Jam makan siang pun tiba, Azam sedang berada di kantin kampus untuk membeli makanan. Tapi dia mengingat kalau Hana memintanya untuk datang ke kantor saat jam makan siang ini.
Karena takut kalau dia mendapatkan masalah, Azam memutuskan untuk pergi ke kantor sambil membawa makanan yang baru saja dibelinya.
Hana mempunyai kantor pribadi karena dia adalah dosen muda yang jenius dan berbakat. Kantornya juga tidak kecil atau besar, cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kantor.
*tok tok tok
Azam mengetuk pintu kantor Hana dan menunggu tanggapannya. Kemudian, terdengar suara Hana yang indah dari dalam kantor yang meminta Azam untuk masuk ke dalam kantornya.
"Permisi." Azam memegang kenop pintu, dan mendorongnya. Kemudian dia masuk dengan sopan dan melihat kalau Hana sedang duduk di sofa sambil menatap laptopnya.
"Azam, duduklah." Hana menunjuk ke arah sofa di seberangnya dan mempersilakan Azam untuk duduk di sana.
"Ah, ya." Azam mengangguk dan duduk di seberang Hana, kemudian menunggu Hana mengatakan apa yang dia ingin katakan.
"Azam, sebenarnya saya memanggilmu ke sini karena kamu yang aktif di kelas tadi. Saya hanya ingin berbicara denganmu tentang keaktifanmu. Tapi saya lihat kalau kamu yatim piatu ya?" tanya Hana dengan lembut karena takut perkataannya menyakiti Azam.
"Ya, saya dibesarkan di Panti Asuhan Matahari." Azam mengangguk dan menjawab dengan jujur karena itu bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan.
"Universitas ada program bantuan uang untuk mahasiswa sepertimu, dengan premis kalau kamu itu menunjukkan nilai yang layak untuk dibantu," kata Hana.
Setelah jeda, Hana melanjutkan, "Jadi, saya ingin bertanya apakah kamu ingin mengambil bantuan ini. Dilihat dari keaktifanmu tadi, kamu pasti layak untuk dibantu."
Universitas memang ada program seperti itu yang dilakukan oleh pemerintah untuk membantu orang-orang dengan kondisi yang kurang mampu atau orang dengan kebutuhan khusus, dengan premis nilainya bagus.
Pemerintah tidak punya alasan untuk membantu orang yang tidak memiliki niat dalam belajar atau berusaha meskipun orangnya miskin atau memiliki kondisi yang kurang.
"Hah..." Pertama-tama Azam menghela napas lega karena ternyata tidak ada masalah tentang dirinya. Kemudian dia mendengarkan penjelasan Hana dengan serius tentang bantuan uang.
Namun, Azam menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Maaf Bu, saya rasa harus menolak tawaran dari Ibu."
Jika ini adalah Azam beberapa hari yang lalu, dia mungkin akan menerima bantuan ini tanpa pikir panjang lagi karena situasi keuangannya sangat sulit dan dia bakal kesulitan untuk bekerja paruh waktu sambil kuliah.
Tapi sekarang dia punya Sistem Pemindai dan dengan Sistem ini Azam bisa mendapatkan banyak sekali uang. Tidak hanya uang, Azam juga bisa bertemu dengan orang-orang yang hebat.
"Eh? Bisakah saya tahu kenapa?" Hana jelas sangat terkejut dengan penolakan Azam, padahal bantuan ini sangat membantu Azam.
"Saya ada kegiatan yang menghasilkan cukup uang, jadi saya rasa kalau bantuan ini tidak diperlukan. Lebih baik Ibu tawarkan pada anak yang lain," kaya Azam dengan sopan.
"Oh? Kamu ada uang?" Hana terkejut lagi dengan alasan Azam menolaknya.
"Ya. Syukurlah karena kegiatan ini bisa membuat saya seperti terlahir kembali, haha." Azam menggunakan perumpamaan yang artinya dia memiliki kondisi yang benar-benar baik saat ini.
"Saya tawarkan sekali lagi, kamu yakin?" Hana memberi tawaran kepada Azam sekali lagi karena takut Azam akan berubah pikiran.
"Ya, saya yakin." Azam tersenyum dan mengangguk, dia tidak berubah pikiran karena Sistem Pemindai sangat menjamin kehidupannya.
Lagipula, jika Azam menerima tawaran ini, maka dia harus belajar dengan serius agar nilainya meningkat terus. Azam juga punya Sistem Pemindai, jadi dia tidak terlalu memikirkan nilai saat ini.
Nilai memang penting, tapi sekarang dia hanya perlu mempertahankan nilai atau meningkatkannya sedikit. Bukan meningkatkan nilai sampai peringkat pertama atau yang teratas.
"Baiklah kalau begitu." Hana hanya bisa menghela napas karena sepertinya Azam tidak akan berubah pikiran terkait bantuan ini.
Tapi, di lain sisi Hana juga kagum dengan Azam karena bersikap jujur. Padahal Azam bisa saja berbohong tentang kondisinya dan menerima bantuan uang dari Universitas Indonesia.
Dan Hana juga penasaran dengan kegiatan apa yang dilakukan oleh Azam sampai-sampai dia menolak bantuan uang, pastinya Azam sudah punya banyak uang karena bisa menolak ini.
Tapi Hana tidak bertanya kepada Azam karena itu bukanlah pertanyaan yang boleh diajukan saat hubungan antara mereka berdua tidak dekat.
"Ngomong-ngomong, kamu belum makan?" Hana melihat kantung plastik di atas meja yang tadi di bawa oleh Azam ke dalam kantor.
Lalu Hana ingat kalau saat ini adalah jam makan siang, dan dia sendiri juga belum makan. Jadi, Hana berdiri dan berjalan ke arah kursi di belakang meja, dia mengambil kotak bekal dari tasnya dan duduk kembali di sofa.
"Ayo makan bersama!" Hana membuka kotak bekalnya dan berkata kepada Azam untuk makan siang bersama saja.
Azam tertegun melihat isi dari bekal makan siang Hana, karena itu sangat lengkap. Ada nasi merah, telur mata sapi, dada ayam, brokoli, dan sayur lainnya.
Kemudian di kotak lain berisi buah-buahan yaitu anggur, apel, dan melon yang sudah dipotong-potong agar bisa langsung di makan.
"Bu Hana, bekal Ibu lengkap sekali," kata Azam dengan nada terkejut.
"Ah, ini? Yah, saya membuatnya sendiri." Hana berkata dengan nada bangga sambil membusungkan dadanya saat mendengar perkataan Azam.
Azam terkejut sekali lagi, di Kota Jakarta dan di zaman yang serba cepat ini, masih ada wanita yang membuat bekal makan siang sendiri, apalagi makanannya sangat lengkap.
Mereka berdua kemudian makan siang bersama, Azam makan mie ayam yang dia beli tadi. Hana juga memberikan daging ayamnya kepada Azam tanpa alasan khusus.
Meskipun Azam sedikit terkejut, tapi dia menerima ayam dari Hana. Saat dia memakannya, matanya melebar karena rasa ayam yang dimasak oleh Hana sangat lezat.
Kelezatannya memang tidak sebagus restoran kelas atas, tapi seperti masakan rumahan yang dibuat oleh orang tercinta atau pasangan hidup.
----------------
Azam keluar dari kantor Hana, mereka berdua berbincang-bincang sebentar setelah makan siang. Sekarang, jam makan siang sudah selesai, tapi Azam tidak ada kelas hari ini.
Pada saat dia berjalan di koridor dan akan berbelok ke kanan, tiba-tiba saja ada seorang pria tua dengan rambut botak di tengah menabrak bahu Azam.
*brak!
Azam dan pria tua itu terjatuh secara bersamaan. Azam yang masih muda segera bangkit karena itu bukanlah apa-apa, lalu dia mengulurkan tangannya kepada pria tua itu.
"Maaf, Pak. Bapak tidak apa-apa?" tanya Azam dengan suara khawatir meskipun bukan dia yang salah.
"Hey! Kalau jalan pakai mata dong!" Pria tua itu malah berteriak sambil menunjuk-nunjuk Azam, bukannya malah meminta maaf atau menjawab pertanyaan Azam.
Pria tua itu berdiri sendiri, setelah merapikan pakaiannya, dia pergi begitu saja sambil berkata, "Dasar mahasiswa zaman sekarang, tidak punya sopan santun kepada orang yang lebih tua."
Azam mengerutkan keningnya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Karena barusan hanya masalah sepele yaitu bahunya yang tertabrak, jadi tidak perlu dibesar-besarkan.
Tapi Azam melihat papan nama di pakaian pria tua itu tadi, pria itu bernama Basri Saerudin. Azam ingat kalau ada salah satu dosen di fakultas manajemen yang memiliki nama sama.
"Sepertinya beliau adalah dosen? Tapi, sikapnya sama sekali tidak ramah." Azam hanya menghela napas kecewa dengan kualitas dosen di fakultas manajemen Universitas Indonesia.
Karena tidak ada kelas, Azam memutuskan untuk melakukan pencarian uang di sekitar gedung fakultas manajemen, siapa tahu dia menemukan uang miliaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Nurul Hikmah
berharapnya ketinggian mau
2023-11-29
0
Hades Riyadi
Lanjutkan Thor 😛😀💪👍🙏
2023-11-03
0
Hades Riyadi
Dimanapun dan kapanpun sapu terus uang recehan yang jatuh, lumayan buat beli Es Lilin ato gorengan... wkwkwk 😛😀💪👍🙏
2023-11-03
0