"Yah, maaf-maaf." Paman berkumis meminta maaf kepada Azam dengan tulus karena memperlihatkan pertengkarannya dengan Aldi si pria kecil.
Sekarang, mereka bertiga sedang berada di dalam sebuah ruangan yang bersih, berbeda dengan tampilan luar bangunan itu yang terlihat bobrok dan tidak terawat.
Bahkan ruangan itu sangat lengkap, dengan sofa empuk dan meja berkualitas, rak dengan buku yang cukup banyak, lampu gantung yang indah, dan pernak-pernik lainnya yang memperindah ruangan.
Azam tidak tahu alasan mengapa ruangan ini sangat bagus sementara itu bagian luar dari bangunan ini sangatlah bobrok dan tidak layak untuk dipandang.
"Lalu, kalian ini siapa?" Azam memutuskan untuk tidak basa-basi dan langsung menanyakan identitas kedua pria di depannya.
"Namaku Ari, dan dia, yah, kamu sudah tau. Pertama, kenapa kamu bisa tahu tempat ini?" Paman berkumis memperkenalkan dirinya kemudian bertanya kepada Azam.
"Dari Devina." Azam menjawabnya dengan singkat.
"Ah, dari nona muda. Sederhananya, ini adalah tim tidak resmi dari Fiota Grup. Tugas kami adalah mencari berita dengan cara apa saja," jelas Ari dengan ekspresi serius.
Azam menyentuh dagunya dan berkata setelah mencerna informasi dari Ari. "Dengan segala cara, ya. Kurasa aku paham tentang pekerjaan kalian."
"Begitulah. Kami adalah senjata rahasia bagi Fiota Grup." Ari mengangkat bahunya dan berkata dengan nada santai.
Alasan Ari memberitahu kalau mereka adalah senjata rahasia bagi Fiota Grup adalah karena Devina yang merupakan anak dari pemilik Perusahaan Fiota Grup menuntun Azam ke tempat mereka.
Jika Azam datang karena orang lain yang tidak ada hubungannya dari Fiota Grup, maka Ari tidak akan memberitahu hal-hal tentang mereka kepada Azam dan mungkin akan memberi penjelasan yang tidak valid.
"Senjata rahasia. Jadi, kenapa Devina mengarahkanku ke sini?" Azam bertanya dengan penasaran karena masih tidak tahu apa tujuan Devina yang sebenarnya.
"Hm, Nona muda ingin kamu membantu kami, maaf, kurang tepat. Nona muda ingin kamu bekerja dengan kami," kata Ari dengan tangan dilipat di depan dada.
"Bekerja dengan kalian? Untuk apa?" Azam mengerutkan keningnya dan bersiap untuk pergi dari sana karena dia malah diminta untuk bekerja dengan mereka.
"Mana ku tahu, nona muda yang ingin kamu bekerja dengan kami. Tapi sebelum itu, gimana kalau kamu lihat tugas kami saat ini?" Ari mengangkat bahunya dan berkata dengan nada santai.
"Usulan yang bagus, mana?" Azam mengangguk dan memutuskan untuk melihat tugas apa yang sedang mereka jalani saat ini.
Aldi yang mendengar hal itu berdiri dari sofa dan berjalan menuju kabinet di belakangnya. Dia mengambil dokumen dengan map berwarna kuning dari sana dan memberikannya kepada Azam.
"Baca saja dulu, kamu pasti akan tertarik." Aldi berkata sambil menatap Azam.
Azam hanya menganggukkan kepalanya membalas Aldi. Dia menerima dokumen dari Aldi dan segera membukanya, kemudian dia membaca dokumen tersebut dengan serius.
Betapa terkejutnya Azam saat membaca keseluruhan isi dari dokumen tersebut. Dia menoleh ke arah Ari dan Aldi secara bergantian karena tidak percaya dengan isi dokumen tersebut.
"Hahaha, sudah kuduga kamu bakal bereaksi seperti itu. Bagaimana, kamu tertarik?" Ari tertawa melihat reaksi Azam, kemudian menawarkan pekerjaan yang ada di dokumen itu kepadanya.
Azam menyandarkan tubuhnya di sofa, kemudian dia memejamkan matanya sejenak untuk berpikir sambil mencerna informasi yang ada di dalam dokumen tadi.
Isi dari dokumen tersebut adalah tentang sebuah perusahaan yang menyewa jasa Perusahaan Fiota Grup untuk menyelidiki seseorang dan menyebarkannya di berita.
Target penyelidikan adalah seorang artis tampan yang baru saja debut beberapa bulan yang lalu. Orang itu memiliki rumor kalau dia diasuh oleh para wanita kaya yang ada di industri hiburan.
Tapi yang membuat Azam lebih terkejut adalah komisi dari pekerjaan ini yang mencapai puluhan juta rupiah tergantung dengan informasi dan berita yang diungkapkan ke publik.
"Aku terima!" Azam menyeringai dan memutuskan untuk menerima pekerjaan itu.
Alasannya ada dua, pertama, Azam membutuhkan saluran uang yang jelas. Dengan menerima pekerjaan ini, Azam tidak akan dicurigai saat menerima uang yang banyak padahal dia adalah seorang yatim piatu.
Yang kedua, Azam bisa menggunakan Sistem Pemindai untuk mencari sesuatu tentang artis pria itu. Memang tidak bisa mencari informasi, tapi setidaknya bisa mencari benda yang berhubungan dengan artis pria itu.
"Bagus!" Ari berkata dengan nada penuh semangat. Karena dia berpikir kalau orang yang direkomendasikan oleh Devina pasti merupakan orang yang hebat.
Jadi dia tidak berani untuk meremehkan Azam meskipun usianya masih muda, seorang remaja yang baru saja lulus dari SMA dan baru masuk ke universitas.
"Bagus. Kamu di sini karena nona muda, jadi tidak perlu ada kontrak. Ini adalah informasi yang sudah aku dan Aldi peroleh selama beberapa hari terakhir, bacalah." Ari berdiri dan menyerahkan dokumen lain kepada Azam.
"Terima kasih." Azam berterima kasih kepada Ari, kemudian dia membaca dokumennya. Sementara itu Ari dan Aldi kembali ke tempat mereka masing-masing.
Azam juga sudah tahu kalau bangunan ini menyamar sebagai perusahaan koran yang akan bangkrut. Orang-orang tidak akan curiga karena bangunannya memang bobrok.
"Vanu Wirna, pria, 28 tahun." Azam membaca data diri si artis yang merupakan target penyelidikan.
Vanu Wirna sudah debut beberapa bulan yang lalu sebagai penyanyi dan juga bintang drama. Dia sama sekali tidak punya kemampuan dalam industri hiburan ini namun bisa menjadi sangat terkenal.
Banyak orang yang berspekulasi terkait masalah ini. Namun banyak penggemar tanpa otak yang menganggap kalau Vanu adalah orang yang karismatik yang membuatnya terkenal.
Namun bagi perusahaan lain, mereka tidak berpikir demikian. Mereka berpikir kalau ada orang atau kelompok yang mendukung Vanu mencapai atas menggunakan kekuatan uang atau koneksi.
Dan melihat wajah Vanu yang terbilang tampan, mereka berpikir kalau orang atau kelompok yang mendukung Vanu adalah para wanita kaya yang membutuhkan kepuasan batin.
"Hm, mereka tidak bermaksud buruk, hanya ingin menyelidiki masalah ini. Jika Vanu tidak seperti yang mereka pikirkan, maka mereka juga tidak memaksa." Azam sudah selesai membaca semua isi dari dokumen tersebut.
Secara sederhana, perusahaan yang menyewa jasa Fiota Grup hanya penasaran dengan rumor tentang Vanu yang beredar, tidak bermaksud buruk atau menjatuhkan Vanu.
Jadi meskipun Vanu terbukti tidak ada hubungannya dengan wanita kaya, perusahaan itu tidak terlalu peduli asalkan Fiota Grup sudah benar-benar menyelidiki hal tersebut.
Tapi kalau Vanu ada hubungannya dengan wanita kaya, ada kemungkinan kalau berita ini akan dipublikasikan tergantung bagaimana keseluruhan informasi yang diberikan oleh Fiota Grup.
"Pekerjaan ini cukup mudah, selama aku menggunakan Sistem Pemindai, semua masalah ini bisa diselesaikan." Azam tersenyum karena dia punya sesuatu yang sangat berguna, yaitu Sistem Pemindai.
Azam keluar dari ruangan dan berbunga dengan Ari terkait pekerjaannya m Ari mengatakan kalau Azam bebas mau bergerak bersama dengan mereka atau bergerak seorang diri.
"Aku akan sendiri saja, lebih nyaman." Azam tidak perlu berpikir panjang atas pertanyaan tersebut.
"Lakukan semaumu, yang penting jangan membocorkan hal ini." Ari menatap Azam dengan tatapan mata yang sangat serius.
"Aku tahu, tidak sudah memberitahuku." Azam memutar matanya dan berkata. Kemudian dia keluar dari bangunan tersebut dan kembali ke apartemennya karena dia perlu melakukan persiapan.
Tapi sebelum keluar, dia meminta nomor telepon Ari dan Aldi agar jika ada sesuatu yang perlu ditanyakan dia bisa langsung menghubungi mereka berdua.
"Pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, aku harus serius." Azam tersenyum di dalam hatinya karena dia akan melakukan pekerjaan itu dengan serius karena bayarannya tidak main-main.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Nurul Hikmah
ya ada kerjaan yang jelas
2023-11-29
0
AI79
/Sob/
2023-11-13
0
AI79
?
2023-11-13
0