Semua orang termasuk Azam menoleh ke arah luar toko. Mereka melihat ada seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan sarung tangan putih seperti seorang pelayan.
Wajah Roso berubah drastis saat melihat pria paruh baya tersebut. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang memiliki identitas yang menakutkan.
Super Mall Dirta dimiliki oleh keluarga yang sangat kaya raya bernama Keluarga Dirta. Pria paruh baya di luar toko bernama Wahid, seorang kepala pelayan di Keluarga Dirta.
Meskipun Wahid adalah kepala pelayan, tapi dia ditakuti karena memiliki identitas lain. Yaitu sebagai tangan kanan dari dua generasi kepala keluarga Dirta.
Roso memiliki firasat buruk di hatinya, dia buru-buru menyapa, "Pak Wahid, ada urusan apa Anda datang ke sini? Apakah Anda sedang melakukan pemeriksaan toko-toko di mall?"
Namun Wahid mengabaikan sapaan dari Roso, dia berjalan masuk ke dalam toko dan berkata, "Nona Vanessa, maafkan saya yang datang terlambat ini."
"!!?" Seisi toko terkejut dengan perkataan Wahid. Mereka tau sudah tahu identitas Roso karena mencarinya di internet tadi. Namun Roso bersikap rendah hati dihadapan seorang pria paruh baya.
Sekarang, Wahid yang dihormati oleh Roso malah bersikap sopan seperti seroang bawahan kepada Vanessa, wanita yang sedang terlibat dalam masalah itu.
Namun, Azam menyeringai. Dia sudah tahu bagaimana situasi sekarang berjalan. Dia memang tidak tahu identitas Wahid, tapi sudah mengharapkan kalau Wahid ada di pihak Azam.
"Yah, sepertinya keluarga Vanessa adalah pemilik mall ini," batin Azam dengan tenang.
Ketika Roso melihat itu, firasat buruk di hatinya semakin kuat. Jadi, dia segera berkata, "Pak Wahid, apakah ada kesalahan di sini? Maaf, tapi wanita itu membuat putra saya terluka."
Meskipun perusahannya tidak bisa dibandingkan dengan Super Mall Dirta, tapi dia setidaknya sudah cukup besar jika dibandingkan dengan perusahaan pada umumnya.
Tapi, apa yang tidak diharapkan adalah, Wahid tiba-tiba berbalik dan berkata dengan nada dingin. "Pak Roso, mohon diperhatikan sopan santunnya. Anda sedang berhadapan dengan Nona muda Keluarga Dirta."
Begitu dia mengatakan ini, Roso benar-benar membeku di tempatnya. Wahid yang merupakan kepala pelayan sekaligus tangan kanan kepala keluarga saja sudah sangat dihormati, apalagi nona muda mereka.
Hati Roso melahirkan penyesalan yang tak ada habisnya. Dia tidak bisa membayangkan kalau orang yang dia singgung adalah nona muda dari Keluarga Dirta, salah satu keluarga besar di Indonesia.
Pada saat ini, lima orang dengan seragam polisi masuk ke dalam toko. Di antara mereka, pria dengan wajah berjanggut tipis maju selangkah dan melihat ke sekeliling.
"Pak Wahid, bagaimana situasinya?" tanya polisi berjanggut tipis.
Mereka berlima adalah polisi yang dipanggil oleh Wahid saat dia sedang dalam perjalanan menuju toko ini. Kepolisian tentu saja tidak bisa mengabaikan panggilan dari salah satu orang berpengaruh seperti Wahid.
jadi mereka segera mengirimkan lima orang polisi berpengalaman untuk segera pergi ke lokasi yang diberitahu oleh Wahid saat di telepon.
Vanessa berjalan menghampiri polisi berjanggut itu, kemudian dia segera menjelaskan semua situasinya. Polisi berjanggut mengangguk tanda bahwa dia sudah paham dengan situasi yang terjadi.
Dia juga sudah tahu identitas Roso dan Arif. Meskipun mereka mempunyai identitas yang tinggi, tapi tidak layak disebut jika dihadapkan dengan identitas dari Keluarga Dirta
"Kalian berempat, tolong tangkap mereka bertiga. Kemudian, bawahan Pak Roso dimohon untuk kembali ke tempat asal kalian," kata polisi berjanggut dengan nada dingin.
"Ya!" Keempat polisi lainnya mengangguk, mereka segera menangkap Roso, Arif, dan wanita dengan riasan tebal yang masih mencerna apa yang sedang terjadi.
Orang-orang di sekitar tidak berkomentar apapun, mereka sama takutnya saat mendengar identitas Vanessa. Mereka yang merupakan masyarakat awam saja tahu seberapa besar kedudukan Keluarga Dirta.
Roso pergi tanpa perlawanan, melawan polisi sama saja melawan Keluarga Dirta. Jadi dia lebih baik diam dan mengikuti perintah polisi dengan patuh, begitu juga dengan Arif dan wanita dengan riasan tebal.
"Nona muda, masala sudah selesai. Apakah ada sesuatu yang harus saya tangani lagi?" tanya Wahid kepada Vanessa dengan nada yang sangat hormat.
Vanessa menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak ada, terima kasih, Pak Wahid."
Sebelum Wahid bisa menjawab, Vanessa memegang tangan Azam dan menariknya. Mereka berdua keluar dari toko dengan cepat dan orang-orang juga memberi jalan untuk mereka.
Wahid melihat ke arah kepergian Vanessa dan Azam. Dia pun bergumam, "Aku akan mencari identitas pemuda itu nanti dan harus memberitahu hal ini kepada kepala keluarga."
Wahid jelas terkejut dengan keberadaan Azam, dia sama sekali tidak menyangka kalau nona mudanya yang biasanya memberontak malah dekat dengan seorang anak muda.
Namun Wahid sama sekali tidak mempunyai niat buruk kepada Azam. Justru dia senang karena Vanessa yang sudah dia rawat sejak masih kecil akhirnya tumbuh dewasa.
"Nona Vanessa, semoga Anda bahagia," batin Wahid.
...----------------...
"Azam, kamu tidak terkejut?" tanya Vanessa kepada Azam dengan nada aneh karena dia tidak melihat keterkejutan di mata Azam dari tadi.
"Yah, aku sudah menduganya." Azam mengangkat bahunya dan menjawab dengan nada enteng.
Vanessa melirik Azam sekali lagi, kesan Azam di hati Vanessa meningkat tinggi. Dari awal dia sudah merasakan kalau Azam berbeda dengan pria pada umumnya.
"Kalau begitu, apakah mau lanjut belanja?" tanya Vanessa dengan senyum cerah.
"Kamu masih mau lanjut?" Azam melebarkan matanya dan berkata dengan nada pahit karena dari tadi Vanessa masih belum membeli satupun pakaian.
Vanessa mengedipkan matanya beberapa kali, dia berpikir kalau sepertinya sudah berlebihan. Jadi setelah berpikir sejenak, dia memutuskan untuk pergi makan siang terlebih dahulu.
"Ayo makan saja!" Vanessa memegang tangan Azam dan menariknya lagi yang membuat Azam menghela napas dengan pasrah.
"Tapi yah, dipegang oleh wanita cantik sepertinya tidak buruk juga?" pikir Azam dengan gembira.
Saat mereka tiba di lantai empat mall yang berisi restoran dan toko makanan, Vanessa menghentikan langkahnya. Dia memeriksa jam tangannya dan melihat kalau masih ada sedikit waktu untuk makan siang.
Jadi, dia mengubah arah tujuannya yang tadinya restoran menjadi toko buah di sana. Vanessa dan Azam masuk ke dalam toko buah, atau lebih dari itu.
Namanya memang toko buah, tapi di dalamnya menyajikan banyak makanan dan minuman yang terbuat dari buah-buahan segar, itulah mengapa Vanessa memilih toko ini.
"Azam, ayo pesan, aku yang traktir!" kata Vanessa sambil melihat menu.
"Baiklah." Azam tentu saja tidak akan menolak kebaikan Vanessa.
Jadi, setelah beberapa saat, Vanessa memesan smoothie buah dan pie buah. Sementara itu Azam memesan jus alpukat dan salad buah.
Mereka berbincang-bincang dengan canda tawa, melupakan kejadian yang baru saja terjadi, karena itu adalah kejadian yang tidak menyenangkan dan mengganggu pikiran.
"Ngomong-ngomong, kamu kenal pria yang bernama Arif itu?" Meskipun katanya tidak ingin membahas kejadian tadi, tapi Vanessa penasaran karena Azam dan Arif saling mengenal.
"Ah, iya. Dia adalah teman SMA, beda kelas." Azam mengangguk dan ekspresinya menunjukkan kalau dia sedang tidak bahagia saat nama Arif disebut.
"Sepertinya ada cerita, bolehkah aku tahu?" Vanessa menjadi semakin tertarik dengan cerita tentang Arif.
"Yah, tentu." Setelah berpikir sejenak, Azam mengangguk dan mulai menjelaskan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Hades Riyadi
Lanjuuuuutt Thor 😛😀💪👍🙏
2023-11-03
0
Hades Riyadi
Setelah masalah dengan mudahnya diselesaikan oleh ajudan Keluarga Vanessa, mereka langsung pergi makan minum berduaan...😛😀💪👍👍👍
2023-11-03
0
Pengguna system v.02
menang banyal lu zam, vangke 🤣
2023-11-01
0