dia sudah menganggap kita saudara, dia masih menghargai kamu sebagai keluarga. Kamu sudah seperti adik bagi kami, terutama bagi Bos, tidak lebih sama sekali. Jadi kamu juga harus memikirkan perasaan istrinya. Berhenti bertingkah terlalu akrab seperti tadi."
Nico mengusap rambut kepalanya dengan jemari sementara tangan lainnya berpose, berkacak pinggang lengkap dengan setelan jas nya yang terbuka.
Aih, Nico menghela napas berat sambil menggumam. Aku benar-benar heran pada wanita, kenapa kalian seperti sangat buta pada cinta. Jujur saja aku benar-benar risih melihat Dian bermanja-manja pada bos seperti tadi, apalagi Aina, dia pasti sangat sedih. Yah, walau pun kami bertiga sahabat dari kecil, tapi sikap Dian yang seperti ini sangat mengganggu, membuatku kesal.
"Benarkah? bagaimana jika mereka tidak saling mencintai?" Kata Dian selagi membuang muka dari Nico. "Aku sudah merelakan membatalkan pertunangan kami waktu itu, karna aku tau dia belum mencintai ku, aku tidak mau dia jadi membenciku jika meneruskan pernikahan. Tentu saja aku tidak rela persahabatan kita yang sudah terjalin sejak kecil hancur begitu saja dan membuatnya benar-benar pergi dariku."
Dian menghentikan kata-katanya sejenak untuk menoleh pada Nico, matanya yang berbinar menatap Nico penuh keyakinan. "Makanya aku membatalkan pertunangan itu, dan bertekad akan membuatnya jatuh cinta padaku, aku sendiri yang akan membuatnya melamarku. Sekarang kesempatan ku sudah datang, masa aku harus menyerah? aku tidak rela pengorbanan ku sia sia. Dulu aku mengalah saat Angkasa mengatakan tidak mencintaiku, aku memahami karena dia memang pemilih untuk perempuan. Tapi buktinya sekarang dia bisa menikah, walaupun ini adalah pernikahan paksa. Jadi biarkan aku berjuang ya?!"
Sungguh sial, Nico menghardik dalam hati. Dian, perempuan 25 tahun itu, memang sudah menaruh hati pada Angkasa dan mencintai lelaki itu dengan sepenuh hatinya. Dia tidak berubah, tetap keras kepala seperti dulu. Semua orang tahu, dan memang diakui mereka adalah sahabat karib. Tapi bagi Nico, ia juga tidak rela kalau Dian menghancurkan kebahagiaan Angkasa dan Istrinya.
Mata Nico melegam, cahaya temaram berpijar pada kelopak matanya yang berlapis. Lelaki Mafia itu, membalas pandangan mata bersoflen milik Dian dengan datar dan tajam, seolah-olah tengah menyampaikan kekesalannya.
Kita berteman sejak kecil, bos walaupun dia dingin tapi dia memiliki kasih sayang yang hangat, aku bisa merasakannya terutama saat aku di culik 6 tahun lalu. Dia berlumur darah menyelamatkan aku. Tentu saja aku tidak rela kamu hancurkan dia.
Dian, kamu tahu bos, dia menyayangi kita seperti saudaranya, 20 tahun sudah kita bersama. Apa kamu rela menghancurkannya, karna ambisi murahan kamu? pikir Nico. Kemudian dia menghela napas dalam-dalam lalu berkata dengan suara berat;
"Yah, terserahlah padamu, tapi aku berada pada sisi gadis itu. Jadi maaf saja walaupun kita sahabat dari kecil, aku tetap tidak akan mendukungmu untuk urusan ini. Kamu mengganggu, kamu berhadapan denganku."
"Iya tidak masalah, kita sama sama berjuang ya Nico. Tanpa dukunganmu pun aku bisa memperjuangkan Angkasa."
Ketika Dian berbicara lagi, suaranya berupa bisikan, dan tidak lebih keras dibanding desis amunisi yang disusun prajurit di lapangan dan bunyi mesin jet yang sedang dihidupkan.
"Tidak." Nico menggeleng dan merapikan jasnya, seakan-akan tindakan tersebut sanggup menghapus kepercayaan diri Dian. "Kita lihat saja nanti, seperti apa kamu akan sakit."
Ketika memandang Nico lagi, Dian bersumpah bahwa untuk sesaat, mata lelaki konyol itu menunjukkan sisi mafianya. Tapi ia tak mau kalah, meskipun tanpa dukungan sahabat sekali pun, Dian tahu Angkasa dan Aina tidak saling mencintai. "Aku tahu Angkasa sangat sulit menaruh hati pada wanita, dan aku tahu kalau perempuan yang dinikahinya itu adalah kekasih Samudera." katanya.
"Siapapun yang dinikahinya, itu bukan urusan kamu."
"Aku tahu," Dian gemetar lagi. "Tapi pasti ada sebab kenapa tiba-tiba Angkasa menikahi kekasih Sam. Angkasa pasti tidak mencintai gadis itu, begitu juga sebaliknya, gadis itu juga pasti lebih mencintai Samudera."
"Kamu seperti kehabisan akal," kata Nico. "Tidak semua urusan mereka harus kamu ketahui. Kalau mereka tidak saling mencintai tidak mungkin bertahan sampai sekarang! Angkasa sudah menikah, dia sudah memiliki istri. Sekarang kamu sudah tahu kenyataannya kan, jadi mundurlah sebelum kamu sakit hati lagi."
Kehancuran membanjiri Dian seperti gelombang besar yang cepat, sehingga ia hampir tak sanggup berdiri. Dian tak menyangka bahwa sambutan Nico sangat pedas untuknya.
Istri? tentu saja aku tahu, aku tidak pernah ketinggalan berita soal Angkasa. 3 tahun aku pergi ke luar negeri aku tidak pernah mau melewatkan satu pun kabar tentangnya. Tapi kenapa? kenapa malah tiba-tiba dekat dan menikahi orang lain, bahkan keluarganya pun setuju bila aku bersanding denganmu Asa, tidak bisakah kamu menungguku untuk berhasil membuatmu mencintaiku?
Aku tahu Asa, kamu pasti sangat tersiksa menikahi gadis itu, kamu pasti terpaksa menikahi kekasih Samudera, kan? Ada masalah sampai kamu harus menikahinya, kan?
Jadi kamu tenang saja, aku pasti akan membuat dia meninggalkan kamu, dan membuat kamu jatuh cinta padaku, tunggu aku ya Sa, aku tahu kamu risih dan sulit jatuh cinta dengan perempuan selama ini. Dian menggumam untuk meyakinkan diri.
Dian mengangkat dagu dan memandang Nico tajam. "Tak akan. Kali ini aku tidak akan sakit hati."
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
yakin sekali kamu, dian
2024-02-03
0
Sri Rahayu
"tak akan...kali ini aku tak akan" berhasil kamu utk mendapatkan Angkasa wahai Dian....karena.Angkasa uda mencinta Aina....🤪🤪🤪
2023-09-28
1
baby eunhyuk / Xoblisss
yg ngejar Angkasa knp kaya orang setres semua sih! aina jaga suami kamu, Angkasa itu suami walaupun blm kamu cintai
2023-09-21
1