"Um, Devina? Kita mau ke mana?" tanya Azam dengan bingung karena dari tadi Devina tidak mengatakan apapun kepadanya.
"Makan siang." Devina menjawab dengan singkat tanpa menoleh ke arah Azam.
Azam membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, namun pada saat ini mereka sudah sampai di area parkir. Devina menekan kunci mobilnya, dan mobil Porsche Panamera miliknya berbunyi.
"Kamu bisa nyetir mobil?" tanya Devina kepada Azam.
"Aku bisa, tapi belum punya SIM." Azam mengangguk kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Devina.
Azam bisa mengemudikan mobil karena dia pernah bekerja paruh waktu untuk mengirimkan barang dari toko tempat dia bekerja ke rumah para pelanggan di berbagai tempat menggunakan mobil milik toko.
Tapi dia tidak punya SIM karena belum membuatnya dan karena dia tidak punya uang. Karena bagi dirinya, membuat SIM itu lumayan mahal dan prosesnya yang panjang.
"Santai, lagipula tidak akan ada polisi yang menilang mobil mewah." Devina memberikan jawaban yang membuat Azam tertegun karena itu jawaban yang asal-asalan namun memang benar.
Azam menerima kunci dari Devina, dia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi sementara Devina duduk di sebelahnya. Azam cukup gugup karena dia akan mengemudikan mobil mewah.
Karena dulu saat bekerja paruh waktu, dia hanya mengemudikan mobil pickup bekas milik tokonya yang kadang-kadang mesinnya mati yang membuat Azam stres.
"Kamu ikuti saja GPS nya." Devina sudah mengatur rute ke restoran yang ia tuju di layar sentuh mobil.
"Oke." Azam mengangguk, dia menyalakan mesin mobil dan mereka melaju menuju tempat yang sudah diarahkan oleh GPS.
Sepanjang perjalanan, Devina sesekali melirik Azam yang dengan serius yang sedang mengemudi. Meskipun Devina sudah melihat banyak pria selama hidupnya, namun dia merasa kalau Azam sedikit berbeda.
Devina berpikir kalau pria yang menyatakan cinta kepadanya memiliki penampilan yang bagus namun tidak dengan kepercayaan diri mereka. Berbeda dengan Azam yang tenang dan percaya diri.
Azam seperti itu karena dia berasal dari dunia paralel, dia yang secara teknis sudah mengalami dua kehidupan pastinya memiliki mental dan pikiran yang berbeda dengan orang biasa.
"Apakah kamu mahasiswa baru?" Devina membuka mulutnya dan bertanya kepada Azam karena penampilan Azam terlihat lebih muda.
Devina bukanlah orang yang tertutup atau terbuka, dia seperti kebanyakan orang normal lainnya. Karena cukup sunyi, dia memutuskan untuk bertanya kepada Azam.
"Ya, aku mahasiswa baru tahun ini." Azam mengangguk menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Devina kepadanya.
"Hm, jurusan mana yang kamu ambil?" Devina menyelipkan rambutnya ke belakang daun telinga dengan anggun yang membuat Azam mau tidak mau melihatnya lebih lama.
"Jurusan manajemen, aku memilih itu karena jurusannya cukup stabil." Azam kembali fokus mengemudi dan menjawab Devina.
"Benar, jurusan itu cukup stabil. Tapi mengapa kamu memilih Universitas Indonesia?" tanya Devina untuk sekedar basa-basi.
"Karena dekat, hehe." Azam menjawab dengan tawa canggung yang membuat Devina tertegun.
"Karena dekat?" Devina tidak tahu harus tertawa atau menangis karena baru kali ini mendengar jawaban seperti itu dari orang yang berkuliah di Universitas Indonesia yang terkenal.
Biasanya orang memiliki alasan seperti Universitas Indonesia adalah impian mereka, karena fasilitasnya yang bagus, karena terkenal, karena jurusannya yang cukup lengkap, dan lain sebagainya.
Namun Azam hanya menjawab karena dekat, meskipun tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena Azam selalu tinggal di Jakarta dan lokasi kostan nya memang cukup dekat.
Sepanjang perjalanan, Azam dan Devina berbincang-bincang mengenai topik yang sederhana agar suasana tidak canggung. Azam juga berusaha mencari topik agar pembicaraan bisa terus berlanjut.
Devina juga kagum dengan Azam karena apa yang dikatakan bukanlah omong kosong belaka, tidak seperti pria yang mencoba menarik perhatiannya dengan cara membual.
"Pria yang menarik, meskipun baru saja lulus SMA, tapi dia mengetahui banyak hal." Itu adalah pikiran Devina tentang Azam selama perbincangan mereka di sepanjang jalan.
Baru setelah setengah jam kemudian, mereka sampai di tempat yang dituju. Itu adalah sebuah bangunan dua lantai yang merupakan kafe kecil, namun lokasinya sangat strategis.
"Kita akan makan siang di sini?" tanya Azam kepada Devina saat melihat kafe kecil namun elegan di depannya.
"Ya, kenapa?" tanya Devina dengan nada curiga.
"Yah, kelihatannya agak mahal jadi..." Azam tidak menyelesaikan ucapannya karena ia yakin kalau Devina pasti paham.
"Ah, jangan khawatir, ini traktiranku karena kamu menemukan dompetku." Devina melambaikan tangannya dan berkata dengan nada santai.
Mereka berdua masuk ke dalam kafe dan disambut oleh pelayan wanita yang manis. Rupanya Devina merupakan pelanggan tetap di kafe ini karena sering berkunjung entah untuk bersantai atau makan.
Jadi pelayan juga sudah mengenal Devina dan tahu harus berbuat apa. Mereka berdua dituntun ke lantai dua, tepatnya ke sebuah ruang pribadi di sana.
Setelah itu si pelayan memberikan menu dan meminta Devina serta Azam untuk memesan. Devina mengatakan pesanannya dan bertanya kepada Azam apa yang dia mau.
"Samakan saja," jawab Azam karena tidak enak seorang wanita mentraktirnya dan karena dia tidsk terbiasa dengan lingkungan yang seperti itu.
Tidak perlu waktu lama untuk makanan diantar, mereka berdua makan siang dengan nikmat sambil berbincang-bincang. Dari waktu ke waktu, Devina tertawa dengan lelucon yang dikatakan oleh Azam.
Sebagai orang dari dua kehidupan, Azam tentu saja paham bagaimana membuat lawan bicara merasa nyaman, apalagi untuk wanita. Itulah mengapa dia bisa menyesuaikan pembicaraan dengan baik.
"Azam, kamu setelah ini kamu ada kegiatan apa?" tanya Devina sambil membersihkan mulutnya dengan tisu makan di atas meja.
"Mencari uang," jawab Azam dengan singkat karena dia sedang minum dan dia juga tidak berbohong kepada Devina.
"Mencari uang? Kamu bekerja?" Devina terkejut dengan jawaban Azam karena ia kira Azam tidak ada kegiatan atau dia akan bermain dengan teman-temannya.
Azam menggeleng-gelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak, aku sedang mencari pekerjaan. Makanya aku akan mencari uang, bukan mendapatkan uang."
Azam memang sudah berhenti dari pekerjaan paruh waktunya karena saat ini dia punya Sistem. Dan apa yang dia katakan terkait mencari uang memang sesuai karena dia akan benar-benar mencari uang dengan Sistem Pemindai.
Apalagi uang yang dia dapatkan kemarin sudah habis untuk membeli makanan dan pakaian di mall sehingga dia perlu mencari lebih banyak uang.
Devina mengernyitkan dahinya dan bertanya, "Apakah orang tuamu tidak memberimu uang?"
"Tidak, aku tidak tahu di mana mereka sekarang. Aku dibuang oleh mereka saat bayi ke panti asuhan." Azam menjawab dengan nada santai namun hal itulah yang membuat Devina terkejut.
Devina tidak melihat ada kesedihan dari mata atau suara Azam saat mengatakan situasi keluarganya yang cukup menyedihkan. Kesan Azam di hati Devina melambung tinggi karena hal ini.
"Maafkan aku," kata Devina dengan nada menyesal karena takut membuat Azam mengingat kehidupannya yang menyedihkan.
"Tidak apa, aku juga tidak terlalu memikirkannya," balas Azam dengan senyum santai sambil mengangkat bahunya.
Devina tersenyum, dia kemudian mengalihkan topik agar mereka tidak membicarakan keluarga Azam. Setelah berbincang-bincang sebentar, mereka turun ke lantai satu di mana Devina membayar tagihan.
Setelah itu mereka kembali ke Universitas karena Devina ada kelas siang setelah ini. Azam juga harus mencari uang di sekitar karena di Universitas Indonesia ada banyak anak-anak kaya.
"Terima kasih, kita makan siang lagi lain waktu," kata Devina kepada Azam.
"Boleh, tapi lain kali aku yang bayar." Azam mengangguk dan tersenyum kepada Devina.
"Hahaha, aku tunggu." Devina tertawa kecil, kemudian dia kembali ke gedung fakultas bisnis setelah mengucapkan sampai jumpa.
"Jadi, haruskah aku mulai mencari?" Azam merenggangkan tubuhnya dan mulai mencari uang menggunakan Sistem Pemindai.
Tapi pada saat hendak mencari, Azam teringat kalau dia akan punya satu kesempatan untuk menggunakan gacha skill. Jadi dia pergi ke bawah pohon yang sejuk dan segera menggunakan gacha.
"Sistem, aku mau melakukan gacha," kata Azam kepada Sistem di dalam hatinya.
[Oke.] Sistem segera memunculkan layar hologram futuristik di depan Azam yang hanya bisa dilihat olehnya. Kemudian muncul gambar mesin gacha seperti yang ada di dunia nyata
Azam menggunakan pikirannya untuk memutar gacha, mesinnya berputar selama beberapa saat. Kemudian mesinnya berhenti dan mengeluarkan sebuah bola transparan dari dalam mesin.
[Selamat, kamu mendapatkan....]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Ryan Hidayat
sebenarnya bukan komen paragraf ini tapi judulnya ngetik nya terlalu terburu-buru
2023-11-29
0
Nurul Hikmah
mantap dah lanjutkan dor
2023-11-29
0
Hades Riyadi
Dilanjuuutt Thor 😛😀💪👍🙏
2023-11-03
0